Imam Masjid Selandia Baru: Muslim Akan Tetap Aman di Selandia Baru

0
841

BincangSyariah.Com – Serangkaian teror penembakan di dua Masjid di wilayah Christchurch, Selandia Baru pada Jumat 15 Maret lalu mengakibatkan luka yang mendalam bagi dunia, khususnya bagi umat muslim. Pelaku penembakan bahkan menyiarkan secara langsung aksinya di media sosial. Sedikitnya 50 orang korban tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan ini.

Padahal pada tahun lalu, Global Peace Index (GPI) menempatkan Selandia Baru sebagai Negara paling aman di Dunia peringkat kedua setelah Islandia. Hasil ini didasarkan pada 23 faktor penilaian termasuk di dalamnya tingkat kriminalitas, kematian akibat konflik, dan terror yang bersifat politis.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi di Selandia Baru? Untuk mengetahui lebih detail Wildan Imaduddin Muhammad melakukan wawancara eksklusif bersama KH. Faried F. Saenong, Ph.D, seorang WNI yang menjadi salah satu Imam Masjid Selandia Baru di Kilbirnie, Wellington, sekaligus peneliti di University of Victoria dan Katib Aam PCINU Australia-Selandia Baru. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai Imam di salah satu Masjid di Selandia Baru, bisa dijelaskan secara umum bagaimana umat muslim berkegiatan dan respon masyarakat Selandia Baru sebelum terjadinya teror?

Sebelum terjadi aksi teror pada hari Jumat lalu sebenarnya sama sekali tidak ada yang mencolok yang berhubungan dengan umat Islam. Tetapi sekitar dua minggu sebelumnya sampai pada Jumat kemarin, sebenarnya ada diskusi atau semacam wacana di media mainstream Selandia Baru tentang kemungkinan menerima kembali Mark Taylor, seorang kiwi (sebutan untuk warga negara Selandia Baru), Muslim pendukung ISIS, yang berangkat ke Suriah dan berperang bersama ISIS. Saat ini dia berada di salah satu penjara kelompok Kurdi.

Kebanyakan orang menerima termasuk Perdana Menteri, Jacinda Ardern, mengatakan akan menerima Mark Taylor. Ia menyebutkan bahwa hal ini merupakan kewajiban Pemerintah, termasuk dalam menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Ini dilakukan untuk menghindari seseorang menjadi stateless (tidak punya kewarganegaraan). Kalau Mark Taylor bisa keluar dari penjara dan kemudian menuju Turki atau Negara nain dimana ada perwakilan Selandia Baru, dia akan mendapatkan haknya sebagai warga negara. Termasuk mendapatkan paspor atau keterangan jalan untuk sampai ke Selandia Baru lagi.

Nah itu beberapa wacana yang ada, tetapi saya melihat hal ini tidak ada hubungannya dengan kejadian teror pada hari jumat 15 Maret lalu.

Setelah kita lihat profil pelakunya dan aksi rencananya, ternyata memang, serangan teror itu sudah direncanakan. Terlepas dari segala persoalan yang ada atau wacana yang menyangkut umat Islam di Selandia Baru. Pelakunya adalah orang-orang yang memiliki ideologi white supremacy, yang dalam bahasa lain kita sebut dengan ekstrem kanan.

Lalu pasca kejadian, bagaimana keadaan umat Islam dan respon masyarakat Selandia Baru?

Ketika kejadian, kita sendiri berada di Masjid Kilbirnie di Wellington. Sebelum solat Jumat selesai dilaksanakan, kita langsung mendapat kabar tentang penembakan di Christchurch. Pada siang itu juga, kami masih duduk-duduk di kantor Masjid. Sehingga beberapa waktu kemudian ada himbauan dari security officer untuk menutup Masjid. Dalam pengertian untuk meniadakan aktivitas-aktivitas Masjid dimana umat muslim berkumpul, yang ditakutkan akan menjadi sasaran atau objek aksi kekerasan berikutnya.

