Mengenang Lika-Liku Dakwah Pakar Hadis Indonesia, Prof. DR. K.H. Ali Mustafa Yaqub

0
510

BincangSyariah.Com – Fenomena memahami Hadis Nabi Saw. yang cenderung tekstual menyebabkan agama Islam terlihat sangat kaku dan eksklusif. Padahal saat memahami hadis dan menerapkannya di masyarakat, seyogianya seorang Muslim melihat dan mempertimbangkan asal usul atau asbabul wurud hadis tersebut agar sesuai dengan landasan maqashid syariah yang diusung Islam.

Adalah Prof. DR. Kiai Ali Mustafa Yaqub, salah satu tokoh Islam yang telah menghabiskan sepanjang hidupnya untuk berdakwah menjelaskan bagaimana cara benar dalam memahami hadis yang benar. Banyak karya yang telah beliau wariskan untuk khazanah keilmuan hadis.

Kiai Ali meninggalkan warisan lembaga untuk kajian hadis di Indonesia. Darus Sunnah International Institute for Hadits Sciences namanya. Lembaga itu beliau rintis sejak tahun 1997, yang didedikasikan untuk memperdalam dan mengembangkan kelimuan hadis.

Kini ratusan kader hadis telah beliau cetak. Mungkin Kiai Ali Mustafa Yaqub kini telah tiada, namun anak ideologis beliau telah menyebar di seluruh Indonesia untuk meneruskan perjuangan beliau dan menyebarkan Islam yang ramah.

Kiranya Indonesia patut berbangga mempunyai ulama yang mewakafkan seluruh nafasnya untuk Islam dan Indonesia. Kenasionalisan Kiai Ali tak perlu diragukan, bisa dilihat dari banyaknya fatwa beliau tentang Islam Nusantara dalam banyak karya beliau.

Karena itu, untuk memperingati Haul Kedua Pak Kiai Ali Mustafa Yaqub serta mengenang perjuangan beliau dalam memperjuangkan dakwah Sunah Nabi Saw., wartawan BincangSyariah.Com, Inggit Sugiharti, berkesempatan mewawancarai Istri almarhum Kiai Ali, Bu Nyai Ulfah Uswatun Hasanah dalam perjalanan ke Melawai saat berbelanja untuk persiapan Haul Kedua Pak Kiai.

Bu Nyai, mohon dijelaskan bagaiamana awal mula Pak Kiai memulai dakwah?

Bapak itu hidupnya memang untuk dakwah. Mulai dari selesai belajar di Arab Saudi, bapak berniat ingin dakwah ke Papua atau daerah terpencil yang belum banyak tersentuh dakwah, pergi ke pelosok-pelosok. Tapi ternyata sepulang dari Arab Saudi mampir ke Jakarta ketemulah Bapak dengan orang-orang yang meminta bapak untuk berdakwah di Jakarta saja.

Waktu itu bapak tidak bisa menolak karena yang menyuruh  guru-guru dan seniornya, seperti Kiai Syaikhu, Pendiri Ponpes al-Hamidiyah, yang saat itu adalah ketua Ittihadul Muballighiin. Setelah itu, Pak Kiai Ali juga bertemu Pak Ibrahim Husain. Beliau mengajak bapak mengajar di IIQ. Nah, kebetulan juga Pak Ibrahim itu Ketua Komisi Fatwa MUI. Saat itu, bapak dijak ikut di Komisi Fatwa MUI. Jadi dulu sepulang dari Saudi itu kan pertengahan 1986 dan tahun 1988 bapak masuk Komisi Fatwa, mulai dari anggota komisi fatwa dan terakhir jabatannya Wakil Ketua Komisi Fatwa.

Baca Juga :  Quraish Shihab dan Sepakbola

O, iya Bu Nyai, fokus Pak Kiai mengajar dan menulis itu setelah tidak aktif di kelembagaan MUI?

Bukan setelah. Saat masih jadi Dewan Syariah Nasioal (DSN) MUI, mulai menjadi pengawas syariah di bank dan asuransi syariah pun, bapak memang selalu istikamah mengajar dan menulis. Jadi sebelum di MUI, beliau sudah aktif mengajar dan menulis

Bapak kan awalnya hanya mengajar sebagai dosen saja ya bu, apa sih yang akhirnya membuat nama bapak dikenal masyarakat luas?

