Kajian Tauhid: Memahami Sifat Qudrah bagi Allah

1
1140

BincangSyariah.Com – Berdasar akal maupun naql, tiap muslim mesti meyakini bahwa Allah bersifat maha kuasa (Qudrah), salah satu sifat wajib bagi Allah yang 20. Namun bagaimana jika terdapat pertanyaan Adakah sesuatu yang tidak bisa diciptakan oleh Allah? Bagaimana seharusnya kita mesti bersikap terhadap sifat Qudrah bagi Allah?

Jika terdapat pertanyaan apakah Allah mampu menciptakan segala sesuatu? Maka jawabanya ialah iya, Allah mampu menciptakan segala sesuatu. Tetapi jika terdapat pertanyaan apakah Allah mampu menciptakan sekutu baginya? Maka jawabanya ialah hal tersebut menyalahi ketentuan sifat kuasa Allah. Pertanyaan apakah Allah mampu menciptakan sekutu baginya telah keluar dari ketentuan sifat kuasa Allah. (Belajar Memahami Kekuasaan Allah Lewat Nyamuk)

Catatan para ulama telah banyak membahas tentang hal ini, Allamah Husein Affandi dalam al-Hushun al-Hamidiyah memandang bahwa sifat kuasa atau Qudrah Allah (dan Iradah) hanya berkaitan dengan sesuatu yang secara akal boleh (Ja’iz) terjadi atau tercipta. Sifat kuasa dan kehendak Allah tidak terkait dengan sesuatu yang secara akal harus (Wajib) ada atau terjadi, juga tidak berlaku bagi sesuatu yang secara akal tidak mungkin (Mustahil) ada atau terjadi.

Adanya sekutu bagi Allah merupakan perkara yang secara akal tidak mungkin atau mustahil terjadi. Adanya sekutu tidak berhubungan sama sekali dengan sifat berkuasa atau tidak berkuasanya Allah, karena sifat kuasa Allah hanya berlaku dalam ranah hal hal yang secara akal dapat atau dimungkinkan terjadi. Sifat kuasa Allah tidak terkait dengan perkara yang wajib ada atau terjadi, apalagi perkara yang mustahil ada atau terjadi.

Lagi pula, sifat kuasa Allah terikat dengan sifat berkehendak (Iradah). Sifat kuasa sangat tergantung terhadap kehendak yang dimiliki Allah sejak zaman azali. Ini artinya, tanpa berkehendak pada zaman azali, Allah tak akan menciptakan atau melakukan apapun. Allah hanya akan menciptakan atau melakukan sesuatu yang sesuai dengan sifat berkehendaknya (Iradah). Tidak mungkin Allah menghendaki adanya sekutu.

Baca Juga :  Jokowi: Penempatan Menag dari Kalangan TNI Diharapkan Mampu Tangkal Radikalisme

Karena itu, secara adab hendaknya seorang mukmin tidak mengatakan bahwa Allah tak mampu menciptakan sekutu baginya. Penyataan bahwa Allah tidak mampu menciptakan sekutu dapat memberi kesan seolah Allah bersifat lemah. Jawaban bahwa Allah tidak mampu atau tidak berkuasa menciptakan sekutu merupakan jawaban yang tidak etis atau tidak sopan (su’ al-adab).

1 KOMENTAR

  1. […] Pertama, menyandarkan adanya sesuatu (Ka’inat) kepada Allah melalui jalur sebab (Ta’lil) dan tabiat tanpa mengaitkan bahwa hal tersebut merupakan ikhtiar/usaha Allah. Pemahaman semacam ini disebut dengan istilah “Ijab Dzati”. Paham ini dipegang oleh kalangan falasifah yang menjadikan setiap dzat merupakan pelaku (dengan sendirinya) sehingga menafikan adanya kekuasaan (sifat Qudrah) dan kehendak (sifat Iradah) Allah. (Kajian Tauhid: Memahami Sifat Qudrah bagi Allah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here