Mengenang Perjalanan Dakwah Pakar Hadis Indonesia, Prof. DR. K.H. Ali Mustafa Yaqub

0
684

BincangSyariah.Com – Fenomena memahami Hadis Nabi Saw. yang cenderung tekstual menyebabkan agama Islam terlihat sangat kaku dan eksklusif. Padahal saat memahami hadis dan menerapkannya di masyarakat, seyogianya seorang Muslim melihat dan mempertimbangkan asal usul atau asbabul wurud hadis tersebut agar sesuai dengan landasan maqashid syariah yang diusung Islam.

Adalah Prof. DR. Kiai Ali Mustafa Yaqub, salah satu tokoh Islam yang telah menghabiskan sepanjang hidupnya untuk berdakwah menjelaskan bagaimana cara  memahami hadis yang benar. Banyak karya yang telah beliau wariskan untuk khazanah keilmuan hadis.

Kiai Ali meninggalkan warisan lembaga untuk kajian hadis di Indonesia. Darus Sunnah International Institute for Hadits Sciences namanya. Lembaga itu beliau rintis sejak tahun 1997, yang didedikasikan untuk memperdalam dan mengembangkan kelimuan hadis.

Kini ratusan kader hadis telah beliau cetak. Mungkin Kiai Ali Mustafa Yaqub kini telah tiada, namun anak ideologis beliau telah menyebar di seluruh Indonesia untuk meneruskan perjuangan beliau dan menyebarkan Islam yang ramah.

Kiranya Indonesia patut berbangga mempunyai ulama yang mewakafkan seluruh nafasnya untuk Islam dan Indonesia. Kenasionalisan Kiai Ali tak perlu diragukan, bisa dilihat dari banyaknya fatwa beliau tentang Islam Nusantara dalam banyak karyanya.

Karena itu, untuk memperingati Haul Kedua Pak Kiai Ali Mustafa Yaqub pada (07/04) serta mengenang perjalanan beliau dalam memperjuangkan dakwah Sunah Nabi Saw., wartawan BincangSyariah.Com, Inggit Sugiharti, berkesempatan mewawancarai Istri almarhum Kiai Ali, Bu Nyai Ulfah Uswatun Hasanah dalam perjalanan ke Melawai saat berbelanja untuk persiapan Haul Kedua Pak Kiai.

Bu Nyai, mohon dijelaskan bagaimana awal mula Pak Kiai memulai dakwah?

Bapak itu hidupnya memang untuk dakwah. Mulai dari selesai belajar di Arab Saudi, bapak berniat ingin dakwah ke Papua atau daerah terpencil yang belum banyak tersentuh dakwah, pergi ke pelosok-pelosok. Tapi ternyata sepulang dari Arab Saudi mampir ke Jakarta ketemulah Bapak dengan orang-orang yang meminta bapak untuk berdakwah di Jakarta saja.

Baca Juga :  Quraish Shihab dan Sepakbola

Waktu itu bapak tidak bisa menolak karena yang menyuruh  guru-guru dan seniornya, seperti Kiai Syaikhu, Pendiri Ponpes al-Hamidiyah, yang saat itu adalah ketua Ittihadul Muballighiin. Setelah itu, Pak Kiai Ali juga bertemu Pak Ibrahim Husain. Beliau mengajak bapak mengajar di IIQ. Nah, kebetulan juga Pak Ibrahim itu Ketua Komisi Fatwa MUI. Saat itu, bapak dijak ikut di Komisi Fatwa MUI. Jadi dulu sepulang dari Saudi itu kan pertengahan 1986 dan tahun 1988 bapak masuk Komisi Fatwa, mulai dari anggota komisi fatwa dan terakhir jabatannya Wakil Ketua Komisi Fatwa.

Bapak kan awalnya hanya mengajar sebagai dosen saja ya bu, apa sih yang akhirnya membuat nama bapak dikenal masyarakat luas?

Memang awalnya dosen saja. Tapi kemudian bapak ke MUI, jadi Dewan DSN dan di komisi fatwa. Di samping itu, bapak juga aktif di Lajnah Pentashihan Alquran. Beliau sering studi banding di dalam atau laur negeri, dalam rangka survei sertifikasi halal atau untuk dakwah. Sejak itu, bapak juga sering diundang ke stasiun televisi untuk mengisi acara diskusi atau dakwah. Diminta mengulas tentang fatwa Ahmadiyah dan lain-lain. Kalau ada masalah keislaman bapak sering dipanggil. Jadi dakwah beliau bisa langsung tersampaikan ke seluruh masyarakat Indonesia.

