Menelusuri Naskah Hadis di Minangkabau

0
407

BicangSyariah.Com – Kajian hadis di Indonesia memang tidak sepopuler kajian tasawuf, akidah, dan fikih. Dilihat dari karya-karya yang muncul di Nusantara, karya hadis juga tidak terlalu dominan, baik dulu maupun sekarang. Begitu pula dengan materi pelajaran yang diajarkan di pesantren, porsi kajian hadis tidak sebanyak kajian keislaman lainnya. Tetapi hal ini bukan berarti ulama Nusantara tidak kenal sedikit pun dengan kajian hadis, sebab sebagian ulama hadis dunia berasal dari Nusantara, sebut saja Syekh Mahfudz Termas dan Syekh Yasin al-Fadani.

Belakangan ini mulai banyak ditemukan naskah-naskah ilmu hadis maupun naskah hadis karangan ulama Nusantara. Menurut catatan Oman Fathurrahman, Tuhfatul Habib karya al-Raniri adalah karya hadis pertama di Nusantara yang ditulis sekitar abad 17 M. Naskah-naskah hadis lain juga ditemukan Apria Putra di beberapa Surau di Sumatera Barat.

Putra, begitu panggilan akrabnya, merupakan alumnus Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bidang filologi. Ketika menjadi mahasiswa S1 di IAIN Imam Bonjol Padang, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mencari dan mendokumentasikan naskah kuno ulama Minangkabau. Sampai saat ini, profesi tersebut masih dilakoninya sembari mengajar di  beberapa kampus dan Surau di kampung halamannya, Payakumbuh.

Selain naskah ulama, ia juga mendokumentasikan masjid-masjid kuno dan makam para ulama yang sudah dilupakan sejarah. Ia dikenal sebagai peneliti yang sangat produktif menulis tentang ulama-ulama Minangkabau. Di antara karya-karyanya yang sudah dipublikasikan adalah Naskah Catatan Haji Rasul:Dinamika Intelektual Kaum Muda Minangkabau Awal Abad XX (2014), Manaqib Syekh Sa’ad Mungka (2013), Katalog Naskah Surau Lubuk Landur (2011), Bibliografi Karya Ulama Minangkabau awal Abad XX: Dinamika Intelektual Kaum Tua dan Kaum Muda (2011), dan Potret Guru dalam Naskah Minangkabau: Kajian Sendi Aman Tiang Selamat (2010). Puluhan artikelnya bisa dibaca di laman pribadinya surautuo.blogspot.com.

Berikut petikan wawancara redaktur Bincang Syariah.com, Hengki Ferdiansyah, dengan Apria Putra.

Belakangan ini, anda seringkali update status tentang naskah-naskah hadis di Sumatera Barat, bisa dijelaskan bagaimana perkenalan anda dengan naskah dan proses penemuannya?

Perkenalan saya dengan naskah-naskah di Sumatera Barat berasal dari latar belakang keluarga. Saya memiliki hubungan yang intens dengan lembaga surau sejak kecil. Sudah dimaklumi bahwa surau ialah lumbung naskah di Sumatera Barat, karena surau merupakan basis intelektual sebelum madrasah dan sekolah klasikal bermunculan.

Baca Juga :  Mengenang Lika-Liku Dakwah Pakar Hadis Indonesia, Prof. DR. K.H. Ali Mustafa Yaqub

Di masa kecil saya sering tidur di surau. Dari surau itu saya mendengar kisah ulama-ulama dan aktivitas keilmuan di masa lampau, begitu juga dengan naskah-naskah sebagai media transmisi keilmuan mereka. Jadi, jauh sebelum saya mengambil kuliah jurusan filologi, saya telah terlebih dahulu berkenalan dengan dunia naskah.

Selain itu, kakek saya di kampung dikenal sebagai seorang ahli hikmah. Ia menulis beberapa naskah terkait dengan bidang yang dikuasainya itu. Saat saya sekolah dasar, saya pernah menyalin naskah kepunyaannya.

