Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah [1]: Visualisasi Rasulullah lewat Mata Kepala Itu Penuh Distorsi

1
23

BincangSyariah.Com – Beberapa waktu terakhir Dunia Muslim sedang ramai dikarenakan pernyataan Presiden Perancis, Emmanuel Macron soal krisis dalam internal umat Islam. Pernyataan ini dipicu serangkaian peristiwa yang terjadi di Perancis yang berkaitan dengan umat Muslim disana terutama penolakan terhadap Karikatur Nabi Muhammad Saw yang ditayangkan kembali oleh majalah Charlie Hebdo.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam Islam, penggambaran atau visualisasi Nabi Saw adalah hal yang terlarang. Lalu, bagaimana dalil yang jelas terkait dengan ini? Kemudian bagaimana pula umat Muslim khususnya di Indonesia menyikapi kontroversi ini?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Wildan Imaduddin dari redaksi Bincang Syariah berkesempatan mewawancara Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, seorang pakar hadis yang merupakan dosen di Darussunnah International Institute for Hadith Science dan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ).

Ustadz, menyikapi kontroversi karikatur Nabi Saw di Perancis, sebenarnya adakah dalil teks yang melarang visualisasi Nabi Saw?

Kalau ditanya dalil, sebenarnya terkait dengan seluruh perbuatan af’alul mukallafin mau tidak mau harus ada dalilnya. Entah itu dari al-Quran maupun dari hadis, ijma’, qiyas, maupun dari ‘urf, istihsan, maslahah mursalah, maqashid dan lain sebagainya. Yang jelas pasti ada dalilnya.

Nah sekarang kalau yang dimaksud dalil ini adalah hadis atau ayat al-Quran maka terkait dengan hadis yang melarang ini memang ada. Setidaknya ada 3 jenis dalil yang bisa kita pakai. Pertama dalil umum, yaitu terkait larangan visualisasi makhluk secara umum.

Dalam hadis diksi yang sering digunakan terkait visualisasi ini adalah tashwir atau menggambar. Terlepas nanti dari penafsiran dari tashwir ini apa, tetapi yang jelas dalil umumnya menyatakan begitu.

Redaksi hadisnya sangat banyak sekali dan sahih. Bisa dilihat dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, maupun dalam kitab-kitab yang lain seperti kitab Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi dan Imam-Imam yang lain, semuanya meriwayatkan.

Sahabat yang meriwayatkan ini dari Rasulullah juga banyak sekali dan redaksinya juga sangat beragam. Sehingga urusan melukis makhluk hidup ini memang selalu ramai diperbincangkan oleh para ulama sejak masa awal. Misalnya salah satunya adalah riwayat dari Sayyidina Abu Hurairah dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disana Rasulullah Saw menyampaikan sebuah hadis qudsi:

قال الله تعالى: ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي، فليخلقوا ذرة، أو ليخلقوا حبة، أو ليخلقوا شعيرة

Redaksi hadis ini ada dalam riwayat Shahih Muslim. Yaitu Allah Swt berfirman dalam hadis qudsi, disini dalam pernyataannya: Adakah orang yang lebih dzalim daripada orang yang menciptakan satu ciptaan seperti Aku menciptakannya atau seperti ciptaan-Ku, maka kalau ingin menciptakan sesuatu maka ciptakanlah dzarrah atau habbah (biji-bijian) atau ciptakan benda-benda mati. Begitu kira-kira terjemahannya. Menggambar atau membuat itu benda-benda mati ya, bukan benda hidup.

Kemudian hadis ini diperjelas oleh riwayat lain salah satunya dari Sayyidina Abdullah ibn Mas’ud. Disana Rasulullah Saw bersabda:

إن أشد الناس عذابا يوم القيامة المصورون

“Sesungguhnya azab terberat bagi manusia di hari kiamat (ditunjukkan) kepada al-mushawwiruun.”

Lagi-lagi perlu diingat bahwa dalil ini masih umum. Terjemahnya yaitu bahwa manusia yang paling besar nanti siksaannya di antaranya adalah al-mushawwirun, para penggambar atau pelukis.

Kemudian ada lagi riwayat dari Abdullah bin ‘Umar dalam Shahih Bukhari,

ان الذين يصنعون هذه الصور يعذبون يوم القيامة قالوا لهم أحيوا ما خلقتم

Sesungguhnya orang-orang yang membuat lukisan ini akan diazab di hari kiamat dengan dikatakan kepada mereka “hidupkan apa yang telah kalian ciptakan”

Ini nanti terlepas dari makna suwar ini apakah itu patung atau lukisan, karena memang masing-masing nanti ada riwayatnya.

