Romo Greg: Kalau Ada yang Ngaku Lulusan Vatikan, Itu Pasti Keliru

2
1290

BincangSyariah.Com – Problem sehari-hari yang sering kita jumpai di masyarakat adalah eksklusivitas masyarakat karena jarang melakukan dialog dengan kelompok lain yang berbeda. Video yang viral beberapa waktu lalu yang memperlihatkan seorang berpakaian ustadz yang mengaku mualaf seolah menunjukkan betapa gagapnya masyarakat kita tentang agama lain. Orang-orang yang mendengarkan langsung si penceramah, bisa diasumsikan tidak tahu apa pun tentang agama Kristen dan Katolik, perbedaan keduanya dan lain sebagainya.

Ini merupakan problem besar bagi masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural. Bagaimana mungkin kita tidak mengenal saudara sesama anak bangsa yang berbeda agama dan keyakinan? Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Bisa jadi kecurigaan yang mencokol di sebagian masyarakat kita terhadap orang atau kelompok yang berbeda karena tidak mengenalnya dengan baik. (Baca: Bagaimana Bentuk Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Quran dan Hadis?)

Keterbukaan dan mau saling belajar menjadi kata kunci penting untuk mengatasi masalah ini. BincangSyariah.Com melalui reporter Wildan Imaduddin M mewawancarai seorang pastor Katolik, Dr. Greg Soetomo, SJ yang aktif dalam membangun dialog terutama hubungan Islam-Katolik. Pengalamannya menjadi mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mempelajari studi Islam hingga meraih gelar doktor menambah wawasannya yang semakin kaya dalam dialog ini. Berikut petikan wawancaranya:

Romo, bisa diceritakan dulu latar belakang dan perjalanan Romo hingga akhirnya bisa menjadi mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah?

Saya adalah seorang Katolik, ya Katolik pada umumnya. Saya mulai menjalani kehidupan sebagai calon Pastor, ketika saya umur 25 tahun. Lalu saya ditahbiskan menjadi seorang pastor gereja Katolik sepuluh tahun kemudian yaitu ketika saya berumur 35 tepatnya pada tahun 1999 saya ditahbiskan. Sebuah perjalanan yang panjang untuk menjadi seorang pastor. Sebenarnya boleh dikatakan sepuluh tahun itu kerap kali hanya standar saja, standar yang minimal untuk menjadi pastor. Setelah menjadi pastor saya bekerja. Yang paling panjang pekerjaan saya adalah menjadi seorang editor yang memimpin majalah Katolik di Indonesia, bernama Majalah Hidup, terbit mingguan.

Tentu saja secara alamiah orang Indonesia itu selalu berkontak dengan umat Muslim. Sejak kecil saya pun punya teman-teman Muslim. Kalau tinggal di Indonesia mau tidak mau pasti kita punya teman Muslim. Lalu pada tahun 2009 perjumpaan saya dengan komunitas Muslim menjadi lebih intensif. Waktu itu saya belum studi di UIN. Di tahun 2009 itu, saya masih ingat, saya membawa calon-calon pastor kita menyebutnya frater, tinggal 2 minggu di Pondok Pesantren Edi Mancoro, di Salatiga, Kiainya bernama KH. Mahfudz Ridwan (1941 – 2017), beliau adalah temen kuliahnya Gus Dur ketika keduanya menempuh pendidikan tinggi di Baghdad.

Setiap setahun saya selalu berkontak secara intensif dengan kelompok-kelompok Muslim dari pondok pesantren dan lain-lain, sampai akhirnya tahun 2013 saya menempuh studi Islam di sekolah pascasarjana (Sps) UIN Syarif Hidayatullah.

Apa Motivasi Belajar Islam bagi Pastor Katolik?

Motivasi studi Islam itu bagi orang Katolik untuk gereja Katolik itu representasi wujud bahwa kita ini ingin membangun persaudaraan. Dalam Islam mungkin dikenal dengan istilah ukhuwwah. Bagi Katolik juga sama, kita membangun persaudaraan meskipun berbeda iman dan kepercayaan agamanya tetapi kita tetap bersaudara. Pada dasarnya kita menganggap bukan hanya membangun persaudaraan. Tetapi karena teologi Katolik atau cara kita beriman gereja Katolik ya memang seperti itu. Katolik mau membuka pintu gereja untuk siapa pun.

