Anjuran Memberi Sedekah kepada Pengemis, Bagaimanapun Kondisinya

0
1233

BincangSyariah.Com – Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Adagium ini telah dianjurkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW pada sementara hadis, baik dengan cara halus (targhib) sampai ancaman (tarhib). Intinya, Islam sangat menjunjung tinggi sekecil apapun sikap derma, kalaupun seorang muslim terpaksa harus berada di posisi meminta, maka yang demikian haruslah jalan terakhir. (last resort). (Baca: Anjuran Nabi Mengenai Kemuliaan Bekerja daripada Mengemis)

Mengembangbiakan mental pemalas adalah alasan yang diutarakan pemerintah kita –bahkan beberapa ulama, agar kita tidak memberikan sedekah kepada orang yang memang tidak pantas menerimanya. Pasal kedua, khusus pengemis jalanan, katanya supaya tidak mengganggu kenyamanan dan ketertiban lalu lintas.

Untuk alasan yang terakhir, spirit bersedekah barangkali bisa terabrogasi dengan adanya perintah ulul amr (Perda DKI Jakarta Pasal 40 8/2007, yang memberikan sejumlah uang atau barang kepada pedagan asongan, pengemis, pengamen dan pengelap mobil terancam pidana kurungan paling singkat 10 hari atau denda paling sedikit seratus ribu rupiah). Namun jika ndilalah peminta-minta yang kita dapati menggunakan sistem door to door, mengetuk daun pintu dari rumah ke rumah, bagaimana sikap kita?

Rasulullah SAW bersabda:

أَعْطُوا السَّائِلَ وَإِنْ جَاءَ عَلَى فَرَسٍ

Berilah orang yang meminta walaupun dia datang dengan mengendarai kuda (HR. Abu Daud no. 1418, Ahmad no. 1640, Malik no. 1583)

Imam az-Zarqany dalam Syarh al-Muwattha’ menjelaskan bahwa mengendarai kuda di sini adalah simbol kekayaan dan kebercukupan. Meskipun demikian, bukan berarti orang tersebut tidak butuh bantuan, karena tidak mungkin dia melukai harga dirinya jika tidak ada satu keperluan mendesak.

Beliau mengutip riwayat tentang khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mengutus seseorang untuk membagikan harta kepada suatu kaum. Utusan itu bertanya: “Wahai amirul mukminin, engkau mengutusku kepada kaum yang tidak aku kenal, padahal di antara mereka ada yang kaya juga yang miskin” Umar berkata: “Siapa pun yang mengulurkan tangannya (untuk meminta), maka berikan”

Baca Juga :  Baqiy bin Makhlad; Menyamar Jadi Pengemis Demi Menuntut Ilmu pada Imam Ahmad bin Hanbal

Di daerah penulis tinggal, ragam pengharap derma ada yang ‘rutin’ berkeliling 2 minggu atau sebulan sekali, menisbatkan dirinya sebagai mu’allaf dan atau musafir. Terkadang mereka datang dengan kendaraan roda dua dan kondisinya prima, berkisar 35-40 tahun-an. Prasangka bahwa mereka sejatinya mampu bekerja dan tidak pantas meminta memang sesekali merasuk.

Boleh jadi kita “salah sasaran” dalam bersedekah. Tapi sebagaiman diktum Nabi SAW yang lain, jika ternyata orang yang meminta itu mampu, maka itu menjadi urusan personal dia dan Allah SWT. Mengutip perkataan Imam an-Nawawi: kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. (Baca: Berpura-pura Menjadi Penyandang Disabiltas untuk Mengemis, Bagaimana Hukumnya?).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here