Memang awalnya dosen saja. Tapi kemudian bapak ke MUI, jadi Dewan DSN dan di komisi fatwa. Di samping itu, bapak juga aktif di Lajnah Pentashihan Alquran. Beliau sering studi banding di dalam atau laur negeri, dalam rangka survei sertifikasi halal atau untuk dakwah. Sejak itu, bapak juga sering diundang ke stasiun televisi untuk mengisi acara diskusi atau dakwah.

Kayaknya yang paling mencuat itu setelah bapak menjadi Imam Besar. Itu terjadi sepuluh tahun terakhir. Apalagi setelah kunjungan Barack Obama pada Desember 2010. Semua saluran televisi menyiarkan. Sebelum kedatangan Barack Obama, bapak diundang acara diskusi di televisi saat dikutip namanya pasti Wakil Ketua Dewan Fatwa MUI, tapi setelah itu seringnya pakai nama Imam Besar Masjid Istiqlal kalau muncul di tv. Waktu itu kan sebelumnya bapak juga sudah sering muncul di tv, kadang diminta mengulas tentang fatwa Ahmadiyah dan lain-lain.

Mungkin karena bapak orangnya vokal, pihak TV jadi senang memanggil bapak baik secara pribadi atau sebagai MUI. Alhamdulilah kalau ada masalah keislaman bapak sering dipanggil. Jadi dakwah beliau bisa langsung tersampaikan ke seluruh masyarakat Indonesia.

Menurut Bu Nyai, kira-kira apa yang memotivasi bapak dalam berdakwah?

Bagaimana ya, bapak itu jiwanya memang didedikasikan untuk dakwah, baik dengan tenaga, pikiran, dan harta. Saat dakwah pun, bapak juga enggak pernah mematok harga, seperti yang dilakukan oleh beberapa pendakwah-pendakwah sekarang.

Nah, itu juga yang ditanamkan pada santri-santrinya. Sekarang ibu pun berpesan begitu pada teman-teman yang ibu yang anaknya dititipkan di Darus Sunnah. “Insya Allah kalau santri saya tidak akan pernah mematok harga, cukup hargai usahanya saja untuk datang dan meluangkan waktu untuk mengajar,” itu yang selalu ibu sampaikan ke teman-teman ibu.

Saat berdakwah Bapak terkenal tegas dan berani dalam menyampaikan pendapatnya. Tentu banyak pro dan kontra terhadap pendapat itu. Nah, biasanya bagaimana bapak menghadapi orang-orang yang kontra?

Bapak hanya ingin menyampaikan yang benar berlandaskan Alquran dan Hadis dan bagaimana cara memahaminya dengan benar. Bapak tidak pernah takut adanya orang yang kontra. Salah satu contohnya waktu itu permasalahan kiblat. Waktu itu, ada sekelompok orang yang patokan kiblatnya harus menggunakan Google Map, bahkan sampai ingin merobohkan masjid karena arah kiblatnya tidak sesuai dengan Google Map. Padahal di Hadis bukan begitu, asal sudah menghadap kiblat ya sudah itu cukup.

Baca Juga :  K.H. Ali Mustafa Yaqub: Jihad Bukan Terorisme dan Terorisme Bukan Jihad

Dalam hadis, kiblat itu kan arah di antara Selatan dan Utara. Nah, itu memang namanya kan arah Barat. Pokoknya barat mana saja, mau barat daya, barat laut dan lain sebagainya. Masyarakat yang tidak tahu wajib kita beri tahu.

Terkait Darus Sunnah, bagaimana sih suka duka berdirinya?

Suka dukanya dari awal bapak mulai dari beli tanah, pasir, bata itu ngurus sendiri. Mulai dari tukang sampai material, bapak mencari sendiri. Dananya bapak yang nyari, ibu yang jadi bendaharanya. Terus waktu mengerjakan area santri putra, kebetulan bapak kenal dengan Pak Yamping, kontraktor Muslim Cina.  Waktu itu sama Pak Yamping dipasrahkan ke rekannya yang kerjaanya lebih bagus. Alhamdulillah, dari sana bapak sudah gak ngurusin tukang atau material lagi.

Cuma tingal bilang berapa lantai, ukurannya berapa, digambar, kemudian bapak tinggal acc. Setelah itu, dananya kami kirim ke kotraktor. Misalnya lantai pertama butuh 1 milyar, itu dicicil uangnya, enggak langsung dibayar di awal semua. Cicilan tahap pertama untuk penggalian 100 juta dulu, lalu periode ke dua kirim lagi dananya, jadi bertahap, kita enggak bisa langsung. Kadang bapak juga heran kok bisa punya uang sekian milyar waktunya bayar pembangun ditagih pasti ada saja uangnya.

