Tolak Ukur Ikhlas dalam Beribadah

1
1571

BincangSyariah.Com – Salah satu syarat diterimanya ibadah seorang hamda adalah beribadah dengan ikhlas karena Allah. Mengharapkan ridha dan rahmat Allah serta memurnikan ketaatannya menjadi cambuk semangat dalam terus menjalankan agama-Nya. Dengan begitu seorang hamba akan bersih dari sifat-sifat yang merusak ibadah seperti sifat riya’ dan nifaq. Menjalankan ibadah dengan ikhlas sejatinya adalah perintah Allah kepada setiap makhlukNya. Senada dengan firman Allah dalam QS Al Bayyinah:5

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. Dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Ibnu Qayyim mengungkap dalam kitabnya “Al Fawaid” bahwa ikhlas itu sesuatu yang mana malaikat tidak mengetahui sehingga mencatatnya, tidak pula setan sehingga merusaknya, dan tidak pula seorang sahabat yang takjub sehingga dapat membatalkan ibadahnya. Dengan kriteria seperti itu, sudahkah ikhlaslah kita dalam menjalankan semua ibadah dalam tiap waktu?

Ikhlas merupakan adab dan akhlak seorang hamba kepada Rabbnya. Dimana seorang hamba menyerahkan segala bentuk ketaatan ibadah hanya kepada Allah. sedangkan adab yang terburuk kepada Allah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah lalu diserahkan ibadah itu kepada selain Allah. Seperti seorang hamba yang beribadah  lalu dia menyerahkan hasil ibadahnya kepada selain tuhannya.

Pesan indah dalam kitab “Al Hikam” karya Ibn Atha’illah adalah jujurlah dalam ibadahmu. Keikhlasan dalam beribadah tersebut bermakna kita harus menyingkirkan hal-hal yang bersifat makhluk, dan tidak menoleh ke arahnya. Jika kita ikhlas menyembah Allah, niscaya kita cukup puas dengan hanya kita diketahui-Nya. Kita  juga tak akan suka jika orang lain mengetahui gerak gerik ibadah kita, sebab hal itu akan membuatnya iri hati kondisi kita. Dalam kitabnya tersurat sebagai berikut:

استشرافك أن يعلم الخلق بخصوصيتك دليل على عدم صدقك في عبوديتك

Keinginan agar orang mengetahui keistimewaanmu adalah bukti ketidakjujuran dalam ibadahmu

Dengan begitu, siapa saja yang masih memiliki keinginan agar keistimewaan dan kelebihan yang Allah berikan diketahui oleh orang lain, maka itu adalah bukti ketidakikhlasanmu dalam beribadah. Ketika ada seseorang merasa bahagia ketika ibadahnya diketahui orang lain, secara tidak langsung ia telah menanam sifat riya dalam tiap ibadahnya. Cukuplah Allah yang mengerti semua gerak gerik ibadah kita.

1 KOMENTAR

  1. Assalaamu’alaikum,
    Rasanya bila membicarakan tentang syarat untuk sesuatu ibadah diterima atau tidak, kita tidak bisa membicarakannya secara terpisah antara syarat2 utama diterimanya ibadah: 1) Ikhlas semata kerna Allah, dan 2) Ittiba’ kepada yang telah ditunjukkan olih Rasululullah. Membicarakannya secara asing (seperti dalam article ini: Ikhlas sahaja), akan memberikan kepada orang awam kepahaman yang terpisah juga. Inilah puncanya terjadi berbagai bid’ah dalam melaksanakan ibadah. Bila ditegur mereka cukup mengatakan “janji kami ikhlas”, sedangkan itu tidaklah mencukupi. Ikhlas dan Ittiba’ wajib datang dan dibincangkan bersekali!
    Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here