Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah [2-Habis]: Jumlah Hadis Rasulullah Memaafkan Pencacinya Jauh Lebih Banyak

0
29

BincangSyariah.Com – Dalam wawancara sebelumnyaUstadz Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah berbicara dengan komprehensif soal visualisasi Nabi Saw. dan menyimpulkan bahwa visualisasi Nabi Saw. yang diwujudkan dalam medium gambar, karikatur, animasi, atau apapun yang mewujudkan praktik menggambar, tetap tidak bisa diterima hatta dengan niat kecintaan dan pembuatnya adalah muslim. Apalagi kalau tindakan tersebut diniatkan sebagai penghinaan. Medium yang hanya diterima adalah penggambaran lewat medium sastra berbasis teks, karena teks hanya membuat pembacanya menvisualisasikan di dalam hati. Dan teks mampu mencakup lebih banyak dimensi dari visualisasi Nabi, sesuatu yang tidak bisa dicapai dalam bentuk gambar.

Merespon kejadian yang terjadi di Perancis, lantas apakah di masa sekarang jika ada orang yang mencoba menvisualisasikan Nabi Saw. dalam bentuk seni visual – terlepas dari apapun niatnya, termasuk yang bersifat satir seperti dilakukan Charlie Hebdo – apakah pembunuhan terhadap pelakunya, pengunggah, atau siapapun yang menampilkannya, seperti kasus guru sejarah di Perancis, Samuel Paty, dibenarkan? Berikut wawancara lanjutan saya dengan beliau,

Dalam kasus di Perancis akhir-akhir ini, ada korban Samuel Paty yang mati dipenggal dan terjadi kerusuhan di berbagai belahan dunia Muslim, muncul juga kasus penusukan di kota Nice yang disinyalir masih ada kaitannya dengan kontroversi ini. Bagaimana pandangannya terkait ini Ustadz?

Kalau terkait dengan pembunuhan, pemenggalan, atau sejenisnya tindakan anarkis terhadap orang yang melukis Rasulullah saw, meskipun secara fikih disebut terlarang, kemudian dia memenggal, ini tentu tidak bisa dibenarkan. Pemenggalan atau pembunuhan terhadap siapa pun apalagi secara anarkis tidak bisa dibenarkan.

Ini sudah beda konteksnya saya kira dengan melukis. Kalau melukis ya melukis saja kita bicaranya. Tetapi kalau sudah membunuh seseorang gara-gara lukisan Rasulullah ini kasus yang berbeda. Maka dasarnya juga berbeda. Kita fokus pada tindakan pemenggalan ini. Tentu ini jelas tidak boleh.

Kaidah asal dalam urusan menumpahkan darah itu haram. Saya meyakini betul bahwa al-ashlu fi al-dam, atau al-ashlu fi al-dima’i haraamun illa maa dalla syar’u ‘alaa tahlilihi. Ini kaidah yang saya yakini. Bahwa hukum asal darah, darah apa pun, darah siapa pun, adalah haram, kecuali syariat jelas-jelas membolehkannya.

Kita harus tahu bahwa tidak ada satu hadis pun yang menyatakan bahwa halalnya darah seseorang itu hanya karena dia tidak Islam. Tidak ada. Jadi urusan darah hukum asalnya haram, darah siapa pun, darah apapun, darah binatang pun asal hukumnya haram. Kecuali binatang yang boleh dibunuh dan binatang yang boleh disembelih.

Kalau tidak ada sebab, haram kita membunuh binatang. Darah kucing saja haram. Apalagi darah manusia. Baik itu manusia muslim maupun non muslim.

Al-Ashlu fi aldam haramun. Baik itu darahnya orang kafir, haram. Kecuali yang boleh, siapa? Yang memerangi orang muslim, hanya itu yang boleh diperangi.

Baca Juga :  Menelusuri Naskah Hadis di Minangkabau

Singkatnya, siapa yang boleh diperangi? Hanya orang yang kafir harbi (kafir yang memerangi), bukan kafir yang lain. Bukan kafir dzimmi, kafir musta’man,  atau kafir mu’ahad. Itupun Kalau misalnya awalnya harbi, kemudian tidak memerangi lagi, itu sudah tidak boleh diperangi lagi.

Bahwa ada dalam beberapa hadis salah satunya dalam riwayat imam An-Nasai. Disana dikisahkan dalam bab al-hukmu fiimaa sabba an-nabiyya saw, ada sepasang suami istri yang istrinya ini setiap hari mencaci Rasulullah saw. Lalu suaminya ini lama-lama kesal dan akhirnya ditusuklah istrinya ini sampai meninggal.

Kemudian dikisahkan dan ramai hingga sampai Rasulullah. Kemudian sang suami ini datang dan menceritakan kisahnya bahwa istinya setiap hari mencaci Rasululah dan suaminya ini tidak tahan dengan itu lalu dia bunuh. Rasulullah saw menimpali: alaa isyhaduu anna damaha hadar, bahwa darah istrinya itu sia-sia. Artnya rasulullah saw membenarkan sikap suaminya tadi itu.

