Tenaga Medis Memandikan Jenazah Lawan Jenis, Apakah Boleh?

1
21

BincangSyariah.Com – Orang yang meninggal itu terkadang jenazahnya harus diurus oleh tenaga medis yang beda jenis, termasuk ketika waktu dimandikan. Sebenarnya, bagaimana hukum tenaga medis atau lainnya memandikan jenazah lawan jenis, apakah boleh?

Menurut Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’, ada tiga pendapat ulama terkait hukum memandikan jenazah lawan jenis dan tidak ada hubungan mahram.

Pertama, memandikan jenazah yang berbeda jenis dan tidak ada hubungan mahram hukumnya tidak boleh. Menurut pendapat ini, jika ada jenazah dan tidak ada orang lain yang sejenis yang bisa memandikannya, maka jenazah tersebut tidak boleh dimandikan, melainkan ia harus ditayammumi. Ketika jenazah tersebut ditayamumi, maka boleh dilakukan oleh orang yang berbeda jenis dengan jenazah.

Kedua, boleh dimandikan oleh lawan jenis, bahkan wajib. Namun dengan catatan jenazahnya harus ditutupi dengan kain, orang yang memandikan memakai sapu tangan, dan sebisa mungkin tidak melihat aurat jenazah. 

Ketiga, jenazah tidak boleh dimandikan dan ditayammumi oleh orang yang berbeda jenis. Pendapat ini adalah pendapat lemah, bahkan batil.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ berikut;

إذا مات رجل وليس هناك الا امرأة اجنبية أو امرأة وليس هناك الا رجل اجنبي ففيه ثلاثة اوجه (اصحها) عند الجمهور ييمم ولا يغسل ..لانه تعذر غسله شرعا بسبب اللمس والنظر فييمم كما لو تعذرحسا (والثاني) يجب غسله من فوق ثوب ويلف الغاسل علي يده خرقة ويغض طرفه ما امكنه فان اضطر الي النظر نظر قدر الضرورة.. (والثالث) لا يغسل ولا ييمم بل يدفن بحاله حكاه صاحب البيان وغيره وهو ضعيف جدا بل باطل

Jika ada laki-laki meninggal dan di sana tidak ada kecuali perempuan yang tidak ada hubungan mahram, atau ada perempuan meninggal dan di sana tidak ada kecuali laki-laki yang tidak ada hubungan mahram, maka ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama, dan ini pendapat yang paling shahih menurut kebanyakan ulama, jenazah tersebut harus ditayammumi dan tidak boleh dimandikan. Hal ini karena dalam keadaan demikian, jenazah tersebut menjadi uzur untuk dimandikan secara syara’ dengan sebab adanya persentuhan dan melihat aurat. Maka harus ditayammumi, sebagaimana jika ada uzur secara fisik.

Kedua, wajib dimandikan dari atas kain dan orang yang memandikan harus memakai sapu tangan serta menundukkan pandangannya sebisa mungkin. Jika terpaksa harus melihat, maka hendaknya melihat sesuai keterpaksaan.

Ketiga, jenazah tersebut tidak boleh dimandikan dan ditayammumi, melainkan dikuburkan begitu saja, sebagaimana disebutkan oleh pengarang kitab Al-Bayan dan lainnya. Pendapat ini adalah pendapat yang lemah bahkan batil.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here