Dr. Phil. Suratno: Tidak Memulangkan Eks-ISIS Sudah Tepat Secara Politis, Tapi Memikirkan Perspektif Korban Tetap Harus Dipertimbangkan

0
1276

BincangSyariah.Com – Pasca kekalahan NIIS (Negara Islam Irak dan Suriah) atau lebih dikenal dengan ISIS, nasib para kombatan perang pendukung ISIS mulai dipertanyakan. Banyak dari mereka hanya simpatisan yang tertipu oleh janji-janji ISIS, meski sebagian yang lain telah mati di medan perang dan sebagiannya lagi tertangkap. Tidak kurang  dari 600 orang dari eks-kombatan itu adalah orang Indonesia.

Pertanyaannya bagaimana dengan nasib mereka, terutama nasib perempuan dan anak-anak? Benarkah eks-ISIS ini jika dipulangkan dapat kembali berbaur dan diterima masyarakat ?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, reporter bincangsyariah.com Wildan Imaduddin Muhammad menemui Dr.Phil, Suratno, seorang antropolog yang meneliti antropologi tobat khususnya pertobatan mantan ekstrimis dan teroris. Ditemui di kantornya Universitas Paramadina, ia berbicara banyak hal, mulai dari proses pertobatan eks-teroris hingga komentarnya terhadap sikap pemerintah Indonesia untuk tidak memulangkan eks-ISIS. Berikut ini petikan wawancaranya.

Saya mau mulai dari definisi, ada banyak istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok ini, radikalis, fundamentalis, ekstremis, jihadis, dan sebagainya. Sebenarnya adakah istilah yang paling tepat untuk kelompok ini ?

Saya sepakat untuk bicara definisi lebih dulu. Pertama untuk menyamakan persepsi, kedua ini penting terutama dari sisi akademik. Memang benar ada beberapa definisi untuk menyebut katakanlah ideologi dan ekspresi kelompok ini. Kita mendengar misalnya ada istilah radikalisme, fundamentalisme, terorisme, konservatisme dan sebagainya.

Istilah yang disepakati secara umum itu terorisme. Dalam bahasa Arab terorisme ini biasanya disebut sebagai Irhab. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menggunakan istilah ini. Hanya saja istilah terorisme ini bias secara politik. Terutama kalau terkait subjektifitas pemaknaan terhadap terorisme.

Contoh kasusnya saat zaman penjajahan. Orang Belanda menyebut pejuang NKRI itu teroris. Padahal buat kita pahlawan. Jadi istilah teroris acapkali dilawankan dengan pahlawan. Bagi sebagian orang bisa jadi orang tersebut teroris, tetapi bagi yang lain pahlawan. Tergantung dari sudut pandang politik mana ia dilihat.

Bahwa aktivismenya dengan cara menteror, iya. Semua bisa disebut teroris. Kalau kita hanya melihat metode dan motif, bisa saja itu disebut teror. Hanya nanti akan bias. Sehingga istilah teroris walaupun sebenarnya sudah disepakati, tetapi agak rentan dipolitisasi.

Selain terorisme yang sudah disepakati itu, menurut saya istilah yang netral adalah ekstremisme kekerasan. Istilah ini selain lebih netral, juga lebih mengakomodir dua spektrum sekaligus, ekstrim mewakili ideologi, sedang kekerasan mewakili aktivitas.

Istilah ekstremisme kekerasan ini juga sudah diakui PBB. Selain itu juga merespon banyak kritik terhadap istilah-istilah lain. Istilah radikalisme misalnya. Radikalisme sebenarnya populer di Barat diambil dari kata radical. Hanya ini kurang diterima karena kan kata radic itu maknanya mengakar. Kalau ditarik ke istilah Arab, mengakar memang agak cocok dengan gerakan salafisme. Karena salafi misalnya menggaungkan jargon kembali ke akar lewat al-ruju’ ila al-Quran wa al-Sunnah (kembali ke Al-Qur’an dan Hadis).

Selain dianggap netral dan mewakili dua spektrum, istilah ekstremisme kekerasan atau violent extremism, khususnya istilah extremism, dalam bahasa Arab dikenal dengan tatharruf atau ghuluw yang artinya berlebih-lebihan. Dalam ajaran Islam baik tatharruf maupun ghuluw dilarang.

Jadi istilah violent extremism yang lebih tepat untuk menyebut kelompok ini.

