Wahyudi Akmaliah: Dibanding Muhammadiyah, NU Lebih Reaktif di Dunia Digital

0
2103

BincangSyariah.Com – Kehadiran media sosial menjadi wadah baru bagi ruang eksistensi yang memungkinkan setiap orang untuk mengekspresikan dirinya kepada khalayak umum. Jika sebelumnya popularitas dapat dicapai lewat media cetak, radio, dan televisi, maka di era digital siapa pun dapat mendapatkan popularitas karena peluang itu dapat diciptakan oleh siapa pun.

Wahyudi Akmaliah
Peneliti Islam dan Budaya Pop, LIPI

Dalam konteks dakwah Islam dan budaya pop, fenomena ini menjadi hal baru yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Jika sebelumnya seorang ustadz kondang, bisa dikenal luas oleh masyarakat karena bisa tampil di televisi, maka saat ini mereka bisa hadir di ruang-ruang virtual lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, Youtube dan lain sebagainya.

Untuk mendapatkan pemahaman yang terstruktur dan komprehensif , Wildan Imaduddin Muhammad, menuju kantor LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk menemui pakar di bidang pop culture dan dakwah Islam, Wahyudi Akmaliah, seorang peneliti LIPI yang sudah banyak melakukan riset seputar topik ini. Berikut petikan wawancaranya:

  1. Bagaimana perkembangan relasi antara budaya pop dan dakwah Islam dari dulu hingga sekarang?

Dalam konteks tradisi Indonesia, kalau melihat budaya pop sebenarnya kita bisa melihat kelahiran sebuah industri dan teknologi yang mendukung itu. Berbicara tentang budaya pop Islam di Indonesia, selama masa Orde Lama dan Orde Baru tradisinya masih dicirikan dengan musik gambus. Begitu pun dengan majalah-majalah Islam, tradisinya berangkat dari kelompok Islam yang lebih mencerminkan tentang ekspresi-ekspresi keislaman yang menjurus kepada praktek sehari-hari.

Dalam tataran ini kita belum bisa menyebutnya sebagai industri, hanya menjadi ekspresi kebudayaan bagi kelompok muslim itu sendiri. Yang lebih modern selain gambus, mungkin kita bisa sebut kasidahan, itu pun masih lebih dominan dalam mencerminkan ekspresi Islam, belum masuk ke dalam industri.

Nah, budaya pop Islam dapat ditemukan ketika antara imajinasi kesalehan dan industri bertemu. Kalau kita melacak kemunculannya, maka terjadi pada era tahun sembilan puluhan. Sekitar tahun itu kedekatan antara Orde baru dengan kelompok Islam semakin kuat. Di tengah faksi militer pecah, fondasi kekuasaan Orde Baru menjadi pincang, pada era inilah penguasa Orde Baru mendekati kelompok Islam.

Kita bisa melihat ekspresinya kemudian tumbuhnya merayakan identitas keislaman, ada penerbitan buku, gerakan gerakan Islam, bahkan busana muslim tumbuh dengan cukup pesat. Ekspresi keberislaman ini langsung dicontohkan oleh penguasa Orde Baru, misalnya Soeharto  pergi haji, namanya diganti dengan Muhammad, Tutut menggunakan kerudung, berdirinya ICMI dan lain sebagainya.

Atas ciri ini, Robert W. Hefner mengistilahkannya dengan civil Islam, yakni bagaimana Islam dekat dengan modernisasi, dekat dengan demokrasi, tetapi ekspresinya ketika itu adalah ekspresi keberagamaan minus politik. Karena memang otoritas rezim orde baru saat itu masih sangat kuat.

Industrinya pun ketika itu masih menautkan dengan industri-industri besar. Walaupun ada fashion yang bisa berkembang akan tetapi tetap bernaung dalam industri besar. Disini era dimana pertemuan antara kesalehan dan kapitalisme industri mulai bertemu dalam level yang masih sangat kecil.

Kita bisa melihat, salah satu penerbit yang tumbuh pada era 90-an adalah Mizan. Kemudian pengajian di Masjid Salman ITB, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya KAMMI. Berdirinya Partai Keadilan, dan menjadi PKS.