Dalam riwayat laindiceritakan juga bagaimana Rasulullah Saw itu tidak suka dengan lukisan yang ada di kelambu atau di gorden milik sayyidah ‘Aisyah. Para ulama ada juga yang menafsirkan termasuk juga lukisan dua dimensi.  Tidak harus yang 3 dimensi 4 dimensi.

Tetapi di sisi lain sayyidah ‘Aisyah juga bermain boneka dan Rasulullah saw membiarkan. Riwayat ini nanti yang menjadi poros perdebatan.  Tetapi secara umum memang kita tahu semuanya ada riwayat yang melarang terkait dengan melukis atau menggambar ini.

Bahwa kemudian hadis tersebut juga ditafsirkan bahwa itu dekat dengan mereka masa-masa jahiliyah dimana mereka menyembah berhala atau gambar-gambar al-suwar, tamatsil, shanam, seperti itu tetapi sekali lagi memang ada banyak dalil yang dipakai para ulama untuk menyatakan keharaman menggambar makhluk hidup. Itu yang dalil secara umum. Belum lagi nanti ada riwayat Imam Abu Dawud Imam al-Nasai disana juga dijelaskan misalnya Rasulullah saw besabda:

 اتاني جبريل فقال لي اتيتك البارحة فلم يمنعني أن أكون إلا أنه كان في باب البيت تماثيل

Malaikat Jibril itu pernah mau masuk ke rumah Rasulullah saw pada suatu malam tetapi kemudian tidak jadi, kata malaikat Jibril “falam yamna’ini illaa an akuuna kaana fii bab al-bayti tamaatsil” (tidak satupun yang menghalangi hadir melainkan ada “tamaatsil” di pintu rumah).

Tentu maksud Rasulullah disini tidak mungkin memasang patung, tetapi ini mungkin lukisan itu atau tirai itu yang berisikan lukisan.

Ini yang menjadikan para ulama minimal memakruhkan atau melarang lukisan-lukisan itu baik 2 dimensi atau 3 dimensi khususnya lagi menyangkut makhluk hidup. Kalau benda mati ya melukis piring, melukis benda-benda mati yang lainnya yang tidak bernyawa itu tidak ada masalah.

Ini yang pertama dalil umum. Kemudian dalil yang kedua adalah dalil khusus yaitu terkait dengan visualisasi Nabi dan orang-orang soleh. Saya menggunakan istilah anda karena istilah yang dipakai adalah visualisasi, maka kita bicara visualisasi itu sangat umum tidak hanya lukisan. Tapi sekarang saya mau spesifik ke lukisan dulu.

Visualisasi yang lebih spesifik dalam hal ini berkaitan dengan orang soleh termasuk para nabi, bukan hanya makhluk hidup. Tentu ada hadis yang melarang hal ini salah satunya ada hadis yang sangat populer terkait dengan pernyataan nabi kepada yang ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani beliau disana menyebutkan

و صوروا فيهم صورا أو كما قال لعن الله اليهود و النصارى كانوا إذا مات فيهم رجل صالح يجعلون قبورهم مساجد

Hadis ini berbicara soal kebiasaan orang-orang Yahudi dan nasrani dulu yang dibenci oleh Rasulullah. Diceritakan bahwa salah satu kebiasaan mereka itu ketika ada orang soleh di antara mereka meninggal, termasuk para nabi, kuburannya dijadikan sebagai tempat persembahan. Disana juga dipasang lukisan-lukisan entah itu berupa patung atau simbol lain, yang itu nanti dijadikan sebagai media beribadahnya. Nah ini dalil yang spesifik melarang melukis atau menggambar orang-orang soleh.

Ada lagi yang lebih spesifik dari itu, yaitu sebagaimana riwayat ibunda Aisyah R.A dalam Shahih Bukhari.  Sangat jelas dalam Riwayat ini Ibunda Aisyah r.a mengisahkan tentang cerita dari salah seorang istri Rasulullah yang bernama Ummu habibah, redaksi hadisnya:

أن أم حبيبة ذكرت النبي كنيسة رأتها في الأرض الحبشة غالبهم من النصارى و قد أسلم كثير منهم

Ummu Habibah bercerita bahwa dulu Ia melihat di kanisah (gereja atau tempat peribadatannya orang Nasrani zaman dulu). Yang pernah beliau lihat di negeri Habasyah. Jadi sayyidah Ummu Habibah dulu sebelum menjadi istri Rasulullah saw pernah tinggal bersama mantan suaminya di Habasyah. Habasyah kita tahu disana tempatnya orang Nasrani dan tentu banyak tempat peribadatan di sana. Setelah dinikahi oleh Rasulullah kemudian Ummu habibah ini menceritakan kenangan-kenangan itu. Dulu saya suka melihat tempat-tempat peribadatan atau gereja disana. Sebagian besar dari mereka telah menjadi Muslim.