Setelah menduduki bangku perkuliahan dan mengenal studi naskah sebagai sebuah kajian akademis, saya dan beberapa rekan kuliah mencoba menjajaki basis-basis intelektual Islam masa lalu di berbagai daerah di Sumatera Barat. Perjalanan-perjalanan saya dalam menjajaki berbagai surau itu membuahkan hasil yang begitu signifikan dalam studi yang saya tekuni. Selain mendata ulama-ulama yang mempunyai peran dalam transmisi keilmuan, beberapa naskah-naskah kuno Islam dapat diselamatkan sehingga dapat dimanfaatkan dalam konteks keilmuan.

Berdasarkan penelusuran anda terhadap naskah-naskah hadis karangan ulama Nusantara, karya siapa yang pertama kali ditemukan ?

Untuk bidang hadis, naskah Tuhfatul Habib karya al-Raniri dapat dicatat sebagai karya pertama dalam bidang ini. Kitab itu merupakan kumpulan hadis-hadis pilihan dan diberi komentar dalam Bahasa Melayu. Kitab ini ditulis sekitar abad 17 M. Prof. Oman telah membuat satu artikel yang memuat berbagai keterangan mengenai teks ini.

Bagaimana dengan Sumatera Barat, apakah naskah hadis juga banyak ditemukan?

Naskah-naskah hadis dan ilmu hadis di Minangkabau belum banyak ditemukan. Dalam penelusuran saya, karya al-Baihaqi yang berjudul Syu’ab al-Iman cukup banyak ditemui di berbagai surau. Surau di Ulakan misalnya, yang menyimpan berbagai koleksi naskah peninggalan Syekh Burhanuddin Ulakan (abad 17), menyimpan teks ini.

Sedikitnya naskah-naskah hadis dan ilmu hadis yang ditemui, dapat dipahami karena perhatian ulama di masa-masa itu lebih fokus pada bidang fikih, tauhid, dan tasawuf. Meski begitu bukan berarti bahwa mereka abai terhadap ilmu hadis. Dalam sebuah otobiografi yang ditulis oleh Syekh Jalaluddin Cangkiang, diketahui bahwa pada awal abad 19 M telah ada ulama Minangkabau yang bergelar ahli hadis, yaitu Syekh Tuanku Mudik Tampang di Rao (Pasaman).

Konon, syekh itu telah menuntut ilmu di Madinah Munawwarah. Setelah pulang, ia mendirikan surau di kampung halamannya. Lagi-lagi kita belum dapat mengukur intensitas syekh tersebut dalam ilmu hadis karena surau itu belum pernah tersentuh oleh peneliti.

Baca Juga :  Dr. Atiyatul Ulya: Kesadaran Emansipasi Wanita Tumbuh Sejak Masa Nabi

Penulisan kitab yang berkaitan hadis dan ilmu hadis yang gencar dilakukan pada awal abad 20. Beberapa tokoh tercatat menulis beberapa kitab dalam bidang ini. Hal itu dapat kita sebut nama-nama seperti Syekh Harun Toboh Pariaman, Syekh H. Mansur Dt. Nagari Basa, Syekh Yunus Tuanku Sasak, Buya Muhammad Jana Cubadak Pasaman, Prof. Mahmud Yunus, Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim, Buya Mawardi Muhammad, dan lain-lain.

Bisa dijelaskan konten naskah Hadis yang ditemukan di Sumatera Barat?

Kebanyakan kitab-kitab yang dihasilkan para ulama itu bersifat kumpulan-kumpulan hadis beserta syarahnya yang diajarkan di lembaga pendidikan mereka (madrasah atau surau), seperti Kitab Empat Puluh Hadis yang disusun oleh Syekh Yunus Tuanku Sasak, Hidayatut Thalibin susunan Syekh H. Mansur, al-Ahadist al-Mukhtarah karya Buya Mawardi Muhammad, dan lain-lainnya. Selain itu, terdapat beberapa karya dalam bidang ilmu hadis seperti Mafatihul Bahits fi ‘Ilm Mushtalah al-Hadits karya Syekh Harun Toboh Pariaman dan Hidayatul Bahist fi ‘Ilmi Mushtalah Hadis karya Buya Mawardi Muhammad. Kedua kitab ini mengikuti gaya penulisan Syarah Baiquniyyah.

