Peneliti UIN Jakarta: Selain Ibadah, Haji Merupakan Perjalanan Manusia dengan Ragam Aspek

0
98

BincangSyariah.Com – Haji merupakan rukun Islam yang kelima, diyakini sebagai ibadah pamungkas bagi umat Muslim. Sekali dalam seumur hidup haji diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu. Selain dapat dilihat sebagai sebuah ritual, banyak aspek dari ibadah haji yang dapat dieksplorasi lebih lanjut. Seperti dari aspek sosial, ekonomi, bahkan budaya.

Untuk mendapatkan ragam perspektif dari ibadah haji, Wildan Imaduddin, reporter Bincangsyariah, menemui Dari Darmadi, M.A, dosen UIN Jakarta yang merupakan pakar di bidang haji dan umrah. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana menjelaskan fenomena orang-orang Muslim Indonesia yang bercita-cita tinggi pergi berhaji dari sisi teologis?

Aspek teologis ini saya pikir sangat penting untuk menjelaskan kenapa orang muslim di Indonesia atau Nusantara sejak zaman dulu, zaman Hindia Belanda, hingga sekarang punya cita-cita yang sangat kuat untuk ke Mekah, untuk ibadah haji. Menurut saya secara teologis memang umat Islam Indonesia itu memiliki cara pandang keagamaan yang khas yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran teologi Ahlussunnah wal jamaah atau sunni yang juga sufistik. Syariah yang didekati dengan cara pandang tarekat.

Kalau bicara soal Islam sunni, sufi dan tarekat maka literatur keagamaan yang berkembang di Indonesia termasuk di pesantren-pesantren sejak dulu adalah literatur-literatur keagamaan yang memang sangat berat perhatiannya kepada ibadah dan ritual keagamaan, haji termasuk salah satu diantaranya.

Meskipun pelaksanaannya tidak mudah, tetapi umat Islam di Nusantara punya cita-cita ini. Jika kita lihat dalam banyak literatur, maka misalnya ketika membahas tentang haji, narasi yang dibangun adalah haji itu ibadah yang menyempurnakan agama seseorang, rukun agama terakhir, dan juga dibumbui cerita-cerita di seputar itu.

Ada pula hadis yang banyak dipercaya misalnya haji itu menghapus dosa, lalu hadis tentang keutamaan kota Mekah dan Madinah. Literatur mengenai hal ini juga sangat berkembang, misalnya salat di Masjidil haram lebih utama daripada salat di tempat lain di mana pahalanya 100.000 kali lipat, di Madinah juga demikian dan sebagainya.

Kesucian-kesucian yang dinisbatkan kepada kota haramain ini, membuat orang-orang ingin sekali kesana. Bahkan ada juga kecenderungan dimana orang kalau naik haji itu sekaligus ingin meninggal disana, karena memang ada kepercayaan yang sangat kuat di kalangan umat Islam di Nusantara bahwa meninggal di Makkah itu adalah sebuah capaian akhir kehidupan seseorang.

Jika haji itu bisa menyempurnakan keagamaan seseorang, maka meninggal di sana luar biasa. Ini menyebabkan banyak orang yang bercita-cita ingin meninggal di Makkah, jadi umat Muslim percaya berkah semua itu ada di Mekah.

Nah kepercayaan seperti ini sudah berkembang dari dulu, dari berabad abad lalu. Keutamaan keutamaan kota Mekah dan sebagainya, Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali banyak bercerita mengenai hal hal seperti itu. Inilah yang disampaikan ustadz, guru, dan kiai kiai kita di kampung kampung maupun di pesantren-pesantren.

Dari aspek sejarah, fenomena haji di masa kolonial terkait dengan banyaknya jamaah yang ingin berangkat ini bagaimana?

Di masa kolonial meski masih serba sulit sudah banyak orang orang Hindia Belanda yang ingin naik haji. Dari sisi jumlah jamaah, pada awalnya cenderung belum banyak sehingga dalam catatan VOC, kapal dagang VOC digunakan sementara untuk memberangkatkan jamaah haji. Tetapi ketika jumlahnya makin lama makin banyak, pihak pemerintah kolonial mulai berpikir bagaimana mengatur jamaah haji.

