Hew Wai Weng: Muslim Tionghoa Cerminkan Muslim Indonesia

0
381

BincangSyariah.Com – Pasca berakhirnya kekuasaan Orde Baru, melalui Keppres No 6 Tahun 2000 Abdurrahman Wahid selaku Presiden mencabut Inpres No 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Kebijakan yang secara tidak langsung mengakui adat istiadat Cina sebagai bagian dari ragam kebudayaan Indonesia. Euforia perayaan identitas juga tidak disia-siakan oleh warga keturunan Tionghoa yang beragama Islam dengan cara mendirikan Masjid berasitektur Tionghoa.

Hew Wai Weng, Ph.D.

Konteks ekspresi keislaman Indonesia menarik ditelaah lebih lanjut. Untuk memahami secara mendalam kaitan antara identitas tionghoa dan identitas Muslim, BincangSyariah menemui Hew Wai Weng, peneliti di Institut Kajian Malaysia dan Antarbangsa. Hew Wai Weng telah menulis buku penelitian lapangannya selama tahun 2008-2009 terkait model keislaman masyarakat muslim Tionghoa. Kini, buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul “Berislam ala Tionghoa: Pergulatan Etnisitas dan Religiositas di Indonesia”.

 

Untuk lebih dalam memahami buku tersebut, kami mewawancaranya di sela-sela bedah buku tersebut di Kantor LIPI, di Jakarta.

Dalam pengamatan Anda, apa perbedaan antara Muslim Tionghoa antara generasi tua (merasakan era Orde Baru) dengan generasi muda saat ini?

Saya kira generasi itu penting. Berdasarkan penelitian saya khususnya di Jakarta dan Surabaya, sebenarnya ada banyak perbedaan. Untuk orang Tionghoa Muslim yang lebih senior sekitar usia lima puluh tahun ke atas, banyak yang masih bisa berbahasa Mandarin. Tetapi kalau yang lebih muda, usia tiga puluhan mereka tidak bisa Bahasa Mandarin.

Muslim Tionghoa yang senior menjadikan isu asimilasi dan integrasi sebagai tema obrolan mereka. Misalnya, dengan menjadi Muslim berarti bisa lebih dekat dengan mayoritas Muslim Jawa Madura dan sebagainya.

Tetapi kalau untuk orang Muslim Tionghoa yang lebih muda, isu asimilasi tidak menjadi perhatian mereka. Karena sebenarnya kebanyakan yang jadi Muslim, kebetulan di lingkungannya sudah berbaur. Persoalan integrasi atau pembauran sudah tidak banyak dibicarakan. Tema seputar keislaman yang lebih banyak dibicarakan seperti misalnya keislamannya bagaimana, belajar Islamnya dari mana, dan sebagainya.

Baca Juga :  Ayang Utriza Yakin: Pemerintah Harus Ambil Alih Sertifikasi Halal

Hal seperti ini yang menjadi pembeda dari segi generasi. Ini karena memang setelah zaman Orde Baru (Orba) yang begitu keras mengupayakan asimilasi, sehingga menghasilkan kesan seolah sudah tertanam begitu kuat. Kebanyakan orang Tionghoa sudah tidak terlalu memperlihatkan identitas Tionghoa-nya, tetapi mungkin dari segi simbolik masih dipertahankan.

Terkait dengan kedekatan Gus Dur dengan Orang Tionghoa, Bagaimana respon Muslim Tionghoa kepada Gus Dur?

Memang Gus Dur menjadi salah satu rujukan banyak orang Tionghoa, khususnya di PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Mereka bilang Gus Dur sebagai bapak Tionghoa. Bahkan sebutan ini bukan hanya dari orang Tionghoa Muslim, tetapi juga Tionghoa pada umumnya. Hal ini dikarenakan kebijakan Gus Dur yang mengakui orang Tionghoa sebagai satu suku di Indonesia.

Banyak Tionghoa Muslim sendiri mengundang Gus Dur sebagai pembicara kunci di depan warga Tionghoa. Saya sendiri sempat hadir pada waktu itu di tahun 2008. Bahkan Gus Dur sendiri sempat mengaku sebagai keturunan Tionghoa.

Gus Dur banyak diapresiasi oleh kelompok Tionghoa Muslim di Jawa Timur, khususnya yang ada di Masjid Cheng Ho Surabaya. Mereka kebanyakannya aktivis NU dan politisi PKB. Mereka cukup dekat dengan NU dan cukup dekat dengan Gus Dur.

Akan tetapi Tionghoa Muslim ini juga beragam. Ada juga Tionghoa Muslim yang lebih keras yang tak suka Gus Dur. Mereka adalah yang mengatakan Gus Dur liberal, Gus Dur sekuler, atau agen barat. Tetapi secara umum kelompok Tionghoa Muslim dan organisasinya menghargai dan mengapresiasi Gus Dur karena keterbukaannya terhadap Tionghoa.