Berdasarkan disertasi bapak terkait kelompok ini, sejauh mana peluang para teroris ini dapat bertobat dari aksi terorismenya?

Secara prinsipil sangat rumit. Tidak ada satu teori yang menjelaskan bagaimana para kombatan ini bisa bertobat. Sangat kasus per kasus. Tetapi biasanya, karena orang yang ikut kelompok teroris ada fase-fasenya, maka kita melihat prosesnya. Dalam studi terorisme, kita biasa menggunakan teori proses.

Kita bisa melihat level atau kemungkinan tobat para kombatan itu dari prosesnya itu. Nah proses ini secara umum dilihat dari tiga fase. Pertama ketika sebelum bergabung. Tidak ada orang lahir langsung jadi teroris. Bahkan anaknya teroris pun bisa saja tidak menjadi teroris. Kemudian ketika menjadi teroris. Dan yang terakhir setelah menjadi teroris.

Kenapa yang terakhir itu tetap disebut, karena secara umum semua bentuk terorisme dan ekstremisme, akan selesai. Kalau tidak mati ya dipenjara. Sehingga biasanya kalau tidak tobat dia berani mati. Tetapi kalau yang tidak mati, dia akan di penjara minimal vonis seumur hidup.

Baca Juga :  Imam Masjid Selandia Baru: Muslim Akan Tetap Aman di Selandia Baru

Nah sebelum sampai yang ketiga itu, untuk melihat levelnya, kalau dia sudah dipenjara, atau dia masih dalam buronan polisi, atau sudah ditangkap misalnya, Itu kita melihat dua proses sebelumnya.

Proses pertama sebelum menjadi teroris. Pada fase ini ada tiga faktor, faktor pertama background. Di dalamnya ada pengetahuan, keluarga, status ekonomi, pendidikan, pengalaman hidup dan sebagainya. Faktor kedua motivasi. Walaupun masih berkaitan dengan background tetapi belum tentu sama. Karena misalnya orang miskin, motivasi masuk teroris belum tentu karena ekonomi. Ada juga yang memang sifatnya ideologis. Jadi background tetap sendiri motivasi juga sendiri. Faktor ketiga jaringan. Artinya, jaringan mengenai bagaimana si teroris ini bisa sampai masuk dan bergabung. Jaringan ini umumnya melalui dua jalur, keluarga dan non-keluarga. Yang non-keluarga artinya jaringan sosial yang dia peroleh dari pertemanan dan sebagainya. Karena sekarang ada internet, ada lagi istilahnya virtual network.

Dari sini bisa dilihat levelnya, semakin ideologis seorang teroris maka semakin susah untuk bertobat. Bagaimana seorang teroris bisa dinilai dari tingkat ideologisnya? dilihat dari tiga faktor tadi, background, motivasi, dan network.

Contoh kasusnya keluarga Amrozi. Yang paling berpengaruh itu Ali Ghufron. Kalau kita menggunakan kindship network atau jaringan keluarga untuk menganalisis Ali Ghufron, dia berperan sebagai core. Maka sulit untuk Ali Ghufron, tidak bisa. Tobatnya paling susah. Tetapi Amrozi sama yang lainnya itu, gampang.

Kasus lain adalah anaknya Imam Samudera. Anaknya ikut ISIS dan akhirnya meninggal di sana. Dia menjadi teroris lebih karena dendam atas kematian Imam Samudera. Disini sebenarnya BNPT kecolongan. Harusnya sebelum memiliki dendam, sudah bisa ditangani.

Lalu bagaimana melihat ekstremis ini saat dia sedang menjadi teroris?

Kalau sudah masuk atau sedang menjadi teroris, biasanya ada dua yang penting untuk dilihat. Pertama terkait dengan posisi dan perannya. Seperti si teroris ini berperan sebagai rekruiter, motivator, pembuat senjata, eksekutor dan sebagainya.

Kedua dilihat dari durasi dan intensitasnya. Kalau kita lihat pelaku terlibat dalam aktivitas terorisme selama lima belas tahun, tetapi up and down dengan jaringannya, ini bisa dikatakan mudah. Berbeda dengan keterlibatan misalnya tiga tahun tetapi intens.

Bagaimana cara melihat level keterlibatan teroris, misalnya pada fase sebelum dia levelnya rendah, kemudian pada saat menjadi teroris tinggi, apa yang lebih menentukan?

