Terkait Film Jejak Khilafah, Dr. Moch Syarif Hidayatullah: Turki Utsmani Tolak Kesultanan Aceh Jadi Bagian dari Kekhalifahan

4
1640

BincangSyariah.Com – Belum lama ini ramai diperbincangkan sebuah film dokumenter bertajuk Jejak Khilafah di Nusantara. Film ini menampilkan beberapa wawancara dan narasi yang menggiring opini bahwa kesultanan di Nusantara memiliki kaitan dengan Kerajaan Utsmaniyyah di Turki bahkan lebih jauh memiliki kaitan dengan Dinasti Abbasiyyah di masa awal Islam. (Baca: Oman Fathurrahman: Tidak Ada Jejak Khilafah Turki Utsmani di Nusantara)

Perdebatan mengenai hal ini tentu mencuat seiring dengan penggagas film ini disinyalir adalah kelompok pengusung Sistem Khilafah yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Banyak dari para pendukung HTI menyambut baik film ini, bahkan di sebagian kanal tampak film ini ditonton bersama-sama di Masjid.

Lalu pertanyaannya, benarkah apa yang dikatakan oleh fim itu? Bagaimana kita seharusnya menyikapinya? Untuk menjawab pertanyaan ini, reporter Bincangsyariah.com mewawancarai Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, M.A yang disertasi doktoralnya di Universitas Indonesia mengulas tentang manuskrip-manuskrip peninggalan Kerajaan Aceh. Terutama terkait dengan surat-surat Kesultanan Aceh untuk meminta aliansi kepada Pemerintah Turki Usmani di abad XIX. Berikut petikan wawancaranya:

Bapak, terkait film Jejak Khilafah di Nusantara, bagaimana pandangannya? Apakah perlu dilarang Pemerintah atau dibiarkan saja?

Kalau kita bicara soal kebebasan pendapat, sebetulnya memang siapa pun boleh menyebarkan pendapatnya, opininya, dan ideloginya. Prinsipnya seperti itu. Hanya saja ideologi ini jangan yang bertentangan dengan ideologi negara. Ini yang perlu kita pahami dan masyarakat juga perlu diedukasi terkait dengan ini. Tidak hanya soal itu, karena film ini berhubungan dengan banyak klaim, kita perlu mempertanyakan apakah klaimnya ini benar atau tidak.

Karenanya saya pribadi berpendapat bahwa film ini memang harus dilarang pemerintah. Kalau tidak dilarang bisa berbahaya, karena banyak kedustaan di dalamnya. Banyak orang yang termakan oleh propaganda HTI yang luar biasa.

Harus dipahami juga bahwa film ini isinya bukan sesuatu yang faktual. Sejarawan seperti Peter Carey menyatakan Kesultanan di Nusantara tidak ada hubungannya dengan Kerajaan di Timur Tengah. Begitu pun Azyumardi Azra juga menyatakan tidak ada bukti sejarah yang menyatakan hubungan antara Kesultanan di Nusantara dan di Timur Tengah.

Penelitian disertasi saya juga membuktikan hal yang sama. Turki Utsmani dalam suratnya malah menolak permintaan Kesultanan Aceh agar masuk menjadi bagian dari Turki Utsmani. Dua kali Aceh meminta itu tetapi tidak ada yang digubris.

Film ini jelas ngasal dan ngawur. Maka Pemerintah perlu, pertama melidungi measyarakat dari propaganda ideologi yang bertentangan dengan Negara. Kedua, Pemerintah juga perlu melindungi masyarakat dari informasi bohong, klaim dan propaganda dusta yang isinya sebetulnya tidak faktual.

Baca Juga :  Salim A. Fillah Klarifikasi Pencatutan Nama Terkait Film “Jejak Khilafah” HTI

Di awal film, salah satu tokoh bernama Hafidz Abdurrahman memaknai kata “sunnah” dalam hadis ‘alaikum bisunnati wa sunnati khulafairrasyidin dengan Sistem Khilafah. Benarkah demikian?

Tentu saja ini ngawur. Hafidz Abdurrahman ini suka ngawur. Hadis tentang sunnah kok diartikan dengan khilafah, jelas ini ngawur. Dia bukan ahli hadis dan dia tidak berhak untuk memberi syarah terhadap hadis itu. Sunnah dalam hadis itu bukan khilafah. Sunnah itu living tradition, tradisi yang hidup pada masa Khulafaurrasyidin termasuk pada masa Nabi Saw.

Segala sesuatu dikatakan khilafah, ini kan keterlaluan. Hafidz Abdurrahman juga pernah saya kritik soal pemahamannya tentang hadis Ruwaibidhah (pemimpin otoriter, red). Soal ini saja dia salah menjelaskan. Sesuatu yang sederhana saja dia salah, apalagi sesuatu yang rumit.

