Deny Hamdani, Ph.D.: Para Kiai Tak Permasalahkan Cara Berpakaian, Tapi Kesalehan Amal

0
1668

BincangSyariah.Com – Dalam perjalanan sejarah Indonesia, cara berpakaian perempuan muslim seringkali menjadi sorotan. Bersamaan dengan kesadaran umat Muslim tentang adanya syariat jilbab serta didukung oleh kondisi sosial, penggunaan jilbab tidak lagi menimbulkan gesekan dan kecurigaan di masyarakat.

Justru, kini selembar kain untuk menutupi rambut perempuan tersebut juga memiliki model yang berbeda-beda seiring perkembangan fashion. Seolah, kita sedang melihat dialektika yang dinamis antara umat Islam – yang perempuan khususnya – dengan cara mereka memahami perintah penggunaan jilbab. Maka dari itu, kita familiar dengan aneka ragam model kerudung dengan varian namanya juga. Mulai dari jilbab, hijab, sampai burqa dan yang menambahnya dengan cadar (penutup wajah, dengan menyisakan kedua mata saja.

Hamdani, Ph.D.Untuk mengetahui lebih dalam seputar perjalanan diskursus jilbab (veiling) terutama yang berkembang di Indonesia, Wildan Imaduddin Muhammad, menemui Hamdani, Ph.D, Ketua Program Studi S3 Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta. Beliau adalah pakar di bidang jilbab karena disertasinya di Australian National University (ANU)  membahas seputar perkembangan jilbab dalam konteks sosial politik di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana peran perempuan di Indonesia secara sosiologis dari dulu dan sekarang?

Saya ingin berbicara terlebih dahulu dalam konteks yang lebih luas, Asia Tenggara. Berbicara Asia Tenggara, perempuan di Asia Tenggara dalam banyak penjelasan para sejarawan relatif lebih mobile dan lebih punya akses publik di banding perempuan di Timur Tengah. Perempuan Timur Tengah lebih cenderung disegregasi dan didomestikasi. Dan, akses publik hampir tidak ada kecuali di beberapa negara.

Jadi perempuan di Asia Tenggara, adalah perempuan-perempuan yang sebetulnya dalam pandangan kultural masyarakat, punya akses publik. Dan sebetulnya ide keseteraan gender itu sudah lama dipraktekkan oleh masyarakat Nusantara, Asia Tenggara. Apa buktinya? Di pasar-pasar yang jualan tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan berbaur.

Dari sini kita bisa ketahui bahwa Nusantara itu sejak dulu tidak mengenal segregasi. Segregasi itu muncul belakangan setelah Islam menguat. Islam dalam pengertian Islam formal dan Islam puritan. Ketika Islam formal dan puritan menguat, segregasi dianggap penting sebagai realisasi dari syariat Islam, dan akhirnya itu diterapkan. Nah, salah satu ide segregasi diwujudkan dalam bentuk gagasan veiling atau kerudung atau hijabisasi.

Baca Juga :  Tepatkah Menilai Siapa lebih Taat Beribadah antara Jokowi dan Prabowo?

Tubuh perempuan itu tidak boleh nampak di muka publik. Akhirnya dibatasi, disegregasi. Kemudian, perempuan dianggap sebagai makhluk yang bisa mengundang gairah birahi laki-laki.

Dalam disertasi saya sebenarnya saya lebih melihat konteks perubahan sosial politik di Indonesia. Dimana perubahan berpakaian Muslimah itu berubah secara signifikan sejak pertengahan dan akhir masa Orba hingga reformasi.

Perubahan itu menarik sekali, dan bisa ditelisik lebih jauh. Saya di situ menemukan bagaimana peran industri. Saya melihat bahwa industri itu punya peran penting. industri yang ditopang oleh selebritas muslim, melalui perhelatan budaya. Yang pada dasarnya memberikan pilihan-pilihan alternatif pada perempuan untuk bisa tampil cantik, tetapi juga pada saat yang sama menerapkan ajaran syariat Islam.

Terkait penelitian seputar kerudung, sejauh informan yang diwawancara, dalam hal ini kyai-kyai, bagaimana mereka menafsirkan ayat Alquran terkait dengan kerudung ini?

Saya memlilih beberapa informan dan mengklasifikasikannya menjadi tiga kelompok: konservatif, moderat, dan liberal. Yang konservatif itu berpendapat bahwa jilbab itu wajib, kerudung itu wajib. Tetapi di kalangan kyai moderat berpendapat yang wajib itu menutup aurat, tetapi medianya bisa jilbab dan kerudung. Di kalangan moderat, tidak dibatasi media apa yang digunakan, asal menutup aurat.

Nah kalau di kalangan liberal, jilbab tidak wajib. Kalangan liberal malah berkata kalau mau lebih fair, harus dikembalikan kepada perempuan. Perempuan punya pilihan dengan cara apa dia menutup aurat. Sebagian kalangan ini juga mengatakan tubuh perempuan adalah hak perempuan, maka perempuan yang harus mengendalikan. Bagi kalangan liberal, kalau perempuan harus berkerudung atau ditutup tubuhnya, itu sebenarnya wacana patriarki yang gagal. Dalam arti laki-laki yang sebetulnya gagal mengontrol libidonya, lalu perempuan, sebagai agen yang lemah, adalah korban dari dominasi laki laki.

