Dr. Hamid Slimi: Sebagai Manusia, non-Muslim Harus Kita Hargai Haknya

2
350

BincangSyariah.Com- Kali ini, BincangSyariah berkesempatan mewawancarai Dr. Hamid Slimi, seorang intelektual sekaligus dai asal Maroko yang mendirikan Canadian Centre for Deen Studies di Kanada. Pihak yang diwawancarai BincangSyariah diupayakan tidak berasal dari institusi pemerintah, tapi pihak-pihak yang memang terjun langsung ke dunia pengembangan agama Islam di masyarakat, agar tidak bernuansa politik.

Hamid Slimi merupakan sosok akademisi yang menyelesaikan pendidikan di Inggris, Amerika, dan Maroko di bidang Maqasid Syariah dan Perbandingan Agama. Selain itu, ia juga dai di Kanada, sehingga banyak menyampaikan ceramah-ceramah di hadapan masyarakat Kanada, muslim maupun non-Muslim, untuk mencerahkan mereka tentang nilai-nilai keislaman di satu sisi, dan mejadi warga negara yang baik di Kanada di sisi yang lain.

Mengutip pernyataan Dr. Hamid Slimi, “Kanada didirikan atas semangat memuliakan kemanusiaan. Ini adalah nilai fundamental Islam, yang boleh jadi tidak ada di negara-negara Islam saat ini.” Dalam hal ini, Muhamad Masrur Irsyadi, reporter BincangSyariah.Com berkesempatan berbincang-bincang dengan beliau di Kantor LP2M UIN Jakarta, di sela-sela masa tugasnya sebagai Dosen Tamu, Senin (17/10/16) lalu. Wawancara ini sepenuhnya dilakukan dengan bahasa Arab dan sebagian kecil bahasa Inggris.

Bisa dijelaskan profil singkat Anda dan kegiatan yang sedang dilakukan di Indonesia?

Baik, nama saya Hamid Slimi. Saya lahir di Maroko. Saya sudah dua puluh tahun tinggal di Kanada untuk berdakwah. Saat ini, saya mengabdikan diri sebagai Imam di Sayyida Khadija Centre, Direktur Canadian Center for Deen Studies, lembaga yang mengelola pendidikan keagamaan untuk Muslim yang sudah menamatkan pendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kanada. Output-nya, mereka akan dibina menjadi intelektual Muslim dan Imam. Saya juga menjabat sebagai ketua Dewan Imam Masjid di Kanada.

Riwayat pendidikan saya, magister di bidang Fikih dan Usul Fikih di Maroko dan di bidang Perbandingan Agama di Amerika Serikat. Setekah itu, saya melanjutkan pendidikan doktoral saya di Inggris di bidang Usul Fikih dan Maqasid Syariah. Saat ini, saya berkesempatan menjadi Profesor Tamu di UIN Jakarta, pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan Fakultas Syariah dan Hukum hingga sekitar akhir Desember mendatang.

Bagaimana kondisi umat Muslim di Kanada?

Kondisi umat Muslim di Barat penuh dengan tantangan. Mereka hidup bukan di negara yang penduduknya mayoritas Islam. Sementara, kalian Muslim Indonesia meraskan hal sebaliknya di sini. Kalian merupakan mayoritas. Namun demikian, dengan mempertimbangkan aspek Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi, penghormatan sesama manusia, Kanada adalah negara yang berdiri atas dasar penghormatan sesama manusia. Sehingga, siapa pun sama di hadapan hukum tanpa memandang agama, ras, dan asal-usulnya.

Cara pandang ini sebenarnya adalah ajaran yang islami, dan boleh jadi tidak diterapkan dengan baik di negara-negara Islam. Sehingga, Kanada mempersilakan saya sebagai Muslim untuk menjadi kepala negara, atau gubernur. Hal ini karena mereka mempersilakan kita umat Islam untuk memimpin mereka. Bagaimana dengan Indonesia? Saya dengar, akhir-akhir ini Indonesia sedang diramaikan kasus non-Muslim sebagai pemimpin di lembaga pemerintahan. Kalau saya saja di Kanada sebagai minoritas dipersilakan untuk menjadi pemimpin, bagaimana bisa kita tidak memberikan hak kepada non-Muslim di sini, misalnya?!

Kalau boleh berkomentar, apa yang terjadi di Jakarta bukan contoh yang baik. Kalian memutuskan untuk menggunakan nilai-nilai HAM, tapi kenapa dalam kasus ini tidak diterapkan?! Umat agama lain tentu akan mengatakan, “Kalian umat Muslim bisa mendapatkan hak sebagai warga negara, mengapa kami tidak?”