Baca Juga :  Hukum Menggambar Kartun dalam Islam

Kata Sayyidah Ummu Habibah disana terdapat lukisan seorang perempuan yang mereka menyebut itu lukisan Bunda Maria. Ada lukisan lain juga tentunya. Mendengar kisah Ummu Habibah yang tampak tersirat sedikit kagum dengan keindahan lukisan-lukisan di sana. Rasulullah Saw. bersabda

ألئك فيهم رجل صالح بنوا على قبرهم مسجدا و صوروا فيه تلك الصور ألئك شرار الخلق عند الله

“Wahai Ummu Habibah mereka orang-orang Nasrani itu ketika ada orang soleh meninggal kemudian kuburannya dijadikan tempat peribadatan lalu kemudian dipajang di situ lukisan-lukisannya.”

Nah ini yang menjadi dasar para ulama melarang melukis orang soleh atau melarang melukis Nabi. Kata Rasulullah,  Ulaiki syirarul khalqin ‘inda Allah. “Wahai Ummu Habibah mereka orang-orang Nasrani itu ketika ada orang soleh meninggal kemudian kuburannya dijadikan tempat peribadatan lalu kemudian dipajang di situ lukisan-lukisannya.” Itu yang disebut Nabi sebagai ulaiki syirarul khalqi ‘inda Allah, karena perilakunya tadi itu menyembah, menjadikan lukisan-lukisan tadi itu sebagai media atau sebagai tempat peribadatan. Makanya kalau di tempat peribadatan jangan dikasih foto, apalagi foto-foto yang tiga dimensi.

Dalil ketiga adalah kesepakatan para ulama. Ada hadis yang menjadi dasar bagi para ulama untuk melarang visualisasi nabi atau melukis nabi secara langsung. Yakni sebuah hadis maqthu’, hadis yang dinisbatkan kepada  atau bersumber dari seorang tabi’in. Ini penting untuk kita gunakan sebagai dalil karena ini menjadi kesepakatan para ulama terkait dengan hukum menggambar Nabi.

Yang pertama adalah bersumber dari al-Imam Abdullah bin Mubarak, ini ada dua hadis yang ini dikutip oleh Imam Al-Tirmizi di bagian akhir penutup dari kitab Al-Syamail Al-Muhammadiyyah. Jadi setelah Imam al-Tirmizi memberikan visualisasi melalui hadis-hadis tentang deskripsi fisiknya Rasulullah saw sampai 400 hadis, di akhir beliau menutup dengan hadis maqthu’ (hadis dari seorang tabi’in, tingkatannya adalah tabi’in senior/kibaar at-taabi’iin),

إذا ابطلت باالقضاء فعليك بالأثر

Kemudian yang kedua dari imam Ibn Sirin,

هذا الحديث دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

Kenapa ini dikutip oleh imam al-Tirmizi di akhir kitab as-Syamail al-Muhammadiyah? Untuk menunjukkan bahwa dalam hal visualisasi nabi itu tidak ada cara yang diperbolehkan kecuali melalui atsar, melalui khabar, melalui hadis, melalui riwayat. Kenapa demikian? Karena yang bisa melukiskan Nabi secara utuh itu bukan lukisan, bukan gambar yang hanya bisa memotret satu sisi Nabi saja, melainkan harus melalui riwayat yang beragam sekali, dan itu tidak cukup hanya dengan 400 riwayat dalam Syamail pun itu tidak cukup. Nah, sehingga itu pun harus dilakukan oleh saksi hidupnya yaitu para sahabat.

Makanya kalau kita baca Syamail Muhammadiyyah dan kita cermati sebagian terbesar dari riwayatnya bersumber dari sahabat-sahabat terdekatnya Nabi. Riwayat yang paling banyak dari sayyidina Anas bin Malik kemudian dari Ibunda Aisyah, kemudian dari sayyidina Ibnu Abbas, kemudian yang lain lagi dari sayyidina Ibnu Umar, ada dari sayyidina Abu Hurairah, dan sisanya nanti dari sahabat-sahabat yang lain.

Beberapa hari yang lalu, di Darus-Sunnah kami baru saja mengkhatamkan pembacaan as-Syamail al-Muhammadiyah karya at-Tirmidzi dalam rangka Maulid Nabi Muhammad Saw. Setelah saya hitung, hadis-hadis yang disebutkan di dalam kitab tersebut, paling banyak bermuara ke sahabat Anas bin Malik.

Seperti itulah yang Imam at-Tirmidzi dan dijadikan dasar bagi yang memang ingin memvisualisasikan Rasulullah saw, fa’alaika bi al-atsar, maka harus pakai riwayat saja, jangan pakai media lain. Tidak perlu pakai lukisan, itu yang menjadi dasar kesepakatan para ulama.

