Sejarah dan Makna Hari Raya Nyepi Untuk Umat Hindu

0
9

BincangSyariah.Com – Hari Raya Nyepi adalah hari yang istimewa bagi umat Hindu dan sebagai umat Islam, kita mesti turut menghargai peringatan tersebut. Sebelum mengucapkan selamat hari raya, alangkah lebih baik apabila kita mengetahui latar belakang hari raya Nyepi terlebih dahulu.

Hal ini bertujuan agar sikap toleransi yang terpatri dalam diri berlandaskan pada alasan yang tepat, bukan hanya selebrasi semata tapi juga memahami bagaimana umat Hindu memperingati hari besarnya.

Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1943 jatuh pada Minggu, 14 Maret 2021. Nyepi berasal dari kata sepi, simpeng, atau hening. Hari raya Nyepi adalah hari raya suci Agama Hindu yang ditentukan berdasarkan sasih atau bulan dan tahun masehi.

Makna Saka dan Warsa

Hari raya Nyepi dirayakan dengan penuh keheningan dengan menghentikan segala aktivitas yang bersifat duniawi maupun dalam bentuk keinginan dan hawa nafsu.

Saat merayakan hari raya Nyepi, umat Hindu juga berusaha mengendalikan diri agar memeroleh ketenangan dan kedamaian lahir bathin dengan menjalankan catur brata penyepian.

Pengendalian diri tersebut bisa diatur sesuai dengan keperluan masing-masing orang. Dasar pemikirannya adalah bahwa hari raya Nyepi dikenal juga sebagai tahun baru saka atau saka warsa.

Warsa berarti tahun sementara makna dari saka adalah nama keluarga raja yang terkenal di India yang menciptakan kedamaian rakyat. Pada tahun 78 Masehi, Kaniska dinobatkan sebagai raja di India.

Raja Kaniska sangat terkenal dibidang pembinaan agama dan kebudayaan. Beliaulah yang membuat tahun saka pertama kali dan berkembang sampai ke Indonesia.

Kepeminpinan Raja Kaniska membuat perkembangan agama dan kebudayaan yang sangat baik dan membuat pemeluk agama pada waktu tersebut merasa damai. Hari raya Nyepi dilaksanakan dalam rangka memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan spiritual, kebutuhan rohani, maupun kebutuhan jasmani.

Kondisi India sebelum Masehi, diwarnai dengan pertikaian yang panjang antara suku bangsa yang memperebutkan kekuasaan sehingga penguasa atau Raja yang menguasai India silih berganti dari berbagai suku, yaitu: Pahlawa, Yuwana, Malawa, dan Saka.

Diantara suku–suku tersebut, suku yang paling tinggi tingkat kebudayaannya adalah suku Saka. Pada waktu suku Yuechhi di bawah Raja Kaniska berhasil mempersatukan India, maka secara resmi kerajaan menggunakan system kalender suku Saka. Keputusan penting ini terjadi pada tahun 78 Masehi.

Pada tahun 456 M atau tahun 378 S, orang-orang Hindu dari India datang ke Indonesia kemudian mendarat di pantai Rembang, Jawa Tengah. Mereka kemudian mulai mengembangkan ajaran agama Hindu di Jawa.

Saat Majapahit berkuasa pada abad ke-13, sistem kalender tahun saka pun dicantumkan dalam Kitab Nagara Kertagama. Sejak saat itu, Tahun Saka resmi digunakan di Indonesia.

Perkembangan agama Hindu di Indonesia kemudian berkembang pada saat agama Hindu mulai masuk ke Bali, lalu disusul penakukan Bali oleh Majapahit pada abad ke-14 yang dengan sendirinya membakukan sistem Tahun Saka di Bali hingga saat ini.

Alkulturasi Hindu India dengan kearifan lokal budaya Hindu Indonesia (Bali) dalam perayaan Tahun Baru Caka terus berkembang dan menjadikan pelaksanaan Hari Raya Nyepi unik seperti saat ini.

Tujuan Perayaan Nyepi

Perayaan hari raya Nyepi dilakukan melalui tatanan atau rangkaian upacara Nyepi diakui sebagai bentuk pengakuan adanya kekuatan di luar kemampuan dirinya atau disebut dengan kekuatan supranatural.

Keyakinan tersebut menunjukkan bahwa pada diri seseorang tidak dapat dipisahkan dengan makrokosmos atau alam semesta atau jagad gedhe yang melingkupi kehidupannya.