Baca Juga :  Nadirsyah Hosen : Tidak Semua Hadis Sahih Bisa Langsung Kita Terapkan

Kembali lagi ke awal pembicaraan, Muslim di Kanada sebenarnya masih dihantui Islamophobia dari berbagai pihak yang tidak paham dengan Islam akibat peristiwa konflik di negara-negara mayoritas Muslim dan dan pasca kasus 11 September di Amerika. Hingga saat ini, Islamophobia masih menjadi sikap yang mengakar di masyarakat, bahkan menjadi sebuah prasangka yang masih terus digunakan untuk mendiskriminasikan Muslim oleh sebagian orang. Sayangnya, di Kanada tidak ada semacam Kementrian Agama, atau lembaga lain yang khusus mengurusi urusan keagamaan yang berada di bawah negara.

Negara secara kelembagaan tidak ikut campur dalam urusan agama, namun menggunakan prinsip kebebasan. Tentu, kebebasan yang tidak bertanggung jawab masih merupakan masalah bagi umat Muslim di Kanada. Ini masih menjadi hambatan umat Muslim ketika mereka harus tertimpa konflik akibat salah paham tentang makna agama mereka, karena negara tidak membuat undang-undang berkaitan dengan agama. Tapi alhamdulillah, hal itu bisa sedikit teratasi dengan kehadiran Majlis al-Aimmah (Dewan Imam) di Kanada, dan lembaga keislaman lain yang mampu memberikan informasi keislaman dengan benar.

Kondisi umat Muslim di Kanada sejauh ini baik-baik saja. Saat ini, jumlah Muslim di Kanada mencapai sekitar 1,1 juta orang. Namun, terkadang di antara mereka tetap memiliki kekurangan seperti memilih hidup sendiri-sendiri dan cenderung individual.

Saya membaca di media bahwa Anda dimasukkan sebagai 500 Muslim berpengaruh versi Georgetown University. Bisa diceritakan bagaimana anda bisa mendapatkan penghargaan ini?

Alhamdulillah, ini sudah yang ketiga kalinya saya mendapatkan penghargaan tersebut sejak tahun 2009. Pada tahun 2015, itu merupakan penghargaan yang saya dapatkan untuk ketiga kalinya. Para juri menilai berdasarkan kontribusi seorang Muslim untuk masyarakat. Namun demikian, saya merasa bahwa masih banyak orang lain yang berkontribusi lebih besar di masyarakat melebihi dari yang saya lakukan. Sebenarnya, saya tidak pantas menerima penghargaan ini. Namun apalah daya, ini hanya penilaian juri atas apa yang saya lakukan, dan menurut mereka, saya pantas menerima penghargaaan tersebut.

Terkait dengan minoritas muslim di Kanada, apakah  fikih yang digunakan mereka berbeda dengan  umat Islam di negara mayoritas Muslim?

Masyarakat Muslim yang berada di Kanada merupakan imigran yang berasal dari berbagai negara, seperti Bangladesh, India, dan Pakistan, Turki, Bosnia, Mesir, Srilanka, Somalia, dan beberapa negara Timur Tengah. Rata-rata dari mereka bermazhab Hanafi. Selain itu, ada juga Muslim yang bermazhab Maliki, seperti mereka yang berasal dari Tunisia, Aljazair,  dan Maroko. Namun demikian, hal itu tidak bisa jadi indikator mutlak, karena banyak juga Muslim yang tidak paham dengan mazhab mereka. Dalam pengamatan saya, masyarakat Asia Selatan memiliki komitmen keagamaan yang lebih tinggi, sehingga lebih memahami ajaran Islam lebih baik. Jumlah mereka mencapai sekitar 50%.

Alhamdulillah, umat Muslim, termasuk posisi dai seperti saya, dapat berdakwah dengan baik berdasarkan asas kebebasan berpendapat. Seorang dai dapat bekerjasama dengan lembaga, pemerintah, melakukan kegiatan sosial, dan lain-lain yang menjadikan peran kita tidak sekadar di masjid. Selain itu, umat Muslim di Kanada bekerja di berbagai bidang, bahkan menjadi Menteri. Ini adalah pengalaman yang luar biasa berharga.

Tadi Anda menyinggung soal Jakarta, bagaimana menurut anda soal penafsiran surah al-Maidah ayat 51?

