Tiga Golongan Jamaah Shalat Jumat Menurut Hukum Islam

0
13

BincangSyariah.com-Shalat Jumat merupakan salah satu bentuk kekhususan dari Allah atas umat Nabi Muhammad. Shalat yang terdiri dari dua rakaat ini memiliki rukun serta syarat tersendiri. Termasuk di antaranya adalah syarat adanya jamaah laki-laki dengan bilangan 40 orang agar pelaksanaan shalat Jumat menjadi sah menurut pendapat yang kuat dari mazhab Syafi’i. Namun hanya jamaah yang memenuhi syarat dan klasifikasi tertentu yang bisa masuk dalam hitungan tersebut. Berikut penjelasannya:

Dalam fikih, ada kriteria tertentu bagi seorang muslim sehingga ia wajib melaksanakan shalat jumat sekaligus mengesahkannya, dalam arti ia terhitung menjadi bagian dari 40 orang yang menjadi salah satu syarat sah shalat Jumat. Dalam hal ini, Syekh Ismail Az-Zain Al-Yamani Al-Makky menjabarkan tiga golongan jamaah shalat Jumat dalam kitab beliau berjudul Qurratu al-Aini bi Fatawa Ismail Az-Zaini halaman 81 sebagai berikut:

Pertama, golongan musafir. Yang dimaksud musafir di sini adalah orang yang tidak ada tujuan bermukim lebih dari empat hari. Konsekuensi hukumnya adalah golongan ini tidak diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jumat. Ia tetap boleh mengikuti shalat Jumat bersama penduduk setempat, namun ia tidak masuk dalam hitungan 40 orang jamaah sehingga tidak bisa mengesahkan shalat Jumat.

Kedua, golongan muqim, yaitu orang yang memiliki tujuan bermukim di suatu tempat lebih dari empat hari atau bahkan bisa menetap bertahun-tahun, namun memiliki niat untuk kembali ke tempat asalnya, contohnya karyawan kantoran, mahasiswa kos-kosan, atau santri yang sedang belajar di pesantren. Golongan ini tetap wajib melaksanakan shalat Jumat bersama ahli Jumat, akan tetapi ia tidak masuk dalam hitungan 40 orang jamaah sehingga keberadaannya tidak bisa mengesahkan shalat Jumat.

Baca Juga :  Hukum Salat Malam Hanya Pada Malam Jumat

Sebagai catatan, Pendapat tentang tidak masuknya golongan muqim dalam hitungan 40 orang jamaah merupakan pendapat yang shahih. Namun ada pendapat yang mengatakan sebaliknya, yaitu mereka tetap bisa mengesahkan shalat Jumat dan masuk dalam hitungan 40 jamaah Jumat. Pendapat ini bisa dipakai semisal di perkantoran yang memiliki masjid sendiri yang biasanya dipenuhi oleh karyawan-karyawan sendiri & tidak ada penduduk asli yang mencapai 40 orang. Pendapat ini sebagaimana tertuang dalam kitab Al-Muhadzdzab (1/11):

وَهَلْ تَنْعَقِدُ بِمُقِيمِينَ غَيرِ مُسْتَوْطِنِينَ؟ فِيهِ وَجْهَانِ : قَالَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ : تَنْعَقِدُ بِهِمّ؛ لأَنَّهُ تَلْزَمُهُمُ الجُمْعَةُ، فَانْعَقَدَتْ بِهِمْ؛ كَالمُسْتَوْطِنِينَ.

Apakah shalat Jumat bisa terlaksana dengan orang-orang muqim tanpa kehadiran golongan mustawthin?Dalam hal ini ada dua pendapat. Imam Abu Ali bin Abu Hurairah berpendapat bahwa shalat Jumat golongan muqim tersebut tetap bisa terlaksana, sebab mereka masih wajib melaksanakan shalat Jumat. Sebagaimana Mustawthin, shalat Jumat mereka juga terlaksana secara sah”

Ketiga, golongan mustawthin. Termasuk golongan ini adalah orang yang bertempat tinggal di tanah kelahirannya (penduduk setempat) atau transmigrasi di tempat lain, serta tidak ada keinginan untuk kembali ke tempat asalnya. Golongan ini wajib melakukan shalat Jumat sekaligus masuk dalam hitungan 40 orang jamaah yang mengesahkan shalat. Wallahu a’alam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here