Hal ini karena pada dasarnya ketika kekuatan kolonial makin besar di Nusantara ini, maka mereka punya kepentingan mengatur perjalanan orang, apalagi dalam konteks haji, pergi keluar dari Hindia Belanda, mereka bawa uang berapa untuk diapakan dan sebagaiya. Sehingga diaturlah dengan menggunakan paspor, ada pass haji. Kira-kira dimulai sejak abad ke-19.

Semakin lama semakin banyak, apalagi ketika musim panen di Sumatera misalnya, ada buku buku yang menjelaskan mengenai hal itu, musim panen lada di Sumatera, panen kopra di Sulawesi, jumlah jamaah haji di daerah-daerah perkebunan biasanya langsung meningkat. Lama kelamaan Pemerintah Kolonial Belanda makin khawatir karena sumber keuangan disini dibawa keluar.

Ditambah lagi pada akhir abad 19, kita juga tau, mulai bergejolak Pan Islamisme dengan tokohnya Jalaluddin al-Afghani, Muhamamd Abduh, Rasyid Ridha, semua menyatakan pentingnya pembaharuan pemahaman keagamaan. Pemikiran tentang pan-islamisme ini juga sedikit banyak berpengaruh ke Nusantara.

Pihak Belanda khawatir jangan sampai  haji ini menjadi channel bagi masuknya paham paham ini ke Nusantara. Paham anti penjajahan Jamaluddin Al-Afghani. Pada waktu itu orang-orang Indonesia yang jamaah haji memang bertemu orang orang dari wilayah wilayah yang telah lebih dulu mengenal Pan-Islamisme.

Hal seperti ini menimbulkan perdebatan di kalangan penasehat-penasehat gubernur jenderal Hindia Belanda, bagaimana sikap yang mesti diambil pemerintah kolonial, apakah dibiarkan saja, melarang, atau justru memfasilitasi atau bagaimana.

Snouck Hurgronje, di luar dugaan banyak orang, mengatakan bahwa pemerintah Belanda jangan turut campur soal haji, haji ini masalah ibadah, kita harus hargai orang-orang ini. Meskipun dia bilang kalau pendapat pribadi saya, saya merasa bahwa banyak sekali orang hindia belanda pergi haji itu hukumnya belum wajib mereka itu, karena apa? Karena dalam agama Islam kata dia, persyaratan orang yang berangkat haji itu harus mampu, benarkah orang-orang ini mampu? Jangan-jangan cuma karena ingin naik haji, lalu baru punya uang sedikit langsung pergi.

Baca Juga :  Mengenang Perjalanan Dakwah Pakar Hadis Indonesia, Prof. DR. K.H. Ali Mustafa Yaqub

Orang seperti ini meninggalkan keluarganya, keluarganya terlunta lunta dan sebagainya. Itu tidak boleh secara agama, belum wajib haji, dia mengatakan begitu. Tetapi yasudah, kalau misalnya mereka mau.

Ketakutan pihak kolonial tentang anti penjajahan kata Snouck Hurgronje itu bukan dari jamaah haji yang berangkat dari Hindia Belanda, tetapi dari orang-orang Hindia Belanda yang lama mukim disana tinggal di kota Mekah. Merekalah yang banyak menyebarkan paham paham anti penjajahan, silakan baca bukunya Michael Laffan tentang haji dan tentang paham nasionalisme awal di Timur Tengah di kalangan orang-orang Hindia Belanda. Akhirnya pemerintah kolonial tidak melarang tetapi mencoba membatasi karena secara ekonomi jangan sampai orang orang pergi kesana bawa uang dari Hindia Belanda dan habis disana.

Kemudian ada banyak kasus misalnya penipuan, perampokan yang dialami oleh jamaah haji. Pada zaman itu, banyak jamaah haji yang ditipu, dirampok, dibegal macam macam kasusnya, mereka lapornya ke pemerintah kolonial Belanda untuk meminta perlindungan. Sampai pada tahun 1872 Pemerintah Hindia Belanda di Batavia memutuskan untuk membuat konsulat Jenderal di Jeddah. Tujuan dibuatnya konsulat jenderal adalah untuk memfasilitasi kalau ada apa apa jamaah haji bisa melapor.

