Telanjur Duduk, Apakah Masih Boleh Lakukan Shalat Tahiyatul Masjid?

0
614

BincangSyariah.Com – Pada saat kita masuk masjid, baik masjid yang digunakan untuk shalat Jumat atau tidak, kita dianjurkan untuk melakukan shalat sunah Tahiyatul Masjid. Shalat ini dilakukan sebelum kita duduk. Bagaimana jika kita masuk masjid langsung duduk, apakah tetap boleh melakukan shalat Tahiyatul Masjid?

Shalat Tahiyatul Masjid adalah shalat yang disunahkan untuk dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap masjid. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar shalat ini dilakukan sebelum kita duduk. Meski demikian, jika kita masuk dan langsung duduk, para ulama berbeda pendapat terkait kebolehan melakukannya.

Pertama, menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, kesunahan melakukan shalat Tahiyatul Masjid tidak gugur karena duduk, hanya saja jika dilakukan setelah duduk, maka hukumnya makruh. Oleh sebab itu, kita tetap boleh melakukannya meskipun sebelumnya sudah duduk.

Kedua, menurut ulama Syafiiyah, jika duduknya disengaja, maka kesunahan melakukannya menjadi gugur. Namun jika karena lupa dan duduknya belum lama dengan ukuran tidak melebihi shalat dua rakaat, maka boleh melakukan shalat Tahiyatul Masjid. Jika duduknya sudah lama dengan melebihi ukuran shalat dua rakaat, maka kesunahan melakukannya sudah gugur.

Ketiga, menurut ulama Hanabilah, jika duduknya sudah lama menurut ukuran kebiasaan, maka kesunahan melakukan shalat Tahiyatul Masjid sudah gugur. Namun jika masih dianggap sebentar, maka boleh melakukunnya.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah berikut;

ولا تسقط تحية المسجد بالجلوس قبل فعلها وإن كان مكروهاً باتفاق الحنفية والمالكية، وقال الشافعية: إن جلس عمداً سقطت مطلقاً، وإن جلس سهواً أو جهاراً، فإن طال جلوسه عن ركعتين سقطت، وإلا فلا، وقال الحنابلة: تسقط إن طال جلوسه عرفاً.

“Kesunahan Tahiyatul Masjid tidak gugur dengan duduk sebelum melakukannya, meskipun hal tersebut hukumnya adalah makruh menurut kesepakatan ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Ulama Syafiiyah berkata, ‘Jika duduk dengan sengaja, maka kesunahan melakukannya sudah gugur secara mutlak. Jika duduknya karena lupa atau terang-terangan, apabila duduknya lama sekitar ukuran dua rakaat, maka gugur. Jika tidak lama, maka tidak gugur. Ulama Hanabilah berkata, ‘Kesuanahan Tahiyatul Masjid sudah gugur jika duduknya lama menurut ukuran kebiasaan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here