Sebenarnya kita sendiri berharap tidak ditutup agar umat Islam bisa tetap melaksanakan solat 5 waktu di Masjid. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, termasuk dengan mempertimbangkan profil si pelaku, akhirnya kita sepakat untuk menutup Masjid sementara, sampai ada pengumuman berikutnya.

Baca Juga :  Muncul Gerakan Jumat Berhijab Pasca Serangan Teror di Selandia Baru

Kejadian ini otomatis membuat kaget semua orang. Ada himbauan yang datang dari Mesjid, dari FIANZ (Federation of Islamic Association of New Zealand) organisasi payung umat Islam di Selandia Baru, termasuk himbauan dari IMAN (International Muslim Association of New Zealand) yang mengorganisir dan melaksanakan pelayanan bagi umat Islam di Masjid Kilbirnie. Himbauan-himbauan tersebut menganjurkan agar umat islam tetap berada di rumah, jika tidak ada keperluan mendesak.

Meskipun sebenarnya apa yang terjadi di Christchurch tidak terlalu berpengaruh dengan kegiatan masyarakat di kota lain. Jadi, teman teman Muslim yang selesai melaksanakan solat Jumat, tetap pulang, ada yang kembali ke tempat kerja, sambil terus memonitor kejadian. Tetapi memang kita shock karena memang aksi itu disiarkan secara live. Kita bisa menyimpulkan bahwa Ini adalah serangan yang serius pada umat Islam.

Keesokan harinya, hari Sabtu, keadaan menjadi berbeda ketika banyak dukungan dari warga Selandia Baru yang menyampaikan simpati kepada umat Islam di seluruh Masjid. Jadi masjid-masjid yang ditutup sementara dan dijaga oleh polisi bersenjata menjadi ramai oleh warga Selandia Baru yang datang untuk menyampaikan simpatinya. Itulah yang terjadi sehari setelah penembakan.

Simpati yang ditunjukan oleh warga Selandia Baru ini sangat luar biasa. Untuk di Masjid Kilbirnie saja ada ribuan karangan bunga yang disertai ucapan dukungan untuk umat Islam. Kata-kata tentang melawan terorisme dan sebagainya. Banyak juga yang membawa lilin, membawa poster, ada yang membawa banner, dan macam-macam aksi lainnya untuk menyampaikan dukungan kepada umat Islam.

Orang-orang yang datang ini mengatakan bahwa Selandia Baru adalah rumah bagi siapa saja yang ada di Selandia Baru. Artinya mereka menolak segala bentuk ancaman terhadap siapa pun.

Selandia Baru adalah Negara yang paling aman. Jadi tidak hanya simpati dengan datang ke Masjid yang ada di seluruh Selandia Baru, bahkan beberapa kelompok masyarakat juga menyampaikan vigil (penghormatan dan doa) untuk menunjukkan rasa empati pada umat Islam. Mereka berkumpul di tempat keramaian, di tempat luas seperti lapangan dan sebagainya.

Di Wellington saja kita berkumpul di Basin Reserve, sebuah lapangan cricket di jantung kota Wellington. Di situ diperkirakan ada sebelas ribu orang berkumpul untuk menyampaikan simpatinya kepada umat Islam. Beberapa dari mereka bahkan berkata “We Are Now Muslim New Zealand.” Bukan untuk berkata bahwa kami masuk Islam, tetapi kami berpihak pada umat Islam, berdiri bersama umat Islam di Selandia Baru, kami mendukung umat Islam Selandia Baru.

Simpati ini luar biasa bergerak sampai hari ini, hari keempat. Tidak hanya di Christchurch tetapi di seluruh Selandia Baru. Di kota-kota besar dan kota-kota kecil yang mereka tahu ada Masjid atau tempat solat. Mereka mengadakan vigil dan pertemuan untuk menunjukkan simpatinya.

Hal inilah yang membuat umat Islam merasa bahwa mereka tidak sendirian. Hampir seluruh orang Selandia Baru mendukung keberadaan umat Islam,dan tetap welcome sesama warga yang menetap di Selandia Baru.

