Jonathan A.C. Brown: Nabi Muhammad Saw. adalah Pribadi yang Inspiratif

0
861

BincangSyariah.Com – Prof. Jonathan Andrew Cleveland Brown adalah sarjana muslim asal Amerika Serikat yang popular dengan penelitian-penelitiannya di bidang hadis dan sejarah Islam. Cendekia yang masuk Islam saat masih kuliah tingkat sarjana (S1) ini aktif menulis berbagai buku dan jurnal, serta aktif berbicara tentang Islam dan peradaban di berbagai forum.

Ia adalah penulis beberapa buku seperti Misquoting Muhammad : The Challenges and Choices of Interpreting the Prophet’s Legacy; Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World; Muhammad: A Very Short Introduction; The Canonization of al-Bukhari and Muslim (shahihayn).

Bincangsyariah memutuskan untuk menerjemahkan salah satu wawancaranya dengan Ahsen Utku untuk portal thelastprophet.info pada tahun 2010, terkait kisah hidupnya memeluk Islam sampai pandangannya tentang Nabi Muhammad Saw. dan respon dunia Barat terhadap muslim

Bisa cerita kisah anda saat memeluk Islam?

Saya besar di keluarga yang menganut Kristen Anglikan, aliran gereja Inggris yang berada di Amerika, tapi keluarga saya tidak terlalu religius. Sehingga, saya tidak tumbuh di keluarga sebagai seorang kristiani yang taat. Tapi saya percaya adanya Tuhan, saya selalu percaya itu. Ketika saya masuk universitas, di tahun pertama di Georgetown (nama Universitas), saya mengambil mata kuliah “Islam” dan gurunya adalah seorang muslimah.

Saya sangat tertarik dengan yang ia sampaikan. Saya kira apa yang beliau sampaikan adalah apa yang saya yakini sepanjang hidup, sifat Tuhan, masalah sebab akibat, agama seharusnya sesuai dengan segala zaman, agama menguatkan kehidupan, bukan malah mempersulit. Di akhir semester, saya benar-benar merasa seperti orang muslim. Di musim panas, tahun 1997, saya menghabiskan waktu untuk membaca banyak buku tentang Islam dan pergi ke Eropa dan Maroko. Ketika saya kembali ke kampus di awal semester baru, saya memutuskan masuk Islam.

Sebelumnya, apakah anda mempunyai relasi dengan orang-orang Islam?

Tidak, saya kira saya belum pernah bertemu orang Islam sebelum mengambil kuliah waktu itu.

Buku-buku anda banyak berkaitan dengan Nabi Muhammad, dan saya baru saja tahu kalau anda sedang menulis buku baru?

Ya, buku ini adalah bagian dari serial terbit Oxford University Press yang bernama Very Short Introduction (VSI); mereka memiliki tema saja yang disajikan dalam bentuk VSI, seperti “VSI to The European Union”, dan sebagainya. Saya menulis satu tentang Nabi Muhammad, dan saya sudah menyelesaikannya. Naskah yang saya tulis akan terbit menjadi satu buku dan menjadi bagian dari rangkaian serial buku. Saat ini sayangnya penerbitan buku tersebut ditunda, karena mereka mengirimkan terlebih dahulu ke kantor penerbitan cabang Pakistan, untuk meninjau apakah isinya ofensif terhadap muslim.

Saya ingin mengatakan kepada mereka, “Saya seorang muslim dan semua yang di dalamnya saya ambil dari rujukan-rujukan orang Islam. Tidak ada isinya yang menyerang orang Islam. Saya memang membicarakan pendapat sejarawan Barat dan bagaimana mereka membicarakan tentang Nabi Saw., tapi itu hanya di level diskusi saja. Semua hal terkait kehidupan Nabi saya gali dari buku-buku sejarah/sirah dan hadis.”

Kenapa mereka masih khawatir?

Karena buku yang dianggap ofensif kepada Nabi Saw. biasanya menimbulkan sekian problem. Tapi biasanya bagi penerbit, problem berarti makin banyak menarik minat pembeli. Saya tidak apa yang dipikirkan penerbit selanjutnya.