Bagaimana respon dan kontribusi masyarakat non-Tionghoa di Masjid Berasitektur Tionghoa, apakah mereka punya kontribusi besar misalnya terlibat dalam kepengurusan?

Baca Juga :  Ahmad Najib Burhani: Berpihak kepada Mustadh’afin Adalah Perintah dalam Al-Quran

Pasti ada. Karena dari segi pendiriannya sendiri mereka mendapat dukungan dari non-tionghoa. Tidak hanya dari Muslim yang non-tionghoa, tetapi juga dari tionghoa yang bukan Muslim. Ambil contoh misalnya pada kasus pendirian Masjid tionghoa pertama di Surabaya, dukungan NU dan Muhammadiyyah sangat penting.

Pada kenyataannya sebagian masyarakat masih meragukan kebolehan Masjid arsitektur Tiongkok. Mereka bilang itu kan kelenteng. Akan tetapi dengan dukungan Muhammadiyyah dan juga NU memberi keyakinan bahwa hal itu oke saja. Dalam arti mendirikan gedung mirip kelenteng tetapi berfungsi sebagai Masjid, tempat ibadahnya orang Islam. Banyak dukungan dari komunitas non-tionghoa ya. Kalau tanpa sokongan dan dukungan mereka saya rasa Masjid Cheng Ho ini tidak akan bisa didirikan.

Kebanyakan pendiri PITI itu banyak yang bergerak di NU dan punya hubungan kuat dengan NU. Di Kota Surabaya memang kan NU cukup kuat. Aktivis di NU ataupun di PKB bukan hanya relasi yang bersifat personal tetapi juga relasi bisnis.

Sumbangan dari Tionghoa yang bukan Muslim juga cukup banyak karena dana yang saya tahu, banyak dari Tionghoa yang non-Muslim. Karena mereka mendukung sebagai satu usaha untuk menjalin hubungan erat. Kebetulan Masjid Cheng ho Surabaya itu letaknya di tempat mayoritas orang Tionghoa yang non-Muslim, jadi perlu dukungan dari kedua-duanya.

Kalau masjid lain itu sebenarnya banyak yang dibina oleh non-Muslim. Misalnya Masjid yang di Pandaan, Banyuwangi, Muslim Tionghoanya aktivis NU ya, kalau Masjid yang di Malang di Universitas Muhammadiyyah, Din Syamsuddin sendiri ketua Muhammadiyah, juga mendukung.

Banyak dukungan dari Muslim yang bukan Tionghoa mungkin karena beberapa sebab. Di antaranya untuk menunjukkan Islam yang inklusif, meski ada juga yang bilang ini untuk agenda Arabisasi, untuk berbagai kewarnaan, keinklusifan Islam sendiri, saya rasa itu satu yang penting, atau saya kira ini sebagai suatu usaha dakwah, untuk menyambut mereka datang ke Masjid, banyak aspek, yang non-Tionghoa Muslim yang mendukung, di Malaysia juga begitu.

Baca Juga :  Deny Hamdani, Ph.D.: Para Kiai Tak Permasalahkan Cara Berpakaian, Tapi Kesalehan Amal

Pasca orba perayaan identitas Tionghoa semakin semarak, bagaimana orang Tionghoa Muslim di Indonesia memaknai perayaan Imlek?  

Kalau perayaan Imlek sendiri, secara umum, terserah, memang ada sebagian dari orang Tionghoa walaupun sebelum mereka menjadi muslim sudah tidak merayakan Imlek karena pembauran dengan tahap yang berbeda. Saya sempat melihat yang Kristen juga tidak imlek juga karena mungkin, bukan karena agamanya tapi karena budayanya.

Tetapi secara umum orang Tionghoa seperti PITI merayakan misalnya di Jogja merayakan Imlek di dalam Masjid, itu karena dukungan NU dan Muhammadiyyah.

Perspektif yang mereka bangun adalah Imlek itu perayaan budaya, meski ada unsur agamanya tetapi itu dihindari semasa perayaan Imlek. Jadi oke merayakan Imlek asalkan tidak melibatkan makanan yang haram, tidak ada ritual yang tidak islami dan lain sebagainya.

Masing-masing Muslim Tionghoa juga berbeda pendapat, sebagaimana ada perbedaan antara NU dan Muhammadiyyah. Nah, orang Tionghoa Muslim mereka tersebar di berbagai organisasi dan lintas kalangan. Saya bertemu orang muslim tionghoa yang masih ke kelenteng untuk imlek, ada juga yang mengatakan imlek haram, misalkan ucapan gong xi fat chai juga haram, ada juga yang sangat ekstrem. Tetapi kebanyakan Muslim Tionghoa berada di tengah-tengah, jadi oke imlek tetapi tidak menyinggungi perkara yang tidak Islami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here