Nyepi sebagai sebuah hari raya dengan pelaksanaan upacara dijelaskan oleh Koentjaraningrat dalam Manusia dan Kebudayaan Indonesia (1979) sebagai upacara tradisional yang berkaitan dengan kebutuhan sosial kemasyarakan.

Pelaksanaannya Nyepi oleh setiap umat Hindu tidak selamanya sama. Bisa jadi, ada umat Hindu yang tidak hadir di Pura juga melaksanakan lakon catur brata semata dan beribadah di rumah sendiri tanpa menghadiri sembahyang di Pura.

Hindu yang berkembang di Jawa diistilahkan dengan Hindu Kejawen, di Sulawesi Selatan dengan sebutan Hindu Tolotang, dan Hindu Alukto dolo, di Kalimantan dikenal dengan Hindu Kharingan.

Dalam agama Hindu, umat atau pemeluknya dibebaskan mengagumi atau mengidolakan Sang Hyang Widhi Wase (Tuhan). Apabila mengidolakan Dewa Wisnu, maka memuja dan memohonnya selalu menyebut dan meminta kepada Dewa Wisnu.

Hal tersebut dinamakan sebagai konsep Ista Dewata yakni boleh memilih dewa untuk dijadikan dewa idaman. Selain upacara Nyepi yang diperingati setahun sekali sebagai tahun baru saka, ada pula peringatan hari raya Galungan, hari raya Kuningan, dan hari Saraswati.

Kedua hari raya tersebut dijadikan sebagai simbol hari kemenangan Dharma atas Adharma. Sementara hari Saraswati dimaknai sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan.

Baca: Sejarah Kesultanan Banjar: Kerajaan Hindu yang Berjanji Masuk Islam ke Sultan Demak

Menjunjung Tinggi Toleransi

Islam adalah agama toleran. Jika ada tindakan seorang Muslim yang membuat sulit orang, memberatkan atau menderitakan, maka tindakan tersebut bukan ajaran agama Islam, karena itu merupakan tindakan intoleran.

Syekh Wahbah al-Zuhaili, seorang ahli fikih kontemporer terkemuka dari Suriah, mengatakan bahwa toleransi dalam Islam meliputi lima nilai dasar yang menjadi prinsip utama.

Lima dasar tersebut adalah persaudaraan atas dasar kemanusiaan, pengakuan dan penghormatan terhadap yang lain, kesetaraan semua manusia, keadilan sosial dan hukum, dan kebebasan yang diatur oleh undang-undang.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fath al-Bari Syarh Sahih Bukhari juga menjelaskan beberapa poin penting terkait dengan mencari titik temu dalam setiap perbedaan yang ada.

Pertama, berlaku lemah lembut (al-rifq) kepada orang yang melakukan kesalahan karena tidak tahu dan tidak sengaja (jahl).

Kedua, wajib mendidik dan memberi pengertian bagi orang yang melihat orang yang melakukan kesalahan itu sesuai dengan akhlak Islam.

Ketiga, tidak perlu melakukan kekerasan baik dalam bentuk fisik maupun verbal dalam mencegah munkar.

Bersadarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya.

Toleransi berkaitan erat dengan demokrasi. Demokrasi adalah gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persaman hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.

Artinya, warga negara memiliki hak untuk mendapatkan keadilan, penghormatan, penghargaan atas berpedaan dengan yang telah menjadi keyakinan. Sistem demokrasi ini merupakan sitem yang digunakan oleh bangsa Indonesia.

Jika bangsa Indonesia menjunjung demokrasi, maka Indonesia perlu memegang erat-erat sikap toleran. Indonesia adalah negara dengan dasar negara pancasila yang menghargai adanya perbedaan.

Islam adalah agama toleran. Jika ada tindakan seorang Muslim yang membuat sulit orang, memberatkan atau menderitakan, maka tindakan tersebut bukan ajaran agama Islam, karena itu merupakan tindakan intoleran.

Indonesia terdiri dari beragam perbedaan, di antaranya suku, ras, dan agama. Maka, demokrasi dan toleransi mesti dijunjung tinggi agar persatuan dalam kehidupan masyarakat menjadi erat.

Beragam aliran dalam agama Hindu adalah bagian dari keberagaman Indonesia yang tak dimiliki negara lain. Oleh sebab itu, menghormati dan menghargai kepercayaan orang lain adalah hal yang utama.[]

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here