Baca Juga :  Quraish Shihab dan Sepakbola

Sebenarnya saya tidak tahu persis peristiwa yang ramai dibicarakan di Jakarta mengenai surah al-Maidah ayat 51 tersebut. Yang saya tahu ada sekelompok umat Muslim yang berkumpul di Masjid Istiqlal untuk berdemo. Saya tidak tahu persis apa yang mereka inginkan. Saya dengar demo tersebut dipicu atas perkataan seorang gubernur non-Muslim. Indonesia memilih prinsip demokrasi bukan? Jika Undang-undang berkata demikian, dan gubernur itu tidak terang-terangan memusuhi Islam, mengapa kita melarangya?!

Kita ini kan tidak sedang membicarakan posisi imam, atau mufti, atau posisi keagamaan lainnya, tapi kita sedang bicara soal pemimpin administratif. Kalau ada orang yang punya pengalaman sebagai pemimpin administratif yang baik, apakah kita tidak memilihnya hanya beralasan ada calon lain yang beragama Muslim, meski ia tidak berpengalaman? Jika Anda melakukan tindakan itu, Anda sedang melakukan diskriminasi.

Orang-orang Kristen, Hindu, dan Budha adalah bagian tidak terpisahkan dari negara ini. Kalau memang mereka dipilih rakyat, kenapa kita menolaknya, selama ia tidak melakukan tindakan-tindakan memerangi agama?! Wallahu A’lam, itu pendapat saya. Saya khawatir, non-Muslim di negara saya memberikan hak-hak kepada saya, lalu di sini saya berpendapat “Non-muslim tidak boleh menjadi pemimpin!”. Kami yang hidup di antara masyarakat non-muslim mayoritas tidak menghendaki hal itu.

Jadi apa makna auliya dalam surah al-Maidah itu?

Al-Wali bentuk tunggal dari auliya, tidak bermakna teman dan tidak pula pemimpin negara. Wali adalah orang yang Anda jadikan rujukan dalam perkara-perkara agama, termasuk membantu Anda memahami ajaran-ajaran agama. Dalilnya adalah ayat,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ  (55)

innamaa waliyyukumullaahu wa rasuuluhu walladziina aamanuu alladziina yuqiimunasshalaata wa yu’thuunazzaaata wa hum raaki’uun (Al-Maaidah: 55).

Surah al-Maaidah: 51 tidak berarti sama sekali jangan mau berinteraksi atau jangan mau mempercayai orang Yahudi dan Kristen, tapi maksudnya adalah jangan kalian bertanya kepada mereka soal ajaran agama, lakum diinukum waliyadiin.

Kita perlu perhatikan ayat sebelumnya, wa law syaa’a rabbuka laja’alnaakum ummatan waahidatan  (al-Maidah: 48). Jadi ayat ini ditafsirkan dengan ayat-ayat sebelumnya, Allah Swt. telah menurunkan kitab suci kepada masing-masing kelompok, termasuk Yahudi dan Kristen. Allah mungkin saja dapat menjadikan umat manusia umat yang satu, tapi Allah tidak menghendaki demikian. Allah justru menghendaki kita berbeda-beda. Jadi kesimpulannya itu kita berpegang kepada pemimpin agama masing-masing dalam permasalahan ajaran agama. Karena agama yang lain tidak menjadikan Islam sebagai referensi dalam memahami ajaran mereka. Jadi konteksnya jelas, kita perlu mempertimbangkan ayat-ayat sebelumnya. Tapi seperti saya sampaikan sebelumnya, kita perlu perhatikan betul, apa latar belakang masalahnya, perlu klarifikasi.

Di Kanada, boleh tidak seorang Muslim jadi pemimpin negara?

Ya! pemimpin negara, gubernur, hakim, polisi, ataupun akademisi, apapun posisinya tidak ada diskriminasi. Di Kanada, ada namanya Mariam Mounchef, menteri urusan Demokrasi dan HAM. Ia adalah seorang Muslimah dan imigran dari Afganistan. Perdana Menteri kami saat ini, adalah orang yang menolak sikap diskriminatif. Menteri Pertahanan kami bahkan berasal dari latar belakang agama Sikh. Begitu juga menteri urusan Pengajaran dan Pendidikan, latar belakang agamanya adalah Sikh. Jadi, sangat aneh negeri yang penduduknya mayoritas Muslim, memilih demokrasi sebagai asasnya, tidak mempersilakan non-Muslim sebagai pemimpin hanya karena tidak beragama Islam.

Baca Juga :  Menelusuri Naskah Hadis di Minangkabau

Saya dengar Anda pernah melakukan pengumpulan uang untuk membantu gereja yang dirusak karena ada yang melakukan tindakan vandalisme?

