Peneliti LIPI: Kelas Menengah Muslim Terfragmentasi Dalam Pilpres 2019

0
204

BincangSyariah.Com – Dengan Islam sebagai agama mayoritas, suara umat muslim di Indonesia dalam perhelatan politik menjadi sesuatu yang amat penting bagi para politisi untuk meraup suara. Tidak sekedar berlomba-lomba menggaet para tokohnya, mereka juga mencitrakan diri sebagai sosok yang religius dan dekat dengan umat. Hal ini sebagaimana tercermin dalam Pemilu 2019.

Jika ditarik ke dalam diskursus kelas menengah di Indonesia, sebagai kelas sosial berpengaruh secara ekonomi maupun politik, tentu penduduk beragama Islam menempati presentase yang signifikan. Gabungan dua konsep antara kelas menengah sebagai kelompok sosial yang memiliki kemampuan finansial dan muslim sebagai identitas agama, dikenal dengan istilah kelas menengah muslim.

Lalu bagaimana keterkaitan antara kelas menengah muslim dengan Pemilu 2019?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, reporter bincang syariah Wildan Imaduddin Muhammad, mewawancarai langsung Wasisto Raharjo Jati, peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI yang fokus pada isu politik kelas menengah muslim dan telah menerbitkan buku berjudul Politik Kelas Menengah Muslim di Indonesia. Saat ini Wasisto tercatat sebagai Mahasiswa Master di the Autralian National University, Canberra. Berikut petikan wawancaranya:

Berbicara mengenai Pilpres 2019 yang mempertemukan kembali antara Joko Widodo dan Prabowo, dimanakah posisi kelas menengah muslim?

Saya melihat posisi kelas menengah muslim dalam pilpres kemarin terfragmentasi yang berbasis pada tiga hal: afiliasi organisasi keislaman yang mereka ikuti, organisasi pengajian yang mereka selalu hadiri, dan pilihan personal yang menjadi preferensi pribadi. Nah ketiganya itu yang kemudian menentukan seberapa intens kelas menengah muslim peka dengan pilpres 2019 ini.

Untuk yang pertama, saya memandang bahwa peran ormas keislaman sangat besar dalam mengkonstruksi preferensi politik kelas menengah muslim. Baik itu FPI, Muhammadiyyah, NU, Persis, Perti dan lain sebagainya. Yang kedua, kelompok pengajian mungkin pengaruhnya tidak sebesar dari yang pertama, hanya saja mereka tetap memberikan konstruksi politik yang ditautkan dengan pemikiran pemikiran yang berdampak pada dimensi ukhrawi.

Baca Juga :  Wahyudi Akmaliah: Dibanding Muhammadiyah, NU Lebih Reaktif di Dunia Digital

Nah ini yang sebenarnya cukup krusial dalam peta politik sekarang karena kita melihat bahwa peran kelompok pengajian ini ternyata cukup efektif dalam menarasikan narasi duniawi dan ukhrawi dalam pilihan politik personal. Nah yang ketiga, pilihan politik personal, porsinya tidak terlalu besar seperti yang pertama dan kedua.

Saya melihat bahwa kelompok ketiga ini cenderung bersikap rasional dengan berbagai macam isu yang berkembang dalam pilpres kemarin. Sehingga dalam tanda kutip mereka tidak seaktif dan seintens kedua kelompok di awal, namun tetap peka dengan situasi politik pilpres kemarin.

Secara historis, kelas menengah muslim menguat pada akhir orde baru, penggunaan politik identitas yang begitu kuat pada Pilpres 2019 ini bahkan sejak Pilkada DKI 2017, apakah bentuk ini merupakan kulminasi kekuatan kelas menengah muslim?

Saya pikir kalau kulminasi kekuatan kelas menengah muslim itu mempunyai berbagai macam varian dan jenis. Mengenai perkembangan kelas menengah pasca orde baru, yang menjadi kulminasi dari kekuatan kelas menengah muslim titik tekannya bukan pada politik identitas, akan tetapi pada syariatisasi ruang publik, yang itu diimplementasikan dengan legalisasi perda syariah.

Kemudian hal itu berlanjut pada perilaku intoleran yang berkembang pasca 2014. Kenapa dimikian? Karena di satu sisi kekuatan kelas menengah muslim ini semakin lama beranjak dari yang semula konservatif menuju pada sikap intoleran. Sehingga yang menjadi penekanan adalah mereka berusaha menciptakan Islam secara eksklusif untuk diterapkan secara menyeluruh.