Dua-duanya menentukan. Secara teoritis pasti sudah dilakukan profiling, satu per satu, ini terkait dengan sebelum. Kalau level dua-duanya tinggi, maka kemungkinan susah untuk bertobat. Tetapi kalau pada fase sebelum tinggi, lalu ketika menjadi teroris perang levelnya rendah, maka masih ada kans untuk bertobat.

Kalau sebelumnya rendah, tetapi pas perang tinggi, ada kans juga. Kalau dua-duanya rendah, maka secara teoritis lebih gampang.

Fase mana yang lebih penting untuk melihat seorang teroris atau ekstremis?

Tadi kita sudah membahas teori proses pada fase sebelum dan ketika menjadi anggota. Ini masuk dalam kategori masa lalu. Hanya dijadikan acuan untuk pertimbangan. Nah yang paling penting adalah fase sekarang. Sewaktu si teroris/ekstremis ditangkap. Fase ini dinamakan dengan kondisi terkini. Banyak penjelasan juga dalam kategori ini. Tetapi yang paling gampang dan paling umum itu namanya push dan pull factor.

Push itu yang mendorong biar dia bisa keluar dari terorisme, sedangkan Pull itu yang menarik keluar dari terorisme. Push factor misalnya kekecewaan terhadap pimpinannya, tidak nyaman dengan brutalitas dan kekerasan dan sebagainya. Sedangkan Pull misalnya kerinduan akan kehidupan normal, kondisi sudah tua dan sebagainya. Dua faktor inilah yang paling penting.

Hanya begini. Misalnya berdasarkan push dan pull factor nilainya rendah. Tetapi tetap ada problem yaitu ada potensi kambuhan atau residivis. Nah untuk melihat potensi ini dilihat ke belakang, jadi kembali pada fase sebelum dan ketika menjadi teroris.

Apa yang paling menentukan dalam melihat pelaku teroris ini untuk dilihat background atau tidak?

Kalau kasus per kasus, kita bisa melihat kondisi di lapangan. Di lapangan kita bisa mengkategorikan pelaku teroris menjadi dua. Pertama identified terroris, artinya si pelaku atau buronan teridentifikasi teroris. Dalam kondisi ini maka lebih penting dilihat dulu dokumennya, latar belakangnya, dan sebagainya.

Baca Juga :  Mengenang Lika-Liku Dakwah Pakar Hadis Indonesia, Prof. DR. K.H. Ali Mustafa Yaqub

Kedua unidentified terroris, teroris yang tidak ada datanya sama sekali. Blank. Pelaku ini siapa jaringannya, profilnya tidak ditemukan. Dalam kasus ini maka dilihat kondisi terkininya. Pelaku ini sudah ngebom, nah ditindak sesuai dengan kondisi terkini.  Artinya yang paling menentukan nantinya dilihat dari push and pull factor saja.

Dari teori-teori yang anda jelaskan ini, apakah menjadi pertimbangan bagi penegak hukum? Artinya menentukan pidana atau hukumannya?

Oh iya, proses ini juga bisa menjadi pertimbangan. Hanya harus dibedakan, bahwa pengadilan menggunakan logika hukum positif. Keputusannya berdasarkan alat bukti, saksi, dan sebagainya.

Tetapi dalam proses deradikalisasi itu bisa dianalisis sebelum masuk ke pengadilan dan setelah diputuskan pengadilan. Karena proses dan mekanisme pengadilan masing-masing negara itu berbeda-beda. Tetapi secara umum bagi negara yang sudah memiliki UU anti terorisme, termasuk Indonesia, maka proses pengadilannya bisa lebih cepat dan proses hukumannya bisa lebih terukur.

Merujuk pada proses pertobatan tadi, ini bisa berlaku setelah proses pengadilan. Misalnya terpidana terorisme dihukum mati, waktu menunggu hukuman mati bisa dilihat sikapnya. Kalau dia kooperatif, bisa mengajukan keringanan.

Ada juga beberapa kasus, sebelum tersangka terorisme ini diadili, dia sudah kooperatif dengan penegak hukum. Waktu proses investigasi sudah kooperatif, ini bisa juga meringankan hukuman.

Kaitannya dengan eks ISIS, apa pandangan anda?