Selain itu juga, ada kitab yang khusus mengoreksi dan menambah (ziyadah) hadis dalam kitab-kitab tertentu. Untuk yang terakhir ini karya Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim dapat menjadi contoh. Ia membuat kitab mengenai komentar terhadap hadis-hadis dalam kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd dan menyebutkan beberapa hadis untuk menyempurnakan satu dua bab dalam kitab itu yang ia rasa kurang.

 Kira-kira apa alasan ulama Minangkabau menulis kitab-kitab hadis?

Alasan pertama yang dapat dikemukakan ialah untuk memudahkan. Beberapa ulama bisa jadi menganggap beberapa kitab klasik yang diajarkan pada masa lalu cukup menyulitkan pelajar, baik itu pada sistematika dan bahasa. Oleh sebab itu, mereka membuat semacam ringkasan dari kitab-kitab ilmu hadis, dan atau mengambil hadis-hadis sesuai dengan tema-tema kemasyarakat, dan kemudian mengumpulkannya dalam sebuah kitab.

Alasan kedua, yang tidak dapat dipungkiri ialah aspek ideologi. Telah diketahui bahwa awal abad 20 ialah periode yang penuh dengan dialektika keilmuan antara Kaum Tua dan Kaum Muda. Jika sebelum abad 20, para ulama mendalami hadis dan ilmu hadis dari kitab-kitab yang ditulis ulama-ulama klasik seperti al-Nawawi, al-Baiquni, Abi Jamrah, dan lain-lainnya.

Baca Juga :  Gus Zia: Islam di Amerika Justru Lebih Terbuka dan Toleran

Pada awal abad 20, para ulama telah mulai menyusun dan merumuskan hadis-hadis untuk dipelajari oleh masyarakat. Bahkan mereka telah leluasa untuk menulis syarah (komentar) terhadap hadis-hadis tersebut.

Hemat saya, kebutuhan mereka terhadap ilmu hadis yang begitu serius pada awal abad 20 dipicu oleh ketegangan antara Kaum Tua dan Kaum Muda dalam beberapa masalah agama yang bersifat khilafiyah. Keadaan ini mendorong mereka untuk memperkuat argumen masing-masing, bukan hanya dalam bidang Ushul Fikih, namun juga hadis sebagai sumber pokok istinbath (perumusan) hukum.

 Terakhir, apakah Hadis juga pernah menjadi tema perdebatan ulama Minangkabau tempo dulu? Seperti halnya thariqah yang seringkali menjadi polemik antara Syeikh Ahmad Khatib dan beberapa ulama di Sumatera Barat.

Ya, pernah. Perdebatan pertama yang mengawali awal abad 20 ialah masalah thariqat. Pada tahun 1906, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau yang menjadi Imam dan Khatib Mazhab Syafi’i di Mekkah mengirim sebuah kitab ke Minangkabau. Kitab itu berisi kritikannya terhadap beberapa amalan Thariqat Naqsyabandiyah, terutama masalah rabithah. Kitab itu berjudul Izhar Zaghlil Kadzibin. Kitab itu kemudian dijawab oleh beberapa ulama Minangkabau, antara lain Syekh Muhammad Sa’ad Mungka dan Syekh Khatib Muhammad Ali Padang. Perdebatan antara ulama-ulama ini juga mencakup hadis yaitu pemahaman hadis.

Selain itu juga tercatat karya polemis yang mengharamkan berdiri ketika Maulid, berjudul Aiqazhun Niyam karya Haji Rasul. Juga berisi kupasan mengenai hadis. Berikut ada kitab berisi pembelaan terhadap amal Qunut Subuh dan Jahar Basmallah, berjudul al-Syir’ah karya Haji Rasul. Karya ini memang khusus berisi penilaian terhadap hadis, komentar, serta pemahaman mengenai hadis Qunut dan Jahar Basmallah.

Terima kasih atas kesediannya untuk kami wawancarai

Sama-sama, saya juga mencapkan terima kasih karena telah diberi kesempatan untuk berbagi karya-karya ulama Minangkabau, khususnya yang berkaitan dengan hadis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.