Wejangan Nabi terkait Anjuran Memperhatikan Malam Nisfu Sya’ban

0
1048

BincangSyariah.Com – Nabi Saw. telah memberi perintah untuk memperhatikan malam Nisyfu Sya’ban dengan melakukan amal saleh dan ibadah kepada Allah agar dapat meraup berkah di dalamnya. Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis dari Sayyidina Ali, dari Nabi Saw, beliau bersabda:

    إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلَا مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهُ، أَلَا مِنْ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ، أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطَّلِعَ الْفَجْرَ

Artinya; “Ketika malam Nisfu Sya’ban tiba, maka beribadahlah di malam harinya dan puasalah di siang harinya. Sebab, sungguh (rahmat) Allah turun ke langit dunia saat tenggelamnya matahari. Kemudian Ia berfirman: “Ingatlah orang yang memohon ampunan kepadaKu maka Aku ampuni, ingatlah orang yang meminta rezeki kepadaKu maka Aku beri rezeki, ingatlah orang yang meminta kesehatan kepadaKu maka Aku beri kesehatan, ingatlah begini, ingatlah begini, sehingga fajar tiba.”

Sebagaimana dikatakan oleh Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki, “Hadis ini dan berbagai hadis pendukungnya (syawahid) bisa menjadi pertimbangan dalam fadhailul a’amal. Para ulama muhaqqiqin (yang pakar mengkaji masalah sampai ke dalil-dalilnya) juga telah menyebutkannya dalam kitab-kitab fadhail mereka, seperti al-Mundziri dalam al-Targhib wa al-Tarhib, al-Syaraf al-Dimyathi dalam al-Muttajir al-Rabih, dan Ibn Rajab dalam Lathaif al-Ma’arif.”

Para sahabat Nabi Saw sudah memberi contoh bagaimana cara menghidupkan malam Nisfu Sya’ban ini. Dalam sebuah riwayat yang berasal dari Nauf al-Bikali, dia berkata, “Sungguh Ali pada malam Nisfu Sya’ban beliau keluar (dari rumah) dan mengulanginya berkali-kali seraya melihat ke langit. Beliau berkata:

Baca Juga :  Mandi Wajib Dicicil, Apakah Harus Mengulang Niat?

     إِنَّ هٰذِهِ السَّاعَةَ مَا دَعَا اللهُ أَحَدٌ إِلَّا أَجَابَهُ، وَلَا اسْتَغْفَرَهُ أَحَدٌ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ إِلَّا غَفَرَ لَهُ، مَا لَمْ يَكُنْ عَشَّارًا أَوْ سَاحِرًا أَوْ شَاعِرًا أَوْ كَاهِنًا أَوْ عَرِيفًا أَوْ شَرْطِيًّا أَوْ جَابِيًا أَوْ صَاحِبَ كُوبَةٍ أَوْ غَرْطَبَةٍ. اَللهم رَبَّ دَاوُدَ اغْفِرْ لِمَنْ دَعَاكَ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَكَ فِيهَا.

Artinya; “Sungguh saat ini tidaklah seseorang berdoa kepada Allah melainkan akan Ia kabulkan, tidaklah seseorang memohon ampunan kepadaNya pada malam ini menlainkan Ia akan mengampuninya, selama ia bukan seorang ‘asysyar (penarik pungutan liar), tukang sihir, tukang syair, tukang ramal, pengurus pemerintahan suatu daerah, tentara pilihan penguasa, penarik zakat, pemukul genderang dan tambur.

Begitu pula riwayat Sa’id bin Manshur dalam kitab Sunannya, beliau berkata:

     مَا مِنْ لَيْلَةٍ بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِالدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ كُلِّهِمْ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ أَوْ قَاطِعِ رَحِمٍ

Artinya;“Tiada malam setelah lailah al-Qadr yang lebih utama dari pada malam Nisfu Sya’ban Pada malam ini rahmat Allah tutun ke langit dunia, kemudian Ia memberi ampunan kepada para semua hambaNya kecuali orang musyrik, provokator atau pemutus silaturrahim.”

Dari beberapa hadis dan riwayat ini dapat diambil kesimpulan tentang kesunahan qiyamul lail (bangun malam untuk melakukan ibadah), bersungguh-sungguh membaca al-Qur’an, zikir, dan berdoa kepada Allah pada malam Nisfu Sya’ban untuk menjemput pemberian rahmat Allah. Hal ini seperti dijelaskan dalam hadis riwayat al-Thabarani dan lainnya dari Muhammad bin Maslamah;

     إِنَّ لِلهِ فِي أَيَّامِ الدَّهْرِ نَفْحَاتٍ، فَتَعْرُضُوا لَهَا لَعَلَّ أَحَدُكُمْ أَنْ تُصِيبَهُ نَفْحَةٌ فَلَا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا

Baca Juga :  Tradisi Masyarakat Arab Jahiliah di Bulan Sya'ban

Artinya;Sungguh Tuhan kalian mempunyai banyak pemberian di beberapa hari dalam setahun, maka jemputlah pemberian tersebut, mungkin salah seorang dari kalian akan memperoleh satu pemberian kemudian setelah itu ia tidak akan mengalami kesialan selamanya.”

Melalui penjelasan di atas dapat diketahui bersama bahwa mengagungkan malam Nisfu Sya’ban ini mempunyai dasar perintah dari Nabi Saw. dan contoh dari sebagian sahabatnya yaitu Sayyidina Ali. Dengan demikian, menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan berbagai macam amal saleh dan ibadah menjadi legal untuk diamalkan, seraya mengharap pahala dan balasan dari Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here