Namun pasca Orde Baru runtuh, hal ini membuka banyak kemungkinan, cikal bakal perkawinan Islam dan industri budaya pop melahirkan televisi-televisi swasta. Muncullah program yang sebelumnya diinisiatifkan TVRI, Kuliah tujuh menit (kultum), yang saat itu penceramahnya masih cukup oke, misalnya ada Quraish Shihab.

Baca Juga :  Duta Besar Arab Saudi Jelaskan Pelarangan Orang Palestina Berhaji Sampai Kasus Tuti Nursilawati

Sebelum budaya pop Islam ini menguat, stasiun televisi satu-satunya, TVRI, masih menayangkan ceramah agama Budha, Hindu, Kristen. Akan tetapi di era proses Islamisasi, tayangan ceramah hanya menyisakan ceramah agama Islam. Kemunculan televisi swasta seperti RCTI, semakin meningkatkan ceramah-ceramah agama Islam. Umat Islam mulai rajin mendapatkan ceramah lewat televisi.

Hubungan antara ustadz dan murid pun kemudian berubah, yang sebelumnya sangat konvensional antara guru-murid, kyai-santri di Masjid dan di Sekolah, kemudian ada imajinasi yang melampaui batas geografis ketika menonton TV.

  1. Berarti kan budaya pop itu sangat berperan dalam perubahan metode dakwah Islam?

Betul, nah ketika ada TV di tahun 90 an, justru ustadz-ustadz baru muncul mengisi ceruk yang sebelumnya diisi oleh otoritas tokoh agama seperti Quraish Shihab.

Tetapi harus kita akui juga bahwa sejak tahun 70 an, fenomena Zainuddin MZ sebagai dai kondang sudah muncul. Sebelumnya kan kita melihat Zainuddin MZ itu pada mulanya hanya terkenal di daerah Jabodetabek, lalu ketika pidatonya Zainuddin MZ ditangkap oleh industri Virgo Record, ceramahnya pun kemudian direkam. Padahal ketika itu merekam pidato ceramah belum lazim. Dilakukanlah proses eksperimentasi lewat Zainuddin MZ, ternyata ketika kaset ini diputarkan di radio, ternyata laku keras. Lalu banyak orang mendengarkan itu. Disinilah imajinasi dakwah dengan mendengarkan radio kemudian menjadi bagian dari kebudayaan Muslim Indonesia.

Dengan kehadiran televisi, selain bermunculan ustadz-ustadz baru, pada akhirnya Zainuddin MZ menjadi salah satu ustadz yang dikenal secara luas. Tradisi masyarakat yang sebelumnya mendengarkan ceramah lewat radio, mengalami perubahan dengan menonton televisi.

  1. Selain ceramah ustadz, di era itu juga muncul sinetron-sinetron religi, bagaimana pendapat anda?

Kejatuhan Orde Baru memberikan ruang lebih luas bagi perayaan identitas Islam di muka publik. Industri menangkap ini, orang sedang semangat menunjukkan keislaman secara publik, pada saat itulah sinetron-sinetron bertema religi mulai marak di televisi.

Ditambah lagi kita tahu sejak tahun 2000-an, populasi kelas menengah Muslim saat itu juga mulai meningkat. Imajinasi orang berislam juga mulai tumbuh. Nah, sinetron itu mewadahi imajinasi muslim yang sebenarnya mereka inginkan, kesalehan macam apa yang diinginkan.

Tetapi pertanyaannya, apakah industri sinetron yang ramai sampai sekarang, memberikan nilai keislaman atau tidak? Dilihat dari banyaknya sinetron-sinetron bertema Islam, mungkin masyarakat punya resepsi dan interpretasi masing-masing. Pada titik ini saya melihat budaya pop itu bukan lagi semata-mata sebagai ekspresi kultural, sudah menjadi bagian dari industri. Ketika ranahnya sudah industri, di situ ada proses monetizing, proses kapitalisasi, ada proses eksploitasi juga. Ini bisa muncul dalam konteks industri televisi. Nah, ketika bicara media online, langgamnya pun berbeda lagi.

  1. Kemunculan media online, media sosial, apakah itu semakin menguatkan monetizing itu?

Di era televisi, orang yang ingin menjadi ustadz kondang, harus melalui proses seleksi sebelumnya. Artinya, dengan masuk acara TV, entah itu harian atau mingguan, mereka mengalami proses seleksi ini.