Kemudian dalam riwayat yang lain ada seseorang yang marah atau mencaci Sayyidina Abu Bakar. Kemudian sahabat lain yaitu Abu Barzah, menimpali, “Bagaimana, boleh tidak saya bunuh?” Abu Bakar mencegah, “fantaharani,” (Ia mencegahku!)

Intinya tidak boleh membunuh orang kecuali hanya orang yang mencaci Rasulullah. Kira-kira pernyataan sayyidina Abu Bakar seperti itu. Sehingga dalam kasus ini para ulama ada yang keras sekali, bahkan ada beberapa ulama salah satunya imam al-Subki kemudian Ibn Taimiyyah dan banyak lagi. Berapa kitab itu, yang menjelaskan secara detail tentang kebolehan hukum membunuh orang yang mencaci Rasulullah saw, salah satu keterangannya adalah al-Shorim al-Maslul ‘ala Syaatim ar-Rasul. Jadi pedang yang dibolehkan untuk dialiri darah terhadap orang yang mencaci Rasulullah saw.

Ini ada memang hadis seperti itu. Tetapi ingat, jangan lupa juga ada banyak sekali momen dalam hadis Nabi, Rasulullah saw dihina, dicaci bahkan sampai dilempari batu hingga hampir dibunuh hingga kemudian diracun, diperlakukan tidak manusiawi, tetapi apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau berdoa Allahumma-hdihim fainnahum laa ya’lamuun (Ya Allah berilah hidayah kepada mereka karena mereka belum tahu). Betapa Rasulullah saw memaafkan meskipun para sahabat sudah kesal.

Suatu ketika Sayyidah ‘Aisyah pernah bersama Rasul kemudian ada orang Yahudi melintas lalu dia menegur/menyapa rasulullah saw tapi sapaannya ini tidak baik. Orang Yahudi ini bilang “As-Saamu ’alaikum” (racun untukmu) atau terjemah bebasnya dalam bahasa yang sangat kasar, “mampus aja lu.”

Ibunda Aisyah mendengar itu geram, kesel. Lalu berkata kepada Rasul saw, “ya Rasul apakah Anda tidak mendengar sapaan dia, kok malah Anda biarkan.”

Jawab Rasul kira-kira begini: “Bukannya aku tidak mendengar, kan tadi aku sudah menjawab dan aku jawabnya wa ‘alaikum.” Terjemah bebasnya itu kira-kira dalam bahasa sekarang, “sama sama bro.”

Betapa Rasulullah tidak membalasnya dengan yang lebih buruk, tetapi Rasulullah membalasnya dengan yang lebih baik, dengan sekedar membalas wa’alaikum. Tidak melanjutkan as-saam-nya, tidak melanjutkan kata mampusnya tadi itu ya. Cukup dengan kata wa’alaikum (sama sama.

Baca Juga :  Jonathan A.C. Brown: Nabi Muhammad Saw. adalah Pribadi yang Inspiratif

Itu adalah jawaban yang lebih baik daripada greeting yang buruk yang disampaikan Yahudi tadi. Dan ini akhlak Rasulullah saw. Rasul itu pemaaf, sahabat yang mendengar kisah ini, apa katanya, kalau saya melihat langsung, pasti aku akan membunuh dia. Tetapi Rasulullah saw tidak.

Rasa geram, sakit, dan sebagainya ketika Rasulullah saw dihina, itu adalah kewajaran di hati orang Muslim. Tetapi harus diingat, tidak boleh sampai menghabisi seseorang. Karena Rasulullah saw tidak bersikap seperti itu juga. Dan Rasulullah cukup membalasnya dengan yang lebih baik.

Jadi bagaimana terkait dengan menyikapi tindakan pemenggalan atau pembunuhan terhadap orang yang melukis atau mendiskusikan lukisan tentang Rasulullah saw, dalam hal ini dia beralasan kebebasan berekspresi? Maka hal ini tentu tidak dibenarkan.

Jadi bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim? Ya serahkan saja hal ini kepada yang berwenang. Bagaimana yang berwenang di negaranya sana malah justru melindungi? Kewenangan itu tidak hanya satu, nanti ada otoritas yang lebih tinggi dari itu, tetapi jangan anarkis. Intinya itu. Banyak jalur yang bisa kita tempuh. Dan Rasulullah saw itu banyak sekali memaafkan momen-momen dimana beliau dicaci. Hadis yang secara dikasih judul sabbu rasulillah atau man sabba rasulallah, itu tidak banyak. Tetapi itu malah yang dikedepankan oleh kita, umumnya oleh orang awam muslim.

Padahal lebih banyak hadis ketika rasulullah saw dicaci dihina meskipun tidak memakai redaksi sabba rasulallah saw. Rasulullah saw dituduh sebagai penyihir, dukun, seorang penyair, dan sebagainya. Ini adalah cacian, tetapi Rasulullah saw tidak melakukan tindakan kekerasan.

Begitu pun dengan para sahabat. Banyak sekali para sahabat yang dulunya mencaci Rasulullah saw, tetapi kemudian dengan kesabaran dan keteladanan Rasulullah saw menjadi sahabat yang begitu dekat.

