Tiga Amal Saleh yang Paling Dicintai Allah

7
60663

BincangSyariah.Com – Banyak riwayat hadis tentang fadhail amal yang menjelaskan tentang amalan yang paling dicintai Allah. Namun para ulama hadis berkata bahwa jawaban Rasulullah dalam hadis-hadis tersebut disesuaikan dengan sang penanya.

Dalam hadis yang akan dibahas kali ini sang penanya adalah Abdullah Ibnu Mas’ud, beliau adalah simbol ketakwaan, kehati-hatian dan kesucian diri.  Kepada sahabat yang menjadi salah satu dari empat sahabat penjaga Alquran ini, apa jawaban Nabi tentang amal yang paling dicintai Allah kepada beliau?

Dalam riwayat berikut dikatakan

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: سألت النبي صلى الله عليه وسلم أي العمل أحب إلى الله؟ قال: “الصلاة على وقتها”, قلت: ثم أي؟ قال: “بر الوالدين”, قلت: ثم أي؟ قال: “الجهاد في سبيل الله”,

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud ra berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi Muhammad Saw tentang amalan yang paling disukai Allah Swt? beliau menjawab, Shalat pada waktunya. Kemudian apa? Kataku, beliau menjawab, “berbuat baik kepada kedua orangtua”. Kemudian apa? Kataku lagi. Beliau menjawab, “jihad fi sabilillah”. (HR. Bukhari&Muslim)

Amalan-amalan yang dibahas dalam hadis ini adalah khusus tentang amal badaniyah atau yang dikerjakan anggota badan kita dan terlihat secara kasat mata. Sebab amalan hati yang paling disukai Allah tentu adalah iman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.

Ibnu Daqiq al-‘Id menjelaskan dalam kitab Ihkamu al-Ahkam mengenai makna tentang tiga amalan yang paling disukai Allah Swt dalam hadis ini.

Amalan pertama yang sangat dicintai Allah adalah Shalat. Berdasarkan hadis ini para ahli Fiqih mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah shalat.

Maksud Shalat pada waktunya bukan mengacu pada ketentuan awal waktu atau akhir waktu shalat. Akan tetapi yang ditekankan adalah menjaga agar jangan sampai shalat di luar waktunya dan jangan sampai meninggalkannya.  Sebab Shalat merupakan amalan pertama yang akan dipertanyakan pertanggungjawabannya di padang mahsyar.

Baca Juga :  Anjuran Mengucapkan Amin Setelah Membaca Al-Fatihah

Namun pendapat lain mengatakan bahwa maksud shalat ‘ala waqtiha adalah menyegerakan shalat di awal waktu sebab shalat di awal waktu memiliki keutamaan tersendiri bagi yang mengerjakannya.

Amalan kedua yang paling dicintai Allah adalah berbakti kepada kedua orangtua. Dalam riwayat lain pernah kita dengar ada seorang sahabat yang ingin berjihad tapi dicegah oleh Rasulullah karena  ia memiliki orangtua yang perlu dia jaga.

Pada hadis ini Rasul secara langsung menyebutkan berbakti kepada orangtua sebelum jihad itu adalah pertanda betapa agungnya martabat orangtua, sehingga menyakitinya tidak diragukan lagi merupakan dosa besar.

Amalan ketiga adalah jihad di jalan Allah. Kedudukan jihad dalam agama islam sangat agung, namun sayang banyak yang salah mempersepsikan makna jihad. Menurut Imam Ibnu Daqiq, jihad lebih utama dibandingkan amal lainnya sebab jihad adalah wasilah atau perantara yang dengannya akan tercapai tujuan mulia. Jadi jihad menjadi sesuatu amalan yang agung jika hal yang dituju sejalan dengan nilai-nilai yang diajarankan dalam Islam.

7 KOMENTAR

  1. Ibadah yg paling tinggi di cintai allah Adalah berbuat baik.
    AMALAN yg paling baik adalah membantu orang dalam kebaikan.
    TAPI janganlah kamu menghabiskan waktu mu untuk orang lain. Utamakan lah dirimu. Karna kamu juga orang. Bagaimana mungkin kau bisa membatu orang lain. Sementara kamu saja belum bisah membatu dirimu sendiri.

  2. Dari Ibn Mas’ud, ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi saw: “Amal apa yang paling dicintai Allah swt?” Beliau menjawab: “Shalat pada (awal) waktunya.” “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada orangtua.” “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah.” (Shahih al-Bukhari bab fadlis-shalat li waqtiha no. 527).

    Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan, hadits di atas jika ditelusuri semua sanadnya, maka ditemukan tiga jenis matan terkait shalat pada waktunya tersebut: Pertama, ‘ala waqtiha (atas waktunya). Kedua, li waqtiha (bagi waktunya). Ketiga, fi awwali waqtiha (pada awal waktunya). Artinya, tiga jenis sabda Nabi saw ini maksudnya saling berkaitan. Bahwa yang dimaksud shalat pada waktunya di atas adalah pada awal waktunya (Fathul-Bari bab fadlis-shalat li waqtiha).

    Di samping itu, Ibn Hajar menjelaskan, kata ‘ala menunjukkan makna isti’la (di atas/permukaan/permulaan). Maka berarti ‘ala waqtiha maksudnya di permukaan/permulaan waktunya. Demikian halnya kata li jika ditujukan pada waktu bermakna istiqbal (di hadapan/awal), sebagaimana halnya firman Allah swt: fa thalliquhunna li ‘iddatihinna; ceraikan istri di hadapan/awal ‘iddahnya (QS. at-Thalaq [65] : 1). Maka maksud li waqtiha berarti “shalat di hadapan/awal waktunya” (Fathul-Bari bab fadlis-shalat li waqtiha).

    Itu semua berarti bahwa dalil ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa shalat bebas dilaksanakan pada awal, tengah, atau akhir waktu. Pokoknya pada waktunya. Yang benar hadits ini justru menegaskan keutamaan shalat pada awal waktunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here