Tertib dan Berkesinambungan saat Wudhu

0
2758

BincangSyariah.Com – Sebagian di antara rukun wudhu adalah tertib. Tertib merupakan rukun terakhir dari rukun wudhu yang berjumlah enam, yaitu (1) niat; (2) membasuh wajah; (3) membasuh kedua tangan sampai sikut; (4) mengusap kepala; (5) membasuh kedua kaki sampai mata kaki; dan (6) tertib.

Secara bahasa, tertib adalah teratur dan berurutan. Dalam istilah syariat, tertib adalah menempatkan sesuatu sesuai tempat dan urutannya. Dengan demikian, tertib dalam wudhu adalah memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai sikut, lalu mengusap kepala dengan air, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Hal ini sebagaimana urutan yang difirmankan dalam surah Almaidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.

Tertib dalam wudhu hukumnya fardhu sehingga apabila seseorang wudhu tanpa tertib, maka wudhunya tidak sah. Hal ini karena Nabi Saw tidak pernah wudhu kecuali dengan tertib sebagaimana urutan dalam surah Almaidah di atas.

Ketika haji wada, Nabi Saw memerintahkan agar memulai sesuai urutan yang sudah disebutkan Allah dalam Alquran. Nabi Saw bersabda:

اِبْدَأْ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Mulailah dengan apa yang telah dimulai oleh Allah.” (HR. Muslim)

Lantas bagaimana dengan muwalah?

Secara bahasa muwalah artinya berkesinambungan. Dalam wudhu muwalah artinya harus berkesinambungan antara basuhan wudhu satu dengan basuhan wudhu yang lain tanpa ada jeda yang lama sampai basuhan pertama kering.

Baca Juga :  Melaksanakan Salat Fardu di dalam Kereta Api, Apakah Salatnya Sah?

Dalam mazhab Syafi’i, muwalah hukumnya sunah tidak wajib sehingga apabila ada seseorang wudhu tanpa muwalah, maka wudhunya tetap sah.

Dalam kitab al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab,  al-Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama. Akan tetapi ada perbedaan pendapat ketika terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah.

Oleh karena itu, sebaiknya membasuh anggota wudhu yang satu dengan yang lain diusahakan jangan sampai kering terlebih dahulu. Misalnya, membasuh muka di rumah, lalu membasuh anggota wajib wudhu lainnya di masjid. Bila seperti ini, maka orang tersebut tidak mendapatkan keutamaan muwalah. Wallah a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here