Imam Ibnu Sirin juga begitu. Statement-nya adalah dasar dalam menilai visualisasi. Mulai dari siapa yang memvisualisasikan, dari dari mana material untuk mewujudkan visualisasinya. Kalau berbentuk lukisan tidak bisa dideteksi, ini visualisasi dari siapa, apalagi yang melukis itu misalnya ya, bukan orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah saw. Hal itu tentu menjadi tidak boleh. Nah, ini kemudian dihubungkan nanti kepada keumuman makna hadis ancaman neraka bagi yang menisbatkan secara dusta kepada Nabi Saw.,

من كذب علي متعمدا فليتبوء مقعده من النار

Karena memang kalau lukisan itu tidak tepat bisa masuk pada kategori sebagai kebohongan atas nama Rasulullah saw. Ini banyak sekali dasar dalil yang dijadikan landasan untuk melarang memvisualisasi Nabi saw.

Nah sekarang kalau kita bicara tentang visualisasi secara umum. Kalau visualisasi diksinya, maka visualisasi tidak hanya melalui lukisan atau tulisan, atau gambar. Tetapi visualisasi dalam hati juga dikategorikan visualisasi, atau visualisasi melalui riwayat, juga dapat dikategorikan visualisasi. Ini nanti beda lag

Jadi kalau tadi kasusnya dihubungkan langsung dengan masalah yang sekarang ini sedang ramai di dunia, terkait dengan visualisasi Nabi saw dengan medium karikatur di Perancis. Tentu ini masuk dalam kategori yang terlarang kalau kita merujuk pada dalil-dalil ini.

Tadi kalau ditanyakan ada tidak dalilnya? Ada. Dalilnya ada yang umum yaitu larangan secara umum terkait dengan melukis makhluk hidup. Yang kedua dalil spesifik terkait dengan melukis orang soleh termasuk di antaranya melukis Nabi, yaitu hadis dari sayyidah ummu habibah, dan yang ketiga adalah dalil kesepakatan para ulama.

Saya tidak tahu apakah ini sudah sampai ijma atau belum, karena untuk memastikan itu ijma’ juga tidak bisa sembarangan, tidak bisa asal klaim saja. Tetapi insya Allah saya bisa mengatakan bahwa para ulama hadis sudah bersepakat atau berittifaq bahwa untuk menggambarkan Rasulullah saw itu tidak menggunakan lukisan, tidak menggunakan gambar, tetapi menggunakan atsar. Itu tadi idza ubtulita bi al-qadha fa’alaika bi al-atsar, ini yang menjadi pedoman bagi para ulama kita.

Kontroversi visualisasi Nabi ini bisa dikatakan terus berulang, bahkan kita bisa menemukan lukisan-lukisan abad pertengahan yang menggambarkan sosok Nabi. Bagaimana tanggapan para Ulama terdahulu terkait ini?

Yang pertama terkait dengan lukisan-lukisan abad pertengahan, saya tidak tahu persis lukisan-lukisan abad pertengahan ini seperti apa. Karena memang kalau sumber-sumber keislaman ini memang tidak ada yang merekam itu. Satu-satunya lukisan yang populer yang dilakukan oleh para ulama itu bukan sosok atau rupa Rasulullah saw, bukan. Melainkan sandal Rasulullah saw, bagaimana bentuk sandal Rasulullah saw.

Imam al-Muqri sampai membuat kitab tebal sekali sekitar 600-an halaman untuk menjelaskan hasil telaahnya terhadap sandal Rasulullah. Kemudian beliau mencermati satu persatu riwayatnya lalu kemudian digambar. Sekarang populer dengan logo yang ada di gambar para habaib itu ya. Itu kan ada logo gambarnya itu mirip dengan itu. Nah ini, ini adalah lukisan tentang Rasulullah saw yaitu berupa sandal.

Tetapi kalau lukisan atau gambar rupa Rasulullah sampai hari ini saya belum pernah mendengar atau belum pernah menemukan ada kabar tentang kitab dari para ulama kita yang mencoba untuk membuat visualisasi berupa wajah atau rupa Rasulullah Saw.

Bahwa ada kabar di salah satu penelitian di Amerika di Indiana University disana ada sebuah buku terkait dengan bagaimana Rasulullah saw itu digambarkan dalam teks dan juga dalam image. Kemudian disana juga disebutkan mungkin ini yang menjadi dasar dari pertanyaan ini, ada lukisan-lukisan di abad pertengahan, tetapi pertengahannya itu agak belakangan, tidak pertengahan banget sebagaimana di masa para ulama hadis membukukan hadis. Tidak.