Kalau andai kata kita ini mau belajar Islam, itu dalam rangka itu, dengan siapa pun di luar gereja kita mau membangun persaudaraan. Sebenarnya ini bukan hanya terhadap Islam saja, kalau andaikata seorang pastor katolik itu tinggalnya di Bali, mestinya pastor Katolik itu belajar agama Hindu sebaik-baiknya, karena saudara mereka ya kebanyakan di sana itu orang Hindu. itu sebagai contoh saja.

Ada Sedikit Komentar terkait Video Viral Seseorang yang Mengaku Anak Kardinal? Bagaimana Romo Menyikapi Hal Semacam Ini?

Sebelum saya ngomong tentang seorang yang mengaku sebagai anak kardinal ini, saya ingin mengatakan bahwa saya sejak tahun 2009 dan kemudian belajar studi sampai S2 dan S3 tentang Islam saja, saya harus mengakui dengan rendah hati pasti banyak hal yang saya tidak tahu, banyak sekali detil-detilnya yang saya tidak tahu. Bukan hanya itu, kalau kita berbicara tentang misalkan saja dunia Katolik, itu sama juga nanti di dunia Kristen yang non-Katolik, itu sebenarnya banyak detil-detil yang saya tidak tahu juga.

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Arabi terhadap Doktrin Trinitas yang Kudus (Bagian II)

Andai kata tentang islam, meskipun saya studi banyak, tetapi masih banyak hal yang saya tidak tahu, juga terhadap dunia Kristen, nah, yang unik lagi, bahkan yang mungkin saja orang itu terkejut kalau andai kata mendengar cerita begini, ada pendidikan pastor gitu kan, bahkan pendidik pastor itu kan sangat detil, sekolahnya, gelarnya, terus kemudian tempatnya di mana, terus kemudian ada istilah-istilah yang sangat khas, sangat spesifik, misalkan saja pendidikan calon pastor gereja Katolik seperti saya, itu banyak sekali bahkan orang Katolik juga itu kerap kali salah, seperti salah ungkapan-ungkapan teknis maupun ungkapan teologis dan seterusnya.

Boleh dikatakan, orang itu sungguh-sungguh harus masuk untuk mengklaim bahwa saya tahu tentang proses pendidikan seorang pastor. Begitu. Tidak heran, bahkan orang yang mengatakan bahwa saya pernah menjadi Katolik dan sebagainya, dan terus ngomong ini dan itu, itu banyak sekali yang keliru, karena itu begitu spesifik, tentang dunia pendidikan pastor, itu sangat spesifik.

Misalkan ada orang yang mengatakan, saya lulusan vatikan, itu pasti sudah keliru. Vatikan itu tidak ada sekolah di sana. Vatikan itu memang sebuah Negara Kota, seluas 44 ha dengan jumlah penduduk 825 orang, hanya itu. Penduduknya pun yang hanya bekerja, mengurus birokrasi. Sekolah itu hanya di luar Negara Vatikan, jadi Vatikan itu adalah negara di dalam kota Roma.

Kalau orang itu hanya sekedar menjadi Katolik dan ngomong tentang calon pendidikan pastor kalau tidak riset sungguh-sungguh selama bertahun-tahun pasti banyak yang keliru. Tentang nama sekolah, dan sebagainya begitu. Misalkan ada yang mengaku saya itu lulusan misalkan saja, sekolah tinggi teologia di Semarang, ah kita sudah tahu, ditertawakan saja. Di Semarang tidak ada pendidikan calon Pastor.

Saya sebenarnya melihat di sana sini para mualaf baru yang katanya pernah menjadi katolik menjadi kristen atau apalah namanya, pada dasarnya kalau saya pribadi tidak tertarik mengikuti. Maksudnya kalau yang tertarik gitu ya, mengecek, misalkan ini siapa, kemudian saya cek apakah betul dia misalkan ngomong pernah tinggal di Bandung, atau segala macem. Saya tidak begitu tertarik. Saya seringkali lihat mereka yang ngomong saja beberapa kalimat, itu saja sudah keliru.

Misalkan saja, saya tidak tahu, orang yang mengaku anak kardinal, itu dia pasti tidak tahu apa itu kardinal, begitu ya. Jelas itu, ya namanya, jelaslah, kalau ada seorang mengaku anak kardinal saja sudah keliru. Terakhir dia mengatakan apalah, sekolah Bible di Vatikan, ya jelas keliru lagi. Vatikan itu tidak ada sekolahan di sana.

