Founder Alvara Research Center: Ormas Islam Moderat Harus Melakukan Transformasi Organisasi

0
1154

BincangSyariah.Com – Belum lama ini Alvara Research Center mengeluarkan hasil survei bertitel Indonesia Muslim Report 2020. Dalam laporan setebal 66 halaman itu, dipaparkan data terkait ritual keagamaan, ormas, isu-isu sosial, sikap toleransi, dan tingkat moderasi beragama Muslim Indonesia. Selain itu, Hasanuddin Ali selaku pendiri Alvara sekaligus CEO juga menerbitkan buku berjudul Wajah Muslim Indonesia. Di dalamnya terdapat berbagai pemaparan mengenai muslim milenial Indonesia yang secara karakter, berbeda dengan karakter muslim di masa sebelumnya.

Untuk lebih mengetahui sejauh mana fenomena muslim milenial  di era digital dan bagaimana semestinya ormas Islam moderat menyikapi perubahan karakter tersebut, reporter Bincangsyariah.com Wildan Imaduddin bertemu langsung dengan pendiri Alvara, Hasanuddin Ali, guna menggali lebih dalam wawasan terkait fenomen ini. Berikut petikan Wawancaranya:

Dalam buku Wajah Muslim Indonesia Anda memaparkan data survei bahwa generasi milenial secara ritual mayoritas mereka masih mengikuti tradisi Aswaja, namun berbanding terbalik dengan afiliasi ormas yang sebagian besar mengaku tidak terafiliasi. Bagaimana menjelaskan fenomena ini?

Kalau kita lihat secara kuantitatif banyak anak-anak milenial yang masih menjalankan praktik keagamaannya ala Aswaja, tetapi keterikatan mereka terhadap ormas itu semakin reda. Ini menandakan bahwa bagi milenial yang penting praktik keagamaannya, bukan organisai. Mereka tidak mau tergantung atau terkooptasi oleh ormas tertentu. Jadi dalam praktiknya mereka lebih independen. Mereka bisa memisahkan antara ritual dan independensi pola pikir.

Bagi orang yang sudah terkooptasi ormas tertentu, mau tidak mau orang tersebut akan tergantung. Apa pun yang menjadi keputusan ormas akan diikuti. Apakah itu terkait dengan pilihan politik, ekonomi, sosial dan lain lain.

Nah, dalam kasus anak-anak muda ini tidak begitu. Dia ritualnya Aswaja tetapi pilihan politiknya bisa jadi berbeda. Atau bisa jadi paham sosial-ekonominya beda. Pada akhirnya anak-anak milenial ini mulai melepaskan diri terhadap kooptasi ormas-ormas yang ada di Indonesia.

Faktor kedua alasan anak-anak milenial tidak tergantung pada ormas tertentu adalah faktor modernisasi. Anak-anak milenial banyak di kota. Karakter orang kota itu cenderung lebih individualis. Sementara basis ritual atau basis keagamaan muslim Aswaja (NU) itu berbasis desa yang sifatnya komunal. Komunal sebagai basis dari budaya agraris. Bukan budaya industri, bukan budaya revolusi informasi dan seterusnya yang menjadi budaya orang-orang kota.

Berarti ini membuktikan bahwa “Ormas tertentu seperti NU” belum bisa menjangkau muslim milenial? Atau ada faktor lain?

Kalau melihat data yang kita kumpulkan memang semakin muda keanggotaan ormas semakin kecil. Baik ormas itu NU, Muhammadiyyah, Persis dan lain lain. Jadi ini fenomena ormas secara keseluruhan yang ada di Indonesia. Mereka belum berhasil menarik anak-anak muda untuk bergabung.

Terkait dengan dunia digital, apakah berarti ustadz-ustadz yang terafiliasi dengan ormas-ormas ini tidak bisa menyesuaikan diri dengan ruang digital?