Jadi yang perlu kita pahami betul dari orang orang HTI ini, mereka mengalami semacam  disorientasi. Segala sesuatu dikatakan khilafah, apalagi kalau bukan itu disorientasi. Mereka menyebut Islam kaffah tetapi yang diomonginnya khilafah, itu disorientasi. Apalagi ini yang bikin saya ngeri,orang HTI ngomong sunnah itu khilafah, ini ngawurnya luar biasa.

Film itu mengklaim bahwa Kesultanan Samudera Pasai di Aceh, berbaiat kepada Khilafah Abbasiyyah, dan Kesultanan Pasai menjadi bagian dari Khilafah Global, bagaimana menanggapi klaim ini?

Klaim Samudera Pasai berbaiat ini buktinya mana? Prof. Azra menyatakan tidak ada buktinya. Peter Carey, seorang sejarawan ternama, juga menyatakan tidak ada buktinya. Nah ini yang orang-orang HTI biasa lakukan. Segala sesuatu dihubungkan dengan Khilafah.

Terus kalaupun ada hubungan misalkan, memangnya khilafah Abbasiyyah itu ada hubungan sama Khilafah Tahririyah ala Hizbut Tahrir? Jelas tidak ada.

Masing-masing khilafah itu terpisah. Kekhalifahan Abbasiyyah dengan Kekhalifahan Umayyah itu terpisah. Sejarahnya juga berdarah-darah. Kemudian sampai ke Turki Utsmani juga terpisah, tidak ada hubungannya sama sekali.

Mereka Ini mengklaim seolah-olah khilafah tahririyyah, Khilafah ala HTI, ini ada hubungan dengan Turki Utsmani, seolah-olah ada hubungan dengan Abbasiyyah, dengan Umayyah, ini kan kepedean sendiri.

HTI itu punya apa? Tentara tidak punya, pasukan tidak punya, persenjataan tidak ada, bahkan khalifah aja mereka enggak punya. Terus mereka klaim seolah-olah bisa membangun kekhilafahan, kan kayak orang yang mengigau. Orang yang tidur di siang bolong. ini yang perlu kita pahami. Klaim sepihak seperti biasa. Selama ini orang orang HTI berbicara bahwa di kitab-kitab fikih ada tentang khilafah, dalam kitab itu tertulis imamah, mereka memahaminya khilafah ini kan ngaco ya.

Saya memahaminya sekarang, karena HTI sekarang ada pengaruh Marxisme di dalamnya, ya, maka coraknya menghalalkan segala cara seperti ini. Jadi kita perlu paham ini. Kemudian klaim-klaim itu tidak didukung oleh data-data yang kuat. Mereka main catut aja, istilahnya memperkosa teks, Ini yang kita perlu edukasi masyarakat, supaya masyarakat tidak termakan oleh propaganda dusta yang banyak kebohongannya.

Baca Juga :  Sejarah Kesultanan di Aceh

Selain mengklaim baiat, film itu juga menunjukkan bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, adalah pejabat politik sekaligus agama yang dikirimkan oleh Samudera Pasai ke Jawa. Seolah ingin mengatakan bahwa Walisongo merupakan bagian dari Khilafah Tunggal. Apa pandangan Anda?

Jawaban pertanyaan keempat ini hampir sama dengan jawaban pertanyaan sebelumnya. Artinya basisnya tidak ada bukti-buktinya, mereka tidak mempunyai buktinya. Hanya narasi yang dibuat-buat, dan yang diminta ngomong juga bukan ahli sejarah. Malah ahli sejarah yang benar-benar ahli sejarah menolak. Terus mereka kepedean, ini aneh ya.

Ya kalau ada yang percaya dengan narasi mereka, saya hanya bisa bilang korbannya, mohon maaf, orang-orang bodoh. Korbannya adalah orang-orang yang miskin literasi, tidak mau membaca. Ini persoalan, kita bisa lacak juga Syekh Maulana Malik Ibrahim itu pada zaman kapan, terus kemudian, dia berada dalam urutan pemerintahan siapa, terus bukti-buktinya yang paling utama.

Dalam klaim-klaim sejarah itu harus ada buktinya, bukan hanya penuturan lisan. Ada bukti yang faktual, dokumen, atau apa yang memang membuktikan itu. Kalau hanya klai- klaim sepihak ya jelas tidak bisa.

Dalam disertasi yang Anda tulis terkait Khotbah dorongan Jihad pada Perang Aceh abad XIX, Anda juga mengulas terkait aliansi Aceh dengan Turki Utsmani. Sebenarnya bagaimana aliansi yang terbentuk yang Anda temukan?

Terkait disertasi saya, saya ceritakan bahwa waktu itu Kerajaan Aceh sedang diserang diancam oleh Kerajaan Portugis di Abad XVI dan di abad XIX diancam oleh Belanda. Memang yang paling memungkinkan saat itu, yang masih menjadi kekuatan yang ditakuti adalah Turki Utsmani. Kita harus akui itu.