Apa yang paling mempengaruhi anda dari sosok Nabi Muhammad Saw.?

Baca Juga :  Dr. Hamid Slimi: Sebagai Manusia, non-Muslim Harus Kita Hargai Haknya

Mungkin, sosok beliau sebagai orang yang mampu melakukan terbaik di setiap situasi. Bagi saya, ini sangat inspiratif. Di banyak kesempatan tokoh-tokoh agama yang kita miliki di Amerika Serikat selalu menampilkan sikap yang sama – contohnya sosok Yesus yang selalu baik dan pemaaf. Namun, adakalanya anda tidak bisa memaafkan. Anda tidak boleh begitu (bersikap selalu baik), terkadang anda harus menjadi sosok yang halus dan manis, kadang harus bersikap to the point dan tegas; terkadang anda harus sabar dan di lain waktu harus bergerak cepat.

Tidak boleh hanya ada satu aturan yang anda terapkan dalam hidup dan mengarahkan bagaimana anda bertindak. Anda harus mampu membaca situasi dan melakukan yang terbaik dalam merespon situasi itu. Dan, Nabi Muhammad adalah sosok yang mengetahui hal itu, dan ini adalah sesuatu yang sangat inspiring. Saya kira itu.

Menurut anda, apakah Muslim hari ini bisa menerapkan ajaran-ajaran Nabi di kehidupan sehari-hari?

Tentu saja. Saya kira muslim hari ini mesti berpikir bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah sosok yang idealis dan efektif di waktu yang sama. Beliau memiliki sejumlah prinsip yang dia pegang, namun beliau juga mengetahui bagaimana “menawarkan” ajarannya serta cara berdialog dengan orang-orang tertentu untuk meyakinkan mereka; dia juga tahu bagaimana berdialog dengan seseorang untuk menjadikannya sebagai kawan.

Beliau tidak selalu hanya bersikap tegas dan ketat. Beliau tahu bagaimana menyesuaikan pesan-pesannya ke orang-orang yang berbeda, bukan untuk merubah pesannya, tapi mengemasnya agar diterima orang tertentu. Itu bukan merubah isi, hanya cara menyampaikannya saja. Ini sangat berguna. Saya kira saat ini ketika orang-orang Islam merasa mereka sangat religius, mereka cenderung membuat banyak pernyataan tentang apa yang haram. Untuk benar-benar mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi Saw., sebenarnya adalah berpikir untuk menyatakan apa yang sesungguhnya benar dan baik dilakukan. Itu yang saya kira sangat bermanfaat hari ini.

Harus seimbang ya?

Ya, menjadi muslim yang utuh, sosok yang multi dimensi.

Lalu mengapa – menurut anda – di Eropa dan Amerika sosok nabi Muhammad seringkali menjadi sasaran kritik bagi sebagian orang?

Pertama-tama, itu adalah tanda mereka tidak tahu apa-apa tentang Muhammad. Orang-orang di Eropa dan Amerika memang banyak yang tidak tahu apa-apa tentang Islam dan Nabi Muhammad. Mereka hanya mendengat bahwa orang Islam adalah teroris sehingga Islam adalah agama kekerasan. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad adalah simbol kekerasan. Itulah akar masalah terbesarnya. Sisanya kebanyakan bersifat politis.

Alasan kenapa masih adalah konflik antara negara-negara Barat dengan negara Muslim adalah karena negara Barat masih menginvasi dan mencengkeram. Tindakan itu berimpilkasi kepada aneka masalah poitik. Orang barat menggambarkan orang Islam sebagai orang keras karena orang Islam sebenarnya sedang bereaksi terhadap invasi orang Barat. Ada sejarah panjang konflik antara negara Barat dan Muslim, namun penggambaran satir terhadap Nabi hari ini, yang berwajah kebencian, hanya bisa dipahami sebagai produk konflik politik.

Anda mengatakan tentang para akademisi Barat terdahulu yang menulis sosok Nabi Muhammad. Jika kita asumsikan generasi hari ini tumbuh dengan membaca tulisan-tulisan tersebut lalu mereka dengan mudah menjustifikasi dengan buruk, apakah situasi ini adalah sesuatu yang normal dan biasa saja?