Nah caranya bapak itu gini, misalnya dapat bisyarah dari MUI, Atase Agama Kedutaan Arab Saudi, ceramah, ngajar, jadi kalau awal bulan dapat gaji nanti dikasih ibu semua dikumpulin lalu ditabungkan ke Muamalat. Bapak mengumpulkan semua pendapatnya untuk pembangunan pondok, untuk dakwah.

Bapak selalu bilang, “Rumah sudah cukup, yang penting tidak kehujanan, makan cukup. Mau buat apa uangnya kalau enggak dikembalikan ke Allah lagi. Uang ditumpuk di dunia buat apa tidak bisa dibawa mati, tapi kalau diamalkan pahalanya mengalir sampai mati.” Alhamdulillah waktu pembangunan pondok masyarakat sekitar juga mendukung, beberapa ada yang ikut wakaf uang.

Apa sedari awal bapak memang mencita-citakan membangun pondok khusus hadis?

Ya, karena memang bapak dari awal ngambil takhasusnya tentang hadis. Lalu pondok khusus hadis di Indonesia ini kan juga masih sedikit dan di Indonesia orang yang mempelajari tentang hadis juga masih langka, apalagi hadis kan susah, harus menghafal tanggal lahir dan meninggalnya ulama hadis karena kalau tidak hafal nanti tidak akurat penilaian hadisnya karena implikasinya ke ketersambungan hadis sampai ke Rasulullah. Alhamdulillah bapak hafalannya kuat, beliau bisa hapal biografi ulama-ulama hadis.

Baca Juga :  Agar Berkah, Jangan Lupa Basmalah di Semua Lini Kehidupan

Nah, Darus Sunnah berdiri tahun 97 hanya santri laki-laki. Tapi sambil berjalannya waktu banyak teman-teman bapak yang ingin menitipkan anak perempuannya, alhamdulillah tanah sebelah barat bisa terbeli, bisa nerima perempuan tahun 2002. Itu baru ada angkatan putri pertama. Tapi waktu itu belum ada yang dikirim dakwah ke Papua. Dakwah ke Papua baru ada 2010.

Bagaimana sih ceritanya santri Darus Sunnah dikirim dakwah ke Papua?

Waktu itu ada permintaan MUI Papua yang datang ke Istiqlal, meminta dikirimkan pendakwah. Dia minta dai karena di sana perlu sekali. Pertama-tama kita kirim pendakwah ke Kaimana. Bapak meminta salah satu santrinya berangkat ke sana. Waktu itu santri yang dikirim namnya Adit. Kita antar ke sana pada 2010. Kita ninggalin Adit di perkampungan itu kayak mau nangis karena kayak buang anak. Tapi Alhamdulillah itu masih berjalan hingga sekarang.

Dananya itu berasal dari jemaah pengajian. Bapak minta ke jamaah untuk umat bukan buat bapak, jadi bapak enggak malu. Karena apa yang masyarakat infakkan ya kembali ke masyarakat, bapak hanya sarana atau wasilah saja. Bapak pengen mengkoordinasi dana saja untuk kepentingan dakwah, baik buat dakwah ke Papua atau buat Darus Sunnah.

Seingat Bu Nyai, kira-kira pesan berharaga bapak untuk para pendakwah apa ya?

Pegang teguh syariat, Alquran dan Hadis. Jangan Kedunyan, jangan senang harta. Harta memang perlu buat ibadah tapi jangan gila dunia. Dunia memang perlu, untuk menuju akhirat perlu dunia tapi jangan mata duitan.

Bapak paling marah kalau dakwah atau ngaji itu ditarif. Bapak sering ditanya terkait honor saat diundang ceramah. Lalu bapak bilang ke pada panitianya, “Saya enggak akan pernah nyebut nominal bisyarah, kalau dikasih 1 milyar saya terima, kalau tidak kasih pun, saya tidak akan nagih.”

Pernah waktu itu orang Palembang menelpon bapak, tapi gak dijawab  berapanya. Telpon ke rumah waktu itu ibu yang ngangkat nanya ke ibu berpa tarif bapak, dia bilang saya itu harus laporan buat kantor bu untuk tarif bapak. Saya bilang, “Saya gak berani nyebut nanti suami saya marah.” Panitianya bilang lagi, “Soalnya kalau ustazah A, itu sekian. Nah, kalau bapak berapa?”

Bapak sering bilang ke ibu, “Awas jangan pernah sekali-kali memasang tarif untuk dakwah, kalau mereka tanya tarif jangan pernah menyebutkan angka.”

 

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here