Dibalik semua ini, kita tahu belakangan, bahwa seluruh catatan orang Indonesia atau Hindia Belanda dilakukan atas dasar ketakutan mereka terhadap jamaah haji. Bahkan orang yang pulang haji itu disuruh pakai baju haji, atribut haji, pakai peci putih, pakai sorban.

Tujuannya pada waktu itu agar jamaah haji yang baru pulang gampang dikenali. Di kampung ini siapa saja yang sudah pergi haji, Oh si anu, jadi kalau ada apa apa tinggal dihubungi. Kalau dia macam macam langsung ditangkap. Banyak kasus haji-haji kita yang melawan Belanda ditangkap. Ini salah satu penjelasan dan latar belakang adanya gelar dan atribut haji di Indonesia.

Sempat dikatakan bahwa di masa penjajahan Belanda keadaan masih serba sulit, lalu bagaimana kelanjutan para jamaah haji yang hendak berangkat?

Pada waktu tahun akhir abad 19 awal abad 20 itu kapal kapal belanda yang khusus untuk mengantarkan jamaah haji mulai beroperasi. Ada yang disebut dengan kapal tiga kongsi. Snouck Hurgronje sebetulnya tidak begitu setuju, tetapi karena pengaruh kelompok bisnisman juga sangat kuat di kalangan pemerintah kolonial Belanda jadi akhirnya tetap dapat beroperasi. Bahkan waktu itu jamaah haji diharuskan berangkat lewat kapal belanda ini, kongsi tiga ini. Dengan harga yang kadang mahal, tetapi intinya kegiatan haji sudah menjadi lahan bisnis.

Begitu Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia waktu itu membentuk departemen agama yang salah satu tugasnya membantu pelaksanaan haji. Akan tetapi pada masa awal kemerdekaan pemerintah belum langsung terlibat, tetapi memfasilitasi kepergian jamaah jamaah haji kesana. Kapal kongsi tiga masih menjadi penyedia layanan angkutan para jamaah.

Saat KH. Wahid Hasyim sebagai menteri agama, zaman penjajahan Jepang, waktu itu pernah dia minta tolong kepada pemerintah Jepang agar dapat membantu memberangkatkan jamaah haji menggunakan kapal jepang, akan tetapi belum berhasil. Akhirnya yang memberangkatkan kelompok haji adalah jaringan kapal milik syekh-syekh haji dari Mekah, Madinah dan dari Jeddah yang beroperasi di Indonesia.

Kemudian lambat laun peran pemerintah makin besar dan status haji makin lama makin populer. Jika dulu orang Belanda memakai gelar dan atribut agar mudah mengidentifikasi, akan tetapi lama kelamaan masyarakat makin melekat itu, bahkan ketika belanda sudah tidak ada, orang Indonesia masih terbiasa menggunakan gelar haji dan memakai atribut haji sampai sekarang.

Hal itu juga mejadi bagian dari status sosial. Bahkan semua orang ingin pergi haji. Kita bangga mendengar cerita tentang ada seorang pemulung naik haji, tukang bubur naik haji dan seterusnya. Inilah bagian dari ekses dari masa kolonial Belanda.

 

Berkaitan dengan status sosial ini sepulang dari ibadah haji di sebagian tempat, para jamaah langsung didapuk menjadi pemuka agama, otomatis dianggap sebagai ahli agama. Padahal yang saya tahu kalau dulu kita bisa paham, bahwa jamaah haji selain ibadah juga sambil belajar kepada syekh-syekh, mereka belajar langsung kepada mereka dalam rentang waktu tertentu. Untuk konteks saat ini bagaimana?

Berkaitan dengan hal Ini, ada periode yang sangat kritis atau critical juncture dalam hubungan sanad keilmuan antara Indonesia dan Mekah. Perubahan geopolitis yang terjadi, dimana hingga awal abad 20 sekitar tahun 1920-an, Mekah masih dikuasai oleh Syarif Mekah. Syarif Mekah adalah perpanjangan kekuasaan dari Turki Utsmani, lewat Gubernur Pasha di Kairo.

Meskipun Sultan Turki pada waktu itu memiliki gelar Khadimul Haramain, sebagai penjaga dua kota suci, akan tetapi secara de facto wilayah Mekah dikuasai oleh Syarif. Nah Syarif Mekah ini lama kelamaan kekuasaannya semakin melemah. Sementara di daerah Arabia Tengah, di daerah Najed, muncul kelompok bernama Ibnu Saud yang ingin menguasai. Memang pada waktu itu sudah terjadi peperangan antar suku.

