Ataqoh Kubro: Amalan Agar Selamat dari Siksa Kubur dan Api Neraka

1
50

BincangSyariah.Com – Memang terdapat banyak sekali keutamaan yang diperoleh apabila kita membaca Al-Qur’an. Di antara keutamaan itu ialah diperolehnya pengetahuan, karena keseluruhan bagian dari Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan bagi umat manusia. Selain itu, merujuk banyak riwayat, terdapat juga berbagai keutamaan yang dapat diperoleh apabila membaca surah-surah tertentu. Misalnya ialah membaca surah Al-Ikhlas dengan jumlah tertentu yang dipercaya memiliki keutamaan dapat menjadi wasilah supaya selamat dari siksa kubur dan api neraka. Amalan membaca surah al-Ikhlas dengan jumlah tertentu ini biasa disebut ataqoh kubro.

Melalui kitab Hasyiyah ash-Shawi, Syekh Ahmad bin Muhammad ash-Shawi menyebutkan beberapa riwayat berkenaan dengan keutamaan membaca surah Al-Ikhlas dengan jumlah tertentu. Di antara yang beliau sebutkan dan berkenaan dengan pembebasan dari api neraka ialah, sebagai berikut:

ومنها: اَنَّ مَنْ قَرَأَهَا مِائَةَ أَلْفِ مَرَّةٍ فَقَدِ اشْتَرَى نَفْسَهُ مِنَ اللهِ، وَنَادَى مُنَادٍ مِنْ قِبَلِ اللهِ تَعَالَى فِىْ سَمَوَاتِهِ وَفىِ أَرْضِهِ: اَلاَ إِنَّ فُلاَناً عَتِيْقُ اللهِ، فَمَنْ كَانَ لَهُ قَبْلَهُ بِضَاعَةً فَلْيَأْخُذْهَا مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَهِيَ عَتَاقَةٌ مِنَ النَّارِ لَكِنْ بِشَرْطِ اَنْ لاَ يَكُوْنَ عَلَيْهِ حُقُوْقٌ لِلْعِبَادِ أَصْلاً، اَوْ عَلَيْهِ وَهُوَ عَاجِزٌ عَنْ أَدَائِهَا.

“Di antara (keutamaan) surah Al-Ikhlas: Sesungguhnya barang siapa membacanya sebanyak seratus ribu kali, maka ia telah menebus dirinya dari Allah Swt. Dan malaikat akan menyeru dari sisi Allah, di langit dan di bumi-Nya: [Ketahuilah, sesungguhnya Fulan merupakan orang yang dimerdekakan Allah Swt. Barang siapa memiliki hak yang sebelumnya menjadi tanggungannya (Fulan), maka mintalah dari Allah yang Mahamulia lagi Mahaagung]. Maka ia (surah Al-Ikhlas) adalah tebusan pemerdeka dari neraka, tetapi dengan syarat tidak adanya tanggungan hak-hak kehambaan secara asal, atau terdapat tanggungan sedangkan ia tidak mampu menunaikannya.

As-Sayyid Muhammad Haqqi an-Nazili, dalam kitab Khazinah al-Asrar juga menyebutkan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwasanya Allah mengharamkan jasad orang yang membaca surah Al-Ikhlas dengan hati yang Ikhlas masuk ke dalam neraka.

وَأَخْرَجَ مُسْلِمٌ وَغَيْرُهُ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ اْلاِخْلاَصِ بِإِخْلاَصٍ حَرّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النّارِ. اهـ.

“Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan bahwa dalam satu riwayat, Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa membaca surah Al-Ikhlas dengan hati yang ikhlas, niscaya Allah mengharamkan jasadnya masuk ke dalam neraka.”

Beliau juga menceritakan bahwa ketika sedang di Masjidil Haram, pada bulan Ramadan tahun 1261 H, beliau melihat orang tua yang pada siang dan malamnya bulan Ramadan senantiasa membaca surah Al-Ikhlas di dekat pintu Daudiyyah. Melihat hal istimewa itu, beliau lantas mengecup tangan orang tua itu, kemudian berkata, “Wahai tuanku, sungguh aku melihatmu setiap hari membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ (surah Al-Ikhlas), maka beritahukanlah kepadaku tentang faedah-faedah dan rahasia-rahasianya.”