Saya ingin mengatakan kalau kita lihat sejarah terorisme, bisa dibilang ISIS ini organisasi yang paling tinggi pencapaiannya dan paling ekstrim dibanding dengan organisasi sebelum-sebelumnya. Berbeda dengan Al-Qaeda yang belum sempat punya apa-apa.

ISIS sudah punya teritori yang bisa dikatakan cukup luas, dan mampu bertahan cukup lama sejak dideklarasikan tahun 2014 dideklarasikan Abu Bakar al-Baghdadi sampai kemarin kira-kira tahun 2018/2019. Selain teritori, ISIS juga punya pasukan, secara ekonomi punya cadangan minyak yang dijual di black market, dan sebagainya.

Jadi secara pencapaian ISIS ini terbilang cukup sukses dibanding al-Qaeda yang masih underground karena belum pernah menyatakan kekhalifahan secara terbuka. Meskipun tentu ISIS ini masih tetap berkaitan dengan organisasi sebelum-sebelumnya, bahkan mungkin masih terkait dengan al-Qaeda.

Kemudian saya melihat bahwa eks-ISIS ini bisa jadi lebih ekstrim daripada organisasi sebelumnya. Meskipun tetap saja harus dilakukan profiling, namun secara pengalaman dan motif, eks-ISIS berbeda dengan eks-Al-Qaeda. Para pendukung Al-Qaeda dari Indonesia belum tentu pernah ke Afghanistan. Sedangkan Eks-ISIS yang akan kita hadapi ini telah mengalami suasana berada di zona konflik.

Bagi Eks-ISIS kalau kita lihat secara profiling bisa dikategorikan dalam nilai tinggi, artinya levelnya sudah berat. Walaupun misalnya ia mengalami kekecewaan, tetapi secara psikologis orang yang sudah berada dalam zona konflik, mereka sudah terbiasa dengan kekerasan. Contoh kasus  Nada misalnya yang banyak dianalisis. Dia itu kan diwawancara pernah melihat langsung ada orang dipenggal, melihat mayat, tetapi ekspresinya biasa saja. Kalau kita sendiri, mungkin akan sangat mengerikan.

Nah kira-kira ada korelasi antara pengalaman di zona konflik ini karena ia akan membekas dan tidak mudah menghilangkannya. Oleh karena itu nilainya menjadi tinggi. Begitupun dalam proses screening dan filteringnya menjadi lebih berat.

Bagaimana pandangan anda terkait sikap pemerintah terhadap eks-ISIS?

Sekarang sudah diputuskan bahwa eks-ISIS tidak akan dipulangkan. Menurut saya itu keputusan politis dan sementara. Sebuah keputusan politis biasanya menghasilkan pro-kontra. Keputusan ini diambil untuk menenangkan publik dan massa. Publik harus ditenangkan terlebih dulu.

Mekopolhukam, Mahfud MD terakhir bilang masih mau dibahas di rapat terbatas. Pasalnya masih ada kemungkinan nanti akan dipilih kembali mana anak-anak di bawah sepuluh tahun dan ibu-ibu yang mungkin saja mau dipulangkan. Jadi keputusan tadi bukan berarti tidak akan memulangkan mereka seratus persen.

Skema tersebut menurut saya masih mungkin. Contoh kasus tahun 2017 lalu, simpatisan ISIS yang dideportasi dari Turki, pada kenyataannya dipulangkan juga. Kalau tidak salah informasi dari BNPT sekitar 76 orang sudah pulang. Mereka dikarantina lebih dulu di Panti Sosial Marsudi Putra (PSPM) milik Kementerian Sosial di daerah Handayani, Jakarta Timur. Khusus perempuan dan anak-anak mereka dididik di Handayani ini. Kemungkinan kalau eks-ISIS akan dipulangkan, bisa jadi mereka juga ditempatkan di Handayani. Walaupun yang akan datang ini pasti lebih berat, karena sudah ada di conflict zone dan lebih lama.

Baca Juga :  Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis

Jadi menurut saya kemungkinan untuk dipulangkan masih tetap ada. Karena lembaga-lembaga seperti Komnas HAM dan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) masih tetap mendorong agar anak-anak dan perempuan bisa dipulangkan. Belum lagi nanti mungkin akan ada desakan dari PBB khususnya UNHCR (United Nations High Comission for Refugee) tentunya.