Baca Juga :  Quraish Shihab dan Sepakbola

Ya, saya kira begitu. Hari ini jika anda bertanya seseorang di jalan tentang Islam, tanya mereka satu kata yang ada di pikiran tentang Muhammad Saw, maka mereka akan mengatakan, teroris, ekstrimis, penghunus pedang, dan agama kekerasan. Generasi hingga generasi terus mengulang mitos ini.

Apa yang seharusnya muslim lakukan?

Lakukan yang terbaik untuk mengedukasi semua orang. Masyarakat umum di Barat tidak mengetahui apa-apa. Jika anda menjelaskan kepada orang biasa hal-hal menarik tentang kehidupan Nabi, misalnya bagaimana ia hidup di Mekkah selama tiga belas tahun tanpa melakukan kekerasan, tidak berkonflik dengan orang Mekkah yang menekannya, mereka akan terkejut dan kagum. Saya kira di kehidupan sehari-hari baik itu dalam bentuk buku ataupun artikel di internet kita harus berupaya meningkatkan perhatian orang terhadap sosok Nabi Muhammad.

Anda menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi muslim di Eropa, yang terus meningkat setiap harinya termasuk sikap dari media. Apakah kondisi yang sama ada di Amerika Serikat?

Penjagaan hak-hak kebebasan beragama di USA sangat kuat. Anda secara konstitusional dilindungi untuk dapat menjalankan ajaran agama. Di USA, mudah saja bagi muslim untuk meninggalkan kelas atau kantor untuk alasan beribadah. Anda secara konstitusi diijinkan melakukannya. Jika anda ingin menggunakan penutup kepala/peci lalu atasan anda tidak suka kemudian memecat anda, anda bisa menuntut mereka karena dianggap melanggar undang-undang. Jadi kondisinya lebih mudah karena hak asasi anda dilindung.

Tapi, karena kekhawatiran terhadap terorisme yang semakin meningkat, pemerintah mulai melakukan investigasi terhadap umat muslim tanpa alasan yang benar-benar jelas. Mereka menyimpulkan bahwa muslim yang taat adalah ancaman, atau mereka menjadi ancaman karena tidak setuju dengan kebijakan luar negeri USA. Ngomong-ngomong, sebenarnya setiap orang di USA berhak tidak setuju dengan kebijakan luar negeri negaranya, dan banyak yang seperti itu.

Namun jika yang melakukannya adalah muslim, segera disimpulkan, “orang ini berpotensi radikal !”. Memang setelah peristiwa 9/11, The Patriot Act (UU Terorisme di USA) disahkan yang mana bisa membuat pemerintah lebih bebas memburu orang-orang atas dasar keamanan nasional. Penyadapan tanpa izin atau surat tuntunan langsung dari Departemen Hukum (Justice Departement) menjadi dibebaskan. Inilah yang menyebabkan penyiksaan beberapa orang Islam di Penjara Guantanamo.

Informasi baru-baru ini muncul kabar bahwa seluruh mahasiswa Muslim data-datanya sudah diterima CIA?

Hal-hal seringsekali terjadi. Sebenarnya di USA hal seperti masih diperdebatkan. Ada banyak orang Amerika – yang tidak Islam – menyetujui hal itu karena mencederai nilai-nilai konstitusi. Pemerintah seharusnya tidak diizinkan untuk melakukan penyadapan tanpa izin dari hakim pengadilan. Maka anda tidak boleh menyadap rekaman rekaman dari mahasiswa – misalnya. Setelah adanya Patriot Act, jika anda pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku, pemerintah dapat “masuk” ke dalam perpustakaan dan melihat apa yang anda baca.

Hari ini, Amerika dapat mengekstradisi orang-orang Islam untuk diinterogasi tanpa alasan yang jelas. Banyak orang Amerika yang bukan muslim juga mengkritisi halini karena mereka melihat ini sebagai pencederaan terhadap hak-hak konsitusi. Ini adalah perdebatan yang besar sekali, muslim menentangnya, begitu juga orang-orang Amerika pada umumnya

Apakah anda secara pribadi menghadapi masalah sebagai akademisi yang beragama Islam?

