Gus Zia: Islam di Amerika Justru Lebih Terbuka dan Toleran

0
353

BincangSyariah.Com – Isu mengenai Islamophobia di Amerika terlihat lebih panas saat bursa pencalonan Presiden Amerika digelar. Pasalnya, salah satu kandidat calon Presiden dari partai Republik, Donald Trump, selalu melontarkan pernyataan kontroversial terkait Islam dan umat Muslim di Amerika. Isu-isu terorisme dan peristiwa pengeboman World Trade Center 2001 kembali mengemuka, paling tidak di media.

Namun, menurut putra almarhum Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, Zia Ul Haramein, sebenarnya ketertarikan masyarakat Amerika terhadap Islam terus menguat hingga banyak orang Amerika yang memeluk Islam. Selain itu, menurutnya, Muslim imigran yang berhijrah ke Amerika terus bertambah, termasuk dari Indonesia.

“Keberadaan para imigran Muslim sangat memberi warna keberislaman di Amerika, apalagi para imigran Muslim yang pemahamannya keislamannya sudah baik kerap menjadi tempat konsultasi mengenai Islam bagi masyarakat Amerika,” ujarnya kepada Masrur, redaktur Bincangsyariah.com.

Lalu bagaimana sebenarnya wacana tentang Islam dan terorisme di Amerika? Bagaimana peran media memberitakan tentang Islam dan Muslim di Amerika? Benarkah Islamphobia itu nyata terjadi di masyarakat Amerika? Simak wawancara khusus  Gus Zia, begitu panggilan akrabnya, dengan redaktur Bincangsyariah.com, di  Sekretariat el-Bukhari Institute Ciputat, Selasa (23/8/2016).

Bisa diceritakan Perjalanan Awal ke Amerika?

Saya pergi ke Amerika tahun 2013, ketika saya dan ibu mendampingi acara safari Ramadan bapak ke sana. Saat itu, kuliah saya di Madinah sedang libur. Kami langsung pergi ke Darul Oloom, New York. Lembaga itu hampir mirip dengan pesantren di Indonesia, ada bangunan, santri mukim, dan kiainya. Lembaga pendidikan ini didirikan oleh keturunan Bangladesh yang sudah bapak kenal.

Saya juga mengunjungi IMAAM (Indonesian Muslim Association in America). Lembaga itu terletak di Washington D.C. Saya juga sempat menginap di rumah orang Indonesia yang berada di sana. Perjalanan saya pada tahun 2013 hanya menemani bapak dan ibu saja ke Amerika.

Mulai Dakwah di Amerika, Kapan?

Ceritanya begini, tahun 2015, saya dikontak salah satu pengajar di IMAAM. Saat itu, saya sedang melanjutkan studi di Madinah. Orang itu meminta saya untuk menjadi guide-nya selama di Madinah. Orang itu datang bersama rombongannya ke Madinah. Nah, saat itu, saya ditawari untuk mengajar di sekolah IMAAM.

Baca Juga :  Imunisasi Difteri Mengandung Babi, Bagaimana Hukumnya?

Menurut Mereka SDM di IMAAM masih kekurangan. Karenanya, saya diminta untuk mengajar di sana. Saya mengajar agama setiap hari minggu, di luar sekolah formal. Mereka menyebutnya dengan Sunday School.

Akhirnya, saya izin ke bapak. Alhamdulillah bapak mengizinkan, dengan syarat saya harus tetap belajar di sana. Makanya, sembari mengajar di sana, saya mengurus visa pelajar untuk mendaftar program kuliah Media Arabic di Middle East Institute. Berangkatlah saya ke Amerika.

Apa Itu Middle East Institute?

Middle East Institute sebenarnya adalah lembaga yang menyediakan program pembelajaran untuk belajar apa saja yang berkaitan dengan Timur Tengah, termasuk bahasa. Saya kebetulan waktu itu mengambil program Media Arabic setiap Selasa dan Kamis malam.

Selama mengikuti program tersebut, saya banyak belajar tentang bagaimana media – termasuk di Amerika Serikat – berperan besar dalam membentuk citra publik tentang Islam. Sehingga, wajar misalnya kita hanya mendengar berita-berita tentang Islam yang radikal saja dari media barat, tapi jarang – atau tidak pernah – mendengar berita lainnya yang lebih positif tentang Islam.

Menurut Anda, Bagaimana Media Amerika memberitakan Islam?

Pemberitaan buruk terhadap Islam erat kaitannya dengan kepentingan politik, apalagi sekarang sedang masa Election Year (Tahun Pemilu) di Amerika. Kita tahu semua bahwa Donald Trump itu biasa melakukan kampanye yang merendahkan dan mencela Islam. Isu-isu ini kembali mencuat di masa Donald Trump, setelah sebelumnya tidak muncul lagi. Masyarakat Amerika secara umum sudah akrab dengan Islam, yang ada hanya sisa-sisa opini kasus peledakan WTC saja.

Oh, iya. Saya juga ingat seorang komedian yang bernama Traver Noah. Dalam beberapa acaranya, ia membuat lawakan-lawakan yang mengkritik sikap Trump itu, dan kritikannya itu mengena.