Sembari mengangkat tangan untuk diletakkan di lehernya, lantas orang tua itu menjawab, “Aku ingin memerdekakan jasadku dari neraka, Wahai Anakku.” Mendengar jawaban itu, beliau lantas meminta ijazah untuk mengamalkan bacaan tersebut, sebagaimana diamalkan oleh orang tua yang istikamah mengamalkannya itu. Selanjutnya, penulis kitab juga memberikan ijazah tertulis, secara umum, kepada siapa pun yang membaca kitab beliau untuk mengamalkan sebagaimana yang beliau amalkan.

Amaliah membaca surah Al-Ikhlas dengan jumlah tertentu yang kemudian dinamai dengan bacaan Ataqoh Kubro (pembebasan yang besar) ini banyak diamalkan oleh masyarakat Indonesia. Mengenai motif pengamalannya pun berbeda. Mulai dari kesadaran pribadi atas riwayat yang diketahui, sebagai bagian dari tradisi ketika ada orang meninggal, bahkan karena menjadi syarat ketika seorang santri hendak boyong (keluar) dari pesantren untuk kembali ke masyarakat.

Selain biasa disebut dengan nama Ataqoh Kubro, bagi sebagian kalangan, amaliah ini juga dikenal dengan nama Qulhu Fida’, ‘Ataqah Shamadiyyah, dan lain sebagainya. Apabila diterjemahkan secara bebas, Qulhu Fida’ memiliki arti “bacaan Qulhu (Al-Ikhlas) yang digunakan sebagai tebusan”, kemudian ‘Ataqah Shamadiyyah berarti “pembebasan dengan surah Ash-Shamad (Al-Ikhlas), sedangkan Ataqoh Kubro dapat diartikan sebagai “pembebasan yang besar”. Sehingga, ditinjau dari segi bahasa, perbedaan penamaan tersebut sejatinya memiliki arti yang tak jauh berbeda.

Perbedaan yang dapat kita jumpai terkait pembacaan Al-Ikhlas itu ternyata tidak hanya dalam penamaan semata, tetapi juga terdapat perbedaan pendapat yang disampaikan ulama mengenai jumlah bacaannya. Ada yang menyebut cukup satu kali dengan catatan disertai hati yang ikhlas, sebanyak empat puluh kali, seratus kali, seribu kali, bahkan sampai seratus ribu kali sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Ahmad ash-Shawi.

Penyebutan jumlah bacaan yang berbeda itu sejatinya juga mempunyai landasan masing-masing. Misalnya, terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tabrani dalam kitab Al-Kabir, sebagaimana dikutip dalam Jami’ ash-Shaghir oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi, yang bersumber dari salah seorang khadim (pelayan) Rasulullah yang bernama Fairuz ad-Dailami. Bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda:

مَنْ قَرَأَ “قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد” مِائَةَ مَرَّةٍ فِي الصَّلَاةِ أَوْ غَيْرِهَا كَتَبَ الله لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ

“Barang siapa membaca ‘Qul huwallahu ahad’ (Al-Ikhlas) dalam salat maupun selainnya, maka Allah mewajibkan baginya terbebas dari neraka.”

Karena memang terdapat perbedaan pendapat dan riwayat tentang jumlah hitungan pembacannya, maka boleh bagi kita mengamalkannya dengan riwayat yang kita ikuti. Meski sebagian menilai bahwa kualitas hadis tersebut dha’if, tetap boleh diikuti sebagai sebuah fadhailul a’mal (keutamaan-keutamaan amal).

Sedangkan apabila ada yang mengamalkannya lebih dari hitungan tersebut, seperti mengamalkannya sebanyak delapan ratus juta kali, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki berpendapat bahwa, hal itu tetap boleh dilaksanakan asalkan tidak menyandarkannya bahwa itu perintah dari Nabi Muhammad Saw. Karena apabila disandarkan pada Rasulullah, maka sama dengan Rasulullah mengajarkan sesuatu yang berat (masyaqqah) kepada umatnya, dan itu tidak mungkin. Di samping itu, orang yang melakukan demikian dengan menyandarkannya kepada Nabi juga telah membuat kebohongan atas nama Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bish shawab.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here