Zaman dulu orang-orang yang ingin belajar agama harus datang secara langsung ke kiai, ustadz masuk ke pesantren dan madrasah. Sekarang dengan adanya internet semua orang bisa melihat Youtube. Akses terhadap ustadz menjadi lebih mudah. Pilihan orang belajar agama jauh lebih gampang.

Inilah tantangan yang dihadapi oleh ormas-ormas moderat. Kehadiran ustadz-ustadz populer, dengan berbagai packaging, ternyata mampu menarik perhatian anak-anak muda. Sayangnya ustadz-ustadz moderat yang merepresentasikan ormas agak terlambat. Padahal ustadz-ustadz populer sudah sangat lama masuk ke dunia digital. Lihat saja subscriber dan followernya ustadz-ustadz populer itu, jauh lebih banyak dibanding ustadz-ustadz yang terafiliasi ormas moderat.

Bagaimana caranya agar ustadz-ustadz yang telah terafiliasi ormas ini bisa digemari oleh anak-anak muda milenial?

Saya sering mengatakan begini, ormas moderat semisal NU sudah harus mengikuti perkembangan zaman. Artinya sudah harus mengikuti “selera pasar”. Kalau ternyata pasar berubah ya ormas juga harus berubah.

Ormas moderat, dalam hal ini NU, mengikuti cara dakwah Walisongo. Cara dakwah walisongo zaman itu menggunakan pendekatan budaya. Budaya zaman itu direpresentasikan dengan kesenian wayang, pakaiannya menggunakan blangkon, ya budaya jawa saat itu. Sementara hari ini budaya sudah berubah. Sudah lebih modern dengan adanya internet dan lain lain. Maka pendekatan budayanya ya harus sesuai dengan hari ini.

Jadi yang diikuti itu manhajnya walisongo bukan produknya. Zaman walisongo produknya masih pakai blangkon masih pakai wayang dan seterusnya. Budaya hari ini tidak begitu. Musiknya saja sudah berbeda. Pakailah budaya hari ini.

Nah, ustadz-ustadz yang kekinian itu, kalau boleh jujur mereka sudah menggunakan cara-cara dakwah walisongo. Dengan menggunakan meme-meme yang bagus. Memakai medium musik, mendekati komunitas seperti komunitas moge, vespa, komunitas olahraga seperti supporter-supporter bola. Hal semacam ini secara tidak langsung sudah dapat dikatakan bahwa ustadz-ustadz non-afiliasi ini telah menggunakan manhaj walisongo. Sementara ormas moderat hari ini masih menggunakan pendekatan lama.

Baca Juga :  NKRI Bersyariah adalah Gagasan Usang: Wawancara Eksklusif dengan Syaiful Arif, Direktur PSPP

Maka saya selalu mengkritik temen-temen yang kembali ke zaman dulu. Menggunakan identitas zaman dulu. Pakai blangkon misalnya. Bukan salah. Tetap perlu ada orang-orang yang seperti itu. Tetapi untuk “pasar” yang lebih luas, jelas tidak bisa bisa masuk. Memakai sarung batik untuk dakwah identitas ke internal saja. Menguatkan identitas ormas. Tetapi untuk menjangkau seluruh masyarakat muslim, itu tidak bisa.

Oleh karena itu, menurut saya harus ada versifikasi ustadz. Ustadz yang dakwahnya memang ke internal, dengan cara lama masih bisa. Tetapi untuk dakwah ke masyarakat muslim secara lebih umum, harus menggunakan cara-cara kekinian. Nanti pelan-pelan orang umum yang tidak tertarik dengan ormas akan ikut tertarik.

Jadi apakah identitas keormasan ini menjadi daya hambat?

Menurut saya ini pilihan strategi. Nah kalau kita bicara pilihan strategi maka dakwah menggunakan cara-cara kekinian itu tidak masalah. Kita tahu golnya itu apa.

Strategi itu kan bicara gol. Objektif. Ketika objektifnya menarik orang-orang, masyarakat muslim secara umum untuk lebih mengenal NU, misalkan, atau amaliah NU, maka menggunakan budaya sekarang ini tidak habis-habis. Tokh pada akhirnya orang akan tau, ooh, ustadz ini adalah ustadz yang pandangan keagamaannya NU, tanpa harus menggunakan simbol-simbol NU.

