Tata Cara Shalat Istikharah Mutlak

0
339

BincangSyariah.Com – Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi Al-Jawi menjelaskan mengenai shalat istikharah mutlak. Shalat istikharah mutlak ini biasa dilakukan oleh orang-orang sufi untuk meminta pertolongan kepada Allah agar semua gerak-geriknya mendatangkan kebaikan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Juga agar semua tindakan orang lain kepada dirinya bernilai kebaikan.

Syaikh Nawawi berkata sebagai berikut;

ومنه صلاة الاستخارة المعروفة عند الصوفية وهي الاستخارة المطلقة التي يعملها اهل الله كل يوم وهي ركعتان غير الاستخارة المشهورة يقصد بهما ان تكون حركاته وسكناته من هذا الوقت الى مثله من اليوم الاخر خيرا في حقه وحق غيره وان تكون حركات غيره وسكناته في تلك المدة خيرا في حقه هو.

Termasuk shalat sunnah adalah shalat istikharah yang makruf di kalangan orang-orang sufi. Itu merupakan shalat istikharah mutlak yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah setiap hari. Shalat istikharah mutlak berjumlah dua rakaat, berbeda dengan shalat istikharah yang masyhur. Shalat istikharah mutlak dimaksudkan agar gerak-gerik dan diamnya seseorang dari waktu ini sampai selamanya berbuah kebaikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Begitu juga gerak-gerik dan diamnya orang lain di masa itu berbuah kebaikan untuk dirinya.

Menurut Syaikh Nawawi, shalat istikharah mutlak boleh dilakukan kapan saja selain waktu-waktu yang diharamkan shalat. Hanya saja, lebih baik jika dilakukan setelah melakukan shalat isyraq dan sebelum melakukan shalat Dhuha.

Adapun tata caranya adalah sebagai berikut;

Pertama, niat melaksanakan shalat istikharah dengan niat sebagai berikut;

اُصَلِّيْ سُنَّةَ اْلاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالَى

Ushollii sunnatal istikhaarati rok’ataini lillaahi ta’aala.

Saya shalat sunnah istikharah dua rakaat karena Allah Ta’ala.

Kedua, pada rakaat pertama setelah surah Al-Fatihah membaca surah Al-Kafirun atau membaca ayat;

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ

Pada rakaat kedua setelah surah Al-Fatihah membaca surah Al-Ikhlas atau membaca ayat;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Ketiga, setelah salam kemudian berdoa kepada Allah agar diberi kebaikan dalam setiap gerak-gerak dan diamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here