Adab Memotong Rambut Saat Tahallul

0
9

BincangSyariah.Com – Menurut ulama Syafiiyah, tahallul dengan mencukur atau memotong rambut termasuk bagian dari rukun haji dan umrah. Jika seseorang melaksanakan ibadah haji dan umrah namun tidak melakukan tahallul dengan mencukur atau memotong rambutnya minimal tiga helai rambut, maka haji dan umrahnya tidak sah.

Selain itu, terdapat beberapa adab yang perlu diperhatikan saat mencukur atau memotong rambut saat tahallul. Berdasarkan beberapa riwayat, setidaknya terdapat tiga adab dalam mencukur atau memotong rambut saat tahallul.

Pertama, mencukur atau memotong rambut dengan minta bantuan kepada orang lain. Meski mencukur atau memotong rambut sendiri hukumnya boleh, namun lebih utama minta bantuan kepada orang lain, baik kepada sesama jemaah haji dan umrah, atau kepada orang yang sedang tidak melaksanakan haji dan umrah.

Hal ini karena Nabi Saw minta bantuan kepada orang lain saat beliau mencukur rambutnya saat tahallul. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Abu Daud,  dari Anas bin Malik ra., dia berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَتَى مِنًى فَأَتَى الْجَمْرَةَ فَرَمَاهَا ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بِمِنًى وَنَحَرَ ثُمَّ قَالَ لِلْحَلَّاقِ: خُذْ وَأَشَارَ إلَى جَانِبِهِ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ الْأَيْسَرِ، ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ

Sesungguhnya Rasulullah Saw datang di Mina, kemudian beliau menuju jumrah, maka beliau melontarnya, kamudian beliau datang ke tempat (mabit) beliau di Mina, di sana beliau menyembelih hewan kurban. Sesudah itu, beliau berkata kepada tukang cukur; Cukurlah rambutku, sambil beliau memberi isyarat ke kepalanya sebelah kanan dan sebelah kirinya serta memberikan rambutnya kepada para sahabat.

Kedua, mencukur atau memotong rambut dengan dimulai dari bagian sebelah kanan kepala, lalu sebelah kirinya. Meski mencukur atau memotong rambut boleh dimulai dari bagian mana saja, namun lebih utama dimulai dari bagian kepala sebelah kanan, dan kemudian sebelah kiri, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Saw.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat al-Imam Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى الْبُدْنِ فَنَحَرَهَا وَالْحَجَّامُ جَالِسٌ وَقَالَ بِيَدِهِ عَنْ رَأْسِهِ فَحَلَقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَقَسَمَهُ فِيمَنْ يَلِيهِ ثُمَّ قَالَ احْلِقْ الشِّقَّ الْآخَرَ فَقَالَ أَيْنَ أَبُو طَلْحَةَ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Sesungguhnya Rasulullah Saw melempar jumrah ‘aqabah, lalu beliau langsung bergegas menuju unta (hewan kurbannya) dan menyembelihnya. Sementarara tukang bekam sedang duduk di sekitar itu. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah kepala (agar ia mencukurnya). Lalu tukang cukur itu pun mencukur rambut beliau yang sebelah kanan dan kemudian beliau membagikannya kepada orang yang berada di dekatnya. Setelah itu, rambut yang sebelahnya lagi (kiri), kemudian beliau bertanya; Mana Abu Thalhah? Beliau pun memberikan rambut itu padanya.

Ketiga, setelah mencukur atau memotong rambut, kemudian dianjurkan untuk mencukur jenggut dan kumis. Dalam kitab Al-Muwaththa’, Imam Malik meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber dari Nafi’, dia berkata;

كَانَ ابْن عمر إِذا حلق رَأسه فِي حج أَو عمْرَة أَخذ من لحيته وشاربه

Abdullah ibnu Umar jika telah mencukur rambutnya saat melakukan haji dan umrah, maka beliau kemudian mencukur jenggot dan kumisnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here