Melihat fenomena seperti ini, ke depannya bagaimana keadaan umat Islam di Selandia Baru? Apakah bisa kondusif seperti sedia kala, ataukah akan selalu ada ketakutan kejadian serupa akan terulang?

Baca Juga :  Mengenang Perjalanan Dakwah Pakar Hadis Indonesia, Prof. DR. K.H. Ali Mustafa Yaqub

Dengan dukungan yang luar biasa ini saya yakin kegiatan umat Islam akan kembali normal seperti biasa. Saya merasa tidak akan ada lagi umat Islam yang merasa terteror atau ketakutan melaksanakan kegiatannya sehari hari.

Bahkan kita bisa melihat dalam satu atau dua hari ini ketika ada muslimah berjalan sendirian dengan jilbabnya atau berjalan berdua, ada beberapa orang yang datang mendekat untuk menawarkan bantuan. “Apakah kami perlu menemani anda berjalan?” Tawaran ini untuk memberikan jaminan bahwa umat Muslim tetap aman hidup di Selandia Baru.

Jadi pasca kejadian ini justru melahirkan semacam dukungan yang sangat masif kepada umat Islam. Berbagai acara yang dilaksanakan dalam dua tiga hari ini selalu melibatkan umat Islam. Selalu memberikan penghormatan doa kepada umat Islam, agar semua kembali pulih seperti sedia kala.

Bahkan kemungkinan lain yang bisa terjadi adalah ketika mereka mengunjungi masjid, mereka kemudian menghabiskan waktu beberapa menit di Masjid dan belajar Islam dalam beberapa saat. Hal ini memberikan semacam hikmah dari kejadian ini. Betapa Islam kemudian menjadi perhatian dalam konteks yang positif, tidak dalam konteks yang negatif.

Nah, ini menarik, dalam konteks khusus misalnya, mungkin ada saja orang yang menafsirkan bahwa kemudian ini memungkinkan banyak orang masuk Islam. Apa saja bisa menjadi mungkin untuk terjadi.

Tetapi yang disayangkan karena mungkin terlalu semangat, ada saja oknum yang menciptakan berita-berita palsu. Bahwa lima puluh orang yang tertembak diganti oleh Allah dengan 350 orang Selandia Baru yang masuk Islam. Berita ini belum terdeteksi dan belum dapat dibuktikan. Teman-teman disini masih menganggap ini adalah berita hoaks.

Belum lagi ada hoaks yang berkembang tentang pembalasan umat Islam di Selandia Baru dengan membakar Geraja. Berita ini sama sekali tidak benar. Video yang ditayangkan adalah video pembakaran geraja di Mesir.

‘Ala kulli hal, Islam di Selandia Baru akan seperti biasa lagi. Bahkan Islam menjadi pusat perhatian dalam makna yang positif, orang orang Selandia Baru akan mempelajari Islam, mencari-cari informasi buku tentang Islam dan sebagainya. Mungkin ini bisa menjadi hikmah perkembangan positif pasca teror di Christchurch.

Apa yang terjadi mungkinkah berkaitan dengan Islamofobia yang sedang meningkat? Mengingat ada politisi di Australia misalnya, menggiring peristiwa ini ke arah sentimen anti Islam.

Untuk konteks Selandia Baru, Islamofobia tidak bisa dipungkiri itu ada, tetapi sangat kecil sekali. Akan tetapi pasca teror ini, saya melihat Islamofobia tidak akan berkembang. Bahkan justru karena hujatan masyarakat Selandia Baru terhadap si pelaku yang mendukung ideologi White Supremacy, menjadi bentuk konkret bahwa Islamofobia ini tidak akan berkembang di Selandia Baru.

Apalagi jika kita melihat simpati yang sangat masif dari warga Selandia Baru pada umat Islam. Saya tidak melihat itu menjadi jalan untuk berkembangnya Islamofobia. Umat Islam sekarang merasa tenang dan merasa didukung oleh masyarakat Selandia Baru. Umat Muslim yang ada di kantor selalu mendapat perhatian penuh dari teman-temannya, koleganya, dan bosnya untuk mendapat jaminan bahwa Selandia Baru adalah tempat yang aman termasuk bagi umat Islam.