Lainnya, misalnya Kareem Medwali, orang Mesir yang hijrah ke Amerika lalu mencoba membuat video wawancara dengan warga New York. Sambil bertanya, “What’s your opinion about Islam?” Jawabannya beragam, tapi umumnya positif. Bahkan mereka lebih antusias lagi ketika Kareem menyatakan I’m moslem setiap kali usai wawancara.

Baca Juga :  Dr. Atiyatul Ulya: Kesadaran Emansipasi Wanita Tumbuh Sejak Masa Nabi

Singkatnya, pemberitaan media tentang Islam ada dua: reliable dan non-reliable. Yang reliable adalah media yang dapat dipercaya dalam memberitakan Islam, menyajikan sesuai dengan fakta. Sementara itu, yang non-reliable lebih menyajikan opini daripada fakta.

Bisa Anda Jelaskan Perkembangan Islam di Amerika?

Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, Darul Oloom, New York, itu didirikan oleh warga Bangladesh. Warga Bangladesh mempunyai peran penting dalam menyebarkan Islam di Amerika. Saya mengamati banyak warga Bangladesh yang sudah menjadi warga negara Amerika. Mereka menjalankan keislamannya dengan baik. Uniknya, gaya  berpakaian dan bahasa yang mereka gunakan tidak berubah.

Namun sayangnya, sebagian warga Amerika mengira pakaian yang mereka gunakan itu adalah pakaian Islam. Padahal itu hanya budaya mereka saja. Dan, mereka tidak cepat beradaptasi dengan kebudayaan Amerika. Ketika di rumah, lembaga milik mereka, mereka masih menggunakan Bahasa Urdu.

Kesimpulan sementara saya menyatakan bahwa perkembangan Islam di Amerika umumnya dibawa oleh orang-orang Bangladesh. Mungkin India dan Pakistan juga termasuk di dalamnya. Saya biasa menyebutnya dengan istilah IPB.

IPB?

Ya, singkatan dari India, Pakistan, Bangladesh. Istilah itu sebenarnya digunakan teman-teman saya di Madinah. Rata-rata pekerja di Madinah itu berasal dari tiga negara tersebut. Ini juga terjadi di Amerika. Tidak sedikit warga IPB yang sudah menjadi warga negara Amerika Serikat.

Apa yang mereka lakukan dapat menjadi contoh dan tauladan bagi kita. Mereka semangat untuk menyiarkan agama Islam di Amerika. Selama menetap di Amerika, saya pernah mendengar sebuah anekdot. Jika tiga atau empat orang sudah membuat forum, lalu mereka tahu masing-masing berasal dari IPB itu, maka di situlah terdapat masjid. Karena, mereka selalu berpikir bagaimana mendirikan  masjid di Amerika.

Sebenarnya, Pandangan Warga Amerika Terhadap Islam Seperti Apa?

Baca Juga :  Nadirsyah Hosen : Tidak Semua Hadis Sahih Bisa Langsung Kita Terapkan

Seperti yang saya ceritakan tadi, tentang keberadaan Darul Uloom contohnya, masyarakat Amerika sebenarnya begitu tertarik dengan Islam. Di New York dan kota-kota besar lainnya, masyarakat sudah biasa hidup bersama dengan Muslim. Bahkan di kampung Arab (Arabic Town) New York, azan berkumandang setiap salat 5 waktu.

Dalam kehidupan sehari-hari, salat berjamaah di tempat umum adalah soal biasa. Saya merasakan salat di taman, restoran, di bawah tangga ruangan, bahkan di ruang kosong di bioskop. Mereka begitu antusias dan menghormati saya sebagai Muslim.

Namun, ada saja yang mengira kalau salat itu harus di tempat ibadah, seperti masjid, sehingga mereka kaget kalau salat ternyata bisa di mana saja asal menghadap kiblat. Ketika saya salat di tengah taman, saya bahkan dikira sedang melakukan gerakan yoga.

Bahkan, orang yang mengira saya sedang yoga itu merasa kagum. Dia bilang ke saya,Gerakan ibadahmu itu bagus, darah dalam tubuh dapat mengalir dengan lancar. Kapan-kapan saya juga mau mempelajari dan mencobanya.”

Intinya kalau di sana, kita harus mengalahkan rasa malu kepada manusia, kalau kita memang  takut kepada Allah SWT.

Tampaknya Mereka Begitu Simpati ya?

Betul. Sejatinya, mereka itu ingin mengetahui lebih dalam. Di beberapa kota besar seperti Washington D.C., masyarakat hampir rata-rata memahami dan saling menghormati antar agama, termasuk Islam. Meski di kota-kota kecil, misalnya Nebraska, masih ada sensitivitas akibat kurangnya pengetahuan tentang Islam. Hanya mereka yang tinggal di kota-kota kecil itu yang agak sinis dengan Islam.

Kalau Umat Islam itu Sendiri Bagaimana?

Ya, Islam di Amerika sebenarnya lebih terbuka dan toleran dibandingkan di Indonesia. Di sini kita masih menemukan umat Islam yang bertengkar gara-gara perbedaan. Di Amerika, kami sebagai muslim berusaha untuk bersatu dan mengabaikan perbedaan. Meskipun Islam di sana tidak tunggal, ada Ahmadiyah, Syiah, dan Sunni.  Sebab kalau kita bertengkar lantaran perbedaan, itu akan merusak citra Islam sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here