Hukum Memelihara Hewan Piaraan dalam Pandangan Islam

0
833

BincangSyariah.Com –  Terkadang untuk menghilangkan kebosanan ataupun kejenuhan setelah sepanjang hari bekerja, beberapa orang ada yang menyalurkan hobinya untuk memelihara burung di sangkar ataupun ikan di aquarium. Sekilas hobi ini terlihat membatasi kebebasan burung ataupun ikan yang seharusnya mempunyai habitat yang lebih luas di alam liar ketimbang dikurung di dalam sangkar ataupun aquarium dengan ukuran yang sangat terbatas.

Lantas bagaimanakah pandangan Islam terkait hobi memelihara burung atau ikan tersebut? Apakah benar hal itu terlarang karena menyiksa binatang? Menarik untuk kita bahas. Pada dasarnya Islam tidak membatasi hobi ataupun kesenangan manusia, khususnya dalam memelihara binatang. Selama hal tersebut dilakukan dengan cara yang baik dan tidak ada unsur menganiaya ataupun menyakiti di dalamnya, maka hal tersebut dibolehkan.

Hal ini disamakan hukumnya dengan memelihara hewan dengan cara diikat untuk dijadikan kendaraan/tunggangan. Seandainya memelihara burung atau ikan itu dilarang dengan alasan menyakiti atau membatasi kebebasannya, maka sudah pasti Nabi akan melarang para sahabat untuk mengikat onta ataupun kuda peliharaan mereka, karena mereka sudah membatasi dan mengkerangkeng kebebasan binatang.

Selain para sahabat, Nabi sendiri mempunyai beberapa hewan peliharaan yang sangat beliau sayangi. Nabi mempunyai onta yang diberi nama dengan al-‘Adhba’ sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari yang bersumber dari Saydina Anas ibn Malik. Begitu juga Nabi mempunyai seekor kuda yang beliau beri nama dengan Luhaif.

Riwayat yang terakhir ini terdapat dalam Kitab Shahih al-Bukhari yang bersumber dari seorang perawi yang bernama Sahl ibn Sa’ad al-Anshari al-Sa’idi al-Madini. Dan masih banyak riwayat-riwayat lain yang menceritakan kesukaan Nabi terhadap beberapa hewan yang beliau pelihara.

Baca Juga :  Yang Perlu Kita Ketahui Tentang Haid

Demikian pula Nabi juga pernah mengizinkan Umair, saudara laki-laki kecil dari Anas ibn Malik, untuk memelihara seekor burung yang dia beri nama Nughair. Ketika Nabi lewat di depannya, Nabi menyapa sembari bertanya, “Wahai Umair apa yang sedang dilakukan oleh Nughair?” Umair pun tidak mengubris Nabi, namun ia asyik bermain dengan burung peliharaannya.

Ibnu Hajr al-Atsqalani mengomentari dalam penjelasan beliau terhadap hadis tersebut dengan menyebutkan bahwa hadis tersebut menjadi dalil bolehnya seseorang memelihara burung atau binatang peliharaan lainnya asalkan dipenuhi kebutuhan makan dan minumnya.

Adapun memelihara binatang tapi tidak memenuhi kebutuhannya, maka Nabi mengancamnya dengan balasan neraka, karena ia telah berbuat zalim terhadap binatang tersebut. Dalam sebuah hadis sahih riwayat al-Bukhari dijelaskan bahwa nanti di akhirat ada seorang perempuan yang diazab karena dia telah mengurung seekor kucing tanpa memberikan makan dan minum kepadanya.

Begitu juga dia tidak melepaskannya agar kucing tersebut bisa mencari makan dengan sendirinya. Akhirnya kucing tersebut mati karena kelaparan. Hadis ini membuktikan bahwa Islam mengajarkan manusia agar berbuat baik kepada apa dan siapapun, termasuk kepada hewan.

Oleh karena itu, memelihara dan menjual hewan peliharaan seperti anjing, kucing, monyet, burung dan lain sebagainya adalah boleh dengan catatan harus memenuhi kebutuhan mereka dan dengan tujuan yang jelas. Kesimpulan ini diperoleh dari dua kitab Syafi’iah Hasyiyata al-Qalyubi wa ‘Umairah dan Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Simak penjelasan lebih lengkap dari Ustaz Moh. Juriyanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here