Doa Malam “Lailatul Qadar” yang Diajarkan Rasulullah

0
183

BincangSyariah.Com – Sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa malam lailatul qadar memiliki banyak keistimewaan. Salah satu keistimewaan yang terdapat di dalamnya adalah termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Lalu, adakah doa yang diajarkan Rasulullah Saw. ketika datangnya lailatul qadar?

Berikut merupakan doa yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabatnya:

 اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah, maka maafkanlah kesalahanku.”

Doa tersebut menjadi sangat istimewa, karena diajarkan sendiri oleh Rasulullah Saw. kepada istri tercinta beliau Ummul Mu’minin Aisyah -radiyallahu ‘ anha-, berikut hadis secara lengkapnya tentang doa tersebut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah, maka maafkanlah kesalahanku.”

Namun doa yang sering kita dengar adalah اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّكَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Terdapat tambahan kata “kariimun“, lalu apakah ada redaksi hadis seperti doa tersebut?

Dalam kitab-kitab hadis cetakan lama seperti kitab Tuhfatul Ahwadzi sayarh Sunan at-Turmudzi karya Mubarakfuri, tidak ada sama sekali tambahan kata “karimun”. Hal ini diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasai dengan jalur sanad sebagaimana periwayatan dalam sunan Turmudzi, keduanya berasal dari gurunya yaitu Quthaibah bin Said.

Baca Juga :  Amalan dan Doa Agar Sembuh Dari Stroke

Salah satu hal yang menarik dari segi pemilihan kata dalam hadis tersebut, adalah pemilihan kata al-‘afuw (العفو) daripada al-ghaffar (الغفار). Meski pada dasarnya semua nama Allah sangat baik, tapi al-Afuw memiliki makna lebih dalam daripada al-maghfirah yang keduanya bila diterjemahkan berarti pengampunan.

Magfirah adalah ampunan dosa namun dosa itu masih ada. Adapun ‘afuw itu dosa yang dilakukan hamba sudah tidak ada, karena dosa itu telah dihapuskan dan dihilangkan seakan-akan ia tidak pernah melakukan kesalahan.

Orang-orang yang melakukan dosa kecil, namun pada malam lailatul qadar tidak memperbanyak ibadah, maka ia akan mendapati Allah sebagai maha pengampun (al-Ghaffar) pada hari kiamat kelak. Pelaku dosa kecil ini akan ditampakkan dosanya dan disuruh mengakuinya.

Berbeda halnya dengan orang-orang yang melakukan dosa besar lalu ia bertaubat, banyak beribadah pada malam lailatul qadar sehingga ia mendapatkannya. Maka, pada hari kiamat ia akan mendapati Allah sebagai maha pemaaf (al-‘afuw) sehingga kesalahannya tidak lagi ditampakkan karena sudah dihapuskan. Wallahu ‘alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here