Baca Juga :  Menunda Pembagian Harta Warisan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Harusnya kalau dalam pandangan (liberal) ini, yang diwacanakan adalah bagaimana menutup pandangan laki-laki, bukan perempuan yang ditutup. Tapi wacana ini tidak berkembang, karena memang repot. Memang masyarakatnya masih patriarkis. Dalam artian bahwa laki laki adalah masyarakat kelas satu, dan perempuan masyarakat kelas dua, yang tersubordinasi.

Lalu bagaimana terkait Kyai-kyai zaman dulu yang tidak terlalu mempermasalahkan kerudung seperti sekarang?

Pertama, tren berpakaian masih minim, dalam arti tidak banyak pilihan mode dan fashion belum bekembang seperti sekarang. Kedua, soal batasan aurat masih cair sehingga tubuh perempuan yang terbuka pada masa itu sebagai sesuatu yang lumrah saja. Tidak dijadikan sebagai ancaman atau fitnah.

Dalam pandangan agama itu fitnah yang harus ditutupi. Nah jadi pandangan keagamaan yang baru, baru itu kapan? Ya gelombang Islam modern yang awalnya muncul di kampus kampus. Di Mesir juga sama kejadiannya. Ada doktrin terkait ini. Kalau di Indonesia bermula dari ketegangan antara negara dan kelompok Islam. Kemudian mahasiswa-mahasiswa muslim dimobilisir untuk melawan pemerintah. Jadi jilbab ini adalah simbol perlawanan terhadap pemerintah Orde Baru yang pada saat itu masih anti Islam. Dilawan dengan cara itu.

Pada tahun 80-an bahkan 70-an, perempuan muslim yang kerudungan atau jilbab itu masih dianggap belum lumrah. Kecuali pada segmen tertentu di kalangan masyarakat, misalnya santri putri di pesantren, bu Nyai (istri pengasuh/pengurus pesantren), dan ibu-ibu pengajian. Jadi pakai kerudung itu masih sangat segmented.

Nah sekarang perkembangannya luar biasa, tidak hanya terjadi seperti pada kasus orang yang tidak berjilbab kemudian berjilbab, yang di situ ada nuansa mode. Tetapi pada saat yang sama juga perda-perda syariat di daerah itu.

Perda syariat di sebagian daerah justru mewajibkan perempuan pakai kerudung sebagai sebuah bentuk pemaksaan yang sifatnya koersif, memaksa. Bahkan saya menemukan di Sumatera Barat perempuan non-muslim akhirnya terpaksa pakai busana muslim, seperti anak-anak SMA dan salah satu staf perempuan di Kabupaten Silok itu pakai kerudung.

Baca Juga :  Melawan Fitnah, Hoax dan Penghinaan, Bolehkah??

Artinya, walaupun ada perkembangan-perkembangan yang sifatnya fashion, ada juga perkembangan yang sifatnya tidak menggembirakan  yaitu budaya pemaksaan dari kaum mayoritas ke minoritas.

Masuknya cadar itu juga fenomena belakangan, apakah itu menandakan juga menandakan Islam konservatif atau puritan tadi semakin menguat?

Saya masih misteri itu soal apakah cadar menjadi tanda conservative turn. Waktu berbicang dengan Robert Hefner, dia berpendapat bahwa conservative turn itu tidak memadai untuk menjelaskan fenomena cadar. Tetapi untuk sementara bolehlah, karena kita belum punya cara lain. Jadi memang konservatisme semakin mewujud. Kalau setelah konservatif kan berarti deepening conservatism, konservatif semakin mendalam. Tetapi masih harus ditelusuri lebih lanjut, dalam arti ditelisik secara lebih detail. Harusnya ditanya itu orang-orang yang memakai cadar itu apa motifnya, baru kita tahu. Kalau dipermukaan kita hanya bisa mengatakan itu deepening conservatism.

Tafsir keagamaan yang lebih konservatif semakin populer. Tetapi itu sebenarnya bukan tafsir baru. Sudah lama, tapi kemudian semakin populer, dan mendapatkan banyak pengikut seiring dengan konsep konsep keagamaan yang makin digemari oleh anak anak muda, dengan kemasan kemasan yang lebih menarik. Misalnya konsep hijrah disampaikan oleh orang orang yang sebenarnya tidak berkompeten tapi punya semangat keagamaan, keberagamaan, keberislaman yang tinggi. Sehingga itu dipahami sebagai doktrin keagamaan dan sebagai sebuah kewajiban.

Hal ini juga menandakan Islam superficial, yang artinya Islam hanya dipermukaan saja. Dia tidak pada esensi keislaman, makanya kenapa kiai kiai dulu tidak terlalu mempersoalkan cara berpakaian, karena kesalehan itu tidak ditunjukkan oleh pakaian tapi dengan amal baik, dengan sikap yang membantu orang lain, itu.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here