6 Keadaan Disunahkan Berhenti Berzikir

3
2543

BincangSyariah.Com – Perintah berzikir banyak kita temui dalam ayat Al-Qur’an. Ibadah yang satu ini memang sangat mudah dilakukan. Apalagi zikir dalam hati. Dimanapun dan kapanpun kita bisa melakukannya. Sebab tidak terikat waktu dan tempat. Salah satu perintah berzikir terdapat dalam surah Al-Ahzab ayat 41:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”

Berzikir kepada Allah memiliki banyak manfaat, seperti  hati menjadi tenang dan tentram, hati menjadi lembut karena selalu mengingat Allah, menjadi alat untuk menghapus dosa, dan lain-lain. Meskipun banyak manfaat ada suatu kondisi yang dilarang berzikir. (Mengenai waktu dilarang berzikir, baca Lima Keadaan Makruh Berzikir).

Ada pula waktu yang disunahkan berhenti berzikir. Keterangan mengenai hal ini bisa ditemukan dalam kitab al-Adzkar karya Imam Nawawi.

لِلذَّاكِرِ يُسْتَحَبُّ لَهُ قَطْعُ الذِّكْرِ بِسَبَبِهَا (الْاَحْوَالِ) ثُمَّ يَعُوْدُ اِلَيْهِ بَعْدَ زَوَالِهَا مِنْهَا اِذَاسُلِّمَ عَلَيْهِ رَدَّ السَّلَامَ ثُمَّ عَادَ اِلَى الذِّكْرِ وَكَذَا اِذَا عَطَسَ عِنْدَهُ عَاطِسٌ شَمَّتَهُ ثُمَّ عَادَ اِلَى الذِّكْرِ وَكَذَا اِذَا سَمِعَ الْخَطِيْبَ ثُمَّ عَادَ إِلَى الذِّكْرِ وَكَذَا إِذَا سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ أَجَابَهُ فِيْ كَلِمَاتِ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ثُمَّ عَادَ إِلَى الذِّكْرِ وَكَذَا إِذَا رَأَى مُنْكَرًا أَزَالَهُ اَوْمَعْرُوْفًا اَرْشَدَ اِلَيْهِ اَوْ مُسْتَرْشِدًا اَجَابَهُ ثُمَّ عَادَ اِلَى الذِّكْرِ وَكَذَا اِذَا غَلَبَهُ النُّعَاسُ اَوْ نَحْوُهُ وَمَااَشْبَهَ هَذَا كُلَّهُ

“Disunnahkan bagi seseorang yang berdzikir memutus dzikirnya dalam beberapa kondisi, kemudian ia kembali berdzikir setelahnya. Pertama, ketika ada yang memberi salam, maka ia wajib menjawab dan setelah itu kembali berdzikir. Kedua, ketika ada yang bersin, maka ia mendoakannya, dan setelah itu kembali berdzikir. Ketiga, ketika mendengar khatib berkhutbah ia lebih baik mendengarkan, setelah itu kembali berdzikir.

Keempat, ketika mendengar adzan dan iqamah, maka ia menjawab dengan lafal yang sama, setelah itu kembali berdzikir. Kelima, ketika melihat kemungkaran, ia mencegahnya; atau melihat kebaikan, ia menunjukkan kepadanya; atau ada seseorang yang meminta petunjuk, ia memenuhinya, setelah itu kembali berdzikir. Keenam, ketika dalam keadaan sangat mengantuk dan sebagainya”

Dari penjelasan di atas tidak seterusnya berhenti, melainkan diteruskan setelah selesai melakukan perkara tersebut. Mengapa disunahkan berhenti? Karena ke-enam perkara di atas merupakan perkara yang kita diperintahkan bahkan ada yang diwajibkan. Dengan bahasa lain, kedudukan berzikir dengan perkara di atas sama atau bahkan lebih tinggi perkara di atas. Misalnya menjawab salam.

Baca Juga :  Doa Nabi Ketika Terkena Sakit Mata

Menjawab salam hukumnya wajib. Mengenai wajibnya salam juga bisa kita lihat di kitab al-Azkar. Sedangkan penjelasan mengapa disunahkan berhenti berzikir di saat mengantuk, dikarenakan apabila berzikir dalam kondisi mengantuk dikhawatirkan apa yang dibaca tidak sesuai dengan bacaannya sehingga menyebabkan berubahnya makna.

Waallahu ta’ala a’lam.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here