Baca Juga :  Menelusuri Naskah Hadis di Minangkabau

Bagaimana bentuk lukisannya, tidak sampai ke kita. Bahwa kemudian lukisannya hilang, itu juga tidak bisa kita sikapi secara langsung ya, karena saya tidak punya pengetahuan tentang itu.

Seandainya itu betul dalam lukisan para ulama Muslim, kita juga perlu lihat apakah lukisannya juga sama dalam buku itu. Apakah lukisannya sama dengan yang diterbitkan dalam buku itu.

Kalau pun itu sama, nah ini juga kita belum lihat bagaimana bentuk lukisannya itu, sehingga saya belum berani berpendapat terkait dengan hal itu dan tidak mau berspekulasi.

Saya juga pernah menyaksikan film yang diproduksi oleh para produsen film di Iran. Mereka memproduksi film tentang sejarah Nabi muhammad. Malah yang tidak divisualisasikan dalam bentuk manusia itu adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ini pernah saya tulis dalam sebuah artikel jurnal tahun 2012. Tetapi dalam film itu, sosok Nabi Muhammad itu divisualisasikan dalam bentuk manusia tapi tidak ditampilkan wajah. Angle pengambilan gambar selalu dari samping atau dari belakang.

Tetapi karena Nabi Muhammad ditampilkan, kasus ini lumayan ramai tetapi tidak begitu lama. Tidak seramai kasus di Perancis hari ini. Mungkin karena memang disana tidak ada unsur penghinaan.

Kalau kita bicara lukisan, orang yang mencintai rasulullah itu tidak butuh lukisan dan rupa melalui mata yang dibutuhkan adalah visualisasi dalam hati. Nah inilah yang dilakukan oleh para ulama hadis. Visualisasi yang dilakukan oleh para ulama hadis itu adalah visualisasi menggunakan riwayat tadi. Dari Riwayat-riwayat ini yang menyampaikan siapa, orang-orang yang pernah menyaksikan langsung wajah Rasulullah, perilakunya Rasulullah, yaitu para sahabat.

Nah melalui visualisasi inilah, mata hati inilah, kemudian ketulusan itu, kecintaan itu menjadi tumbuh. Kenapa? karena kalau visualisasinya itu diwujudkan dalam bentuk lukisan, ini cenderung tidak bisa mewakili seluruhnya, hanya bisa memotret satu sisi siji.

Bisa bayangkan betapa rasulullah Saw itu di dalam riwayat Syamail disebutkan, ketawanya Rasulullah saw yang paling banyak itu adalah senyum.

جل ضاحك رسول لله صل الله عليه و سلم التبسم

“Sebagian besar ketawanya rasulullah itu adalah senyuman.”

Tetapi gambar-gambar yang kita lihat tentang orang shalih sekalipun itu banyak yang tidak senyum. Kita juga tidak tahu lukisan Rasulullah saw yang ada itu senyum atau tidak seandainya ada yang melukis di abad pertengahan tadi itu. Padahal Rasulullah saw. itu orangnya murah senyum. Ini yang tidak bisa dilukiskan. Apalagi kalau lukisannya tidak senyum. Jadi ini bisa tidak mewakili.

Ini yang kemudian meyebabkan para ulama menolak lukisan sebagai sesuatu yang dibolehkan dalam menvisualisasikan Nabi, apalagi melukis Rasulullah saw. Termasuk dari aspek etika, menjadi tidak etis ketika melukis Rasulullah saw.

Lalu bagaimana dengan melukis orang-orang terhormat? Orang-orang mulia, ulama-ulama kita hari ini. Nah ini beda lagi, karena memang Rasulullah saw itu berbeda dengan umumnya manusia biasa. Beliau manusia biasa tetapi bukan seperti manusia biasa.

Sehingga wajar kalau para ulama tidak mau melukis ini. Salah satu yang menjadi alasannya adalah supaya kecintaan kita kepada Rasulullah saw itu terjaga ketulusannya. Kalau kita melukiskan Rasulullah saw, akan banyak kekurangannya.

Misalnya ketika ada orang melukiskan Rasulullah  saw, kemudian wajahnya itu agak lonjong, itu pasti akan dikritik karena Rasulullah saw dalam kitab Syamail itu dikabarkan bahwa wajahnya tidak lonjong tidak bulet, tetapi juga tidak kotak. Lalu bagaimana cara menggambarkannya? Dari wajahnya saja sudah sulit untuk digambarkan.

Contoh lagi diriwayatkan bahwa Rasulullah saw tidak terlalu tinggi dan juga tidak pendek, sehingga ketika berkumpul dengan orang-orang pendek tidak tampak terlalu tinggi dan ketika berkumpul dengan orang yang tinggi-tinggi beliau tidak tampak paling pendek. Bagaimana cara menggambarkannya?

