Tujuan-Tujuan Ibadah Puasa yang Diajarkan Nabi

0
101

BincangSyariah.Com – Manusia diciptakan oleh Allah SWT semata-mata untuk menyembahnya melalui berbagai macam jenis peribadatan yang Ia Perintahkan. Setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan, selain bertujuan untuk mengabdikan diri kepada-Nya, juga memiliki tujuan-tujuan lain yang manfaatnya kembali kepada orang yang melaksanakan ibadah tersebut.

Salat misalnya, sebagai sebuah ibadah yang Allah SWT perintahkan kepada kaum muminin, selain memiliki tujuan untuk mendekatkan serta mengabdikan diri kepada-Nya, ia memiliki tujuan sebagai control-self bagi seorang mumin, sehingga ia tidak terjatuh kepada perbuatan keji dan mungkar, yang bisa menyebabkan dirinya dijauhi oleh masyarakat sekitarnya karena keburukannya. Sedangkan, seburuk-buruknya manusia adalah orang yang dijauhi oleh manusia lainnya, karena keburukannya.

Diriwayatkan dari sayyidatuna Aisyah RA, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya seburuk-buruknya manusia adalah manusia yang ditinggalkan manusia lainnya karena keburukannya (HR. Bukhari, Muslim)

Puasa, sebagai sebuah ibadah wajib yang diperintahkan Allah SWT pada bulan Ramadan, selain bertujuan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya, juga memiliki tujuan-tujuan lain yang diajarkan Rasulullah SAW. Yang sebagian besar tujuan tersebut, kembali manfaatnya kepada orang yang melaksanakan puasa.

Di antaranya, puasa bertujuan sebagai penghapus dosa orang yang berpuasa. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

Dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda “siapa yang berpuasa dengan landasan iman dan keikhlasan, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari)

Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa dosa yang diampuni melalui pelaksanaan ibadah puasa, hanyalah dosa-dosa ringan saja, karena dosa-dosa besar hanya dapat diampuni melalui jalur pertaubatan kepada Allah SWT. Rasululllah SAW bersabda:

Shalat lima waktu, jum’at ke jum’at, serta ramadan ke ramadan lain, bisa menjadi penghapus dosa selama dosa-dosa besar ditinggalkan  (HR. Bukhari, Muslim).

Tujuan selanjutnya dari berpuasa, yang diajarkan oleh Nabi SAW adalah untuk mengontrol nafsu biologis orang yang berpuasa. Sebagaimana diketahui, seandainya seseorang tak bisa mengontrol nafsu biologisnya, ia bisa melakukan perbuatan zina, yang merupakan dosa besar. Selain sebagai sebuah dosa besar, zina juga bisa membuat malu dirinya, dan keluarganya di masyarakat indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama.

Baca Juga :  Hukum Mengganti Mandi Junub dengan Tayamum

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang memiliki kemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena yang demikian itu lebih mampu menjaga pandangan, dan menjaga kehormatan, sedangkan yang belum memiliki kemampuan, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa memiliki fungsi (wija) pengontrol baginya(HR. Muslim)

Dalam redaksi hadis tersebut, dikatakan bahwasannya puasa memiliki fungsi sebagai (wija) bagi orang yang berpuasa. Dalam bahasa arab istilah (wija) digunakan untuk aktifitas pengibirian pada hewan. Istilah itu digunakan sebagai sebuah metafora, bahwa puasa memiliki fungsi mengontrol syahwat biologis bagi orang yang melaksanakannya, sebagaimana al-wija menjadi pengontrol nafsu biologis hewan.

Selain dua tujuan tersebut, masih banyak tujuan-tujuan lainnya dari ibadah puasa yang Allah SWT wajibkan kepada kaum muminin. Seperti mempertajam jiwa sosial mereka agar ikut peduli kepada masyarakat sekitarnya. Khususnya orang-orang miskin, yang mungkin tidak hanya harus berpuasa pada bulan ramadan saja. Karena keadaan yang memaksa mereka untuk berpuasa juga di hari-hari lainnya, bukan karena mereka menginginkan untuk berpuasa, tapi lebih karena mereka tak memiliki apa-apa untuk dimakan.

Sebagaimana dikatakan dalam adagium Arab yang artinya ‘sesungguhnya orang yang bisa bersimpati kepada orang yang sedang dimabuk cinta, hanyalah orang yang pernah mencintai’.

Maka, kita bisa juga mengatakan bahwa innama yarhamul ju’an man ja’a yang artinya sesungguhnya yang bisa bersimpati untuk berbagi dengan orang yang kelaparan, hanyalah mereka yang juga pernah merasakan lapar. Wallahu ‘Alam Bis Showab



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here