Saya tidak tahu motivasi orang-orang kayak gitu. Tetapi saya sendiri sejatinya tidak tertarik. Ya memang selalu ada sedikit ya orang-orang yang panas mendengarkan mualaf-mualaf itu yang kita kenal di tv-tv, begitu, di ceramah-ceramah. Saya sih cenderung mengatakan biarin aja lah, ngapain, untuk mengejar-ngejar orang itu, toh nanti ketahuan juga. Saya pikir, apa namanya, lambat atau cepat. Ya memang kalau andai kata ada forum-forum yang apa namanya yang pas, boleh saja kita mengoreksi tetapi tidak perlu harus dikejar-kejar.

Bagaimana Pendapat Romo Terkait dengan Sebagian Muslim yang Menikmati Penceramah dengan Menjelek-jelekkan agama sebelumnya?

Memang selalu ada umat Islam yang menikmati, sebagaimana juga umat Kristen juga menikmati kalau ada orang yang pindah agama dan seterusnya. Tetapi saya hanya ingin menyampaikan cara pandang umat Katolik yang saya tahu. Banyak juga umat Muslim yang  mirip-mirip dengan cara pandang orang Katolik.

Yaitu begini ya, ya biarkan saja orang pindah agama, kalau andai kata itu sungguh-sungguh pindah agama. Karena proses pencarian yang tulus dan jujur, sungguh-sungguh pencarian dan penemuan Tuhan, Dalam Islam diistilahkan dengan hidayah, kalau di Katolik bisa dikatakan mendapat bimbingan Roh Kudus.

Tetapi persoalannya kenapa harus menjelek-jelekkan agama yang lama? Nah disini kita bisa memahami kalau perginya dari agama yang lama itu kita anggap tidak tulus. Pertanyaannya mengapa ada sebagian orang kristen ataupun orang Islam yag menikmati? Karena memang cara berpikir entah apa pun, semisal juga psikologis. Akan tetapi ada persoalan-persoalan teologis, yaitu bahwa kita menganggap bahwa agamaku yang benar dan satu-satunya. Atau cara pandang lain yang seolah antar agama itu berkompetisi. Kalau dikatakan kompetisi, maka harus ada yang kalah dan menang. Seperti ini cara berpikirnya. Bisa dikatakan juga cara pandang ekslusif. kemudian cara pendekatannya itu polemik, dan apologetik, dengan berdebat untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Baca Juga :  Founder Alvara Research Center: Ormas Islam Moderat Harus Melakukan Transformasi Organisasi

Sementara kalau saya memahami cara pandang gereja Katolik, bukan seperti itu. Cara pandang gereja katolik adalah selalu bertemu dengan kelompok yang berbeda apa pun agamanya. Yaitu dengan membangun dialog. Tetapi dialog itu tidak perlu harus dalam arti teologi. Dialog itu bisa dalam arti membangun sebuah proyek, atau dialog hanya sekedar mengunjungi tetangga muslim tidak perlu juga harus cerita tentang agama.

Dialog pun ada macam-macam ya, tidak harus dialog pada level teologi. Dialog yang sifatnya kerjasama untuk membangun hidup yang lebih baik, ini juga merupakan dialog. Atau hanya berteman biasa, ini juga dialog dalam cara pandang gereja katolik. Tetapi memang tetap tidak menutup kemungkinan untuk membangun dialog pada level teologi, atau ajaran iman.

Tetapi memang selalu saya mengatakan kalau kita itu tidak mendapatkan training yang memadai dan solid di bidang agama masing-masing, jangan mencoba coba kita itu berdialog pada level teologi. Nanti hanya seperti orang buta menuntun orang buta, ya. Jadi memang dialog itu dibutuhkan pada level teologi, tetapi gunanya untuk apa? Memang setidaknya kita bisa mengatakan bahwa kita sepakat untuk tidak sepakat. Ya memang kita berbeda mau apa lagi. Selain tentu ada persamaan-persamaannya juga. Jadi kalau kita ingin berdialog pada level teologi, kita harus siap. Bahkan persiapannya perlu bertahun-tahun.

Nah cara berpikir kompetitif ini, setidaknya gereja katolik tidak punya pendekatan seperti ini. Pendekatan gereja katolik bukan win-lose, tetapi selalu win-win. Yang dimaksud dengan win-win adalah begini, kalau andaikata saya itu bersahabat dan berdialog membangun persaudaraan dengan muslim misalnya, setelah berdialog dengan mereka, saya tetap katolik, dan dia itu tetap muslim.

