Tigal Hal yang Disunnahkan Saat Tayamum

0
552

BincangSyariah.Com – Menyucikan diri dengan tanpa menggunakan air disebut dengan tayamum. Dengan kata lain, tayamum adalah pengganti dari wudhu dan mandi.  Disebutkan Oleh Imam Abu Suja dalam Fathul Qarib bahwa  ada tiga hal yang disunnahkan saat tayamum, yaitu membaca basmalah, mendahulukan yang kanan, dan bersegera.

Pertama, memulainya dengan basmalah. Kesunnahan ini sama dengan kessunnahan yang terdapat dalam wudhu. Dengan membaca bismillah dalam permulaannya, setan disekitar bisa menjadi kecil. Keterangan tersebut didapat dari Imam Abu Daud dari Walid Abu Malih, ayahnya yang pernah dibonceng Rasulullah menceritakan:

كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَعَثَرَتْ دَابَّتُهُ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ . فَقَالَ لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Ketika aku dibonceng Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba-tiba unta beliau tergelincir. Serta merta aku mengatakan, “Celakalah syetan.” Maka beliau bersabda, “Jangan kamu katakan, ‘celakalah syetan,’ sebab jika kamu katakan seperti itu maka syetan akan membesar sebesar rumah dan dengan sombongnya syetan akan berkata; ‘itu terjadi karena kekuatanku’. Akan tetapi, ucapkanlah ‘Bismillah’ sebab jika engkau mengucapkan basmalah syetan akan mengecil hingga seukuran lalat.” (HR. Abu Dawud)

Kedua, mendahulukan yang kanan daripada bagian yang kiri. Kesunnahan yang ini juga merupakan kesunnahan yang berlaku dalam wudhu dan mandi wajib. Sebagaimana keterangan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam amat menyukai memulai dengan kanan dalam mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam urusannya yang penting semuanya” (Muttafaqun ‘alaih).

Baca Juga :  Hukum Mengganti Mandi Junub dengan Tayamum

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa mendahulukan yang kanan dalam melakukan pekerjaan yang baik adalah keutamaan. Barangsiapa luput dari mendahulukan yang kanan, maka ia luput dari keutamaan, namun tetap sah. Sedangkan kaum Syi’ah mengatakan bahwa mendahulukan yang kanan itu wajib, bukan sunnah. Namun pendapat mereka tidak perlu ditoleh.

Dan yang terkahir adalah bersegera. Tidak menyia-nyiakan waktu dengan perihal lain. Sebab tayamum adalah pengganti dari wudhu dan mandi wajib yang merupakan syarat wajib untuk melaksanakan ibadah. Suatu contoh ketika seseorang tidak menemukan air dan belum melaksanakan salat dzuhur, jika  tidak bersegera untuk tayamum maka ia juga tidak bersegera untuk menunaikan salat dzuhur tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here