Baca Juga :  Apakah Insiden Penembakan di Masjid Selandia Baru Akibat Islamophobia?

Bagaimana perkembangan Islam ke depan, umumnya di dunia Barat, khususnya di Selandia Baru?

Secara umum dukungan terhadap umat Islam tidak hanya ada di Selandia Baru, tetapi di seluruh dunia. Kita bisa melihat berita dukungan itu muncul di Inggris, Amerika, dan di Negara minoritas Muslim lainnya.

Kita dengar ada orang Inggris di Manchester menunggu di depan Masjid dengan tujuan untuk menjaga umat Muslim dari segala bentuk ketidakamanan. Bahkan mungkin akan menjadi pemicu perkembangan Islam yang luar biasa pesat pasca teror.

Bagaiamana seharusnya Umat Islam Indonesia merespon isu-isu seperti ini?

Untuk umat Islam di Indonesia saya kira ini menjadi pelajaran yang baik. Betapa kita harus memperhatikan kelompok minoritas. Karena umat Islam di Selandia Baru adalah minoritas setelah teror ini didukung secara masif oleh masyarakat Selandia Baru yang mayoritas non-Muslim.

Mungkin sebaliknya umat Islam di Indonesia. Karena mayoritas, merasa berhak menekan kelompok minoritas. Padahal kelompok minoritas ini seharusnya didukung dan diberikan jaminan keamanan agar dapat melaksanakan segala bentuk keyakinannya, segala bentuk budayanya, dan lain sebagainya.

Peristiwa ini menjadi hikmah bagi umat Islam di Indonesia agar mampu mengendalikan diri. Dengan posisinya sebagai mayoritas, tidak lantas mempunyai hak untuk menindas minoritas. Dalam pengertian bahwa mereka mungkin merasakan ketika melihat umat muslim yang minoritas di negara lain jika ditindas kelompok mayoritas di negara tersebut. Perasaan yang sama harus dimiliki oleh mayoritas, oleh seluruh umat Islam di negara-negara mayoritas muslim.

Ini juga mungkin menjadi pelajaran buat saya khususnya, dan mungkin bagi umat Muslim di Indonesia pada umumnya, bahwa sebenarnya apa yang orang percayai tentang teori konspirasi menurut saya runtuh di Selandia Baru.

Dengan masifnya dukungan orang Selandia Baru terhadap umat Islam, sehingga menurut saya tidak perlu ada lagi drama tentang teori Konspirasi yang mengatakan dunia sedang bersepakat untuk menghancurkan Islam. Saya tidak melihat itu di Selandia Baru sama sekali tidak melihat itu.

Bahkan dukungan pemerintah Selandia Baru untuk perkembangan Islam sangat baik. Pemerintah sangat support dalam bentuk apa pun. itu mungkin pelajaran pertama buat kita di Indonesia.

Yang kedua, tentu saja tidak menjadikan apa yang terjadi di Selandia Baru ini sesuatu yang kontra produktif. Misalnya membakar semangat sentimen keislaman dengan mengatakan umat Islam diserang di Selandia Baru. Ditembak sampai meninggal 50 orang oleh orang yang beragama Kristen misalnya, yang kemudian ada semacam pembalasan dendam terhadap kelompok agama lain oleh umat Islam. Ini sangat tidak perlu.

Kami di Selandia Baru meyakini bahwasanya si pelaku teror ini tidak mewakili kelompok apa pun. Tidak mewakili komunitas tertentu di Selandia Baru. Dia bukan orang Selandia Baru, dia orang Australia. Semua orang Selandia Baru yang datang ke Masjid-Masjid menyampaikan simpatinya dan mengutuk pelaku teror di Chrischurch ini. Sama sekali keliru jika kita mau membakar sentimen umat Islam, misalnya untuk membalas dendam dan sebagainya.

Yang ketiga, tentu tidak perlu dijadikan bahan untuk meraih simpati khususnya menjelang Pilpres di bulan April ini. Saya kira tidak perlu dan tidak ada hubungannya, sama sekali tidak ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here