Tetapi bukan hanya bahwa setelah berdialog itu tetap sama. Kita berharap selalu menjadi berbeda. Berbeda dalam arti kita menjadi lebih kaya. Saya menjadi seorang katolik yang lebih baik, menjadi lebih objektif dalam memandang muslim. sedangkan teman saya yang muslim setelah bertemu dengan saya juga menjadi lebih baik dan menjadi lebih objektif memandang agama saya. Secara spiritual keduanya semakin kaya juga. Kerohaniannya menjadi semakin penuh justru karena berjumpa dan bersahabat dengan orang yang berbeda agama dan iman.

Menurut Romo bagaimana sebaiknya seorang muslim memahami Katolik?

Ya memang, apa sih ya, sebagaimana saya sudah katakan bahwa empat tahun minimal belajar Islam saja hanya tau sedikit-sedikit, tetapi jelas lebih banyak lagi yang saya belum tau. Demikian pula ajaran-ajaran di Katolik dan di Kristen secara umum itu juga begitu banyak. Ajaran ini kan merupakan akumulasi ajaran selama 2000 tahun, sehingga perdebatannya itu perdebatan yang sangat panjang dan sangat banyak.

Jadi memang banyak hal yang harus diakui bahwa tidak mudah untuk menjelaskannya. Hanya orang-orang yang sangat spesifik yang bisa menjelaskan misalkan saja tentang berbagai problem seperti tentang kitab suci, tentang trinitas. Saya juga tidak tahu apakah kita punya, kesempatan untuk.

Ada beberapa prinsip Katolik yang seringkali disalahpami seperti Trinitas dan posisi Alkitab yang disamakan dengan Al-Quran, boleh dijelaskan Romo?

Sebenarnya saya tidak terlampau tertarik ketika bicara tentang teologi Katolik baik itu tentang trinitas atau pun tentang Alkitab. Untuk bahas hal-hal semacam ini saya cenderung menggunakan metafora daripada ngomong dari teologi Katolik ya. Misalkan saja tentang trinitas begitu. Metaforanya adalah saya selalu mengatakan begini. Bahwa yang namanya trinitas itu bukan triteis. Triteis itu memang tiga tuhan, tetapi kita sungguh-sungguh meyakini satu Tuhan. Tetapi satu tuhan itu metaforanya seperti bentuk air. Air kalau dipanaskan menjadi uap, tetapi tidak berbeda sama sekali dengan air hanya ekspresinya yang berbeda. Kalau dimasukkan ke kulkas air itu menjadi es batu. Atau misalkan manusia, saya, kalau di geraja, saya seorang pastor, tetapi saya yang sama, kalau andai kata itu tinggal di desa, saya mungkin adalah ketua RT, atau lainnya lagi saya bisa menjadi bendahara RT dan sebagainya., Atau kalau saya pergi ke kampus, maka saya menjadi dosen. Padahal satu orang. Dari satu orang itu bisa menjadi pastor, bisa menjadi dosen, dan bisa menjadi misalkan bendahara RT. Ini yang dinamakan trinitas. (Baca: Doktrin Trinitas dan Tafsir al-Maidah Ayat 73)

Ya, jadi itu memang, persoalan-persoalan yang seperti ini sangat rumit. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka untuk bicara tentang hal ini. Karena terlampau banyak hal-hal teknis yang harus diungkapkan. Tetapi kalau andaikata saya bertemu dengan orang-orang muslim, biasanya saya menggunakan metafora semacam itu.

Baca Juga :  Dr. Phil. Suratno: Tidak Memulangkan Eks-ISIS Sudah Tepat Secara Politis, Tapi Memikirkan Perspektif Korban Tetap Harus Dipertimbangkan

Lalu soal Alkitab ya. Itu memang selalu pada level populer, maksudnya populer itu adalah pada level orang awam, dibilang bahwa Alkitab itu koruptif, dipalsukan dan sebagainya. Ini memang persoalan-persoalan yang abadi, telah ada sejak ratusan tahun lalu bahkan seribu tahun lebih. begitu ya. Saya tidak tahu apakah saya harus ngomong tentang Alkitab dan sebagainya. begitu ya.

Saya mungkin hanya mengutip saja salah satu profesor saya di UIN, bahwa dalam arti tertentu boleh saja betul, bahwa sebenarnya Alkitab itu padanannya dalam Islam itu dengan Hadits, bukan dengan al-Quran. Lebih tepatnya sebenarnya dipadankan dengan perjanjian baru. Perjanjian baru adalah 27 buku setelah Yesus. ini sama dengan hadits. Jadi sahabat-sahabat Yesus, murid-murid Yesus mengumpulkan kisah-kisah yang terus kemudian itu menjadi 27 buku, di perjanjian baru.

