Tentang Mendoakan Pemimpin Saat Khutbah Jumat Menurut Ulama

0
1516

BincangSyariah.Com – 20 tahun lebih sudah Indonesia memasuki iklim demokrasi, dan kebebasan berpendapat di ruang publik menjadi terbuka seluas-luasnya, membuat kita bebas mengekspresikan pandangan kita di ruang publik. Mau objektif, subjektif, menjilat, itu tidak jadi soal. Selama secara hukum tidak ada yang memperkarakan jika itu kemudian berisi konten yang bernilai fitnah, pencemaran nama baik, dan aspek negatif lain, semua bebas melenggang berbicara.

Terlepas dari definisi ruang publik yang masih luas sekali, tapi secara sederhana tempat dimana sejumlah orang berkumpul disana dan tidak ada misalnya kesepakatan untuk “merahasiakan” apa yang dibicarakan disitu, itulah yang menjadi ruang publik. Maka, tempat peribadatan menjadi salah satu ruang publik tentunya. saya akan bahas disini kegiatan khutbah pada shalat Jumat, sebagai salah satu contoh ruang publik.

Dalam kajian fikih, seorang khatib (Arab: Orang yang berkhutbah) shalat jumat harus memenuhi apa yang disebut rukun khutbah ketika menyampaikan khutbah jumat. Ketika rukun-rukun tersebut ada yang tidak terpenuhi, maka khutbah tersebut bisa tidak sah, sehingga meniscayakan ia dan jamaah shalat jumat itu melaksanakan shalat zhuhur kembali. Namun, apabila sudah terpenuhi, maka ia boleh menambah isinya dengan yang lain selama tidak keluar dari rukun-rukun khutbah tersebut.

Nah, sebagian para ustadz kita yang sering berkhutbah, kemudian ada yang materi khutbahnya kemudian mengomentari kebijakan pemerintah dan segala macam hal yang dalam perspektif sang khatib adalah problem dan perlu disampaikan ke masyarakat. Dari sudut pandang demokrasi seperti yang saya sebutkan, itu menjadi sebuah dampak yang tidak bisa segera dikendalikan begitu saja. Namun, bagaimana dari sudut pandang fikih sendiri ? Apakah mendoakan pemimpin saat khutbah jumat bisa membuat shalat jumat menjadi tidak sah, atau sekadar tidak memiliki keutamaan belaka ?

Baca Juga :  Bolehkah Istirahat Saat Melakukan Sa’i Antara Shafa dan Marwah?

Menurut Syaikh Zainuddin al-Malibari, penulis kitab Fath al-Mu’in (h.201), mendoakan as-sulthan (pemimpin) secara khusus saat menyampaikan khutbah oleh para ulama disepakati kalau tidak disunahkan sebenarnya. Mendoakan pemimpin menjadi diharuskan bahkan, kalau ditakutkan terjadi fitnah. Tapi, al-Malibari melanjutkan bahwa mendoakan pemimpin ini tidak boleh sampai berlebihan mendeskripsikan kedirian sang pemimpin, apalagi sampai berdusta menisbatkan sifat-sifat tertentu. Tapi, lagi-lagi berdusta tadi jadi boleh, jika sudah dalam kondisi darurat sekali. Berikut pertanyaan beliau,

والدعاء للسلطان بخصوصه لا يسنّ إتفاقا إلا مع خشية فتنةٍ فيجب ومع عدمها لا بأس به حيث لا مجازفة في وصفه. ولا يجوز وصفه بصفة كاذبة إلا لضرورة

dan berdoa (saat khutbah jumat) kepada sultan (pemimpin secara khusus itu disepakati (para ulama) ketidaksunnahannya kecuali ada ketakutan akan fitnah. Maka (kalau ada ketakutan) menjadi wajib tapi kalau tidak ada ketakutan tidak apa-apa (mendoakan pemimpin), selama tidak kebablasan mendeskripsikan profil sang pemimpin. Dan juga tidak boleh mendeskripsikan sang pemimpin dengan sifat-sifat yan tidak dimilikinya sebenarnya (palsu) kecuali karena ada kondisi yang mengharuskan (darurat) terhadap hal itu.

Dari ibarat diatas, sebenarnya dapat dipahami pertama, bahwa mendoakan pemimpin itu, termasuk membicarakannya, itu tidak bisa dibilang sunnah. Kalaupun harus ditetapkan hukumnya, paling jauh ia hanya boleh saja. Itupun tidak boleh berlebihan-lebihan. Misalnya ketika memuji hingga tahap mengkultuskan. Kedua, yang sebenarnya tidak boleh tadi menjadi boleh ketika terjadi “fitnah” atau konflik yang meniscayakan tadi. Dalam teks keislaman, istilah fitnah sebenarnya istilah yang bukan hanya bermakna menuduh, tapi kondisi dimana seseorang menjadi terpojok atau keharusnya mengikuti seseorang yang sebenarnya ia tidak cakap, dan kondisi negatif lainnya.

Baca Juga :  Hukum Mengedarkan Kotak Amal Masjid Ketika Khutbah Jumat

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here