Tentang Fadhilah Membaca Salawat Nariyah dan Sejarahnya

0
524

BincangSyariah.Com –Siapa yang tidak tahu salawat nariyah? Di desa kami, salawat tersebut seringkali diajarkan di surau-surau tempat anak-anak mengaji Alquran.  Namun belakangan beredar viral di dunia maya yang bernada negatif tentang salawat ini. Hanya karena penamaannya.

Sehingga penulis tidak tahan untuk memaparkan, alasan apa gerangan dibalik penamaan salawat tersebut. Sebenarnya, salawat ini memiliki banyak nama; kamilah, tafrijiyah, taziah dan nariyah. Meski demikian, nama salawat nariyah lah yang ternyata lebih di kenal di khalayak.

Salawat ini, dinamakan “Salawat Taziyah” karena dinisbahkan kepada penyusunnya, Syaikh Ibrahim at-Tazi. Disebut “Salawat Nariyah” karena sifat manfaatnya yang seperti api. Artinya, jika Salawat ini dibaca untuk suatu hajat, maka -biidzniLlah, hajat itu akan cepat sekali terkabul, secepat, sehebat dan sekuat lahapan api. Demikian dijelaskan dalam al-Kunûz al-Muhammadiyyah fî al-Shalâti ‘alâ Khayri al-Bariyyah susunan Syaikh Muntashir al-Hulwani.

Jadi maksudnya jelas. Bukan seperti apa yg nyinyir dikatakan oleh sebagian orang yg antipati, bahwa “api” yg dimaksud adalah api neraka bagi pengamalnya.

Memang, orang-orang bermacam-macam dalam menamai salawat tersebut menurut perbedaan sudut pandangnya. Tafrijiyah, Kamilah (keduanya mengacu pada redaksi dan isinya), Taziyah, Qurthubiyah (keduanya mengacu pd pengarangnya), Nariyah (pengacu pada faedahnya), dan mungkin masih ada nama-nama lainnya.

Dalam Syawariqul Anwar-nya, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menyebutkan salawat tersebut dengan “Salawat Taziyah”. Dalam kitabnya yg lain, Abwabul Faraj, beliau menyebutnya dengan “Salawat Nariyah”.

Sedangkan dalam al-Kunuz al-Muhammadiyah yang disebut di atas, disebut sebagai Salawat Kamilah, Tafrijiyah, Taziyah (nisbah kepada Syaikh Ahmad at-Tazi), dan Nariyah (mengacu pd pada faedahnya).

Tentang siapa pengarangnya juga mukhtalaf (beda pendapat). Ada al-Qurthubi, ada at-Tazi. Al-Qurthubi sendiri siapa? Apakah Imam Qurthubi sahib Tafsir, atau Qurthubi yg lain? Jika sahib Tafsir, sejauh apa pembuktiannya? Al-Tazi juga demikian, siapa? Yg sempat beredar, ada Ahmad at-Tazi, Ibrahim at-Tazi, Abdul Wahhab at-Tazi. Siapakah mereka, atau jangan-jangan, nama-nama itu satu orang?

Baca Juga :  Bolehkah Tidak Menjawab Azan Ketika Sedang Sibuk?

Terlepas dari khilaf tersebut, salawat ini bagus dan telah dibuktikan keampuhannya oleh banyak orang dari generasi ke generasi. Wallahu ‘alam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here