Bagaimana caranya? Dengan ada proses seleksi, mereka harus menunjukkan brand atau karakter masing-masing. Kita bisa sebut, Ust. Yusuf Mansur dengan Sedekah, Aa Gym dengan manajemen qalbu, terus Ust. Arifin Ilham dengan Dzikir, Alm. Uje dengan gaulnya. Masing-masing mereka punya brand. Hal ini tidak terlepas karena mereka menempelkan diri pada industri TV yang besar.

Baca Juga :  Ahmad Najib Burhani: Berpihak kepada Mustadh’afin Adalah Perintah dalam Al-Quran

Dengan kemunculan Media sosial yang marak sepuluh sampai lima belas tahun terakhir, orang tidak butuh lagi lari ke TV. Semua orang bisa membuat kanal sendiri. Dalam istilah media, kemunculan ustadz sosial media ini disebut dengan mikro ustadz selebriti. Ada Ust. Hanan Attaki, Ust. Abdul Somad, mereka lahir dalam industri ini seperti ini.

Mereka tidak mengandalkan lagi industri kapitalisme TV. Mereka bisa memaksimalkan sosial media, dimana mekanisme monetisasinya menjadi sangat berbeda. Jika sebelumnya sangat bergantung pada investasi iklan di televisi, maka mekanismenya berganti dengan google adsense di Youtube, endorsement di instagram dan lain sebagainya. Nah kalau saya melihat, ustadz-ustadz online ini justru tidak mencari uang dari sosial media, tetapi di situ mereka membangun popularitas.

Di tengah hampir setengah lebih penduduk Indonesia menggunakan internet dan smartphone, medan baru inilah yang digunakan ustadz-ustadz baru dan menjadi langgam dakwah baru. Medium baru ini turut memberikan ruang pada organisasi atau kelompok Islam baru yang hampir tidak ada kaitannya dengan NU dan Muhammadiyah. Di tengah meningkatnya populasi mereka, mereka juga menawarkan visi dan ideologi yang sesuai dengan keinginannya. Kita sebut saja kelompok Salafi, Tarbiyah, Hizbut Tahrir, mereka menawarkan ide dan gagasannya kepada publik online.

Pada era dakwah dengan model media online ini, Muhammadiyah dan NU sudah mulai terlihat tertinggal. Imajinasinya sekarang adalah dengan adanya akun Instagram, Youtube, Facebook, orang tidak butuh modal besar untuk dikenal luas oleh publik sebagaimana pada era televisi. Retapi ustadz-ustadz ini hanya membutuhkan konten yang bagus dan berkualitas, editor yang baik, dan konsistensi.  Disini teman-teman Salafi dan yang lainnya bisa menawarkan ideologi Islamnya menjadi jauh lebih kuat dan berpengaruh lewat media yang sangat personal, yaitu lewat smartphone kita.

  1. Media digital bagi dakwah Islam bisa dikatakan memiliki nilai positif, yakni bisa melahirkan ustadz yang berkarakter dan menjadi alternatif. Tetapi ada anggapan dari sisi negatif, yakni bisa melahirkan ustadz yang “hanya pintar retorika” tetapi wawasan keislamannya kurang, bagaimana menurut anda?

Ini yang menarik bagi saya, perspektif seperti itu bisa saja benar tapi bisa saja salah. Maksud saya begini, kalau dalam industri televisi ada proses seleksi, ada proses regulasi, dan ada proses editing. Orang bisa melihat, ini orang enak dilihat secara visual, kemudian didengarnya, mudah diterima dan lain sebagainya. Nah, biasanya kalau industri televisi ukurannya bisa dilihat dulu dari beberapa episode, kemudian jika dianggap kurang cocok, maka ustadz itu tidak akan ditampilkan lagi.

Misalnya saya punya teman yang bekerja di televisi swasta, saya pernah tanya, “kenapa ustadz ini kok udah jarang lagi di acara ini?”  

Jawabannya, “ooh orang itu terlalu serius,” katanya. Padahal bagi saya ustadz itu enak. Karena terlalu serius, makanya tidak berlanjut.

Figur televisi itu membutuhkan sosok yang renyah, bisa bikin ketawa, terutama yang ratingnya tinggi.  Rezim rating yang ada di sana. Dampaknya adalah seringkali kan orang-orang yang secara audio visual enak, tetapi biasanya kemampuan ilmunya tidak terlalu mumpuni.

