Perkembangan Wisata Halal di Malaysia

0
18

BincangSyariah.Com – Wisata halal di Malaysia kian diminati. Salah satu negara yang sukses mengembangkan wisata halal adalah Malaysia, sebuah negara multikultural yang terdiri dari tiga budaya besar yaitu Melayu, Cina, dan India.

Agama Islam menjadi agama resmi di Malaysia sementara agama lain seperti Budha, Hindu, dan Kristen tetap disambut dengan baik oleh para penduduknya. Malaysia menerapkan peraturan yang sesuai hukum Islam dan diterima oleh warga warga Muslim dan non-muslim

Fokus di Pariwisata

Malaysia adalah salah satu negara di ASEAN yang dinilai berhasil dalam memanfaatkan pariwisata halal. Saat ini, Malaysia menempati peringkat pertama dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) tahun 2019.

Pariwisata adalah sektor penyumbang pendapatan terbesar kedua di Malaysia. Pada awalnya, negara Malaysia berusaha menarik wisatawan dari Timur Tengah. Tapi setelah peristiwa 11 September, Malaysia mengalihkan fokus untuk mengambil keuntungan melalui sektor pasar Muslim.

Serangan 11 September 2001 atau September 11 attacks atau serangan 9/11 adalah serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. Amerika Serikat pada 11 September 2001.

Pagi itu, 19 pembajak dari kelompok militan Islam, al-Qaeda, membajak empat pesawat jet penumpang. Sejak tragedi 11 September tersbeut, Malaysia menjelma menjadi negara tujuan terbesar wisatawan Muslim.

Islamic Tourism Centre pada 2015 mencatat bahwa hal tersebut disebabkan oleh aturan yang ketat di negara-negara Barat untuk wisatawan Muslim yang membuat para Turis mengalihkan tujuan perjalanan ke negara-negara Timur.

Pasar wisatawan Muslim di Malaysia menunjukkan peningkatan dan pertumbuhan sejak 2001. Peningkatan dan pertumbuhan tersebut adalah hasil dari promosi aktif yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia.

Promosi tersebut berhasil menarik wisatawan Muslim terutama dari Timur Tengah. Berkat promosi yang dilakukan oleh pemerintah, ibukota Malaysia yakni Kuala Lumpur menjelma menjadi kota yang populer di kalangan wisatawan Timur Tengah dan dianggap sebagai tujuan bulan madu yang diinginkan.

Kedatangan para wisatawan Timur Tengah (Middle East) juga menghasilkan keuntungan di pasar negara Malasyia karena pola belanja mewah mererka. Usaha pemerintah Malaysia untuk memuaskan wisatawan Timur Tengah dengan meningkatkan pelayanan-pelayanan yang butuhkan dilaksanakan semaksimal mungkin.

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain menyajikan hidangan Timur Tengah di menu makanan restoran-restoran dan membuat brosur informasi untuk wisatawan yang multi-language, menyediakan papan nama yang bertuliskan arab, lalu mempekerjakan pekerja atau staf berbahasa Arab di hotel dan komplek perjalanan.

Makanan halal adalah salah satu elemen penting yang berkontribusi terhadap pilihan wisatatawan Muslim yang datang dari luar negeri Malaysia. Pada tahun 2010, Malaysia mulai menetapkan standar halal yang tinggi di restoran dan hotel untuk memuaskan wisatawan Muslim dengan mendorong hotel dan restoran memperoleh sertifikat halal setidaknya untuk restoran umum.

Meskipun begitu, usaha untuk menyediakan makanan halal bukan tantangan besar di Malaysia. Hal ini berdasarkan karena 60 persen penduduknya beragama Islam. Kenyataan ini membuat wisatawan bisa dengan mudah menemukan makanan halal yang tersedia di kios-kios jalanan.

Saat ini, ada banyak hotel di Malaysia sudah memiliki sertifikat halal. Serifikat halal yang telah didaoatkan digunakan sebagai bagian dari promosi hotel dengan mengatasnamakan sebagai hotel syariah yang berarti makanan yang halal, tidak ada alkohol, tidak ada babi dan tidak ada diskotik.

Pada 2021, tercatat ada 273 hotel berbintang 3 sampai 5 yang bersertifikat halal di Malaysia. Sementara hotel berbintang 1 dan 2 yang memiliki sertfifikat halal adalah sebanyak 53 hotel.