Nah ini yang menurut saya yang menjadi bentuk kulminasi dari kekuatan kelas menengah muslim di era sekarang. Dan ini cukup kuat terlihat pada saat Pilkada DKI kemarin karena mereka berusaha menggembor-gemborkan Islam secara eksklusif yang diambil pembenarannya dari berbagai macam ayat suci Al-Quran dan Sunnah. Dan itu sebenarnya turut andil dalam menciptakan instabilitas dalam relasi antar umat beragama di Indonesia.

Baca Juga :  Dr. Atiyatul Ulya: Kesadaran Emansipasi Wanita Tumbuh Sejak Masa Nabi

Jika demikian, lalu sejauh mana tingkat kesadaran kelas menengah muslim sekarang ini dalam melakukan kegiatan politik mereka? Terutama dalam perhelatan politik 2019. 

Sebenarnya kesadaran politik kelas menengah muslim itu ada dua. Pertama mereka sadar secara pribadi dan kedua sadar secara kolektif. Bagaimana yang pertama? Sadar secara pribadi berarti mereka sadar dengan kepentingan apa yang ingin mereka dapatkan. Sehingga mereka berusaha untuk membaca secara pragmatis dampak apa yang diberikan kepada individu tertentu kalau misalnya mengikuti isu atau gerakan tertentu.

Sedangkan yang kedua secara garis besar mereka menempatkan kolektivitas sebagai preferensi kesadaran mereka. Artinya, mereka tidak mengerti secara utuh apa yang mereka perjuangkan, apa yang mereka pikirkan, namun hanya semata mata karena ini adalah urusan kolektif yang itu biasanya dikaitkan dengan urusan urusan yang sifatnya pribadi misalnya agama, etnis, dan lain sebagainya. Nah umumnya pada kelompok yang kedua inilah yang menjadi kendaraan para elit.

Kemudian pasca pilpres 2019 ini akankah kelas menengah Muslim mengambil peran dalam upaya rekonsiliasi?

Sebenarnya kalau tren rekonsiliasi di kelas menengah muslim ini tergantung dari upaya elit dalam menjembatani perbedaan. Kenapa demikian? Karena sejatinya kelas menengah muslim di Indonesia itu tidak bisa secara serta merta dari mereka sendiri menginisiasi perdamaian, dan rekonsiliasi di akar rumput, kalau tidak dicontohkan secara oleh para elit kita.

Nah disini kita perlu mendorong peran elit untuk menjaga silaturahmi karena ini berdampak pada semakin keruhnya ruang publik kita yang itu masih terjaga narasi ekslusivitas terhadap isu sara.

Adakah kaitannya antara kelas menengah dengan semakin maraknya ustad yang banyak bicara mengenai politik?  

Saya pikir fenomena ustad-ustad sekarang itu adalah bagian dari upaya simplifikasi ajaran beragama dari Al-Quran dan hadis untuk diterapkan secara mudah oleh masyarakat. Yang perlu saya tekankan di sini adalah simplifikasinya. Karena begini, untuk bisa melihat konteks berdasar pada Al-Quran dan Hadis itu tidaklah mudah. Karena satu sisi kasus-kasus yang diangkat dalam Al-Quran dan Hadis itu adalah terjadi di masa lampau. Yang itu saja berbeda dengan kondisi di masa sekarang.

Baca Juga :  Ahmad Najib Burhani: Berpihak kepada Mustadh’afin Adalah Perintah dalam Al-Quran

Di sini kita perlu melihat bahwa yang pertama ustad itu perlu tabayyun dalam melihat situasi ini. Jangan sampai terjebak pada logika taklid yang itu sudah tidak lagi menemukan konteks di era sekarang. Makanya kemudian supaya tidak taklid itu perlu mendorong adanya ijtihad dengan menggunakan rasionalitas dan komparasi terhadap sumber-sumber yang terpercaya agar para ustadz ini berpikiran secara terbuka dan secara arif melihat situasi secara bijak.

Sebenarnya kalau boleh jujur, ustad ustad yang misalnya memviralkan teori konspirasi, mereka  tidak lepas dari kontestasi pilpres kemarin. Artinya disini masih terbuka kemungkinan rekonsiliasi dalam ruang publik yang itu tidak sepenuhnya berjalan secara utuh.

Di sini kita juga perlu melihat bahwa ustad-ustad sendiri tidak sadar dengan posisi mereka sebagai nabi sosial di ruang publik. Artinya mereka masih terbawa hawa nafsu menjadi alat politik. Nah ini yang menurut saya cukup riskan. Bagaimana ukhuwwah islamiyyah terbangun kalau ustadnya saja lebih menjadi agen politik daripada seorang penceramah. Nah ini yang menurut saya cukup riskan dalam melihat bahwa sekarang ini ustad tidak lagi tasamuh, tawadhu’, tapi justeru mereka lebih menggoreng isu yang itu dicocokkan dengan Quran dan Hadis.

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here