Baca Juga :  Quraish Shihab dan Sepakbola

Di era industri televisi ini memungkinkan untuk kemunculan ustadz-ustadz populer. Hal ini karena ada backstage, ada dapur televisi, ada proses editing, briefing sebelum tampil, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan media sosial, harus kita akui juga, karena media sosial ini adalah rimba belantara pengetahuan, informasi semua orang bisa datang, mau tidak mau cara satu satunya untuk bisa maju, pertama mereka harus menunjukkan konten yang bagus, kualitas yang bagus, juga harus memiliki otoritas.

Nah Ust. Hanan Attaki, Ust. Abdul Somad, ini mereka juga punya otoritas, mereka lulusan dari Timur Tengah. Maksud saya, memang berbeda dengan era televisi, tetapi jika dianggap tidak  punya pengetahuan, tidak juga, mereka ini punya otoritas pengetahuan. Meskipun secara ideologi politik Islamnya bisa berbeda dengan Muhammadiyah dan NU, tetapi secara otoritas pengetahuan itu sanadnya (sandarannya) bisa dicari.

  1. Dalam merespon pergeseran model dakwah ini, mucul banyak website Islam moderat, apa pandangan anda?

Sebelumnya kita tahu, NU dan Muhammadiyah besar secara populasinya. Tetapi dengan adanya teknologi baru yang disebut dengan internet, ternyata mereka tertinggal secara pengaruh. Ini yang digunakan oleh komunitas Muslim yang secara populasi sebenarnya kecil, tetapi punya gaung yang cukup besar. Contohnya Salafi menggunakan radio, televisi, media sosial dan lain lain.

Muhammadiyah dan NU ketinggalan start. Akan tetapi di antara dua organisasi ini yang lebih sangat responsif atau reaktif adalah teman teman NU, anak muda NU. Merasa tertinggal, mereka terus kemudian menawarkan wajah Islam NU yang cukup moderat di internet. Akhirnya muncul NU Online, Bincangsyariah.com, Islami.co, yang sekarang sudah dan terus beranjak ke atas.

Lalu kenapa NU menjadi sangat responsif, dan dalam banyak kasus menjadi sangat reaktif? Karena mereka merasa yang dilawan ini adalah ideologi ideologi wahabi dengan agenda purifikasi.

Kita tahu kelahiran NU sejak awal sudah punya antidote (penangkal) terhadap ini. Ketika website-website NU seperti Alif.id, Islami.co, dan sebagainya, tujuannya tidak semata-mata profit, bahkan mungkin merugi, kenapa? karena  ini bagian dari membela ideologi keislaman ala NU.

Antidote itu tidak ada dalam Muhammadiyyah. Kita harus lihat juga, modernisasi purifikasi Islam itu beririsan dengan organisasi Muhammadiyyah. Jadi bagi saya, Muhammadiyyah masih cukup kesulitan menemukan cara membangun antidote untuk dirinya sendiri.

Muhammadiyah memang berada pada titik moderat, tetapi imajinasi moderat yang seperti apa? Kalau terlalu moderat sementara tidak punya antidotenya sebagaimana NU, orang yang ghiroh keislamannya sangat kuat itu akhirnya bisa mendirikan organisasi sendiri. Contohlah Wahdah Islamiyyah di Sulawesi Selatan dan An-Nadir yang juga di provinsi yang sama. Begitu pun organisasi Hidayatullah yang ada di Kalimantan, awalnya bagian dari Muhammadiyah juga. Kenapa mereka berpisah dari Muhammadiyah? Karena mereka merasa tidak yakin Muhammadiyah memiliki ideologi Islam yang cukup tinggi.

Nah diskursus Islam Nusantara bagi saya, sebagaimana yang dikatakan Ahmad Najib Burhani, adalah bagian dari antidote perlawanan terhadap Islam Wahabi. Persoalan kemudian secara konseptual, secara sejarah, secara isi dan metodolgi itu harus dibahas lebih lanjut, tetapi itu menegaskan punya antidote itu. Hal inilah yang belum dimiliki Muhammadiyyah. Makanya website yang berafiliasi NU bisa tumbuh dengan pesat, ini bagian dari ideologi melawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here