Terkait Pemerkosa Mahasiswi UGM, Ini Hukumannya dalam Islam

0
710

BincangSyariah.com – Apakah seorang yang diperkosa dinggap sama dengan pezina sehingga dalam sudut pandang hukum Islam ia dikenai hukum cambuk sebanyak seratus kali jika pertama kali melakukan dan dirajam jika sudah menikah atau itu adalah tindakan zina yang kedua. Pertanyaan ini muncul setelah adanya rilis laporan yang diterbitkan oleh Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) UGM berjudul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”. Laporan ini menjelaskan adanya mahasiswi UGM yang mengalami kasus perkosaan oleh temannya sendiri pada saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2017.

Peristiwa ini secara lengkap diulas dalam laman tersebut. Sepemahaman penulis, ilustrasinya adalah pelapor waktu (inisial A, bukan nama aslinya) itu dilecehkan ketika terpaksa menginap di tempat HS temannya tapi dari kelompok KKN lain karena untuk menuju tempat yang dituju pelapor sudah kemalaman dan berbahaya karena melewati hutan yang masih ada babi hutan. Saat menginap, karena keterbatasan tempat, mereka tidur satu kamar namun berada di sisi yang berbeda. A dalam kondisi berkerudung ketika menginap. Tiba-tiba HS mulai meraba-meraba dada dan mencium bibir A. Lebih jauh, akhirnya HS melakukan pelecehan seksual dengan memaksa memasukkan jarinya (maaf) kedalam kemaluan A dan HS memaksa A memegang kemaluannya. Kejadian itu sempat terjadi sesaat setelah A berhasil menghindar. Kejadian itulah yang menyebabkan kemaluan A menjadi sakit. Namun, masih menurut pelaporan Balairung, A merasa kecewa dengan penyelesaian yang dilakukan tim kampus karena tidak mengeluarkan HS karena menganggap kejadian itu hanya dikategorikan pelecehan ringan. Bahkan, sebagian pejabat kampus yang menangani kegiatan KKN waktu itu cenderung juga menyalahkan A. Seorang pejabat bahkan meminta A untuk bertaubat.

Komnas Perempuan seperti dikutip oleh laman balairungpress, mengkategorikan tindakan tersebut sebagai pemerkosaan. Sehingga, pemerkosaan tidak hanya dibatasi hanya pemaksaan untuk melakukan hubungan intim (memasukkan kemaluan) saja.

Baca Juga :  Bolehkah Melangkahi Kakak dalam Hal Menikah?

Menurut penulis – wallahu a’lam – pemerkosa seharusnya dihukum berat karena telah melakukan pemaksaan kepada lawan jenis yang dalam keadaan darurat untuk menginap di rumah laki-laki (HS) tersebut. Betul, memang diharamkan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhram untuk tinggal serumah kecuali ada alasan dharurat yang tidak terhindarkan melakukan hal itu. Menurut penulis, A menginap di tempat HS sudah masuk kategori dharurat.

Selanjutnya, memang tidak ada praktik yang masuk kedalam definisi zina dalam fiqih. Yaitu, memasukkan hasyafah (penis) kedalam farji (vagina) oleh laki-laki dan perempuan yang bukan pasangan yang sah. Meskipun secara kebiasaan disebut zina, namun praktik itu – dari sudut pandang hukum Islam – tidak dikenakan hadd. Hadd yang dimaksud untuk perzinahan orang yang belum menikah adalah seratus kali cambuk.

Namun, praktik seperti itu tetap berdosa. Ada sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a. yang mengingatkan bahwa ada sekian cara yang menjadi jalan masuknya seorang muslim kepada zina,

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كتب على ابن آدم نصيبه من الزنا مدرك ذلك لا محالة، فالعينان زناهما النظر، والأذنان زناهما الاستماع، واللسان زناه الكلام، واليد زناها البطش، والرجل زناها الخطا، والقلب يهوى ويتمنى، ويصدق ذلك الفرج ويكذبه.

Bahwasanya Nabi Saw. bersabda, “Anak-anak Adam itu ditakdirkan kemungkinan itu menemui zina tidak terhindarkan. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendenar, zina lisan adalah berucap (yang kotor), zina kedua tangan adalah memegang, zina kaki adalah melangkah (ke tempat maksiat). Hati (bisa) berkehendak (untuk zina). Dan kemaluan bisa membenarkan (menurutinya) atau mengingkari (menolaknya).

Namun, persoalan ini tetap memiliki konsekuensi hukum. Dalam konsep hukum Islam, ada skema hukuman yang disebut ta’zir. Yaitu hukum yang tidak terdapat dalilnya secara sharih dari Al-Qur’an dan hadis. Penerapan bagaimana bentuk ta’zir dalam hukum Islam dikembalikan kepada Uli al-Amr. Dalam hal ini yang disebut Ulil Amri adalah hukum positif yang disusun oleh pemerintah.

Baca Juga :  Usia Ideal Menikah

Di masa Nabi saw., Allah swt. menurunkan ayat tentang larangan memaksa para budak untuk melakukan perzinaan. Ini disebutkan dalam surah An-Nur ayat 33,

 وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَن يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِن بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“dan janganlah paksa para (budak) perempuanmu untuk melakukan perzinahan supaya engkau mendapatkan harta dunia padahal mereka sebenarnya ingin melindungi (harga diri). Dan siapa yang memaksa mereka, sesungguhnya setelah perempuan itu dipaksa, Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih.”

Seperti disebutkan oleh para mufasir, ayat ini turun sebagai peringatan setelah Abdullah bin Ubay bin Salul memaksa budak perempuannya untuk berzina padahal mereka sudah berhenti sejak masuk Islam. Ayat ini juga menjadi dasar, bahwa mereka yang dipaksa sehingga tidak berdaya seperti diperkosa, maka mereka tidak berdosa. Penguatnya adalah hadis riwayat Ibn Majah dari Ibn ‘Abbas r.a. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ ، وَالنِّسْيَانَ ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“sesungguhnya Allah memaafkan umatku dari kesalahan, lupa, dan kondisi mereka dalam keterpaksaan” (HR. Ibn Majah).

Walhasil, hemat penulis sangat pantas jika A menuntut HS sampai dikeluarkan dari kampus. Bahkan, sangat mungkin baginya jika melakukan penuntutan penjara karena ada pendasarannya dari hukum nasional yaitu pasal 285 KUHP,

Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun. 

Terakhir, praktik penjara seperti di atas adalah bagian dari hukum Islam meskipun ada praktik tersendiri dalam hukum Islam untuk perkosaan yang sudah sampai tingkat hubungan intim. Semoga korban diberikan kesabaran dan dipermudah jalannya untuk menyelesaikan perkaranya. 1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here