Terkait dengan ustadz yang terafiliasi politik bagaimana pandangan Anda?

Saya kira aspek politik ini hanya efek sesaat saja. Yang lebih penting dari itu sebenarnya ideologi bukan politik. Sekarang kita lihat aspek politik ini sudah tidak terlalu kental lagi. Meski dimungkinkan suatu saat akan mengental lagi. Tetapi untuk 2 sampai 3 tahun ke depan saya kira tidak terlalu efektif.

Pintarnya kelompok Islam konservatif, mereka tidak terlalu menonjolkan kelompoknya. Ini perlu dicontoh oleh kelompok moderat. Kenapa tidak? Kelompok Islam moderat ini bisa lebih menonjolkan Islamnya, bukan ormasnya.

Saya kira harus ada dari ustadz-ustadz dari kelompok Islam moderat yang warna ormasnya tidak terlalu kelihatan, untuk dapat tampil ke permukaan. Tentu dengan packaging yang bagus ya. Yang good looking dengan cara dakwah dan juga bahasa yang renyah.

Masih berkaitan dengan Ustadz-Ustadz Populer ini, sejauh mana dampaknya terhadap konservatisme di Indonesia?

Kalau kita lihat ustadz-ustadz yang populer memang menuju kesana, bisa kita lihat dari pandangan keagamaannya dari ceramah-ceramahnya. Memang kelihatan seperti itu. Sementara yang menguasai media itu kelompok mereka. baik di media konvensional maupun media digital termasuk media sosial.

Saya sering mengibaratkan internet seperti panggung. Yang menguasai panggung itu adalah yang paling banyak bersuara, yang paling banyak mengisi panggung. Ketika ulama atau ustadz-ustadz moderat itu tidak tampil di panggung itu, maka kelompok konservatiflah yang mengisi panggung itu. Sehingga yang tampak di permukaan Indonesia paham-paham konservatif itu.

Bagaimana caranya untuk menghalaunya?

Banjirilah internet dengan konten-konten yang lebih moderat. Tidak ada cara lain. Mau cara apa? Sekarang zamannya media ini. Orang akses internet bisa lebih dari tujuh jam sehari. Satu-satunya cara seperti itu, membanjiri internet dengan konten-konten moderat. Dengan sendirinya mereka akan turun peringkatnya.

Ini adalah pertarungan wacana yang tidak akan pernah habis. Tergantung mana yang lebih kuat, mana yang lebih persisten, konsisten, itulah yang akan menang. Tetapi untuk mengurangi sampai nol, tidak akan bisa. Ini akan terus terjadi sampai nanti ke depan.

Tinggal seberapa kuat kelompok-kelompok moderat ini terus hadir di tengah-tengah masyarakat melalui media digital. Jadi, kekuatan ormas-ormas dulu basisnya komunal. Ketika berbasis komunal, maka orang-orang bertemu setiap minggu, ada tahlilan di setiap kampung, inilah jejaring zaman dulu.

Jejaring hari ini sudah berpindah dari fisik ke digital. Ketika jejaring itu tidak dimiliki ormas moderat, sementara kelompok konservatif punya, ditambah lagi publik yang menjadikan referensi keislaman di dunia digital, maka efeknya terjadi seperti hari ini.

Memang kelompok moderat agak terlambat, tetapi tetap punya peluang. Kenaggotaan ormas moderat ini mayoritas.

Coba bayangkan dari 80 juta orang NU misalnya, setiap hari ngetwit soal keNUan, soal amaliah NU, sangat mungkin NU menguasai twitter. Sementara kelompok konservatif ini, mereka sedikit, tetapi militansinya luar biasa. Ini kekurangan ormas moderat, militansinya masih sangat kurang.