Keputusan pemerintah kemarin menurut saya tetap bagus, karena pemerintah harus merespon publik. Tetapi bagaimana pun perspektif korban harus tetap dipertimbangkan. Prosesnya masih akan panjang.

Sebagian masyarakat, mencurigai bahwa ISIS ini adalah produk intelijen AS/Israel, bagaimana pandangan bapak?

Memang dalam isu terorisme ini, tidak hanya ISIS, selalu ada kecurigaan adanya konspirasi. Atau kita kenal dengan istilah teori konspirasi. Bagaimana menjawab teori konspirasi pada masyarakat awam? Kita harus melihat bahwa terorisme ini dikategorikan dalam extraordinary crime kejahatan luar biasa. Tetapi dalam level tertentu bisa jadi terorisme ini menjadi bagian dari kontestasi politik global, aspek politisnya sangat tinggi. Belum lagi kerumitan, berbagai kepentingan, pihak-pihak pelaku juga tinggi, termasuk intelejen yang terlibat dan sebagainya. Oleh karena itu, dalm studi terorisme, kita bisa mengatakan terorism is a game. Hanya begini, jika dilihat dari top perspective atau istilah lainnya state perpsective. Maka Israel bagi orang-orang Palestina bisa disebut teroris.

Dalam perspektif ini, kalau ditanya ada tidak konspirasinya? Bisa saja ada. Namanya juga konspirasi. Teori Konspirasi ini kan memang seperti hantu, setengah ada setengah tidak. Kalau bisa dibuktikan sudah bukan konspirasi lagi namaya. Kalau buktinya ternyata tidak ada, orang bisa saja mencari-cari buktinya. Untuk menyelesaikan kecurigaan dilihat dari state perpsective ini, maka harus lewat jalur diplomasi. Keputusan Israel sebagai teroris misalnya, maka ada di tangan PBB.

Selain perpsektif atas atau perspektif negara, ada lagi  bottom up perspective atau cultural perspective. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa telah ada korban yang jatuh. Kita melihat dari sisi korban. Siapa korbannya? korbannya itu kan masyarakat. Korban ini riil, sudah terjadi. Begitu pun dari sisi pelaku, mereka riil. Jika kita tanya misalnya Amrozi, ada keterkaitan dengan CIA misalnya? Maka dia pasti menjawab tidak. Dia benar-benar ingin jihad. Ini kita melihat secara langsung.

Oleh karena itu, untuk teori konspirasi ini bukan menjadi domainnya masyarakat. Kita tidak punya kekuatan apa-apa. Kecuali misalnya Presiden Indonesia atau BIN, mampu membuktikan ada konspirasi, kemudian dibawa ke PBB, ini baru bisa dibuktikan.

Jadi kalau ditanya ada gak konspirasinya? Bisa saja ada. tetapi bukan ranah masyarakat.

Bagaiamana sebaiknya masyarakat ikut terlibat dalam tindakan preventif untuk mencegah terjadinya kelompok-kelompok baru yang terpapar paham ekstremisme ini?

Secara umum lanskap sosio-kultural kita itu sebenarnya sangat menguntungkan untuk mencegah terorisme. Karena masyarakat kita sebenarnya punya kultur komunal. Di Barat secara umum masyarakatnya individualistik, kepada tetangga tidak kenal. Hanya saja disana sistemnya bagus, meski lanskap sosio-kulturalnya individualis.

Di Indonesia sendiri sistemnya belum seperti di Barat, misalnya hotline polisi masih sulit dan sebagainya. Bisa dikatakan sistem keamananannya masih harus diperbaiki. Tetapi kita punya modal komunal tadi. Budaya hidup bertetangga dan gotong royong. Dalam konteks pencegahan terorisme ini modal sosial yang tinggi karena kita peduli dengan tetangga kita, tahu siapa mereka, kalau ada masalah dan sebagainya bisa ditangani bersama-sama.

Hanya saja kondisi kita perlahan terus bergerak. Masyarakat kita secara sosial berubah  dari agraris ke perkotaan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, individualisme sudah muncul dan ini menggerus modal sosial kita dalam hal gotong royong. Makanya dari sana kondisi terpapar terorisme makin kuat. Jadi cara yang paling efektif dan mengakar, adalah menggalakan lagi budaya komunal kita. Mulai lagi menggalakan pos ronda, karang taruna dan sebagainya. Diadakan kembali rapat RT dan rapat RW misalnya dan sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here