Nah 27 buku itu adalah tradisi yang diturunkan turun temurun. Kita harus akui bahwa 27 buku ini tidak hanya ditulis oleh orang-orang yang terpelajar, tetapi ada juga orang sederhana dan sebagainya. Jadi memang gaya bahasanya berbeda, bahasanya berbeda, tata caranya berbeda, dan kualitas narasinya pun berbeda satu sama lain. Pada kenyataannya untuk kita orang kristen, inilah yang diturunkan terus-menerus, dan ini, yang kayak gini berbeda dengan cara berpikir hadis, yang hadis itu diperiksa sungguh-sungguh, mana yang shahih mana yang dhaif begitu kan, dan lain lain.

Kita di Kristen tidak terlampau memikirkan seperti itu. Kenyatannya adalah 27 buku itu diturunkan sebagai tradisi sejak awal. Oleh karena itu, andaikata misalkan saja suatu saat ada hasil penemuan arkeologi menemukan sebuah manuskrip yang mirip-mirip Alkitab, dan ini sudah terjadi, apakah itu bisa menjadi bagian dari 27 buku dalam Perjanjian Baru? Kita mengatakan tidak bisa. Karena 27 buku ini sudah memiliki transmisinya sendiri yang sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu. Tetapi apakah masnuskrip itu boleh dipelajari? Boleh banget, malah bagus. Kalau andaikata kita pelajari sungguh-sungguh dibaca, hanya untuk sebagai sebuah pengetahuan, begitu.

Memang betul bahwa yang namanya, Alkitab khususnya perjanjian baru, karena kalau kita bilang Alkitab kristen itu ada juga Perjanjian Lama, yang sangat dekat sekali dengan agama Yahudi. Perjanjian Baru yaitu kitab setelah Yesus wafat, itu memang padanannya dengan hadis.

Kemudian biasanya para orientalis mengatakan bahwa Yesus itu padanannya dengan Al-Quran, gitu kan. Jadi Sabda Allah yang menjelma dalam teks, itu adalah Al-Quran, sedangkan dalam gereja Katolik, sabda Allah yang bisa kita lihat itu menjelma dalam diri Yesus, sehingga, dalam ungkapan yang tidak mudah dipahami barangkali untuk umat muslim, boleh dikatakan seminggu sekali minimal, kita mengucapkan yang namanya syahadat bahwa Yesus sungguh Allah sungguh manusia. Ini yang agak susah. 100 persen Allah, 100 persen manusia.

Sebagai seorang doktor Studi Islam lulusan UIN Jakarta, sejauhmana pengalaman Romo belajar Islam berpengaruh terhadap pemahaman Romo tentang Islam?

Saya selalu yakin seperti  yang tadi sudah saya katakan, bahwa sekarang saya punya dimensi baru tentang kekatolikan setelah belajar Islam. Saya punya dimensi baru, bukan hanya dari sekedar studi ya, tetapi memang berteman dengan muslim. Untuk membangun dialog dan sebagainya menjadi jauh lebih siap.

Kemudian sebagai seorang doktor di bidang Studi Islam, ya. Pengaruhnya itu ya, dalam arti terntentu banyak. Selain pengaruh terhadap saya pribadi, saya juga mengharapkan bahwa saya juga berpengaruh terhadap teman-teman muslim saya, sebagaimana saya katakan tadi. Saya harus mengatakan, bahwa kekayaan spiritual, kekayaan intelektual Islam, kekayaan mistisisme atau sufi, dari Islam itu sangat kaya. Beberapa kekayaan ini sedemikian rupa mirip dengan dunia kekristenan atau dunia kekatolikan. Boleh dikatakan, tentu saja ada perbedaan, tetapi begitu banyak hal boleh dikatakan kemiripan. Pada level sufistik dunia Islam dan dunia Katolik itu bisa begitu dekat dan sangat mirip.

Memang betul, tentu saja, pemahamannya pengaruhnya itu sangat positif, dan mendukung, cara berpikir gereja katolik terhadap Islam. Jadi apa yang disampaikan oleh begitu banyak tokoh-tokoh katolik, bahwa tradisi semua agama termasuk Islam itu adalah tradisi yang kaya, itu ya memang menjadi benar dan saya alami sendiri, bukan hanya retorika saja.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here