Usaha yang telah dilakukan oleh pemerintahan Malaysia membuat negara tersebut menempati urutan pertama dalam indeks wisata halal dunia yang dikeluarkan oleh badan indeks Mastercard-Cresent Rating dengan indeks skor tertinggi yakni sebesar 80,6.

Malaysia berusaha untuk menjadi negara pusat wisata halal dunia. Salah satu caranya yaitu dengan membuat aturan untuk tidak mengizinkan wisatawan melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Islam.

Shafaei dan Mohamed dalam Malaysia’s Branding as an Islamic Tourism (2015) menjelaskan, beberapa larangan yang diberlakukan di Malaysia adalah sebagai berikut:

Meminum alkohol, memakai pakaian mini, berjemur di bawah sinar matahari dengan pakaian minim, dan tidak menyajikan daging babi terutama di restoran yang terletak pada kawasan wisata.

Baca: Mengenal Tentang Wisata Halal Lebih Jauh

The Halal Master Plan

Malaysia merencanakan “The Halal Master Plan” dengan target selama 13 tahun yang mencakup tiga fase. Fase Pertama pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 di mana Malaysia melakukan pengembangan sebagai pusat dunia dalam hal integritas halal dan menyiapkan pertumbuhan industri.

Fase kedua, tahun 2011 sampai dengan 2015, menjadikan Malaysia sebagai salah satu lokasi yang disukai untuk bisnis halal, dan fase ketiga pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 Malaysia memperluas jejak geografis perusahaan halal yang tumbuh di dalam negeri.

Pada 2008, Malaysia tercatat sebagai salah satu negara yang terkenal dibidang wisata halal. Sayangnya, ada beberapa hal yang belum sesuai dengan konsep wisata halal.

Dalam master plan wisata halal di Malaysia, masih ditemukan daerah bebas untuk perjudian. Alkohol juga masih mudah ditemukan di hotel, restoran, dan tempat umum, salon dan spa yang tidak memisahkan antara laki-laki dan perempuan.

Ada juga lokasi kamar yang tidak memisahkan antara pasangan yang telah menikah dan belum menikah, hiburan yang menampilkan tayangan tidak syar’i, website yang lebih menampilkan kebudayaan dan adat serta fasilitas belanja dan hiburan yang tidak terkait agama.

Meski masih ada kekurangan, Euromonitor International mengidentifikasi bahwa Kuala Lumpur adalah salah satu dari 100 Destinasi Kota Teratas. Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) pun menempatkan Malaysia di posisi ke-15 dalam hal kedatangan wisatawan dan urutan ke-21 untuk penerimaan pariwisata tahun lalunya.

Ada beberapa faktor yang membuat peningkatan wisatawan ke Malaysia cukup tinggi. Salah satu faktornya adalah meningkatnya populasi berpenghasilan menengah, khususnya di Asia. Ada juga inflasi yang lebih rendah dan tujuan jarak pendek.

Dalam laporan Economic Outlook 2020 yang dirilis oleh Kementerian Keuangan Malaysia, jumlah kedatangan dan penerimaan wisatawan ke Malaysia diperkirakan akan meningkat setelah peluncuran Visit Malaysia 2020 atau yang biasa disingkat dengan VM2020.

Economic Outlook 2020 memperkirakan ada 28,1 juta kedatangan wisatawan ke wisata halal di Malaysia dan total pemasukan dananya bisa mencapai RM 92,2 miliar. Hasil tersebut adalah bagian dari master plan yang telah diproyeksikan untuk tahun 2020.

Sejalan dengan VM2020, ada kebutuhan negara Malaysia untuk meningkatkan frekuensi penerbangan. Hal tersebut menjadi perhatian bagi perjalanan udara ke negara-negara jarak jauh dan menengah. Malaysia pun memiliki kursi penerbangan yang berjumlah lebih banyak saat mengangkut wisatawan ke Malaysia.

Sayangnya, laporan Economic Outlook tersebut juga mencatat bahwa ada ketergantungan yang tinggi pada kedatangan wisatawan dari Singapura. Fakta tersebut menunjukkan kurangnya produk wisata baru dan rute udara terbatas serta kekhawatiran tentang keselamatan dan keamanan dalam pariwisata Malaysia.

Demikian tulisan tentang wisata halal di Malaysia. Penulis akan merekomendasikan tempat-tempat wisata halal yang layak dikunjungi di Malaysia pada kesempatan lain. Semoga bermanfaat.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here