Tiga Adab Bersendawa dalam Islam

2
5667

BincangSyariah.Com –Bersendawa umumnya terjadi setelah makan dan identik dengan keadaan perut lagi kenyang. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan praktek bersendawa setelah makan asal dilakukan dengan sopan dan sesuai adab-adab yang telah ditentukan dalam Islam.

Setidaknya, ada tiga adab dalam Islam yang perlu diperhatikan ketika seseorang bersendawa. Ketiga adab tersebut sebagai berikut;

Pertama, merendahkan suara. Saat bersendewa, seseorang disunahkan agar merendahkan suaranya dan dilarang mengeraskan suaranya sehingga mengganggu orang lain. Selain itu, setan sangat senang terhadap seseorang yang bersendawa dengan suara keras. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam al-Dailami, bahwa Nabi Saw bersabda;

إذا تجشأ أحدكم أو عطس فلا يرفعن بهما الصوت ، فإن الشيطان يحب أن يرفعه بهما الصوت

“Jika salah seorang di antara kalian bersendawa atau bersin, maka jangan mengeraskan suara dengan keduanya. Karena setan senang terhadap salah seorang dari kalian yang mengeraskan suara saat bersin dan bersendawa.”

Juga disebutkan dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Ibnu Umar, dia berkisah;

تجشأ رجل عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال كف عنا جشاءك فإن أكثرهم شبعا في الدنيا أطولهم جوعا يوم القيامة

“Ada orang yang bersendawa di dekat Nabi Saw. Kemudian Nabi Saw berkata, ‘Tahan sendawamu di hadapan kami. Karena orang yang paling sering kenyang di dunia, maka paling lama laparnya kelak di hari Kiamat.”

Kedua, tidak mendongak ke atas. Pada saat seseorang bersendawa, maka sebaiknya tidak melihat atau mendongak ke atas. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin berikut;

وإن تجشأ فينبغي أن لا يرفع رأسه إلى السماء وإن سقط رداؤه

Baca Juga :  Mengkhatamkan Al-Quran Tanpa Membaca Surah dengan Tertib, Apakah Boleh?

“Jika seseorang bersendawa, maka sebaiknya jangan mengangkat kepalanya ke atas meskipun karenanya mengakibatkan serbannya jatuh.”

Ketiga, membaca hamdalah setelah bersendawa. Lafadznya sebagai berikut;

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas semua keadaan.”

Doa ini berdasarkan sebuah riwayat yang disebutkan oleh Sayid Abdurrahman bin Muhammad dalam kitabnya Bughyatul Mustarsyidin berikut;

وورد أن من عطس أو تجشأ فقال : الحمد لله على كل حال رفع الله عنه سبعين داء أهونها الجذام

“Terdapat keterangan bahwa orang yang bersin atau sendawa dan kemudian mengucapkan kalimat, ‘Alhamdulillahi ‘ala kulli halin,’ maka Allah menghilangkan darinya 70 penyakit. Dan penyakit paling ringan adalah kusta.”

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here