Tetapi kemudian faktanya berkata lain. Surat-surat yang tersimpan, saya pegang dokumennya, dari Kesultanan Aceh ke Turki Utsmani atau Kekhalifahan Turki Utsmani sebutlah begitu, atau Ottoman Empire, ya, itu memang ada yang menunjukkan bahwa sultan Aceh meminta bantuan dalam menghadapi portugis. Bahkan disebutkan bendera Aceh itu, mirip dengan bendera Turki Usmani.

Kalau kita memperhatikan bendera Aceh yang merah itu, yang pernah juga dipakai GAM juga, itu kan mirip-mirip dengan bendera Turki. Sebetulnya itu bagian dari diplomasi juga agar Aceh bisa diterima oleh Ottoman pada saat itu atau Turki Utsmani saat itu.

Tetapi faktanya berkata lain. Turki Utsmani memandang plus minusnya. Karena posisi antara Turki Utsmani dengan Aceh sangat jauh, dalam surat balasan dari Turki Utsmani, sejarawan dari Turki juga yang meneliti soal Turki Utsmani, saya baca, buku-buku sejarah Turki Usmani tentang Aceh, menyebutkan bahwa Turki Utsmani tidak memberikan izin atau menolak permintaan agar Aceh masuk dalam wilayah Turki Utsmani.

Baca Juga :  Wahyudi Akmaliah: Dibanding Muhammadiyah, NU Lebih Reaktif di Dunia Digital

Alasan yang dikemukakan antara lain karena terlalu jauh, jadi costnya terlalu tinggi, seperti itu kira-kira. Sementara apa yang dilakukan oleh Turki Utsmani agak repot juga, agak ribet juga, untuk memberi pengawasan atau pendampingan kepada Aceh itu memang repot.

Tetapi memang ada juga sejarahnya tentang meriam lada secupak, yaitu meriam dari Kekaisaran Turki Utsmani untuk Kesultanan Aceh. Turki Utsmani melihat waktu itu, ada utusan dari Sultan Aceh membawa serta rempah-rempahan yang dibawa dari Aceh ke Turki Utsmani sebagai bentuk wujud keinginan yang serius agar diterima menjadi bagian provinsi dari Turki Utsmani. Tetapi belakangan pada akhirnya diputuskan tidak ada. Aceh menjadi bagian dari Turki Usmani itu tidak ada, artinya tetap berdiri sendiri-sendiri.

Buktinya di abad XIX Aceh itu babak belur dihajar Belanda, sebagai perang terlama Kesultanan Aceh, selama 30 tahun dengan Belanda. Tidak ada bantuan dari Turki Utsmani. Kalau di abad XVI, masih ada bantuan dari Turki Utsmani meskipun tidak dalam konteks hubungan sebagai wilayah pusat dan periferi. Ini lebih ke solidaritas sesama Pemerintahan Islam, seperti sekarang kita Indonesia membantu Palestina. Itu artinya memang Kekhalifahan dan kesultanan kita itu kalau pun ada hubungan, itu hubungannya bantuan, bukan hubungan antara pusat dan daerah.

Terakhir, bagaiamana sebaiknya umat Muslim Indonesia saat ini menanggapi propaganda-propaganda sistem khilafah ala HTI?

Nah ini bagian yang terpenting. Saya ditanya hal yang sama juga oleh wartawan dari media lain. Ya, sebetulnya kalau masyarakat yang terpelajar, yang literasinya bagus, yang bacaannya bagus, tidak akan termakan oleh propaganda semacam ini. Kenapa? karena fakta-faktanya, bukti-bukti sejarah, literatur, itu ya tidak ada yang mendukung propaganda dari HTI itu.

Yang kita khawatirkan itu masyarakat yang awam, yang malas baca, yang literasinya lemah. Itu yang kita khawatirkan. Mereka terkadang malas kroscek, malas untuk mencari informasi lebih, ditambah semangat beragamanya sedang menggebu-gebu. Ini yang kita khawatirkan. Maka kita semua punya andil ya, termasuk media-media juga punya andil untuk memberi informasi-informasi kepada masyarakat bahwa ada yang salah dari propaganda itu. Propaganda ini jangan dipercaya, karena banyak dusta, kebohongan dan seterusnya dan seterusnya. Ini yang penting kita pahami.

4 KOMENTAR

  1. Kenapa perlu membenci khilafah???

    Khilafah akan tegak berdiri d atas muka bumi inj…

    Krna dunia ini Allah yg mencipta..

    Islam dg kaffah aln berdiri…

    Allahu Akbar….

    Knp kalian membenci islam???

    Kah kalian takut????

    Segeralah kembali kepadaNYA

  2. […] Menurutnya, Turki Utsmani dalam suratnya malah menolak permintaan Kesultanan Aceh agar masuk menjadi bagian dari Turki Utsmani. Dua kali Aceh meminta itu tetapi tidak ada yang digubris. Beberapa alasan tersebut juga dijelaskan oleh Dr. Moch Syarif Hidayatullah dalam wawancara Terkait Film Jejak Khilafah, Dr. Moch Syarif Hidayatullah: Turki Utsmani Tolak Kesultanan Aceh Jadi … […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here