Lima Nasehat Ibrahim bin Adham Agar Terhindar Berbuat Maksiat

0
1084

BincangSyariah.Com – Tak terasa, Ramadhan baru saja berlalu. Berbagai amalan telah kita lakukan. Mulai dari tilawah Al-Qur’an, taraweh, sedekah dan lain-lain. Tentu saja kita berharap amalan tersebut bisa terus berlangsung walaupun Ramadhan telah berlalu. Selama Ramadhan pula kita berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari perkara (berbuat) maksiat.

Untuk menunjang agar kita terhindar dari berbuat maksiat, Ibrahim bin Adham memberi wasiat kepada kita. Wasiat itu terangkum dalam sebuah kisah. Begini kisahnya. Suatu hari, seorang lelaki yang dipenuhi kebimbangan karena ia terus melakukan maksiat datang menghadap Ibrahim bin Adham. Ibrahim bin Adham adalah ulama tersohor di daerahnya. Ia biasa disapa dengan panggillan Abu Ishaq.

“Wahai Abu Ishaq, berilah aku nasehat. Sungguh aku adalah seorang lelaki yang telah banyak melakukan maksiat dan dosa” ucap sang lelaki. Ibrahim bin Adham terdiam sejenak. Ia mengetahui bahwa lelaki tersebut dalam keadaan bimbang.

“Wahai saudaraku” sapa Ibrahim bin Adham. Ia melanjutkan, “Ada lima hal yang harus engkau ikuti jika ingin perbuatan maksiatmu tidak menghancurkanmu”. “Apa saja lima perkara itu wahai Abu Ishaq?” tanya sang lelaki. “Pertama, apabila hendak berbuat maksiat, maka janganlah engkau makan dari rezeki-Nya” jawab Ibrahim.

“Ya Abu Ishaq, bagaimana bisa, sedangkan semua yang ada di bumi adalah rezeki dari-Nya.” Jawabnya. Ibrahim pun tersenyum, “Bagaimana mungkin engkau terus mengambil rezeki-Nya, sementara engaku selalu durhaka pada-Nya”. “Engkau benar. Lantas, apa perkara kedua? Tanyanya.

Kedua, jangalah engkau menempati bumi-Nya jika ingin berbuat maksiat,” kata Ibrahim. Sang lelaki kaget dan berkata “Mungkinkah aku pergi dari bumi ini? Bukankah dari timur sampai barat adalah negeri-Nya?”. Ibrahim berkata “Jadi, pantaskah bagimu mengambil rezeki, tinggal dibumi milik-Nya engkau terus berbuat maksiat kepada-Nya”. “Tentu tak pantas ya Abu Ishaq.” Jawabnya.

Baca Juga :  Anjuran Memberi Sedekah kepada Pengemis, Bagaimanapun Kondisinya

“Kemudian, apa perkara ketiga?” ia bertanya lagi. “Ketiga, jika engkau ingin berbuat maksiat, carilah tempat yang tidak dapat dilihat oleh-Nya”. kata Ibrahim. Ia semakin bingung dengan pertanyaan Ibrahim. “Itu jelas tak mungkin. Bukankah Allah Maha Melihat dan Maha mengetahui apa yang terbesit di dalam hati manusia?” jawabnya.

“Wahai saudaraku, masihkah engkau mau berbuat maksiat sedangkan engkau memakan rezeki, mendiami bumi, lalu berbuat durhaka padahal Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui?” dengan lemah lembut Ibrahim terus memberikan penjelasan.

“Baiklah Abu Ishaq” ia mengangguk dengan jawaban Ibrahim. “Apa yang keempat wahai Abu Ishaq?” ia kembali bertanya. “Keempat, apabila malaikat mau mendatangimu, katakanlah padanya, tunggu dulu, berikan aku kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik” kata Ibrahim. “Wahai apa Ishaq, ada-ada saja engkau. Mana mungkin aku menolak untuk dicabut nyawa, sedangkan umurku telah ditetapkan oleh-Nya” ujar sang lelaki. “Kalau begitu, karena engkau tak dapat menangguhkan datangnya ajalmu untuk bertobat, kenapa engkau terus berbuat dosa?” sahut Ibrahim bin Adham. “Engkau benar Abu Ishaq” kata sang lelaki.

“Katamu ada lima, empat sudah engkau sebutkan. Sekarang, apa yang terakhir itu?” tanya lelaki itu. “Kelima, jika datang malakat Zabaniyyah pada hari kiamat ingin membawamu ke neraka, janganlah kamu mengikutinya” jelas Ibrahim bin Adham. “Wahai Abu Ishaq, tidak mungkin aku mau untuk di siksa dineraka” sergah sang lelaki.

Kemudian Ibrahim berkata, “Wahai saudaraku, engkau telah mengetahui perkara yang kelima yang kusebutkan. Bagaimana mungkin engkau ingin selamat bila harus maksiat dan durhaka kepada-Nya?”.Lelaki itu kemudian berkata dengan tersenyum “Baiklah Abu Ishaq. Engkau menjadi saksi bahwa aku telah bertobat kepada Robbku. Dan aku berjanji akan akan meninggalkan kebiasaan maksiat yang telah kulakukan selama ini”.

Baca Juga :  Habib Luthfi bin Yahya: Jabatan Itu Amanat Bukan Hal Sepele dan Pesan Rasul untuk Abu Dzar

Kisah tersebut termaktub dalam buku Abu Nawas Mengguncang Dunia (2007) karya Mifahul Asror. Pelajaran yang dapat diambil adalah kalau selama Ramadhan kita mampu menahan diri untuk tidak maksiat dengan maksimal, maka kepergian Ramadhan pun seharusnya tak menyurutkan niat kita untuk menghindari maksiat. Semoga kita diberi ke istiqomahan dalam menjalankan amaliah yang telah kita amalkan selama Ramadhan. Serta memohon agar selalu diberi petunjuk agar terhidar dari perkara maksiat kepada Allah. Wallahu’alam bish-showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here