Nah ini yang harus kita pahami, serahkan kepada negara. Kita hari ini sistemnya nation state, jadi perlu kita serahkan kepada mereka. Boleh dipidanakan, tetapi dengan jalur yang sesuai konstitusi kita masing-masing. Tidak boleh anarkis apalagi sampai menghabisi nyawa seseorang. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Sebagai umat Muslim Indonesia, bagaimana sebaiknya kita bersikap terhadap kasus di Perancis, dan bagaimana sikap kita bila kasus ini kembali mencuat di kemudian hari?

Memang dimungkinkan kasus seperti ini akan terulang lagi, entah dimana dan kapan. Kasus seperti ini terjadi sudah bukan pertama kalinya, sudah berulang-ulang dan polanya mirip-mirip.

Sikap kita sebagai muslim Indonesia, tentu kalau kita mau menyuarakan aspirasi kita silahkan, mengekspresikan kekesalan kekecewaan silahkan, tetapi tidak boleh anarkis apalagi sampai menghabisi nyawa seseorang. Tentu itu tidak boleh, jelas tidak boleh. Karena itu sudah hawa nafsu, bukan kecintaan lagi. Cinta dan amarah itu tidak mungkin bisa menyatu.

Baca Juga :  Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah [1]: Visualisasi Rasulullah lewat Mata Kepala Itu Penuh Distorsi

Kemudian apa yang harus kita lakukan? Ya tetap tenang, tidak boleh emosional. Kesal boleh tetapi tidak perlu diekspresikan secara anarkis. Mau diekspresikan lewat tulisan silahkan. Diekspresikan gugatannya itu pakai gambar, silahkan. Diekspresikan pakai apa silahkan, tetapi tidak boleh anarkis.

Setiap orang punya hak untuk dihargai meskipun orang itu sudah melakukan kesalahan besar. Loh kalau kita cukup diam saja, atau cukup kesel dalam hati, atau bahasa hadisnya, apakah itu tidak termasuk kategori selemah-lemahnya iman?

Sebentar disini kita perlu mengedukasi diri, hadis itu bunyinya menarik. Wa dzalika adh’aful iman, perlu diingat bahwa kata dzalika itu umumnya dipakai untuk isyarat jarak jauh, bukan jarak dekat. Jadi kalau orang terlalu emosional, gegabah, falyughayyirhu biyadih, justru cara yang paling gegabah itu yang adh’aful iman.

Maka ekspresikan dengan hati, doakanlah, itu sudah cukup sebagai keimanan. Bukan yang ini, yang disebutkan terakhir itu. Jadi tidak bisa menjamin bahwa mengekspresikan dalam hati seperti tadi itu, dengan mendoakan, itu dibilang iman kita lemah, tidak bisa.

Jadi apa yang harus bisa kita lakukan lagi selain tetap tenang, tidak emosional, tidak anarkis, kita perlu mengedukasi diri, kita tahan hawa nafsu jangan sampai amarah menguasai diri kita.

Nabi Muhammad Saw. itu ibarat sebuah permata yang indah, yang murni, yang sempurna. Keindahan beliau, tidak akan berkurang dengan cacian satu dua orang. Ratusan orang juga tidak akan berkurang. Beliau akan tetap permata, tetap indah, tetap sempurna.

Seperti orang bilang, ini jelek terharap permata, orang mau bilang apa pun, ia tetap permata, dan tetap pada keindahan.

Maka tinggal bagaimana meyakinkan orang yang belum bisa melihat keindahan permata itu, itu tinggal pinter-pinternya kita sebagai pemilik permata ini. Untuk mengedukasi dia agar dia juga bisa menikmati indahnya permata tersebut.

Jadi sekarang tinggal kita tampilkan saja keindahan itu. Sekali lagi, kesal itu boleh. Tetapi anarkis tidak. Selanjutnya bagaimana? Kita baca hadis-hadis Nabi tentang itu semua. Betapa as-Syamail al-Muhammadiyah itu sungguh komprehensif. jadi kalau kejadian seperti ini berulang dan na’udzubillah semoga tidak – kita bisa siap menghadapinya dengan tenang, tidak anarkis dan tidak gegabah.

Jadi kita harus membaca hadis-hadis Nabi tentang syamail, tentang hal ini ya, tentang bagaimana menyikapi kasus-kasus ini, maka kita harus membaca hadis-hadis nabi, tidak dari satu perspektif saja, perpektif fikihnya saja, akidahnya saja, seninnya saja, tetapi harus komprehensif.

Begitu pun ketika mengambil hadis, tidak hanya satu hadis saja yang bunyinya sekedar jelas secara zahirnya menyebutkan sabba Rasulillah saw, tapi juga harus melihat hadis-hadis lain dimana Rasulullah saw juga menerima hinaan cacian itu. Lalu bagaimana beilau menyikapi hal itu? Insya Allah dalam waktu dekat akan segera hadir buku tentang itu, saya sedang menulisnya. Mohon doanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here