Baik, begini ceritanya. Jadi ada salah seorang pemuda yang beragama Islam, yang sedikit kurang waras, merusak gereja, termasuk pos keamanan. Ketika itu terjadi, mereka yang tidak suka dengan Islam sejak awal berupaya membuat opini “Lihatlah apa yang dilakukan oleh orang Islam saat ini”. Saya langsung mengambil tindakan dengan menemui pemimpin gereja, saya bilang pada pihak gereja, “Saya berada di pihak Anda!”

Kami mengumpulkan sejumlah dana solidaritas. Tidak besar, hanya sekitar US$ 5000. Pemuda tadi, tidak mencerminkan pendapat umat Islam di Kanada, karena Islam memiliki semangat menjamin keberlangsungan hidup semua orang. Di luar inisiatif itu, umat Muslim sudah biasa mengumpulkan lebih banyak untuk kegiatan-kegiatan sosial. Tapi, kisah tentang masjid yang membantu gereja adalah citra yang sangat baik bagi Islam. Beberapa media mengangkatnya sebagai headline. Alhamdulillah solidaritas itu sebagai sebuah cerminan keislaman yang baik.

Kabarnya, Anda juga menginisiasi program bernama “Deradicalization Clinic”, bisa diceritakan tentang program ini?

Program ini bertujuan untuk menjaga generasi muda kita, umat muslim dari nafas-nafas pemikiran khawarij, yang mudah mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan mayoritas Muslim. Ini juga terdapat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Mereka sebenarnya telah masuk kedalam dalil “laa tarji’uu min ba’dii kuffaraa, taqtuluuna ba’dhakum ‘alaa ba’dhin”. Jadi, kami ingin melindungi generasi muda dari pemikiran-pemikiran yang bercorak mengkafirkan orang lain. Selain itu, kita juga melakukan diskusi mendalam dengan pemuda-pemuda yang telah berpikiran radikal akibat belajar agama lewat dunia maya.

Maka kami sebagai Dewan Imam, mendirikan lembaga ini lewat Majlis al-Aimmah, demi membentengi mereka agar tidak mempromosikan keislaman yang sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai fundamental serta etika dari Islam itu sendiri yang penuh kasih sayang.

Bagaimana kesan Anda tentang umat Islam di Indonesia?

Umat Muslim di Indonesia alhamdulillah baik. Mereka memiliki etika yang sangat baik. Tidak semua memang sangat ahli dalam soal agama, tapi mereka yang pernah mengenyam pendidikan agama, memiliki kemampuan yang sangat baik. Bahasa Arab mereka yang belajar agama pun juga baik sekali. Umat Muslim di Indonesia banyak yang mencintai agamanya, dan toleran.

Kita menghendaki model seperti ini, semangat toleransi seperti orang Indonesia. Kita tetap saling bekerjasama dalam hal-hal yang kita sepakati bersama, apa pun latar belakang agamanya. Inilah yang termasuk ke dalam pemahaman ayat lakum diinukum waliyadiin dan ayat qul yaa ahlal kitaab, ta’aalaw ilaa kalimatin sawaain bainana wa bainakum. Non-Muslim kita hormati, sebagai seorang manusia. Kalau Islam saja masih menyuruh kita untuk berinteraksi dengan alam, termasuk juga hewan, dengan baik, kenapa kita tidak berinteraksi dengan baik juga terhadap non-Muslim?!

Bukankah kita memiliki ayat,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8)

laa yanhakumullahu ‘alaalladziina lam yuqaatiluukum fii al-diin wa lam yukhrijuukum min diyaarikum, an tabarruuhum wa tuqsithuu ilaihim, inna Allaaha yuhibbu al-muqsithiin. Apa makna al-qisth di sana? yaitu kita berinteraksi dengan baik dengan umat manusia. Indonesia insya Allah kondisinya akan baik, selama mampu menjaga dari gerakan-gerakan mengkafirkan orang lain, dan gerakan provokatif lainnya.

2 KOMENTAR

  1. Aku gk setujuh,ente mementingkan agama agar ente aman di lingkungan ente yg banyak kafirnya,sebagai ulama ente harus tegas lh,jgn bandingkn negara tmpt ente tinggal dengan negara kami,ente pahami itu ya

    • Setuju atau enggak setuju pendapat orang itu wajar dan boleh. Tapi menuduh serampangan bahwa pendapat keagamaan orang lain dilandasi kepentingan sempit, itu menyalahi anjuran agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here