Menurut saya, ormas-ormas moderat ini, harus mempunyai dirigen atau konduktor. Jika diibaratkan orkestra ya, dalam orkestra itu ada yang main gitar, biola, ada drum dan lain-lain. Supaya penampilan sebuah orkestra ini bagus, harus ada satu  konduktor yang mengaransemen semuanya, sehingga secara keseluruhan penampilan sebuah orkestra menjadi bagus.

Baca Juga :  Hew Wai Weng: Muslim Tionghoa Cerminkan Muslim Indonesia

Nah, ormas-ormas moderat ini belum punya dirigen atau konduktor tadi. Seringkali berjalan sendiri-sendiri. Terkadang malah tidak searah. Jadi kekuarangan ormas moderat itu saya simpulkan ada dua. Pertama belum punya militansi yang kuat dan kedua belum memiliki konduktor yang bagus.

Ke depannya kehadiran konduktor ini akan bagaimana? Apakah harus diupayakan sedemmikian rupa?

Konduktor ini tergantung pada anak-anak muda. Jadi harus ada dua gerakan menurut saya, gak mungkin juga, kiai-kiai itu bermain secara terus menerus di dunia digital. Kiai-kiai ini tetap harus ditempatkan pada tempatnya. Yaitu sebagai sumber pengetahuan yang mengajar di Pesantren-Pesantren dan sebagainya. Kalau ini runtuh juga tidak baik. Karena corenya ada di Pesantren ini.

Lalu siapa? Ya, anak-anak muda. sayap-sayap ormas yang dihuni oleh anak-anak muda dengan rentang usia kira-kira di bawah 45 tahun. Ini jumlahnya juga besar. Dari anak-anak muda ini sebenarnya ini bisa terjadi. Kalau anak mudanya tidak punya inisiatif tidak akan bisa. Tetap kembali kepada anak-anak muda.

Saya kira banyak dari anak-anak muda kita, yang bergerak di dunia digital, termasuk Bincangsyariah ini kan. Anak-anak muda inilah yang sebenarnya punya kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi konduktor. Maka, saya akan sangat senang bila dari media-media online yang banyak ini, sering-seriing kumpul. Mempunyai agenda bersama untuk merumuskan isu ke depan. Tidak jalan sendiri-sendiri.

Sehingga nanti mungkin, suatu saat bisa saling mengisi, tukar-menukar sumber daya dan sebagainya. Ini akan menjadi kekuatan yang sangat besar. Sekarang sudah terbukti di media online kan, tiga besar teratas berasal dari situs-situs yang moderat. Padahal mungkin tiga atau empat tahun lalu masih yang kelompok Islam garis keras. ini sebenarnya contoh bahwa kita punya peluang. Tergantung napas kita panjang atau tidak.

Kembali ke masalah konservatisme, fenomena yang terjadi di kalangan kelas menengah muslim seperti umroh, hijab/niqab, apakah berkaitan dengan konservatisme agama?

Harus kita akui bahwa kelas menengah dan juga anak muda kita, punya semangat keagamaan yang sangat tinggi. Dalam konteks hijrah, mereka ini seolah-olah masa lalunya penuh dengan dosa dan tidak terlalu mengenal agama. Kemudian seiring waktu, mereka sudah mampu mencukupi kehidupannya, pada gilirannya mereka mencari aktualisasi diri. Mencari sesuatu yang bisa meningkatkan level mereka.

Kalau kita membaca teori kebutuhan dari Abraham Mashlow, fenomenanya memang seperti ini. Ketika kebutuhan dasar seseorang sudah terpenuhi, maka dia masuk ke level aktualisasi diri. Nah, untuk aktualisasi diri ini mereka butuh agama. Dengan demikian semangat keagamaan orang ini juga tinggi. Ketika semangat keagamaan tinggi, maka mengenal agama sedikit, yang timbul adalah seakan-akan orang ini sudah paling mengerti agama.

Contoh seperti ini mirip orang belajar silat. Orang belajar silat itu, ketika baru tahu satu jurus, udah petantang-petenteng kemana-mana, ya kan? Seakan akan paling jago. Ini wajar saja dan manusiawi.