Kemudian warna kulitnya, bentuk rambutnya, pakaiannya, rupa wajahnya, orang yang paling bagus, paling ganteng. Ini tidak bisa dilukiskan. Artinya tidak ada lukisan yang bisa mewakili. Meskipun salah satu keterangan ini diambil, itu justru akan mendistorsi rupa Rasulullah saw.

Apalagi kalau nanti muncul banyak rupa. Salah satunya menggambarkan sosok senyumnya, salah satunya menggambarkan sosok pas lagi diemnya, itu menjadi tidak mungkin. Sehingga para ulama tidak mau menggambarkannya. Dikatakan tegas sekali oleh Imam at-Tirmidzi, di akhir kitabnya tadi itu. Yaitu harus dengan atsar, harus dengan hadis.

Dalam literatur kesarjanaan Muslim, kita tahu beberapa kitab Sirah, misalnya Syamail Muhammadiyyah sebagaimana tadi dijelaskan, atau bahkan al-Barzanji, juga membuat narasi yang sangat detail hingga seolah dapat memvisualkan Nabi. Bagaimana pandangan Ustadz terkait hal ini?

Seperti yang saya katakan tadi bahwa visualisasi disini adakalanya visualisasi dengan mata kepala adakalanya visualisasi dengan mata batin. Kalau visualisasi dengan mata kepala berarti sudah jelas para ulama tidak memperbolehkan dan saya pribadi tidak memperbolehkan atau cenderung pada pendapat tidak memperbolehkan melukis atau memvisualisasikan nabi. Bila basisnya adalah mata kepala.

Tetapi kalau visualisasi yang basisnya adalah mata batin atau mata hati, maka itu menjadi suatu keniscayaan suatu kebutuhan bagi kita sebagai pribadi yang beriman dan cinta kepada Rasulullah saw. Visualisasi cukup dengan mata hati.

Lalu bagaimana visualisasi dengan mata hati? Para ulama kemudian menyusun kitab Syamail. Menyusun kitab hadis, merangkai hadis-hadis Nabi saw untuk divisualisasikan secara batin. Dalam mata hatinya bahwa ini gambaran Rasulullah saw.

Masya Allah betapa indahnya Rasulullah saw, rupanya wajahnya, perilakunya, akhlaknya tutur katanya dan lain sebagainya. Visualisasi dengan mata hati boleh. Tetapi kalau digambarkan dalam bentuk komik, film, drama, animasi, kartun, multimedia, itu tidak perlu. Saya pribadi tidak setuju dengan itu.

Lalu bagaimaan para ulama menggambarkan Rasulullah saw dengan syamail atau syair-syair? Kalau menggunakan kata-kata tidak apa-apa. Misalnya kita menjelaskan Rasulullah saw divisualisasikan oleh kita dalam bentuk kisah yang berdasarkan pada riwayat-riwayat yang sahih.

Seperti al-Barzanji itu didasarkan pada riwayat-riwayat yang sahih. Bentuknya adalah Syamail Muhammadiyyah yang dijadikan syair sehingga menjadi salah satu bentuk sastra dan didendangkan menjadi qashidah yang dibaca pada bulan maulid Nabi. Kalau ini tentu tidak masalah karena visualisasinya tidak berbasis mata kepala tetapi berbasis mata hati.

Kenapa tidak boleh memakai mata kepala? Karena visualisasi ini satu bersifat sementara dan kedua mata kepala ini visualisasinya penuh nafsu.

Misalnya kita melihat dengan pandangan mata kita, maka kita akan berpikir atau punya pikiran yang macam-macam. Kalau gambarnya itu ganteng atau cantik, boleh jadi muncul pikiran yang tidak baik. Atau kalau gambarnya itu jelek, juga akan muncul pikiran jelek dalam benak kita. Inilah karakter pandangan mata kepala.

Makanya kita tidak perlu untuk memvisualisasikan Rasulullah saw yang berbentuk mata kepala. Tetapi kalau berbasis mata hati, silahkan. Karena cinta itu tumbuhnya dari pandangan mata hati, bukan dari mata kepala.

Makanya keliru kalau ada orang yang bilang cinta itu datang dari mata turun ke hati, harusnya dari hati naik ke mata. Ada orang yang menurut kebanyakan orang itu jelek, tidak ganteng atau cantik, tetapi kok dia bisa harmonis dan romantis. Nah itu karena memang mata hatinya. Jadi matanya memang gak diikuti dengan hawa nafsunya lagi.

