India Membara, Akibat UU Kewarganegaraan India yang Diskirminatif terhadap Muslim?

0
1836

BincangSyariah.Com – Dalam film-film India biasanya orang-orang berkumpul laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang tua bernyanyi sambil berjoget bersama penuh bahagia dan kedamaian dan diselingi kata Acha…Acha…

Tapi dalam beberapa minggu ini di India membara, api kebencian, kemarahan berkobar sambil teriak “Bakar…Bakar…!” Mereka memukuli orang dan membakar rumah dan toko milik kelompok yang menolak anti UU Kewarganegaraan yang baru disyahkan.

Apa yang terjadi di India sekarang ini bukan perang agama antara Hindu dan Islam. Melainkan karena ulah pemerintah sendiri yang mengesahkan UU Kewarganegaraan yang diskriminasi kepada rakyatnya sendiri. Akhirnya menjadi pemicu demonstrasi penolakan UU dan menjadi bentrok kerusuhan.

Dalam UU Kewarganegaraan India yang baru, tercatat akan mempercepat pemberian kewarganegaraan untuk warga dari enam agama: Hindu, Sikh, Buddha, Jain, Parsi, dan Kristen yang berasal dari negara tetangga Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan, jika mereka datang ke India sebelum 2015.Namun, dalam UU tersebut tak dicantumkan agama Muslim. Hal inilah yang menyulut protes warga India.

Berikut ini salah satu ulasan UU Kewarganegaraan India diskriminasi terhadap muslim:

“2 Dalam Undang-Undang Kewarganegaraan, 1955 (selanjutnya disebut sebagai Undang-undang pokok), nomor 2 ayat (1) (b):

-“Jika ada orang yang beragama Hindu, Sikh, Budha, Jain, Parsi atau Komunitas Kristen dari Afghanistan, Bangladesh atau Pakistan, yang masuk India pada atau sebelum tanggal 31 Desember 2014 dan yang telah disetujui oleh Pemerintah Pusat dengan atau di bawah ayat (c) ayat (2) pasal 3 dari Paspor Act (Masuk ke India), 1920 atau dari penerapan ketentuan Foreigners Act, 1946 atau aturan atau perintah apa pun yang dibuat di bawahnya, tidak akan diperlakukan sebagai migran ilegal untuk keperluan Undang-undang ini;”.

Baca Juga :  Mengenal Produk Kredit Tanpa Agunan dengan Basis Akad Qiradl dalam Fikih

Dalam undang-undang tersebut disebutkan berbagai agama kecuali Islam. Padahal banyak sekali korban pengungsi Rohingya dari Myanmar karena mereka beragama Islam jadi tidak dimasukkan ke dalam UU Kewarganegaraan yang baru padahal mereka korban perang etnis dan agama di Myanmar.

Yang menarik adalah para penentang UU tersebut bukan hanya dari kelompok Muslim saja, melainkan dari warga India yang beragama Hindu yang moderat menolak keras mereka memprotes tuduhan diskriminasi agama. Warga Assam dan negara-negara bagian timur laut lainnya yang penduduknya Hindu juga terus memprotes UU ini karena khawatir bahwa imigran ilegal non-Muslim di wilayah mereka akan diizinkan tinggal di negara bagian tersebut.

Ada juga kekhawatiran yang muncul tentang kurang dimasukkannya beberapa negara non-muslim di negara tetangga India, seperti Sri Lanka, dimana Shiv Sena dan beberapa tokoh agama khawatir tentang status kewarganegaraan dari warga Hindu berbahasa Tamil yang diizinkan menetap secara hukum di Tamil Nadu karena diskriminasi di negara kepulauan itu.

Serta di Nepal dan Bhutan, yang pada negara kedua dituduh mendiskriminasi umat Hindu melalui masyarakat yang hanya beragama Buddha. Begitu juga pengungsi Tibet penganut Agama Budha yang jadi korban kekerasan dari pemerintah Tiongkok juga dikecualikan dari rancangan undang-undang tersebut meskipun ada kekhawatiran yang terus menerus.

Narendra Modi, pemimpin partai sayap kanan Partai Rakyat India (Bharatiya Janata Party/BJP), menjadi Perdana Menteri India pada Mei 2014 sampai sekarang didukung oleh kelompok nasionalis Hindu radikal, maka tidak heran kebijakannya sering terjadi kontroversial. Kelompok radikal ini mendukung Perdana Menteri dan UU Kewarganegaraan dan membentuk demo tandingan mewalan para pendemo yang menolak UU menyebabkan kerusuhan besar.

Sedangkan ummat Hindu yang moderat dan sekular menolak UU Kewarganegaraan tersebut dan bergabung dengan ummat Islam dalam demo menolak disyahkannya UU yang penuh dengan diskriminasi berdasarkan agama.

Baca Juga :  Cara Memandang Diri Sendiri dan Orang Lain yang Paling Dibanggakan Allah

Itulah jika agama dijadikan alat sebagai tujuan politik oleh sebuah penguasa, bukannya Perdana Menterinya menguatkan persatuan dan kesatuan bangsanya, melainkan justru memecah belah bangsanya berdasarkan agama.

Dimana-mana dalam setiap agama itu penganutnya ada yang radikal dan moderat, seperti ummat Hindu di India juga mengalami seperti itu. Jadi yang berbuat adalah oknum pengikutnya, bukan agamanya. Karena Agama Hindu mengajarkan cintakasih, toleransi dan sangat menjunjung tinggi hak asasi keyakinan orang lain.

Advesa sarva bhuutanam
Maitrah karuna eva ca
Nirmamo nirhamkarah
Sama duhkha sukhah ksami.

“Dia yang tidak membenci semua makhluk, selalu bersahabat, memancarkan cinta kasih, tidak serakah, tidak egois, seimbang dalam keadaan duka dan suka serta pemaaf. Dialah dapat disebut bhakta.”

(Bhagawad Gita XII.13)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here