Hukum Memakai Masker Saat Shalat

1
28

BincangSyariah.Com— Saat pandemi Covid-19, seorang dianjurkan untuk memakai masker. Pun ketika sedang melaksanakan shalat, seorang dianjurkan untuk memakai masker. Nah, dalam Islam bagaimana hukum memakai masker saat shalat?.

Pada dasarnya memakai masker saat shalat hukumnya makruh. Pada saat saat melaksanakan shalat— bagi laki-laki atau perempuan—, tidak dianjurkan untuk memakai penutup mulut dan hidung, baik menggunakan sapu tangan, kain, cadar, atau pun masker. Pasalnya ada larangan dari Rasulullah untuk menutup mulut saat shalat.

Baginda Nabi Muhammad bersabda;

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن السَّدْلِ في الصلاة، وأن يُغَطِّيَ الرجلُ فاهُ

Artinya: Rasulullah Saw  melarang menjulurkan pakaian sampai tanah dan. Dan  laki-laki menutup mulutnya ketika shalat (HR. Riwayat Abu Dawud, Ibnu hibban, Hakim, dan Baihaqi).

Menurut Al Mala Ali Qari,dalam kitab Mirqat al Mafatih Syarah Miyskat al Mashabih, mengatakan bahwa pengertian “an yu’thiya ar rojulu Fahu”, adalah menutup mulutnya pada saat shalat. Pasalnya, ketiak memakai masker dikahwatirkan akan merusak bacaan shalat dan tidak menyempurkan sujud.

Al Mala Ali Qari mengatakan dalam  kitab Mirqat al Mafatih Syarah Miyskat al Mashabih, Jilid II, halaman 336;

وأن يُغَطِّيَ الرجلُ فاهُ )، أي: فمه في الصلاة،  فنهوا عنه؛ لأنه يمنع حسن إتمام القراءة وكمال السجود)

Artinya: ada pun maksud ““an yu’thiya ar rojulu fahu”—menutup mulutnya saat shalat—, maka melarang Nabi perbuatan itu. Pasalnya, khawatir mencegah kesempurnaan bacaan shalat dan sujud.

Menurut Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah al Muhadzab, makruh  hukumnya menutup mulut ketika sedang shalat. Kategori penutup mulut, antara lain; kain, cadar, termasuk masker. Makruh di sini menurut Imam Nawawi hanya makru tanzih—tidak mempengaruhi sah shalat—, tak membuat batal shalat seseorang ketika menggunakan masker.

Imam Nawawi berkata sebagai berikut;

ويكره أن يصلي الرجل متلثما أي مغطيا فاه بيده أو غيرها ,وهذه كراهة تنزيه لا تمنع صحة الصلاة

Artinya: Makruh seseorang melakukan shalat dengan talatsum, artinya menutupi mulutnya dengan tangannya atau yang lainnya. Makruh di sini adalah makruh tanzih (tidak haram) sehingga tidak menghalangi keabsahan shalat.

Menurut  Syekh Hasan bin Amar bin al Syurunbalali al Hanafi dalam kitab Maraqi Falah bi Imdadi al fattah Syarah nur al Idhoh wa najat al Arwah, makruh hukumnya menutup mulut dan hidung ketika shalat. Pasalnya, “At-Talatstsum”—menutup hidung dan muka—, merupakan perbuatan kaum Majusi. Penyebab makruh di sini menurut Imam Syurunbalali ialah karena meniru perbuatan Majusi.

Imam Syurunbalali dalam Maraqi al Falah, halaman 128 berkata;

فيكره التلثم وتغطية الأنف والفم في الصلاة؛ لأنه يشبه فعل المجوس حال عبادتهم النيران

Artinya; makruh menutup hidung dan mulut saat shalat, karena perbuatan tersebut menyerupai kebiasaan orang Majusi ketika menyembah api.

Imam Syaukani dalam kitab Nailul Author, memberikan penjelasan, bahwa ada pengecualian hukum, bagi orang yang menguap. Boleh menutup mulut ketika shalat bagi orang yang menguap. Lebih lanjut, dasar makruhnya “menutup mulut” ketika shalat menurut Imam Syaukani, bila dilaksanakan secara terus-menurus selama shalat.

Imam Syaukani berkata dalam Nailul Author, jilid II,Halaman 92;

وإنما زجر عن تغطية الفم في الصلاة على الدوام لا عند التثاؤب بمقدار ما يكظم

Artinya: sesungguhnya dilarang untuk selalu menutup mulut pada saat shalat, tidak pada saat menguap dengan ukuran yang tak bisa ia tahan.

Di sisi lain, Syekh Sauqi Ibrahim Alam mengatakan ketika ada hajat dan darurat maka boleh memakai masker. Pasalnya, yang dimaksud dengan “menutup mulut ketika shalat” adalah perbuatan itu dilakukan secara terus-menerus. Ketika cuaca kemarau dan cuaca dingin, maka boleh menutup mulut. Pun ketika ada hajat, maka boleh menutup mulut ketika shalat.

Syekh Sauqi Alam berkata;

فالمراد من النهي عن التغطية: الاستمرار فيه بلا ضرورة، أما عروضها ساعة لعارضٍ أو لحاجة؛ يدخل ضمن الرخصة والجواز

Artinya: maksud larangan dari menutup mulut ketika shalat adalah ketika munutup mulut itu dilakukan secara terus-menerus, tanpa ada dharurat. Ada pun ketika ada datang saat yang membutuhkan menutup mulut (misalnya; menguap) atau ada hajat, maka ada keringanan hukum. Itu hukumnya menjadi boleh.

Demikian penjelasan terkait hukum memakai masker saat shalat. Semoga bermanfaat.

(Baca:Hukum Memakai Masker Ketika Haji dan Umrah)

 

 

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here