Tugas kelompok moderat ini adalah mengantarkan kelas menengah yang baru hijrah ini agar lebih pintar agama. Dengan kata lain, dipintarkan sekalian. Begitu mereka semakin pintar agama, maka secara otomatis, tingkat kepedeannya akan turun. Banyak teorinya. Orang silat tadi misalnya, ketika dia sudah tau jurusnya banyak, pasti dia akan merendah. Juga sama, ketika pengetahuan agamanya banyak, otomatis dia akan merendah.

Salah satu ciri bahwa semangat agama mereka tinggi adalah manifestasinya dengan menampilkan simbol-simbol agama. Orang berhijab, pergi umroh, pake celana cingkrang, dan sebagainya. Sebenarnya kelompok ini ingin menunjukkan, eh, saya ini sudah berubah. Sudah kembali kepada ajaran agama yang benar. Simbol-simbol agama seperti ini bagi mereka amat penting.

Kemudian faktor berikutnya yang berkelindan dengan fakta bahwa kelas menengah punya daya beli yang tinggi karena income yang tinggi, adalah mereka butuh penyaluran. Disinilah ketemu penyalurannya lewat lembaga-lembaga filantropi dan lembaga-lembaga donasi. Gairah semangat menyalurkan uang ini luar biasa. Nah, sekali lagi, ormas moderas seharusnya punya peran di situ.

Semangat keagamaan yang tinggi ini harus “dimanfaatkan” dengan baik oleh ormas moderat. Ormas moderat harus masuk ke kelompok ini. Saya sering mengatakan anak-anak yang sedang hijrah ini, jangan kemudian diberi stigma jelek, jangan dibully. Justru ormas moderat harus masuk kesana.

Ustadz-ustadz muda dari ormas moderat harus diarahkan masuk ke komunitas itu. Kelompok hijrah ini harus dipintarkan agama sekalian. Tentu tidak bisa diasumsikan bahwa kelompok hijrah 100% akan berubah. Ya paling tidak 50% akan jadi moderat.

Sebenarnya bagaimana karakter kelas menengah dan tren yang ada di era digital ini?

Baca Juga :  Imunisasi Difteri Mengandung Babi, Bagaimana Hukumnya?

Nah karakteristik kelas menengah itu ada empat: pertama semangat keagamaannya tinggi seperti yang saya jelaskan tadi. Kedua gaya hidupnya modern. Yang ketiga sangat internet minded. Yang keempat itu, daya belinya tinggi karena pendapatannya tinggi. Maka mereka beli hijab gak masalah, terus apa, nyimpan duit di bank syariah oke, donasi ke lembaga-lembaga filantropi oke dan sebagainya.

Berkaitan dengan tren ya. Tren sekarang di era digital itu ada tiga: Kota/Urban, Middle Class, dan Milenial. Kalau boleh jujur ketiga-tiganya ini tidak sesuai dengan ormas moderat khususnya NU.

NU itu bukan kota, tetapi desa. NU itu bukan kelas menengah, tetapi kelas bawah. NU itu bukan milenial, tetapi kelompok tua-tua. Maka saya kira harus ada perjuangan yang sangat berat. Bila perlu harus ada transformasi atau revolusi dalam tubuh NU sendiri agar bisa masuk ke tiga elemen. Sekarang ini tidak cukup hanya adaptasi. Tidak cukup. Karena adaptasi itu hanya bisa ketika perubahan itu terjadi sangat lambat.

Dulu NU itu mampu bertahan dan semakin membesar karena bisa beradaptasi. Tetapi di zaman itu perubahannya sangat lambat. Nah sekarang karena perubahan terjadi dari menit ke menit dari jam ke jam. maka proses adaptasi itu tidak mungkin lagi. harus ada yang lebih dari sekedar  adaptasi.