Tidak saya kira. Saya bukan contoh yang baik untuk pertanyaan ini. Nama saya adalah Jonathan Brown dan saya tidak terlihat seperti berasal dari negara muslim, hehe. Saya tidak pernah mendapatkan persekusi akibat nama atau tampilan saya. Saya juga tidak pernah menghadapi problem sebagai sarjana muslim. Orang-orang secara umum sebenarnya tertarik pendapat-pendapat yang disampaikan oleh orang Islam.

Baca Juga :  Cinta Menaklukkannya

Apa yang anda lihat dari Turki sebagai negara muslim?

Saya senang sekali. Saya memahami muslim di negara ini masih mengalami sejumlah kesulitan. Namun saya masih senang karena kita dapat berjalan dan shalat kapanpun saya mau. Makanannya juga enak. Saya berharap saya mengetahui bahasa Turki. Saya ingin belajar lebih banyak. Secara keagamaan, memang Turki adalah negara yang rumit. Saya respek sekali dengan orang-orang Turki. Tapi sekali lagi, ini adalah negara yang rumit.

Apa pandangan anda soal sulitnya persatuan dunia Islam?

Ya, jurang menuju persatuan masih sangat besar. Salah satu problemnya adalah orang-orang hanya tertarik dengan keuntungan pribadi dan gagal untuk menyatu menjadi sebuah kelompok. Mereka berpikir bahwa jika mereka tidak setuju dengan seseorang untuk satu permasalahan, maka mereka tidak bisa bekerja bersama. “Saya tidak ingin bersama mereka, saya tidak ingin di ruang yang sama, saya tidak ingin bekerjasa, ..dst” Tapi itu adalah sebuah kepandiran karena anda tidak mungkin setuju serratus persen dengan siapapun. Tapi seharusnya anda melihat kesempatan untuk bekerjasama dan membangun relasi, bukan malah menjauh.

Apa anda melihat bahwa harus ada satu atau dua kekuatan politik yang memimpin negara-negara muslim ini? Misalnya, haruskah negara-negara tersebut menyatu dibawah koordinasi konferensi Islam misalnya?

Itu masuk akal. Saya kira secara politis orang Islam di seluruh dunia memiliki permasalahan bersama yang mereka perhatikan, begitu juga permasalahan seputar gaya hidup, dan saya kira mereka seharusnya mampu melakukan lobi sebagai satu kelompok besar. Contohnya adalah jika sebuah negara, seperti Prancis, yang menetapkan bahwa perempuan tidak boleh menggunakan jilbab di universitas, negara-negara muslim bisa melakukan langkah “boikot” atau memberi pernyataan.

Sebagai orang Amerika saya tidak menyetujui langkah pemerintah Prancis ini. Saya tidak berpikir ada orang Amerika yang akan setuju bahwa seseorang tidak boleh diizinkan untuk mempraktikkan agama mereka secara bebas; jika Anda ingin mengenakan atribut keagamaan, ini adalah hak Anda. Saya kira ini satu hal yang bisa mereka lakukan dan hal lainnya harus memiliki dampak yang lebih kuat secara politik, bagi kebijakan luar negeri.

Misalnya jika sebuah negara ingin menginvasi sebuah negara Muslim, maka tidak ada satupun negara muslim yang akan mendukungnya. Negara-negara muslim lain kemudian membuat kebijakan tidak mengizinkan penginvasi menggunakan wilayah udara atau daratnya untuk kepentingan militernya.

Betul, bahkan tidak akan melakukan kerjasama komersial dan militer dengan negara yang menginvasi …

Perlu diketahui itu lebih baik bagi Amerika. Kebanyakan orang Amerika hari ini akan mengatakan bahwa menginvasi Irak adalah ide yang sangat buruk. Dan jika negara-negara Muslim menghambat Amerika sehingga sulit menginvasi Irak dengan menolak kerjasama atau menerima tawaran Amerika, itu akan menyelamatkan Amerika dari berbagai masalah, miliaran dolar dan nyawa akan terselamatkan. Karena, ketika ada seseorang yang memberikan anda nasihat dan menyarakan untuk tidak melakukan sesuatu, itu baik buat anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here