Baca Juga :  Meninggal di Tanah Haram, Apakah Mati Syahid?

Sampai tahun 1920-an itu, praktek keagamaan yang berlangsung di Indoensia, banyak dipengaruhi Mekah dengan model yang sedikit dipengaruhi sufi tarekat. Pada waktu itu di Mekah masih ada budaya tahlil, budaya ngaji, seperti kitab Ihya Ulumuddin Al-Ghazali kemudian Dalail Khairat dan lain sebagainya, masih ramai.

Bahkan waktu itu di Kota Mekah, Ahlussunnah Wal Jamaah itu bukan hanya Mazhab Syafii, yang menjadi imam khutbah jumat di Masjidil Haram bergiliran. Minggu pertama dari Mazhab Hanafi, minggu berikutnya dari Mazhab Maliki, terus bergiliran. Kelompok pengajian juga seperti itu, kalau anda penganut Mashab Syafii, ikut pengajian kesini, kalau Mazhab Maliki disana.

Nah, Ketika pasukan Ibnu Saud berhasil mengalahkan pasukan Syarif Mekah di tahun 1920an, lambat laun daerah ini dikuasai oleh Ibnu Saud. Lalu pada tahun 1923 didirikanlah kerajaan Saudi Arabia, yang kemudian kita tahu, memiliki sikap dan pandangan berbeda. Apalagi karena Kerajaan Saudi Arabia pandangan keagamaannya dipengaruhi oleh Muhammad bin Abdul Wahab, yang lalu dijadikan seolah-olah mazhab negara.

Sejak saat itu, di tahun 1925-1926  jamaah haji sudah  mulai gelisah. Praktek-praktek keagamaan yang dulunya ramai, tiba-tiba serba dilarang sehingga menjadi sepi. Problem inilah yang kemudian disampaikan kepada ulama-ulama di Jawa, tepatnya di Surabaya. Kemudian para ulama berkumpul untuk melakukan beberapa pertemuan. Kiai Wahab Hasbullah bertemu dengan Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari. Akhirnya Kiai Hasyim Asy’ari diminta membuat surat pernyataan  untuk dikirim ke raja Saudi, Ibnu Saud. Surat ini berisi tentang kekhawatiran dan kegelisahan umat Islam yang berasal dari Jawa waktu itu, tentang kebebasan beragama untuk menjalankan sesuai dengan mazhab masing-masing dan juga pengaturan pelaksanaan ibadah haji yang pada waktu itu agak kacau serta penetapan harga yang sesuai. Nah,  karena waktu itu tidak ada atas nama siapa, akhirnya disebutlah organisasi dengan nama Nahdlatul Ulama, disitulah awal mula kelahiran NU.

Sejak saat itu kita melihat Kerajaan Saudi Arabia makin kuat, ulama-ulama mereka juga makin lama makin banyak, semakin sedikitlah orang Indonesia yang tinggal disana dan belajar disana. Kecuali mereka yang belajar dan menjadi satu paham dengan Wahabi, menjadi bagian dari wahabi, bahkan mendakwahkan ajaran wahabi seperti di Sumatera Barat dan di beberapa tempat lain.

Nah sejak saat itu apalagi sejak kemerdekaan Indonesia, regulasi haji sudah semakin kompleks. Ada kebijakan surat-menyurat, visa, dan sebagainya. Jadilah orang yang pergi haji hanya untuk haji saja, bahkan umrah waktu itu belum ada seramai sekarang. Sudah tidak ada lagi yang tinggal.

Sampai tahun 1960-an, 1965-an, berdiri universitas-universitas di Arab Saudi, ada Ummul qura, Universitas Islam Madinah. Mulailah ada tempat belajar baru, ada beassiwa, mulailah orang Indonesia kembali berbondong-bondong lagi pergi kesana untuk belajar. Lewatnya sudah bukan melalui haji lagi, tetapi dengan skema kuliah.

Terkait aspek pengelolaan secara ekonomi, yang kita tahu di banyak media, bahwa dana haji sangat besar, ada dana talangan yang bisa digunakan untuk infrastruktur, pembangunan, investasi dan sebagainya, sejak kapan ini terjadi pak? Apakah ini fenomena baru setelah pengelolaan yang kompleks itu?

