BincangSyariah.Com – Sakit adalah bagian dari takdir Allah Swt. kepada manusia. Tentunya, tidak ada manusia yang ingin bertahan apalagi nyaman dengan sakit yang menimpanya. Bahkan Allah Swt. menyatakan dalam Alquran bahwa kalau kita sedang sakit hendaknya kita berobat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri dan terdapat dalam riwayat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, beliau mengatakan,

ما يصيب المسلمُ من نَصَبٍ ولَا وصَبٍ ولَا همٍّ ولَا حُزْنٍ ولَا أَذى ولَا غَمٍّ حتّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُّهَا إلّا كفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

Artinya: “Apa yang dialami seorang muslim berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, kesakitan, kegundahan, bahkan jarum yang menusuk (dirinya), melainkan itu semua adalah (cara) Allah menghapuskan dosa-dosa-Nya.” (H.R. Bukhari).

Lalu, bagaimana dengan orang yang sakit namun tidak kunjung sembuh, dalam kurun waktu yang lama?

Tentunya, kita sebagai sesama muslim terus mendoakan agar ia diberikan takdir yang terbaik oleh Allah Swt. dan semoga orang yang sakit tersebut diberikan ketabahan dan kesabaran.
Nabi Saw. secara khusus memberikan wejangan kepada umatnya agar membaca doa ketika melihat orang yang ditimpa sakit.

Hadis ini dikompilasikan Imam al-Nawawi dalam karyanya seputar doa-doa berjudul al-Adzkar. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra. dan masuk kedalam hadis-hadis yang dikumpulkan oleh Imam al-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya.

مَنْ رَأى مُبْتلًى فقَالَ: الْحَمْدُ لِلّهِ الّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلًا.

Artinya: Siapa yang melihat orang yang terkena bala (sakit atau bencana misalnya), maka ucapkanlah, “segala puji bagi Allah yang telah membuatku sehat dan terhindar dari cobaan yang engkau berikan, dan membuatku lebih baik dari banyak orang yang engkau sudah ciptakan dalam keadaan baik.”

Baca Juga :  Cara Allah Mengabulkan Permintaan Hamba-Nya

Dalam komentar lanjutannya, beliau mengutip pernyataan para alim cendekia dari kalangan mazhab Syafi’i dan lainnya berkata, “Seseorang seyogyanya menyatakan doa ini dengan sirr (terdengar dalam hati) saja, dan orang yang terkena musibah tidak mendengarnya karena (jika mendengarnya) hatinya tentu menjadi pilu karena itu.

Kecuali, jika ia ditimpa musibah akibat maksiat yang dilakukannya, maka tidak apa-apa memperdengarkan doa itu, jika ia tidak merasa takut dengan dampak buruk yang akan terjadi (jika mengucapkannya).” Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here