Baca Juga :  Hew Wai Weng: Muslim Tionghoa Cerminkan Muslim Indonesia

Tetapi kalau ada orang yang sudah cantik atau tampan rupanya, terus kemudian ternyata tidak bisa harmonis dan romantis, berarti bisa jadi karena memang mata hatinya tidak merasakan keindahan.

Sikap itulah yang digunakan dalam melihat buku-buku sirah, syamail, sastra, atau puji-pujian terhadap Rasulullah saw seperti al-barzanji, diba’ dan sebagainya. Itu tidak masalah karena itu sifatnya hanya kata-kata atau yang dalam menvisualisasikannya berbasis mata hati. Jadi kita membayangkan setelah kita membaca riwayat lalu kita membayangkan, masya Allah, lalu kita bersahalawat, itu tidak apa apa. Tetapi kalau melukis, pasti akan banyak yang terdistorsi.

Kalau kita bicara terkait dengan hukum misalnya, disini kita tidak bisa main hitam putih. Nanti akan muncul pandangan secara fikih, itu beda lagi dengan pandangan secara akidah, beda lagi dengan pandangan secara akhlak, beda lagi pandangan secara seni dan sebagainya. Kalau perspektifnya hanya satu-satu, maka ini bisa ramai.

Misalnya melukis wajah Rasulullah saw dipandang dari perspektif seni, maka dalam seni tidak ada aturan halal haram, tidak ada aturan boleh dan tidak boleh. Karena itu adalah ekspresi yang karenanya menjadi bebas. Tetapi ekspresinya dalam bentuk grafis, dalam bentuk gambar, nah ini yang menjadi kontroversi.

Tetapi kalau itu tidak terekspresikan dalam bentuk gambar, tetapi dalam bentuk rasa cinta, rindu, maka tidak masalah. Oleh karenanya kita tidak bisa melihat itu secara satu sisi saja. Harus kita pandang secara utuh.

Secara fikihnya seperiti ini, secara akidahnya seperti ini. Misalnya ada orang seniman ingin bebas berekspresi, tetapi harus menghargai aspek akidahnya, harus menghargai aspek fikihnya dan sebagainya. Okelah saya bebas berekspresi tetapi saudara saya tidak terima dengan ekspresi saya, nah itu kan harus dihargai sebagai manusia ya, bukan hanya sebagai seniman.

Jadi kalau visualisasinya tidak berbasis dengan mata kepala, silahkan. Tetapi kalau basis visualisasinya berbasis mata kepala, jangan. Yang boleh bagaimana? Visualisasi berbasis mata hati dan itu akan menghasilkan ketulusan dan disitulah ada etika kepada Rasulullah saw.

Sejauh mana visualisasi Nabi berimplikasi pada keimanan seorang muslim? Bila muslim menggambar Nabi apakah dapat menyebabkan dia murtad Ustadz?

Kita lahir sebagai muslim, tentu sudah kenal dengan Rasulullah saw. Sejak kecil sejak TK sudah diperkenalkan Nabi Muhammad, sebagai manusia terbaik, itu ada dalam benak kita dan kita yakini itu. Tetapi kita belum pernah membaca teks apa-apa. Kalau ditanya siapa nabimu? Jawabnya, tentu Nabi Muhammad saw.

Visualisasi berimplikasi pada keimanan? Ya, jelas. Tapi sekali lagi, bukan lewat melukis atau menggambar ya. Waktu khataman kitab Syamail Muhammadiyyah, saya katakan kepada para hadirin, mengaji kitab Syamail Muhammadiyyah itu bukan hanya membaca cepat (arab:sardan), tetapi mengaji, mempelajari, itu jelas meningkatkan level keimanan kita.

Itupun keimanan kita baru di level ilmul yaqin. Kenapa? Karena kita baru tahu, sekedar tahu saja. Keyakinan kita baru sampai di level pengetahuan. Maka sebagai seorang muslim yang melek, yang punya literasi, mampu membaca hadis, maka bacalah hadis-hadis as-Syamail al-Muhammadiyah.

Bacalah hadis dengan diresapi, ngajilah hadis, supaya apa? Level keimanan kita naik menjadi ‘ainul yaqin, jangan berhenti di ‘ilmul yaqin, meskipun ‘ilmul yaqin juga sudah cukup untuk menjadikan seseorang beriman.

Tetapi alangkah lebih baiknya kalau level keimanan kita kepada Rasulullah saw, kita naikkan sampai pada level ‘ainul yaqin minimal. Bagaimana caranya? Dengan mengaji kitab Syamail Muhammadiyyah. Diresapi dan dipahami, bahkan kemudian ditiru. Jadi ‘ainul yaqin. Kenapa? Karena kita bukan sekedar tahu, tetapi kita tahu gambarannya.

