Ibnu Qayyim; Ujung dari Ibadah adalah Cinta

0
155

BincangSyariah.Com – Ujung dari ibadah adalah cinta. Maka para ahli ibadah akan berakhir pada cintanya kepada Allah. Dalam bukunya Raudhah Al-Muhibbin wa Nazhah Al-Musytaqin, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ibadah merupakan tujuan utama cinta. Kedudukan ini tidak boleh disandang siapapun oleh selain Allah. Kecintaan untuk menyembah Allah merupakan cinta paling mulia dan terhormat. Penyembahan merupakan hak istimewa Allah atas hamba-hamba-Nya.

Ia menjelaskan lebih lanjut, bahwasanya Allah cemburu atas hati hamba-Nya jika kosong dari cinta-Nya, dari takut kepada-Nya, tidak mengharap kepada-Nya, dan di dalamnya terdapat cinta kepada selain-Nya. Allah menciptakan hati tersebut untuk diri-Nya dan memilih di antara ciptaan-Nya untuk beribadah. Karena itulah, Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji dan menjatuhkan hukuman paling berat terhadapnya; karena kecemburuan Allah atas hamba-Nya.

Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa ujung dari segala sesuatu adalah cinta karena Allah, mengharapkan ridha-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai cara, dan rindu untuk berkunjung dan bertemu dengan-Nya. Semua itu mengharuskan seseorang untuk mengendalikan hawa nafsu dan meninggalkannya dengan keharusan untuk melakukan perbuatan baik dan hendaknya hawa nafsu itu tunduk terhadap aturan Al-Quran dan Sunnah Nabi. Dengan cara itulah Mahabbatullah dapat diraih.

Ibnul Qayyim telah menghabiskan hampir seluruh usianya untuk menulis tentang cinta, menuliskan tentang bukti-buktinya, dengan metode yang baik, sehingga ia mampu memudahkan pemahaman kita terhadap mahabatullah.

Penjelasan yang diberikan Ibnul Qayyim mampu menangkal keragu-raguan sehingga berpotensi memberikan petunjuk jalan yang benar. Seperti saat Ibnu Qayyim mengolah bahasa untuk mengupas tentang makna cinta. Seperti menurutnya kata Habib lebih mendalam pengertiannya dibandingkan Mahbub. Kenapa?

Mahbub adalah orang atau sesuatu yang mendapatkan karakter dan perbuatan-perbuatan tersebut yang karenanya ia dicintai. Dengan demikian, Al-Mahbub orang atau sesuatu yang berkaitan dengan cinta orang yang mencintainya. Dapat dikatakan bahwa Al-Mahbub dicintai karena faktor eksternal. Adapun Al-Habib, maka dicintai karena dzat dan sifat-sifatnya, baik berkaitan dengan cinta orang lain ataupun tidak. Karenanya, Allah Swt biasanya disebut dengan al-habib.

Kata Habib ini lebih banyak dipergunakan dengan pengertian yang sama dengan Al-Mahbub. Adapun Al-Hibb dengan huruf Ha` berharakat kasrah, maka merupakan satu ungkapan cinta. Kata ini biasa dipergunakan dengan pengertian Al-Mahbub, seperti halnya kata Dzibh dengan pengertian Madzbuh (yang disembelih), dan Rizq dengan pengertian Marzuq (yang mendapat rezeki).

Baca Juga :  Belajar Akhlak dari Generasi Terbaik

Ketika mereka men-dhammah-kan huruf Ha` terkandung sebuah rahasia. Karena harakat kasrah lebih ringan dibandingkan dhammah. Sedangkan kata Al-Mahbub lebih ringan bagi hati mereka dibandingkan Al-Hibb. Dalam hal ini, mereka memberikan harakat yang ringan bagi yang paling ringan dan berat untuk yang paling berat. Wallahu’alam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here