Setahu saya dari dulu orang mendaftar haji sudah banyak, tetapi sebanyak itulah yang diberangkatkan, tidak ada daftar tunggu. Bahkan kalau kita lihat jumlah orang yang berangkat haji dari tahun ke tahun tidak menunggu lama, paling lama satu tahun. Jadi tidak ada pengendapan uang.

Sampai tahun 1995, jamaah haji Indonesia kira-kira sudah mencapai 100.000 an lebih, itu masih seperti itu. Puncaknya pada tahun 1986-1987, Indonesia dinobatkan sebagai negara yang boleh mengirimkan jamaah haji terbanyak sedunia, lewat keputusan OKI (Organisasi Konferensi Islam) waktu itu. OKI menetapkan kebijakan bahwa dari satu Negara boleh memberangkatkan  haji dengan komposisi 1:1000 orang.

Karena jumlah penduduk Muslim Indonesia terbesar di Dunia, otomatis mendapatkan hak kuota untuk berangkat haji lebih besar, karena satu orang berbanding seribu orang, jumlah penduduk muslim Indonesia berapa? Dari 260-270 juta, orang Islamnya mungkin 200 jutaan. Ya itulah, kita sekarang mendapatkan 1:1000 itu artinya 200.000an orang yang naik haji.

Untuk sekarang kuota ini sudah terpenuhi. Akan tetapi dulu di tahun 1995 pemerintah masih agak kesulitan untuk mencari calon jamah haji. Sehingga pemerintah melalui departemen agama melakukan sosialisasi agar orang orang Indonesia mendaftar haji. Di tahun 2000-an mungkin antrian masih satu sampai dua tahun atau tiga tahun paling lama.

Dari dulu meskipun uang sudah ada, tetapi bukan dalam bentuk dana investasi, kalau pun ada uang dari efisiensi haji, yang disebutnya Dana Abadi Umat, itu sudah ada sejak zaman Orde Baru sisa sisa dari itu dan keuntungan keuntungannya.

Tetapi yang dalam konteks dana haji seperti sekarang yang dalam bentuk investasi, utamanya terjadi menurut saya sejak tahun 2005 hingga 2007. Saat itu daftar antrian sudah mencapai 5 sampai 7 tahun. Lalu puncaknya pada tahun 2008-2009, pada masa menteri agama Surya Dharma Ali, dimunculkan kebijakan untuk menaruh uang-uang jamaah haji di sukuk.

Baca Juga :  Dr. Atiyatul Ulya: Kesadaran Emansipasi Wanita Tumbuh Sejak Masa Nabi

Dengan alasan karena kekhawatiran kalalu ditaruh di bank-bank ini, dengan segala kondisinya takut kalau kolaps kemudian uangnya hilang. Jadi ditaruhlah dana haji itu di Islamic Bond, dengan asumsi dapat memberikan jaminan kemanan lebih besar ketimbang di bank bank pemerintah ataupun bank swasta, sehingga ditariklah dana dana haji ini.

Akhirnya bank-bank ini, baik swasta maupun BUMN, yang sudah terlanjur melakukan investasi berdasarkan dana haji, kebingunan karena dananya malah diambil dan ditaruh di sukuk. Untuk mengantisipasi hal ini, akhirnya pihak bank-bank ini berinisiatif memunculkan program atau gerakan bahwa orang boleh daftar haji dengan menggunakan dana talangan haji. Jadi ramailah itu, orang dengan uang 2,5 juta orang boleh daftar haji dan sudah dapat kursi, sejak saat itulah tiba-tiba daftar tunggu haji meningkat pesat.

Belum lagi harus diakui juga, secara ekonomi keadaan masyarakat semakin membaik. Pegawai Negeri Sipil (PNS) gajinya bertambah bahkan berkali kali lipat dari sebelumnya. PNS dari kalangan guru dan dosen, ada uang dari remunerasi, sertifikasi dan lain sebagainya. Karena banyak tunjangan seperti ini, membuat banyak orang bisa pergi umrah, bisa mendaftar haji dan sebagainya. Daftar tunggu haji meningkat tajam.