Oh Rasulullah itu putranya sayyid Abdullah, rupanya seperti ini, perilakunya seperti ini, tutur katanya seperti ini, perilakunya seperti itu dan seterusnya. Kita bisa tahu itu dengan sangat baik sehingga tervisualisasi dalam hati kita, maka kalau kita sudah memvisualisasikan itu dalam hati kita, maka akan tumbuh kecintaan. Level keimanan kita kepada Rasulullah saw insya Allah sudah sampai pada ‘ainul yaqin.

Syukur-syukur kalau level keimanan kita kepada rasulullah sampai pada haqqul yaqin. Lalu bagaimana caranya? Padahal haqqul yaqin itu harus ketemu langsung. Sementara rasulullah saw sudah wafat.

Para ulama, misalnya Imam al-Tirmidzi di bab paling akhir di syamail-nya menutup kitabnya dengan riwayat terkait ru’yatun nabi saw fil manam (Melihat nabi saw dalam mimpi).

Jika sebenarnya, setiap kita sudah diberikan anugerah oleh Allah Swt berupa potensi bermimpi bertemu Rasulullah saw. Tentunya kita berharap jika kita sudah bertemu dengan Rasulullah saw dalam mimpi, nanti kita di akhirat kita bisa bukan sekedar melihat bertemu, tetapi juga bersama rasulllah saw. itu harapan kita.

Jadi visualisasi dalam konteks ini sangat berimplikasi. Tetapi kalau visualisasinya pakai grafis, pakai lukisan atau gambar, saya tidak menjamin itu menambah keimanan. Malah justru menimbulkan kekritisan yang tidak pada porsinya.

Misalnya kenapa pipinya begitu, kok tembeb, kempot dan seterusnya. Nah jangan sampai seperti itu. Malah justru tidak membuat kita menjadi lebih baik menjadi beriman malah justru menjadi tidak suka dengan Rasulullah saw. Naudzubillah.

Kemudian persoalan seorang muslim yang menggambar Nabi apakah dia menjadi murtad, untuk melabeli itu tidak semudah kita mengucapkan syahadat. Kalau mengucapkan syahadat, insya Allah saya menjamin dia sudah menjadi muslim.

Tetapi kalau dia melukis Nabi saya tidak berani menyatakan murtad begitu. Kenapa? Karena penyebab orang murtad itu karena tiga hal, pertama karena perkataannya (misalnya dia mengatakan shalat waktu tidak wajib, haji tidak wajib secara mutlak, orang mengatakan puasa ramadhan tidak wajib dan sebagainya. Atau dia menyatakan dengan lisannya bahwa dia berikrar tidak ada rukun iman dan sebagainya. Itu jelas orang seperti ini kufur dengan ucapannya. Kalau dia menyatakan bahwa Tuhan tidak esa dan sejenisnya. Termasuk dia menyatakan Nabi Muhammad bukan rasul. Itu jelas murtad.

Orang melukis tidak bisa masuk dalam kategori ini. Kecuali kalau dia mengucapkan sesuatu, nah itu wallahu a’lam. Tetapi itu bukan karena dia melukis. Bukan sekedar karena melukis.

Kedua, karena perbuatannya. Bagaimana contohnya? Dia menyembah berhala, bersujud kepada patung, pohon, benda-benda selain Allah. Nah ini jelas menjadi kufur karena perbuatannya.

Atau kalau konteksnya melukis, kemudian lukisan ini dijadikan sebagai sesembahan, dia melukis wajah Rasul kemudian dia menyembahnya, ini jelas dia murtad. Bukan karena melukisnya, tetapi karena menyembah lukisan.

Yang ketiga karena keyakinan. Misalnya dia meyakini bahwa haji tidak wajib, solat tidak wajib, nah itu keyakinan yang dapat menyebabkannya murtad. Atau dia meyakini bahwa muslim itu halal darahnya. Atau dia meyakini juga bahwa lukisan ini adalah Tuhan, dia meyakini itu.

Kalau sekedar melukis, rasanya tidak elok kalau kita langsung menyebutnya murtad. Lagi-lagi kalau pelukisnya muslim. Kalaupun itu secara hukum kita nyatakan tidak boleh, maka pelakunya itu minimal sebagai pelaku dosa atau fasik. Jadi tidak sampai menjadikan murtad. Kalau saya pribadi begitu.

Kecuali kalau dia melukis Nabi Muhammad saw itu dengan niat penghinaan. Dia melukis lalu dalam keyakinannya, ini lukisan hinaan dan pelecehan, itu bisa dikategorikan murtad. Tetapi kan siapa yang tahu niat seseorang ketika melukis? Sehingga tidak bisa kita menggeneralisir bahwa melukis nabi itu murtad.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here