Menurut Bu Nyai, kira-kira apa yang memotivasi bapak dalam berdakwah?

Bagaimana ya, bapak itu jiwanya memang didedikasikan untuk dakwah, baik dengan tenaga, pikiran, dan harta. Saat dakwah pun, bapak juga enggak pernah memasang tarif, seperti yang dilakukan oleh beberapa pendakwah-pendakwah sekarang.

Saat berdakwah Bapak terkenal tegas dan berani dalam menyampaikan pendapatnya. Tentu banyak pro dan kontra terhadap pendapat itu. Nah, biasanya bagaimana bapak menghadapi orang-orang yang kontra?

Baca Juga :  Ahmad Najib Burhani: Berpihak kepada Mustadh’afin Adalah Perintah dalam Al-Quran

Bapak hanya ingin menyampaikan yang benar berlandaskan Alquran dan Hadis dan bagaimana cara memahaminya dengan benar. Bapak tidak pernah takut adanya orang yang kontra. Salah satu contohnya waktu itu permasalahan kiblat. Waktu itu, ada sekelompok orang yang patokan kiblatnya harus menggunakan Google Map, bahkan sampai ingin merobohkan masjid karena arah kiblatnya tidak sesuai dengan Google Map. Padahal di Hadis bukan begitu, asal sudah menghadap kiblat ya sudah itu cukup.

Dalam hadis, kiblat itu kan arah di antara Selatan dan Utara. Nah, itu memang namanya kan arah Barat. Pokoknya barat mana saja, mau barat daya, barat laut dan lain sebagainya. Masyarakat yang tidak tahu wajib kita beri tahu.

Apa sedari awal bapak memang mencita-citakan membangun pondok khusus hadis?

Ya, karena memang bapak dari awal ngambil takhasusnya tentang hadis. Lalu pondok khusus hadis di Indonesia ini kan juga masih sedikit dan di Indonesia orang yang mempelajari tentang hadis juga masih langka, apalagi hadis kan susah, harus menghafal tanggal lahir dan meninggalnya ulama hadis karena kalau tidak hafal nanti tidak akurat penilaian hadisnya karena implikasinya ke ketersambungan hadis sampai ke Rasulullah. Alhamdulillah bapak hafalannya kuat, beliau bisa hapal biografi ulama-ulama hadis.

Nah, Darus Sunnah berdiri tahun 97 hanya santri laki-laki. Tapi sambil berjalannya waktu banyak teman-teman bapak yang ingin menitipkan anak perempuannya, alhamdulillah tanah sebelah barat bisa terbeli, bisa nerima perempuan tahun 2002. Itu baru ada angkatan putri pertama. Tapi waktu itu belum ada yang dikirim dakwah ke Papua. Dakwah ke Papua baru ada 2010.

Bagaimana sih ceritanya santri Darus Sunnah dikirim dakwah ke papua?

Baca Juga :  Nadirsyah Hosen : Tidak Semua Hadis Sahih Bisa Langsung Kita Terapkan

Waktu itu ada permintaan MUI Papua yang datang ke Istiqlal, meminta dikirimkan pendakwah. Dia minta dai karena di sana perlu sekali. Pertama-tama kita kirim pendakwah ke Kaimana. Bapak meminta salah satu santrinya berangkat ke sana. Waktu itu santri yang dikirim namnya Adit. Kita antar ke sana pada 2010. Kita ninggalin Adit di perkampungan itu kayak mau nangis karena kayak buang anak. Tapi Alhamdulillah itu masih berjalan hingga sekarang.

Seingat Bu Nyai, kira-kira pesan berharaga bapak untuk para pendakwah apa ya?

Pegang teguh syariat, Alquran dan Hadis. Jangan Kedunyan, jangan senang harta. Harta memang perlu buat ibadah tapi jangan gila dunia. Dunia memang perlu, untuk menuju akhirat tapi jangan tamak. Jangan memasang tarif saat berdakwah.

 

*Penulis: Neneng Maghfiro

*Editor: Ibnu Kharis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here