Amalan Memudahkan Rezeki dari Syekh Abu Hasan asy-Syadzili

1
5751

BincangSyariah.Com – Dalam masa pandemi ini, banyak orang yang sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, karena kelesuan aktifitas ekonomi di beberapa sektor. Kondisi ini tidak boleh membuat kita putus harapan, tetapi harus tetap menggantungkan asa kepada Allah Swt.

Ketika mencari rezeki, selain ikhtiyar lahiriah, sebaiknya juga dibarengi dengan ikhtiyar batin, mengamalkan wirid-wirid yang sudah diajarkan para kekasih Allah. Salah satunya adalah wirid dari Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, seorang wali Quthub pendiri Thariqah Syadziliyah.

Dalam kitabnya yang berjudul as-Sir al-Jalil (Rahasia Agung), pada bab kelima beliau menyampaikan sebuah amalan agar terhindar dari kejahatan makhluk, dimudahkan rezeki, agar disukai makhluk, dan semua kesempitan hidup dimudahkan oleh Allah.

Berikut keterangan dari Syekh Abu Hasan:

فَالْيَقْرَأْ فِي كُلِّ يَوْمٍ: “حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ” عَدَدَ حُرُوْفِهَا، وَهِيَ أَرْبَعُمِائَةٍ وَخَمْسُوْنَ مَرَّةً، ثُمَّ يَقْرَأُ بَعْدَ ذَلِكَ قَوْلَهُ تَعَالَى: “الَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْمَانًا وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ” (آل عمران : 173) سَبْعَ مَرَّاتٍ، وَفِي الْمَرَّةِ السَّابِعَةِ يَقُوْلُ: “فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللهِ وَاللهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ” (آل عمران : 174). وَمَنْ دَاوَمَ عَلَى ذَلِكَ كَانَ لَهُ سِرٌّ عَجِيْبٌ فِي تَسْهِيْلِ الْعَسِيْرِ

Dari keterangan di atas dapat dijelaskan, amalan tersebut adalah dengan membaca:

  1. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ 450

Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil 450 X

  1. الَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْمَانًا وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ 7

Alladziina qaala lahumun naasu innan naasa qad jama’uu lakum fakhsyauhum fazaadahum iimaanaa, wa qaaluu hasbunallahu wani’mal wakiil 7X

  1. فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللهِ وَاللهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ 1

Fanqalabuu bini’matim minallaahi wa fadllil lam yamsashum suu-uw wat-taba’uu ridlwaanalllahi, wallaahu dzuu fadllin ‘adziim 1X

Menurut Syekh Abu Hasan, siapa saja yang mengamalkan wirid di atas secara istikamah, akan mendapatkan sirr (rahasia) yang mengagumkan untuk memudahkan segala sesuatu yang sulit.

Kalimat “hasbunallah wa ni’ma al-wakil” di baca sebanyak 450 X sesuai dengan jumlah bilangan kalimat tersebut ketika dihitung menggunakan kaidah abjadiyyah “A Ba Ja Dun”. Urutan abjadiyyah adalah sebagai berikut:

ط ح ز و ه د ج ب أ
9 8 7 6 5 4 3 2 1
ص ف ع س ن م ل ك ي
90 80 70 60 50 40 30 20 10
ظ ض ذ خ ث ت ش ر ق
900 800 700 600 500 400 300 200 100
غ
1000

 

Dengan demikian hitungan hasbunallah wa ni’ma wakil adalah:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

ل ي ك و ل ا م ع ن و ه ل ل ا ا ن ب س ح
30 10 20 6 30 1 40 70 50 6 5 30 30 1 1 50 2 60 8

 

Semua angka tersebut ditambahkan sehingga total jumlahnya adalah = 450.

Kemudian dari segi asbabun nuzulnya, surat Ali Imran ayat 173-174 di atas berhubungan dengan pasukan Nabi Muhammad yang mendapatkan keuntungan besar dari perdagangan mereka, padahal tujuan semula keberangkatan mereka adalah untuk berperang.

Diceritakan dalam Tafsir Shawi dan al-Lubab, ketika Abu Sufyan dan pasukannya akan kembali ke Makkah dari perang Uhud, dia mengadakan kesepakatan dengan Nabi untuk kembali berperang setahun kemudian, tepatnya pada musim Badar Sughra, yaitu musim raya yang diadakan setahun sekali, dimana antar kabilah Arab saling bertemu untuk mengadakan transaksi dagang.

Setelah waktu yang dijanjikan datang, tepatnya tahun ke empat hijriyah pada bulan Sya’ban, Abu Sufyan bersama pasukannya keluar dari Makkah dan sampai ke Marr adz-Dzahran. Tiba-tiba hati Abu Sufyan merasa gentar, takut melanjutkan peperangan, dan kebetulan bertemu dengan Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’i.

Abu Sufyan berkata kepada Nu’aim, “Wahai Nu’aim! Aku telah sepakat dengan Muhammad untuk bertemu pada musim Badar, dan tahun ini adalah tahun paceklik. Aku ingin kesepakatan ini dibatalkan, tetapi yang membatalkan Muhammad, bukan aku. Datanglah ke Madinah, lalu lemahkan semangat pasukan Muhammad agar mereka tidak jadi berangkat. Dan engkau akan mendapatkan hadiah sepuluh unta dariku.”

Nu’aim kemudian pergi ke Madinah, dan mendapati Nabi beserta para sahabat sedang bersiap-siap untuk berangkat perang. Nu’aim berkata pada mereka, “Apa yang sedang kalian lakukan?

Mereka menjawab, “Kami akan pergi menuju tempat perjanjian kami dengan Abu Sufyan.

Kalian tidak akan mampu melawan mereka, mereka telah berkumpul untuk melawan kalian, kalian seharusnya takut pada mereka ”, kata Nu’aim.

Provokasi Nu’ain itu membuat nyali sebagian pasukan merasa ciut. Melihat gelagat itu, Nabi mengatakan, “Sungguh aku akan pergi menemui mereka, walaupun sendiri”.

Sementara para sahabat yang memiliki keteguhan iman, yakin dengan pertolongan Allah, mereka mengatakan, “hasbunallah wa ni’mal wakiil.”

Nabi kemudian berangkat bersama seribu lima ratus pasukan, dan sampailah mereka di Badar. Yaitu sebuah pasar tahunan, tempat berkumpulnya para pedagang Arab selama delapan hari.

Pasukan Nabi kebetulan bertemu dengan musim Badar tersebut, sehingga mereka ikut mengadakan transaksi, memperjualbelikan harta yang mereka miliki. Mereka mendapatkan keuntungan berlimpah, dari uang satu dirham bisa mendapatkan dua dirham.

Sementara, tidak ada satu pun musyrik Makkah yang datang ke tempat itu. Akhirnya mereka pulang ke Madinah dengan membawa keuntungan dan pahala yang besar. Wallahu A’lam. []

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here