Tujuh Hal yang Dimakruhkan Saat Shalat

1
1622

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya setiap hal yang tidak sesuai dengan sunah adalah termasuk pada hukum makruh. Yakni setiap hal yang diganjar pahala bagi yang meninggalkannya, dan tidak mendapat siksa atau hukuman bagi yang mengerjakannya. Sehingga meninggalkan takbir setiap akan berpindah gerakan ketika salat/takbir intiqal adalah makruh. Hal ini dikarenakan melakukan takbir intiqal tersebut disunahkan. Begitu pula dengan meninggalkan membaca doa iftitah berhukum makruh karena hal itu disunahkan.

Berikut ini adalah tujuh hal yang dimakruhkan bagi orang yang sedang melaksanakan shalat.

Pertama. Menoleh saat melaksanakan shalat kecuali dalam keadaan dharurat. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw. beliau bersabda

“لا يزال الله عز وجل مقبلاً على العبد في صلاته ما لم يلتفت، فإذا التفت انصرف عنه”. رواه ابو داود.

“Allah azza wajalla masih menerima hambaNya yang shalat, selama ia tidak menoleh. Jika ia menoleh, maka Allah akan berpaling darinya.” (HR. Abu Daud)

Hal ini dimakruhkan jika yang menoleh adalah area leher. Tetapi jika yang menoleh atau berpaling adalah sampai area dada, sehingga berpindah tidak menghadap qiblat. Maka, batal shalatnya karena ia dianggap telah meninggalkan menghadap qiblat. Adapun jika yang menoleh adalah matanya alias melirik, maka tidak apa-apa. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ali bin Syaiban, ia berkata

قدمنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلينا معه، فلمح بمؤخر عينه رجلاً لا يقيم صلبه في الركوع والسجود،فقال:”لا صلاة لمن لا يقيم صلبه”. رواه ابن حبان

“Kami mendatangi Rasulullah saw. kemudian shalat bersama beliau. Lalu mata beliau (dalam keadaan shalat) melirik seorang laki-laki yang tidak lurus tulang belakang punggungnya ketika ruku’ dan sujud. (Setelah shalat selesai) beliau bersabda: “Tidak (sempurnya) shalatnya orang yang tidak meluruskan tulang punggungnya (yang menunjukkan ia tidak thumakninah dalam melaksnakan ruku’ dan sujud, sehingga sempurna posisi ruku dan sujudny). (HR. Ibnu Hibban).

Baca Juga :  Dalam Situasi Ini Dianjurkan Berhenti Zikir Sejenak

Kedua. Melihat ke langit. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Anas r.a. bahwasannya Nabi saw. bersabda:

ما بال أقوام يرفعون أبصارهم إلى السماء في صلاتهم؟ ثم قال: لينتهن عن ذلك أو لتخطفن أبصارهم. رواه البخاري ومسلم.

“Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka?. Kemudian beliau bersabda lagi. “Hendaknya mereka berhenti dari hal itu, atau (jika tidak) niscaya penglihatan mereka akan tersambar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga. Menahan rambut dan mengangkat baju di tengah-tengah shalat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw.

“أمرت أن أسجد على سبعة أعظم ولا أكف ثوباً ولا شعراً”. رواه البخاري

Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota, dan aku tidak menahan baju dan rambut.” (HR. Al-Bukhari)

Keempat. Shalat di hadapan makanan yang ia inginkan (untuk memakannya). Hal ini dimakruhkan karena ia akan sibuk dengan diri sendiri tanpa mengindahkan kekhusyu’an di dalam shalat. Ibnu Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. besabda:

“إذا وضع عشاء أحدكم وأقيمت الصلاة فابدؤوا بالعشاء ولا يعجل حتى يفرغ منه”. رواه البخاري ومسلم.

“Jika salah satu dari kalian meletakkan hidangan makan malam dan shalat telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam, dan jangan tergesa-gesa hingga selesai dari menyantapnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadis tersebut, Rasulullah saw. memerintahkan agar makan terlebih dahulu jika makanan telah disiapkan dan tidak perlu tergesa-gesa sampai selesai. Hal ini agar setelah itu ketika ia shalat sudah tidak terbayang atau kepikiran makanan lagi. Sehingga shalatnya dapat dilaksanakan dengan khusyuk.

Kelima. Shalat dengan menahan kencing atau berak. Hal ini dimakruhkan karena otomatis seseorang yang berada dalam keadaan menahan kencing dan berak tidak akan khusyuk shalatnya. Rasulullah saw. pun bersabda:

Baca Juga :  Shalat Sambil Menggendong Anak, Bagaimana Hukumnya?

“لا صلاة بحضرة طعام، ولا هو يدافعه الأخبثان”. أي البول والغائط. (رواه مسلم)

“Tidak ada shalat di hadapan makanan, dan tidak pula ia sedang menahan buang air kecil dan besar.” (HR. Muslim).

Keenam. Shalat dalam keadaan mengantuk.  Hal ini dimakruhkan berdasarkan hadis riwayat Aisyah r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِى الصَّلاَةِ فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ. رواه مسلم.

“Jika salah satu dari kalian mengantuk (padahal sedang atau akan) shalat, maka hendaknya ia tidur sampai hilang kantuknya. Karena sesungguhnya salah seorang di antara kalian jika mengerjakan shalat sedang dalam keadaan mengantuk, maka barangkali ia akan meminta ampun, padalah dia sedang memaki dirinya sendiri.” (HR. Muslim).

Ketujuh. Melaksanakan shalat di tempat-tempat sebagaimana berikut. Pemandian, jalan, pasar, kuburan, gereja, tempat pembuangan sampah dan kandang atau tempat pemberhentian unta. Hal ini dimakruhkan karena dikhawatirkan adanya najis di sebagian area tempat-tempat tersebut serta hati tidak khusyu’. Adapun dasarnya adalah hadis riwayat At-Timidzi sebagaimana berikut

أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن الصلاة في المزبلة والمجزرة والمقبرة، وقارعة الطريق، وفي الحمَّام، وفي معاطن الإِبل، وفوق ظهر البيت. رواه الترمذي.

Bahwasannya Nabi saw. melarang shalat di tempat pembuangan sampah, tempat jagal/penyembelihan, kuburan, di tengah jalan, pemandian, kandang unta, dan di atas depan rumah. (HR. At-Tirmidzi).

Demikianlah tujuh hal yang dimakruhkan ketika melaksanakan shalat. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji Ala- Madzhab Al-Imam Asy-Syafii. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here