Dan sekali lagi, yang bisa ya anak-anak muda. Yang tidak hanya pandai secara keagamaan, tetapi juga dari sisi perilaku juga dari sisi gaya hidup itu seudah mencerminkan tiga hal tadi.

Sekarang coba, ustadz-ustadz kita yang memenuhi tiga hal siapa? Itu sangat kecil. Susah nyarinya. Gimana misalkan Hanan Attaki, tiga entitas ini sangat masuk kan? Nah, dari ormas moderat belum ada.

Kalau untuk kalangan muda ini, untuk menciptakan moderasi beragama ini, sebenarnya PR besarnya apa?

Nah PR besarnya adalah kita harus punya simbol. Karena begini, anak muda itu selalu suka dengan role mode atau figur keteladanan. Tetapi figur keteladanan itu yang secara usia tidak jauh lebih tua dari mereka. Role model atau figur ini tidak bisa datang dengan sendirinya, harus diciptakan. Harus melewati proses reengineering, tidak bisa diserahkan secara alamiah. Harus diciptakan, dikembangkan dari awal.

Sebagai contoh ya. Ustadz-ustadz populer yang banyak pengikutnya itu ada sutradaranya, ada pengarah gayanya, ada Production House nya dan sebagainya. Saya pernah bertemu dengan seorang konsultan media yang afiliasi politiknya lebih dekat ke PKS, terus dia nanya gini, kebetulan saya kenal dekat, mas yang membedakan pengajiannya NU sama yang non NU apa? Sebelum sempat saya jawab dia bilang, tolong perhatikan model videonya, ustadz dari non NU itu dekat dengan audience, tidak terpisah. Perhatikan dengan ustadz-ustadz NU, kiai-kiai NU, dipanggung yang tinggi, berjajar banyak, sementara umat ada di bawah, itu menimbulkan gap. Padahal sekarang itu dunia horizontal.

Yang kedua, coba perhatikan, ceramah-ceramah dari ustadz non-NU audiensnya tidak banyak, paling 40-50. Beda dengan ulama-ulama NU, audiensnya banyak. Jadi menurut dia, yang penting itu adalah broadcasting, bukan eventnya itu sendiri. Jadi peserta boleh sedikit, tetapi itu tersebar dimana-mana,

Yang ketiga, produk broadcasting atau video-video dari ustadz-ustadz non NU durasinya pendek-pendek. Acara ceramahnya satu tetapi itu dipotong pendek-pendek. Sementara di kita, wah, sejam dua jam tiga jam, itu yang membedakan.

Harus ada tim kreatifnya, itu yang saya bilang harus diengineering harus dikembangkan, pemilihan kata, pemilihan topik, kostum, dan lain-lain, itu sangat menentukan.

Proses untuk berhasil “menciptakan” seorang figur itu biasanya butuh berapa lama untuk bisa sampai dikenal dan digemari banyak orang?

Begini, katakanlah ustadz itu artis atau “produk”, dengan adanya internet bisa cepat sekali terkenal tetapi cepat sekali meredup. Life cyclenya jadi pendek. itu terjadi dimana-mana, artis film juga sama, artis sinetron juga sama. Maka kuncinya dimana? kreativitas. Seorang ustadz harus selalu menampilkan hal yang baru. Termasuk caranya adalah merespon dengan cepat isu yang berkembang. Selain itu, seorang ustadz harus juga interaktif. Misalkan kenapa beberapa ustadz itu bisa laku? Ya karena interaktif. Orang bisa tanya jawab. Itu akan lebih menarik. Topiknya pun saya kira jangan terlalu berat.

Survey Alvara, ketika kita tanya topik agama apa sih yang paling mereka inginkan, nomor satu itu fikih, bukan nahwu sorof, bukan tasawuf, bukan sejarah. Masyarakat kita suka yang simpel-simpel, sederhana, dan praktis.

Nah sekarang bagaimana seorang ustadz itu dengan waktu yang sangat singkat dengan bahasa yang padat, mampu menarik perhatian. Makanya sutradara itu pentingnya di situ.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here