Sekarang di Tangerang Selatan saja yang saya tahu, daftar tunggu haji sudah 19-20 tahun, di Jakarta sudah 20 tahun, di berbagai daerah sudah ada yang 30 tahun, bahkan di Sulawesi itu ada yang sampai 40 tahun. Menurut data Kementerian Agama tahun lalu, di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan itu sampai 40 tahun.

Ini akibat regulasi yang membuat seperti itu. Adanya kebijakan seperti tadi dalam analisa saya untuk memberikan jaminan kepada jamaah haji, berangkat lebih pasti, tetapi kemudian muncul problem lain. Sekarang dana talangan sudah ditutup, sudah tidak boleh. Tetapi orang mendaftar haji masih tetap boleh, masih tetap boleh, nah itu saya tidak tahu sampai kapan daftar tunggu haji bertambah jangka waktunya.

Pertanyaan terkahir pak, terkait dengan isu yang belakangan ramai, jamaah haji kita melakukan vandalisme, coret-coret di Jabal Rahmah, menyelipkan foto di antara bebatuan, fenomena ini mengapa terjadi? Bagaimana penjelasannya?

Saya sendiri sempat menyaksikan ada tulisan misalnya Ujang love Euis, wah ini kayaknya jamaah berasal dari Cianjur atau Sukabumi. Misalnya lagi Abdul Hamid dengan siapa, pasangan suami-istri, hal seperti ini seakan meneguhkan ikatan cinta dan ikatan kehidupan mereka sebagai suami-istri atau semacamnya.

Dalam literatur-literatur populer, Jabal Rahmah ini adalah tempat pertemuan antara Adam dan Hawa, ada semacam cerita romantisme disana. Nah, kita lihat Ibadah haji itu sebetulnya hanya 6-7 hari saja selesai, tetapi waktu orang jamaah haji sampai 40 hari bahkan lebih, atau kalau ONH plus 2-3 minggu, masih tetap ada waktu dan ruang untuk mengeksplorasi hal yang lain. Sisi kemanusiaan yang berkebudayaan termasuk mengeksplorasi hal yang romantis. Makanya yang saya ceritakan tadi di awal, kenapa haji menyisakan pengalaman yang indah yang sangat menarik, karena penuh dengan nuansa yang bermacam-macam. Aspek-aspek romantisisme di dalamnya terlihat disitu, karena pengaruh lamanya masa haji atau semacamnya. Saya sendiri tidak tahu siapa yng mengajarkan tetapi kira-kira seperti itu.

Praktik seperti ini sudah lama terjadi pak?

Sudah lama, saya pertama kali melihat itu tahun 1998, di tahun 2004 saya lihat lagi. Meskipun kalau sekarang batu-batu yang penuh tulisan itu nanti dicat lagi.  Kalalu dalam konsep turisme, seseorang pergi ke sebuah tempat punya hasrat ingin membuktikan kepada diri sendiri juga kepada orang lain bahwa ia penah disana melakukan itu. Dalam turisme hal ini dinamakan has been there done that.

Ini dikenal dalam konsep turisme yang universal, bukan hanya di tempat tempat suci, tetapi dimana pun. Misalnya di Amerika Serikat di kota Nashville, Tenneessee, makamnya penyani legendari Elvis Presley, orang-orang menuliskan nama menyimpan foto, ada yang berjualan kaos, macam-macam. Misalnya lagi di Paris di Pont des Arts Bridge atau jembatan cinta, orang biasanya meletakkan koin atau mengaitkan gembok. Ada juga di Cekoslovakia, Republik Ceko, tahun lalu saya ke Praha, ada juga fenomena seperti itu. Ada tulisan-tulisan, grafiti-grafiti, pakai kartu dan lain sebagainya.

Saya kira tempat-tempat yang disinggahi jamaah haji juga tidak terlepas dari pengaruh keduniawian seperti itu. Karena walau bagaimana pun haji adalah perjalanan, yang bukan hanya ingatan, teapi juga membawa jasad dan tubuh manusia yang sehari hari berkebudayaan. Nah kalau sudah berbicara budaya, tergantung siapa dan apa yang mempengaruhi. Tetapi secara literatur keagamaan ada yang mengatakan itu adalah tempat pertemuan Adam dan Hawa, dan orang yang melakukan itu mungkin ingin mengikuti leluhurnya, kira-kira begitu.

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here