Habib Luthfi bin Yahya: Jabatan Itu Amanat Bukan Hal Sepele dan Pesan Rasul untuk Abu Dzar

3
1098

BincangSyariah.Com – Perihal jabatan, kita seharusnya meneladani Habib Luthfi bin Yahya. Saat diwawancara TempoRais Amm Jamaah Ahlut Thariqah an-Naqsabandiyah ini mengaku bahwa jabatan bukanlah hal sepele, karena jabatan adalah amanah besar yang nanti akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah SWT.

“Tapi ini amanat tanggung jawab, bukan sepele. Itu saja,” tutur Habib Luthfi.

Habib Luthfi mengaku bahwa tidak perlu bersyukur karena mendapat jabatan, tetapi bersyukur jika nanti bisa mengemban amanah dengan baik, karena amanah tersebut adalah kepercayaan dan harapan dari segenap bangsa Indonesia.

“Ini bukan (tugas) sepele. Kita mensyukuri kalau berhasil, bukan mensyukuri karena dilantik. Tetapi mensyukuri, negara bangsa ini mesti percaya. Nah mampu nggak kita menjaga kepercayaan itu,” lanjut ulama asal Pekalongan ini.

Pernyataan Habib Luthfi ini senada dengan sebuah hadis yang mengisahkan bahwa jabatan bukanlah sebuah kebanggaan tapi amanah bagi orang yang mampu. Maka dari itu Rasulullah SAW pernah menolak Abu Dzar al-Ghifari saat ia meminta jabatan kepada Rasul. Sayangnya Rasulullah SAW tidak serta merta memberi jabatan kepada Abu Dzar, Rasul malah menasehati Abu Dzar.

Nasehat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar ini bisa dibaca kembali dalam Sahih Muslim bab Karahatul Imarah bi Ghairi Dharurah.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِى قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِى ثُمَّ قَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا ».

Dari Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah tidakkah engkau memberi jabatan kepadaku?” Rasulullah kemudian menepuk pundak Abu Dzar dan bersabda, “Wahai Abu Dzar, engkau ini lemah (dalam memimpin), sedangkan jabatan adalah sebuah amanah yang akan membuat orang yang menerimanya menjadi rendah dan menyesal di hari kiamat kecuali orang yang mendapatkannya dengan benar dan mengerjakannya dengan benar.” (H.R Muslim 4823)

Baca Juga :  Badan Wakaf Indonesia (BWI) Targetkan Single Database Aset Wakaf Nasional Rampung Tahun Depan

Imam an-Nawawi dalam penjelasannya (syarh) atas kitab Sahih Muslim di atas menjelaskan bahwa hadis tersebut merupakan larangan bagi orang yang tidak mampu untuk menjabat sebagai pejabat. Selain itu disebut menyesal karena mendapatkannya dengan jalan pintas, dan saat menjabat tidak bisa berlaku adil.

Maka dari itu, patut direnungkan, jangan sampai kita menganggap bahwa jabatan adalah gagah-gagahan, karena jabatan bukanlah sebuah hal yang prestis jika tidak dilaksanakan dengan baik. Betul juga kata Habib Luthfi, jabatan adalah amanah yang patut dipertanggungjawabkan. (AN)

Wallahu a’lam.

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di Islami.co

3 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah, Semoga mampu memberikan saran pada rezim yg membuat umat muslim indonesia dapat menjalankan ibadah & syariat islam dng baik, karena jika tidak beri saran bagi kemajuan islam. Dan pejabat yg bisa beri saran ke rezim tapi tak peduli, Semoga ia beserta seluruh keluarga yg niknati harta dari imbalan pejabat, semoga dilaknat ALLAH dunia akhirat, aamiin Ya Rabb…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here