Ini Perbedaan Fikih dan Syariat Menurut Ulama

1
25

BincangSyariah.Com – Dalam diskursus studi islam, terdapat dua istilah yang sering kita dengar yakni fikih dan syariat. Sebenarnya apa perbedaan dari kedua istilah ini?

Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm menjelaskan mengenai syariat dalam kitab Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam (juz 3, halaman 137)

وأما الشريعة فهي أن يأتي نص قرآن أو سنة أو نص فعل منه عليه السلام أو إقرار منه عليه السلام أو إجماع

Artinya,

Syariat adalah teks yang jelas (tidak multitafsir) dari Al-Quran, teks sunah (hadits), teks yang didapat dari perbuatan Nabi SAW, teks yang didapat dari taqrir Nabi SAW, dan ijmak para sahabat.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa syariat adalah hukum yang terdapat dari teks yang tidak multitafsir dari Al-Qur’an, hadis, penetapan (taqrir) Nabi Muhammad saw., serta para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, ataupun konsesus ulama. Lain halnya dengan fikih yang berasal dari pendapat para ulama dari teks yang multitafsir tersebut.

Menurut Dr. Nawawi Thabrani dalam kitab Nubdah Tarihk Fiqh al-Islam terdapat beberapa perbedaan antara fikih dan syariat sebagai berikut:

Pertama, kata syariat cakupannya lebih umum, mencakup tauhid dan  akhlak, sementara fikih hanya membahas tentang hukum-hukum praktis yang digali oleh para mujtahid.

Kedua, syariat telah sempurna dalam susunannya berbeda dengan fikih yang merupakan susunan dari buah pikiran ulama.

Ketiga, hukum syariat itu mutlak benar sementara fikih masih berkemungkinan salah.

Keempat, syariat wajib diikuti oleh seluruh manusia berbeda dengan fikih yang tidak wajib diikuti. Bagi seseorang yang telah mengikuti mazhab tertentu tidak wajib terus menerus mengikuti mazhab imamnya.

Kelima, syariat berlaku tsubut (tetap) tidak mengalami perubahan berbeda dengan fikih yang yang masih terus berkembang mengikuti pendapat para imam sesuai kondisi zaman dan tempat.

Apabila kita mengambil contoh dari perbedaan antara fikih dan syariat. Dapat digambarkan bahwa kewajiban zakat itu merupakan syariat. Siapapun, di manapun, dan kapanpun, seseorang wajib membayar zakat. Tetapi untuk persoalan berapa banyak yang harus dikeluarkan, apa saja syarat-syaratnya, dan lain-lain, hal itu merupakan bahasan fikih yang tentu saja ada berbagai macam beda pendapat.

Wajib melaksanakan shalat juga merupakan syariat. Semua muslim di dunia wajib untuk melaksanakan shalat. Tetapi untuk tata-cara shalat, rukun-rukun shalat, dan batasan aurat dalam shalat merupakan ruang lingkup fikih.

Demikian perbedaan antara fikih dan syariat, semoga bisa menambah khazanah keilmuan bagi kita semua Wallahu a’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here